Pacarku Kuntilanak

Pacarku Kuntilanak
Maling Makanan


__ADS_3

Malamnya setelah Ringo baru pulang, Shelly dan Jun sedang memikirkan tawaran Munich, benarkah lelaki itu tidak bohong?


“Jun! Lo mikir dong, papa sama mama gak pulang, kita makan dari mana?”


“Lo kan baru gajian, masa udah abis.”


“Duit gue udah ditabung! Gue gak kaya lo kali. Lo kan borosnya amit-amit!”


“Bisa gak sih, jangan buat Jun kesel!”


“Begini aja deh. Lo, jaga di rumah. Biar gue yang keluar, lagian gak ada salahnya liat rumah Pak Munich.”


“Terserah mbak deh. Jun di sini aja.”


Shelly hendak pergi untuk mengambil makanan ke rumah tetangganya. Tidak berselang lama, perempuan muda itu sudah memasuki teras rumah Pak Munich. Lelaki itu seperti tidak kelihatan, tanpa Shelly ketahui. Pak Munich sedang melihatnya di seberang jalan, lelaki gendut itu mengendap-endap meninggalkan rumahnya sendiri.


Sedangkan Jun sekarang sedang berada di dapur, ia duduk memakan cemilan kemarin sore, Jinny muncul dan membuka pintu kulkas, perempuan hantu itu mengambil minuman botol kaca lalu meneguknya.


“Kok Mbak Shelly lama banget sih.”


“Biar Jinny periksa keluar ya, bos?” Jinny bicara sambil menikmati minuman dingin itu.


“Kabarin Jun ya!”


“Oke bos!” Jinny langsung meledakan diri jadi asap.


Jun akhirnya naik kembali ke kamar atasnya. Tidak dia tahu, pintu dapur belum ia kunci. Dalam sepinya rumah besar itu tanpa pembantu, muncul orang asing yang masuk tanpa ijin. Orang itu ialah tetangga mereka sendiri! Pak Munich sudah menyiapkan kantong untuk membawa kabur semua cemilan dan minuman di dalam kulkas Keluarga Pak Bondan.


“Gue sikat juga nih!” Pak Munich begitu gembira memasukan aneka makanan ringan dan minuman apa pun di dalam kulkas.


Jinny meluncur dalam asap dan muncul di belakang dapur, ia mengintip diam-diam tingkah Pak Munich. “Dasar rakus! Katanya tetangga, tapi kok gini banget sih!”

__ADS_1


Pak Munich hampir selesai memungut semua makanan ringan yang masih tersisa di meja makan serta kulkas. “Akhirnya, gue bisa makan. Tanpa harus keluarin uang!”


Jinny menyihir pintu untuk menutup dengan sendirinya. Pak Munich kaget melihat pintu dapur tertutup dengan kencang. Ia buru-buru membukanya tetapi tidak bisa. Lelaki itu terus menggoyang engsel pintu dengan tangannya. “Aduh! Gue bisa mampus nih kalo ketauan!”


Sementara itu Jun sedang di kamarnya. Jinny langsung muncul menembus pintu kamar Jun. “Jun! Coba deh, kamu liat siapa yang ada di bawah!”


Jun mengikutinya, ia tahu pasti ada maling atau semacamnya. Sesampainya ke sana, Jun terkejut menemukan Pak Munich sedang menggotong kantong berisi makanan sore tadi.


“Keterlaluan! Bukannya Pak Munich sendiri, yang ngajak kita makan ke rumahnya? Kok malah dia sih, yang ngambil makanan kita!”


“Jinny juga kaget bos!”


“Jun mau cari Mbak Shelly dulu ya! Kamu tahan Pak Munich biar gak kabur!”


“Siap Tuan Jun!” Jinny tertawa mengikik.


Diluar sana Shelly pulang tanpa pernah masuk ke dalam rumah Pak Munich. Samar-samar dikejauhan muncul mobil, Shelly mengenali mobil itu. Mobil ceper itu berhenti depan gerbang rumahnya. Shelly langsung lari menuju ke sana.


“Loh? Kok kamu diluar? Si Jun mana?” Pak Bondan keluar membuka pintu mobil.


“Itu Pa, kemarin sore Pak Munich dateng, dia ngajak kita ke rumahnya buat makan. Tapi, giliran Shelly ke sana. Rumahnya kosong! Gak ada orang!”


“Emang Pak Munich sekarang di mana?” Bu Bondan bertanya.


Jun muncul berlari membuka pintu rumahnya.


“Syukur deh, mama sama papa udah pulang.”


“Jun! Kok lo baru muncul! Gue dari tadi sendirian tahu di rumah kosong!”


“Mending mbak ikut Jun sekarang deh! Yuk Pa, Ma!”

__ADS_1


Mereka berempat menuju ke dalam rumahnya. Sementara itu Pak Munich menyantolkan kantong berisi makanan curian ke punggungnya, ia berniat memanjat jendela tetapi Jinny tahu-tahu muncul, ia menjelma menjadi drakula dan menarik-narik baju Munich dari belakang. “Apasih! Gue mau buru-buru kabur nih! Lepasin gak!” katanya marah.


Munich merasakan bajunya hampir robek karena tarikan kuku-kuku runcing dan tajam. Ia tidak jadi lompat keluar jendela, Munich menengok begitu cepat ke belakang, ketika itu sudah berdiri drakula perempuan di sana. Lelaki itu menjerit lalu terjengkang ke lantai, sambil membawa kantong makanan, ia melarikan diri dan tidak lama muncul Keluarga Pak Bondan. “Tolong! Di dapur ada drakula!”


“Drakula?” Pak Bondan tertawa. “Pak Munich? Kok bawanya banyak banget? Habis dari mana Pak?”


“Kita dibagi dong makanannya.” Bu Bondan menatapnya kesal.


“Loh! Kok kalian di rumah?”


“Kami tidak jadi pulang besok pagi. Kami kebetulan mau makan dulu. Eh, bapak udah makan enak nih.”


“Katanya kami boleh makan di rumah bapak. Kok bapak malah ilang.” Shelly menatap mendelik Pak Munich.


“Saya khilaf Pak Bondan! Di rumah saya gak ada pembantu. Saya males masak! Makanya saya terpaksa ngambil makan di sini.”


“Pak Munich harus masak buat kami sekarang! Kami belum makan nih gara-gara bapak nipu kami.” Jun kesal menatap lelaki tambun itu.


“Iya deh, Pak Munich mau masak buat kalian.”


Mereka berempat bergembira mampu makan enak malam itu, semuanya dimasak dan dinikmati di dalam rumah tetangga baik hati mereka. Yaitu Pak Munich!


“Ternyata bapak pintar masak.” komentar Pak Bondan.


“Bener, Bi Iyem aja sampe kalah.” Shelly memberikan sanjungannya.


“Saya cuma pernah belajar jadi koki kapal dulunya.”


“Pak tolong ambilin saya botol soda dong!” Jun memintanya.


Munich mengambilnya ke kulkas yang berada di dekat meja makan rumahnya. Ketika ia membuka kulkas, tutup botol minuman itu tiba-tiba membuka sendiri dan menyemburkan air dari dalamnya. Munich terjengkang ke lantai dan seluruh mukanya, hingga bajunya basah kuyup oleh soda es!

__ADS_1


Semuanya yang sedang makan menertawakan habis-habisan. Jinny muncul di samping Jun dan mengacungkan jempol tangan ke Jun. Mereka berdua tertawa-tawa.


__ADS_2