
Sebelum kapal menutup kunjungan untuk hiburan, para penumpang sudah masuk ruangan hiburan termasuk Keluarga Pak Bondan, mereka sedang menunggu pertunjukan opera revolusi Prancis. Ketika hampir memasuki kabin hiburan, Jun berhenti di tengah pintu masuk. Jinny juga berdiri di sampingnya. “Awas ya? Kalo kamu malu-maluin Jun lagi!”
“Iya deh bos, abis Jinny cuma kenal bos di sini, jadi mending Jinny gabung aja deh.”
“Iya Jun gak papa kok.”
Bu Bondan dan Shelly muncul menegur putranya. “Jun! Ayo masuk, kok masih di jalan aja.”
“Jun takut Ma, kalo di kapal ada penjahat!”
“Yang bener lo Jun? Masa sih penjahat masuk kapal luas begini?” Shelly kurang percaya.
“Siapa tau kan? Kita harus hati-hati mbak, Jun mau nyari temen Jun dulu ya?”
“Ya udah, kamu jaga diri ya Jun!” Bu Bondan memasuki duluan pintu menuju kabin hiburan itu.
Pemuda dalam pakaian jeans pendek dan topi oranye itu, mengelilingi lorong kabin, ia bersama Jinny sedang menelusuri seisi kapal karena bosan. Jun tidak sengaja melihat dua orang sedang bercakap satu sama lain, dia langsung sembunyi di pinggir kamar penumpang.
“Pokoknya gue gak mau tahu! Lo harus dapetin perhiasan sebanyak mungkin di kapal ini.”
“Tapi bos, penumpangnya banyak banget, kalo kita dipukulin bisa berape dong!”
“Tenang, setelah mereka semua tidur, lo make baju hantu ini. Kita takutin mereka semua, biar keluar kabin masing-masing.”
“Terus kita kaburnya ke mana bos?”
“Gampang! Kan ada basemant? Kita tinggal sembunyi di sana.”
Mereka tertawa puas setelah menyusun rencana.
***
Jun baru kembali ke tempat hiburan di dalam kapal, ia sudah duduk dampingan dengan Jinny, yang mampu dilihat semua orang.
“Tuh kan, Jun bener, kalo di kapal ini ada penjahatnya.”
“Kalo gitu, biar Jinny kerjain mereka ya bos?”
“Jangan sekarang! Kita harus tunggu aksi mereka.”
“Kelamaan dong bos, Jinny udah gatel nih.”
“Kalo gak begitu, kita gak punya bukti dong Jinny, terus penjahat itu bakal bebas!”
“Oh iya bos, Jinny gak sempet mikir ke sana.”
“Kayaknya, kalo opera udah selesai, mereka pasti bakal beraksi. Nah, kamu langsung kerjain mereka!”
“Itu urusan gampang bos. Jinny mau ikut main ya bos?”
“Iya deh, tapi jangan usil ya?”
“Siap Tuan Jun!” Jinny tidak begitu serius menanggapinya.
Perempuan hantu itu sudah muncul di panggung teater kecil, ia menggantikan peran pemain lain, muncul adegan lucu di mana Jinny kebalik mengenakan wig dan semua penonton tertawa. Opera yang harusnya serius berubah menjadi tawa seketika.
__ADS_1
Sepulang orang-orang menonton opera, Shelly kembali membuntuti Jun, ia begitu jelas melihat adiknya sedang jalan bareng cewe. Mereka saling tertawa lalu masuk ke dalam kabin kamar! Shelly tidak percaya melihat itu. Ia lalu melaporkan langsung ke Pak Bondan termasuk Bu Bondan.
“Gak mungkin ah, Jun itu anaknya baik, mama gak percaya kalo dia berani bawa cewe ke kamar!”
“Shelly gak bohong Ma! Shelly liat barusan Jun bawa temen cewenya kok.”
“Kalo begitu, kita lebih baik periksa ke sana, siapa tahu kamu salah lihat.” Pak Bondan juga tidak percaya.
Jun menyalakan lampu tidurnya. Jinny mengubah bajunya menjadi biasanya. Perempuan hantu itu memainkan lampu tidur samping ranjang Jun, ia begitu asik menarik gantungan lampu berulang-ulang sambil tertawa. “Lain kali, kamu jangan bikin Jun malu dong, kalo kamu laper kan Jun bisa bawain makan buat kamu.”
“Jinny udah kebelet laper bos. Masa Jinny harus nyuri di kapal? Jinny kan bukan penjahat bos.”
“Iya, Jun ngerti kok, tapi sikap kamu bisa membuat orang tua Jun curiga.”
“Sorry ya bos, Jinny seneng banget bisa naik kapal sama Tuan Jun, Jinny kan jarang dulunya bos, bisa jalan-jalan enak begini.”
“Jun sampe bosen bilangin kamu terus.”
Jinny hanya tertawa-tawa mendengarkan itu.
Shelly bersama Pak Bondan dan Bu Bondan sudah datang mengetuk pintu. “Jun! Keluar lo! Gue tahu lo bareng cewe kan di dalem?”
“Aduh! Kok mbak Jun bisa tahu sih, kalo kamu di dalem sini.”
“Tenang bos, Jinny tinggal ting, beres dong.” Jinny menghilang ketika Jun membuka pintu kamarnya.
“Loh kok lo sendirian aja? Ke mana cewenya?”
“Mbak Shelly ini ngawur deh. Orang Jun cuma sendirian aja kok.”
“Iya Jun, mama juga gak percaya, kok kamu berani bawa cewe ke kabin.”
“Ma, Pa, Jun gak pernah ya, bawa temen cewe untuk tidur bareng Jun di sini. Mungkin mbak cuma salah liat orang kali.”
“Enggak Jun, bajunya sama persis kaya lo, mana mungkin gue salah.”
“Ya sudah, kalian tidur aja sekarang, udah malem, besok banyak kegiatan.” Bu Bondan menengahi keributan kecil itu.
Shelly kecewa karena tidak tahu siapa cewe yang Jun bawa ke kabin miliknya. Apa itu Jinny? Kalau pun benar, sudah pasti Jun punya sahabat hantu, rasanya mustahil kalau Jinny manusia, tidak mungkin perempuan itu bisa berada di mana saja. Apalagi tidak ada orang yang mencarinya.
***
Sepasang penjahat itu telah bersiap untuk menakut-nakuti penumpang kapal, kemudian mereka akan leluasa mengambil perhiasan siapa saja. “Cepetan lo pake kostum hantu ini!”
Preman itu mengenakan baju piyama paling kuno dan kepala mereka tidak kelihatan! Hanya lehernya saja yang muncul. Penjahat itu hanya mampu melihat melalui lubang kancing bajunya. Mereka mulai berkeliling ke kabin paling sepi, preman itu memegang lilin cawan dan mengetuk pintu kabin dengan suara mengerikan. Kontan penumpang dalam kabin bangun ketakutan, mereka pergi dari kamarnya. “Wah kita kaya!”
“Banyak bos perhiasannya!” kata salah satu rekan mencomot tas mahal dan membuka isinya.
Keduanya beraksi untuk kedua kalinya. Kebetulan mereka menuju kabin Bu Bondan, ketika sampai ke sana Keluarga Pak Bondan belum masuk ke kamarnya. Sesampainya keluarga itu menuju kamarnya, lucunya semua ketakutan melihat badan tanpa kepala sedang berdiri di lorong kapal.
“Ayo kita ambil semuanya!”
Penjahat hantu itu merampas barang apa pun di dalam kabin kamar Bu Bondan.
Jinny yang baru muncul di tengah pintu pun kesal melihatnya. “Bener kata bos, mereka pasti beraksi. Jinny harus gagalin rencana mereka!” perempuan setan itu menjelma menjadi tangan jahil dan masuk ke dalam tas milik Bu Bondan.
__ADS_1
“Kayaknya masih banyak deh. Lo ambil tas itu!”
Preman satunya merogoh isi tas dan merasakan keanehan, ia menyentuh benda lunak yang halus menyerupai tangan manusia. Preman itu semakin penasaran lalu membuka isinya. “Kok kaya tangan sih?” setelah semuanya dia buka. Muncul sepotong tangan yang bergerak-gerak, kontan preman itu menjerit kemudian melempar tas curiannya. “Ada tangan bos!”
“Lo ngaco kali? Masa ada tangan.”
“Beneran bos, buka tuh tasnya!”
Penjahat itu memungut kembali tas yang jatuh dilantai kabin kapal, ketika ia membukanya, tidak ada apa pun di dalamnya. “Mana? Lo jangan ngaco! Mau nakutin gue?” rekannya justru tertawa-tawa. Ketika sedang asik meledek kawannya, tiba-tiba sepotong tangan itu muncul di kepala bos preman itu.
“Bos! Itu ada di kepala!”
Lelaki berpiyama putih lusuh itu menyentuh kepalanya. Seketika ia langsung menangkap sepotong tangan yang bergerak-gerak. “Ha! Hantu!”
Keduanya berlari seperti orang sinting ke dalam dapur kapal yang sepi. Mereka sembunyi dari serangan tangan jahil itu. “Lo kalo pilih kapal kira-kira dong, masa kapal yang ada hantunya kita naikin!”
“Gimana lagi bos? Cuma kapal ini yang banyak orang kaya.”
Ketika suasana begitu sunyi tanpa satu pun orang. Mereka memutuskan untuk keluar, tetapi tiba-tiba pintu dapur tertutup begitu saja. “Kok kekunci! Bukain kami! Tolong!”
“Kita lari make jendela bos!” penjahat satunya menyarankan untuk melompat melalui jendela.
Mereka berebutan untuk keluar dari dapur kapal itu, namun tanpa mereka tahu tangan itu muncul kembali, sekarang tangan itu merembet ke punggung dan mengelus kepala botak penjahat itu. “Sembarangan lo! Lo ngelus kepala gue ya?”
“Enggak bos!” ketika kawannya menjawab, tanpa dia tahu ada yang menarik celananya dari belakang, lalu badannya jatuh begitu keras ke lantai. “Aduh bos! Jangan tarik celana gue dong!”
“Tangan itu!” teriak temannya yang membesarkan matanya karena kaget.
Ketika penjahat piyama putih itu melarikan diri karena ketakutan, sepotong tangan itu muncul di dapur dan mengayunkan panci keras-keras ke muka penjahat itu.
Kawannya pun pingsan ke lantai karena pukulan itu.
“Gue bakar lo!” penjahat satunya mendekati kompor dan bermaksud menangkap tangan itu lalu membakarnya. “Gue tangkep lo!”
Tangan itu meluncur di atas penggorengan mati dan muncul potongan tangan satunya, penggorengan itu menyala membara. Penjahat itu kaget dengan badannya yang diangkat tinggi-tinggi, lelaki preman itu menjerit seperti perempuan yang kebuka tempat mandinya. Dalam satu kedipan mata, lelaki brengsek itu pun terlempar pantatnya di atas penggorengan panas. “Tolong! Bokong saya kebakar!” penjahat itu melarikan diri keluar.
Secara lucu dia menceburkan diri ke dalam peti es batu terbuka. Dalam keadaan adem karena pantatnya sudah dingin, rombongan polisi kapal datang dengan Keluarga Pak Bondan.
“Itu pak polisi penjahatnya!” Bu Bondan mendekati ke sana.
“Benar pak, mereka yang barusan nakutin kami.” jawab Pak Bondan.
“Mereka memang sudah sering jadi penjahat kapal, kami kehilangan jejaknya, karena mereka buron!”
“Ini Mah, Pah, Jun bawain tasnya.” Jun datang mengembalikan tas milik ibunya.
“Makasih ya Jun!”
“Kok penjahat satunya di dapur, satunya lagi nyebur di sini? Ini gimana ceritanya?” Pak Bondan kebingungan.
Jinny muncul kembali dalam penampilan manusia. “Jinny barusan nakutin mereka bos. Terus Jinny cemplungin di sini deh!”
“Kerja bagus Jinny!”
Shelly keheranan melihat tangan Jinny yang terbakar api. “Tangan kamu kok ada apinya!”
__ADS_1
Mereka berombongan kaget melihatnya. Jinny hilangkan api dalam sekejap kemudian tertawa genit mengedipkan satu matanya. “Gitu aja kok repot!”