
Seorang lelaki dalam kemeja kantor muncul membawa kopor. Ia sedang mencari alamat koleganya. Antara sebentar badannya berhenti. Lalu berjalan kaki kembali dan melihat kembali alamatnya yang ada dalam kertasnya. “Waduh, buyung, nyari alamat kok susahnya minta ampun. Ini alamat rumah apa hutan terlarang sih!” gerutunya sendirian sambil menendang apa pun di jalan.
Dari seberang perumahan tahu-tahu muncul tukang becak. Lelaki kantoran itu bermaksud menghentikan becak itu untuk dinaikinya. “Mas! Becaknya, Mas!” panggil lelaki itu melompat-lompat sambil mengangkat kedua tangannya.
Abang tukang becak pun berhenti. “Ya, pak, mau saya antar ke mana?”
Lelaki pemanggil kesal karena jarak becak begitu jauh darinya. “Situ berentinya kok jauh banget, saya jadi susah nih!”
“Oh iya Pak!” si tukang becak pun mundur beberapa langkah ke belakang. “Maafin deh Pak, abis bapak gak keliatan sih.”
“Jangan mentang-mentang saya pendek ya! Kamu kira saya beruang nyasar gitu?”
“Aduh Pak! Jangan galak-galak dong. Saya belum setoran nih!”
“Masa bodoh! Emang saya bos kamu! Cepet! Antarin saya ke alamat ini!” kata lelaki kantor dengan dandanan kelimis dan necis tapi bertubuh pendek.
“Kenanga Timur, Pak?” kata tukang becak selesai membaca kertas berisi alamat.
“Iya! Kamu bisa baca gak? Sekolahnya sampe kelas berapa?”
“Saya gak sekolah Pak!”
“Loh kok bisa baca?” lelaki penumpang terkejut.
“Saya kan udah lulus Pak. Ngapain harus sekolah lagi?”
“Terserah! Mau sekolah kek. Mau bolos kek. Bukan urusan saya!”Lelaki penumpang hampir menangis karena gemas meladeni tukang becak itu.
“Katanya bapak mau tahu, saya sekolah apa gak? Kok sekarang marah-marah.”
“Cepet! Antarin saya ke alamatnya. Lama-lama saya bisa darah tinggi ladeni kamu!”
“Yakin nih Pak? Gak salah nulisnya? Ntar nyasar lagi!” tukang becak membuka tudung pelindung becaknya agar terbuka lebar.
“Bener! Udah ikuti apa kata saya!”
Akhirnya becak berjalan melewati perkampungan dan perumahan. Penumpang kaya dengan penampilan bagus itu semakin terheran-heran sepanjang jalan. Ia menyadari tukang becak membawanya semakin jauh dari perkampungan dan keramaian penduduk. Tetapi, ia memilih diam dengan terus melihat jam tangannya. Beberapa puluh menit setelah perjalanan panjang itu, becak pun sampai ke tujuan yang barusan bapak pendek itu tunjukan dalam alamatnya. “Udah sampe nih Pak! Mana dong ongkosnya?”
“Iya-iya bentar!” lelaki itu bergegas turun. Ia terus menunduk tanpa melihat ke belakangnya. “Nih! Dua ribu cukup kan?”
“Aduh Pak! Tambahin dong, krismon kan baru selesai, jangan pelit-pelit amat dong sama saya!”
“Kamu minta apa nodong sih!” lelaki tambun itu kembali merogoh saku celananya untuk mengambil dompet. Sementara tukang becak itu tertawa diam-diam melihat pria itu mengambil uangnya. “Empat ribu! Sekalian buat nutupin bon diwarung.”
__ADS_1
“Yah si bapak, sekate-kate, biar jelek gini saya gak pernah ngutang ya!”
Beberapa langkah pria itu berbelok ke depan. Mukanya langsung kaget melihat keadaan sekitarnya penuh kesunyian dan kedinginan mencekam, bukan seperti dalam alamatnya. “Kok kuburan! Heh! Becak! Berenti-berenti!”
Tukang becak itu menghentikan genjotan kakinya.
“Ada apa Pak?”
“Kok kamu anterin saya ke kuburan sih! Saya kan mintanya perumahan. Bukan kuburan!”
“Loh tadi katanya Kenanga Timur. Kenanga Timur itu kuburan Pak!”
“Terus yang bener mana dong! Aduh, buruan dong, saya mau ngejar setoran nih!”
“Emang saya pikirin, saya kan bukan bos bapak!” tukang becak itu kabur menggenjot becaknya begitu cepat sampai beberapa gang jauhnya.
“Dasar gila!” lelaki itu pun terpaksa berjalan kaki mencari alamat yang sebenarnya.
Menjelang sore dengan anak-anak yang sedang naik sepeda dan bercanda satu sama lain. Mereka baru pulang dari lapangan. Salah satu dari mereka membawa bola sepak. Lelaki kantor dalam kemeja yang masih sama, belum sarapan dan belum ke toilet ketiduran di pinggir telpon umum. Anak-anak komplek mendatanginya. Mereka saling mengelilingi lelaki itu. “Siapa sih bapak ini?”
“Kayaknya orang nyasar deh!”
“Kata mama, kalo ada orang nyasar, pasti itu orang gila!” kata seseorang bocah di antara mereka.
“Aduh! Gimana dong kalo kita diculik terus dimakan sama bapak-bapak ini?”
“Ide kamu bagus tuh!”
Mereka bertiga mulai melancarkan aksinya. Lelaki gemuk dan pendek itu sedang bobok begitu nyenyak, saking lelah ia tidak menyadari ketiga anak kecil itu sudah mengikat sepatunya satu sama lain. “Sekarang gimana?”
“Biar dia cepet pergi dari kampung ini. Gimana kalo kita lemparin bola ini aja?”
“Wah bagus tuh!” saran itu pun mendapatkan persetujuan.
Mereka telah berdiri tidak jauh dari wartel dan bebarengan bocah-bocah itu menghitung mundur waktu untuk beraksi. “Sekarang!”
Ketiganya memanggil lelaki yang sedang bersandar di bawah telpon umum itu. “Pergi! Dasar gila!”
“Pergi kamu!”
Bola pun terlempar jauh mengenai kepala plontos lelaki tambun itu. Ia terbangun dan langsung terkejut. “Heh! Bocah! Sembarangan! Gue beri kalian!”
Mereka serentak berlari membawa sepeda masing-masing. Lelaki itu berdiri sekuat tenaga tetapi dalam sekejap tali sepatunya membuatnya terjatuh! “Kenapa lagi sepatu gue!” lelaki itu merintih karena baru saja dikerjain anak-anak komplek. “Sialan! Mana gue disangka gila lagi sama tuh bocah-bocah.”
__ADS_1
***
Pak Bondan baru pulang dari kantor dan bertemu karibnya di jalanan perumahan. Pak Bondan keluar dari mobil lalu menyalaminya ramah dan tersenyum. “Lagi nunggu siapa, Pak?”
“Begini Pak, saya dari kemarin siang nungguin kolega saya. Kok sampe sore begini, belum dateng-dateng ya?”
“Ngomong-ngomong ada keperluan bisnis apa?”
“Oh ini, Pak, kami niatnya mau membeli kapal untuk berlayar ke Australia.”
“Kok jaman sekarang masih make kapal, Pak?”
“Iya Pak Bondan. Soalnya kami tidak mau membuang uang hanya untuk naik pesawat. Jadi kami membutuhkan kapal untuk menghemat perjalanan dan kantong.”
“Kalau begitu malah bagus. Kita bisa mendukung program pemerintah untuk mengurangi hutang negara. Dengan mengurangi transportasi besar seperti pesawat, kita sudah selangkah maju meninggalkan kehidupan boros.”
Dari kejauhan rumah-rumah yang mulai menyalakan lampu karena hari sudah hampir malam. Muncul lelaki yang barusan ketiduran di bawah telpon umum. Ia sudah kotor sana-sini bajunya dan rambutnya yang tinggal sedikit mirip kapas, mendatangi Pak Bondan dan karibnya.
“Pak Munich kan? Saya tungguin loh dari tadi. Kok baru dateng?”
“Kenalkan ini Pak Bondan!” katanya langsung mengalihkan topik.
“Bapak nulis alamatnya yang bener dong. Masa saya disuruh ke kuburan!” Munich masih kesal soal alamatnya yang salah.
“Hah? Kuburan?” Pak Bondan menahan suara tertawanya.
“Mungkin si Rini, asisten kantor saya salah menulisnya, jadi bapak bisa ke sasar. Barangkali, bukan Kenanga Timur tapi Pejaten Timur!”
“Kok baju bapak kotor begini?” Pak Bondan keheranan melihat penampilan Munich.
“Ehm, itu Pak Bondan, barusan saya ketiduran di jalan, terus ketemu anak-anak badung. Mereka ngira saya orang gila!”
“Loh kok bapak bisa tidur disitu?” Pak Kartomo bertanya kembali.
“Karena alamatnya susah sekali carinya. Saya ketiduran di bawah telpon umum deh!”
“Tidak heran, makanya bapak di sangka orang gila.”
“Sudah-sudah! Saya capek nih!” Munich sebal dengan tingkah koleganya. Apalagi kenalan barunya yang ia tidak begitu kenal, tetapi sudah berani mengerjainya.
“Nanti bapak saya tempatkan di perumahan Timur. Bapak akan menempati rumah saya sementara. Selama itu bapak harus merawat dan menjaga rumah saya.”
“Terus kapalnya Pak?”
__ADS_1
“Sementara ini, tunggu dulu sampai saya dan isteri saya pulang dari luar negeri.”
“Bapak pasti suka punya tetangga baik hati, macam Keluarga Pak Bondan ini.” Kartomo menyilakan Pak Munich untuk memasuki mobilnya dan Pak Bondan sudah kembali mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumahnya.