
Sepulang sekolah Jun merasa sedih karena orangtuanya melarang dia untuk keluar rumah. Semua gara-gara Shelly yang suka mengadukan yang tidak-tidak tentang adiknya itu. Jinny terbang bebas dari belakang Jun dan mendarat ke samping Jun yang sedang jalan kaki.
“Pasti bos marah ya sama Jinny.”
“Enggak kok. Lagian kan, yang ngajak kamu makan itu saya. Bukan kamu. Jadi semuanya bukan salah Jinny.”
“Jinny jadi merasa bersalah deh bos. Atau gak gini aja bos. Kan yang laporin bos itu Ridwan. Gimana kalo Jinny kerjain aja orang itu! Jinny juga kesel nih bos!”
“Eh, gausah ya, nanti malah tambah ruwet urusannya. Mending kita pantau si Ridwan. Apa bener dia sebaik itu orangnya? Kalo Ridwan ngurusin Jun berarti dia harus punya sikap lebih baik dari Jun dong.”
“Ide bos bagus juga. Tapi bos, Ridwan itu di mana rumahnya?”
Jun berpikir untuk sejenak dan ia menjentikan telunjuknya. “Oh iya, Ridwan itu pernah suka sama Mbak Shelly, nah Jun pernah dateng ke rumahnya pas ulang tahun. Tapi ah. Itu kan udah lewat sepuluh tahun lalu. Sekarang Jun lupa.”
“Tenang bos. Jinny punya monitor. Nih liat!” Jinny membuka satu tangannya dan di dalam tangannya muncul gambar Ridwan baru masuk ke dalam rumahnya dan menggandeng perempuan berbaju seksi.
“Siapa tuh?”
“Jinny gak tau bos. Lebih baik kita langsung ke sana aja.”
Jun memegang pundak Jinny dan mereka melompat ke tempat lain. Jun langsung sembunyi dibelakang pohon besar. Jinny berada di samping melipat kedua tangannya. Beberapa jam lamanya Ridwan baru keluar dari rumah dan Ridwan memberikan uang kepada perempuan seksi itu. Selepas itu Ridwan menaiki mobil lalu mengantar perempuan menggairahkan itu ke perempatan jalan.
“Tuh kan bos. Ridwan itu bukan cowo baik-baik bos. Bos udah liat buktinya kan?”
“Iya, kok Ridwan bisa bawa perempuan ke rumahnya ya? Wah ini gak bener Jinny. Masa Jun yang gak salah apa-apa difitnah sama dia.”
“Nah itu bos, makanya kita jangan langsung menilai orang dari luarnya. Siapa tau. Bule yang biasa bos lihat di filem, belum tentu mau tidur sama cowo sembarangan.”
“Kamu juga kan bule. Saya gak percaya kamu bukan liberal.”
“Jinny kan lahir empat ratus tahun lalu bos. Jaman segitu mana ada liberal bos. Kami yang Kristen masih menaati perintah Tuhan. Anehnya, kenapa anak-anak kami, cucu-cucu kami di Eropa sekarang, bukan seperti di jaman Jinny kembali. Bahkan kebanyakan sudah tidak percaya Tuhan.”
“Udah jangan murung. Yang penting Jinny masih tetap menjadi diri sendiri. Jun akan selalu sependapat sama Jinny. Sekarang begini. Kita harus bisa bikin mbak Shelly percaya sama Jun. Kalo Jun gak seburuk itu.”
“Rebes bos!” Jinny bersaluir dan Jun kembali jalan kaki dengan Jinny yang terbang lagi di atasnya.
__ADS_1
***
Pak Bondan baru menyuci mobilnya sendirian. Jun sedang duduk di teras sambil memainkan bola basketnya. Muncul mobil bagus memasuki rumah mereka. Keluar lelaki dalam jaket kulit dengan rambut klimisnya. “Sore om! Sore Jun!”
“Eh, nak Ridwan?” Pak Bondan datang menyambut. “Kok tumben dateng? Pasti janjian sama Shelly ya?”
“Oh iya betul om. Shellynya ada om?”
“Bentar ya om panggilin dulu.” Pak Bondan memanggil-manggil Shelly. “Shel! Nih ada Ridwan!”
Shelly ternyata sudah siap dengan pakaian bagusnya, celana pinsil dan baju ringan serta tas punggung miliknya. “Pa, Shelly mau ijin pergi dulu ya!”
“Inget ya pulangnya jangan kemaleman.”
“Siap! Orang Shelly cuma mau ke toko buku kok!”
Ridwan berpamitan dan Shelly melihat Jun yang sedang menatapnya kesal. Shelly tidak peduli dan Ridwan sudah menyalakan mobilnya jauh dari sana.
“Beres bos!” Pak Bondan berubah menjadi Jinny.
“Kerja bagus Jinny! Sekarang kita ikutin mereka!”
“Kamu nyamar aja jadi Cathrine. Terus kamu goda si Ridwan biar Shelly kesel sama dia.”
“Ide bagus bos!” Jinny mengubah dirinya menjadi Cathrine.
Mereka berdua menyeberang toko buku besar itu dengan melihat kanan kiri jalan. Benar saja, Shelly sedang memilih buku yang mau dibelinya. Jun berpura-pura melihat banyaknya novel-novel picisan dan horor. Sementara itu Cathrine mengambil satu buku horor lalu membacanya sambil tertawa-tawa. Ridwan yang berada di dekatnya penasaran, pemuda itu mendekatinya sambil melirik cabul ke bentuk badan Cathrine yang mengundang berahi. “Kok sendirian aja? Lagi baca buku apa?”
“Beranak dalam kubur.” Cathrine menutup sementara bukunya.
“Suka sama horor ya? Kok tadi ketawa-tawa bacanya?”
“Banyak adegan lucunya. Masa tukang sate lari liat perempuan terbang dari pohon.”
“Itu kan serem. Gak ada lucunya lagi. Cewe aneh kamu.”
__ADS_1
“Tapi aku kan cantik. Jadi kalo aneh-aneh gak papa dong.”
Ridwan menatap Cathrine sekali lagi dan menatap Shelly yang berada di pojokan. Kesempatan! “Yuk ketempat yang sepi.”
Cathrine menurutinya. Ridwan mengalungkan tangannya ke pinggang Cathrine. Dalam sekejap Cathrine memindahkan Shelly ke depan mereka. Ketiganya bertabrakan di tengah kamar mandi. Shelly tersadar. Ridwan kekagetan. “Loh kok kamu bisa di sini?”
“Ridwan? Lo kok bawa Cathrine! Dasar cowo brengsek lo. Lo mau apa ke kamar mandi sama dia!”
“Aku ke sini sendiri kok. Cewe ini resek godain aku.”
“Enggak mbak bos! Eh, mbak Shelly, Cathrine lagi baca buku tapi cowo mbak dateng, ngajak Cathrine ke sini ....”
“Udah-udah! Kalian semua brengsek!” Shelly pergi dari sana kemudian Cathrine lenyap menjadi asap. Ridwan kesal memukul pintu kaca kamar mandi umum. “Ke mana cewe barusan?” Ridwan mencarinya di mana pun dan tidak menemukan Cathrine lagi. “Jangan-jangan setan lagi!” Ridwan melupakan Shelly dan memilih pergi.
Sementara itu Shelly terus jalan kaki menahan rasa kesalnya, perempuan itu berhenti di samping halte seketika Jun muncul dari belakangnya. “Kok cepet banget pulangnya mbak. Ridwan mana?”
Shelly kaget melihat Jun di situ. “Jun! Ridwan udah kecewain gue. Gue gak percaya cowo lagi! Masa dia bawa Cathrine ke kamar mandi!”
“Tuh kan apa Jun bilang. Ridwan itu cowo kurang ajar mbak, kemarin pas Jun pulang sekolah aja, Jun liat dia bawa cewe panggilan ke rumahnya!”
“Aduh Jun! Kenapa lo gak bilang sama gue dari awal.”
“Abis mbak lagi marah sama Jun sih.”
“Terus mbak gimana dong, kalo papa tau Ridwan cowo gak bener.”
“Gampang kita pulang aja sekarang.”
Pak Bondan sedang membaca koran di teras dengan Bu Bondan. “Kalian habis dari mana?” tanya papanya.
“Masa papa lupa sih. Kan papa yang ngasih ijin Shelly buat pergi sama Ridwan.”
“Apa?!” Pak Bondan terkejut lalu berdiri mendatangi Shelly. “Sejak kapan papa kasih kamu ijin pergi sama cowo?”
“Barusan pa, pas papa lagi nyuci mobil di depan!”
__ADS_1
“Orang papamu baru pulang kok. Mama keluar buka pintu malah kamunya udah gak ada.”
Shelly pingsan mendengar pengakuan ibunya. Jun dan Pak Bondan memapahnya. Jinny muncul mengikik di belakang mereka.