Pacarku Kuntilanak

Pacarku Kuntilanak
Lukisan Terkutuk


__ADS_3

Jun sedang sendirian di kamar tidurnya. Ia mematikan betamax dari saluran televisi tabung di meja belajarnya. “Bosen juga. Mana belum ada temen lagi.”


Shelly tiba-tiba datang membuka pintu, wajahnya melongok dan menyeringai. “Lo kalo bosen gapa-pa lagi main aja ke rumah temen gue.”


“Mbak kok cepet banget dapet temennya?” Jun kebingungan di kursi belajarnya.


“Jadi mbak tuh gini Jun. Mbak gak sengaja kenalan sama cowo di majalah gitu. Kebetulan dia tinggalnya gak jauhlah dari sini.”


“Kalo gitu besok sekalian ajak Jun aja.”


“Beres, tapi lo mau gak bantu gue?”


“Pasti ada maunya deh!”


“Mbak mau kamu cariin telpon umum di sini.”


“Emang pacaran sepenting itu ya?”


“Kok lo resek banget sih! Gue gak mau pacaran lagi. Ada yang ngajak gue buat main teater gitu ke gedung komidi.”


“Bagi-bagi ya kalo udah gajian.”


“Iya!” Shelly pergi menahan kesalnya.


Mereka mengendap-endap di ruangan keluarga. Samar-samar Bi Iyem masuk meletakan barang-barang ke dalam lemari kaca. Shelly dan Jun bersembunyi ke samping guci besar. “Udah malem, Bu Bondan nyuruh saya buat mastiin Mas Jun sama Mbak Shelly? Kira-kira mereka udah tidur belum ya?”


“Ah iyem naik ke atas aja deh!”


Shelly muncul ke tengah ruangan gelap yang hanya terang dengan kandil redup. Jun menyusul ke belakang badan kakaknya. “Sekarang lo ambil kunci di laci kamar gue.”


“Gue tunggu di mobil ya!”


Jun menyelinap sayup-sayup melalui jendela kamar Shelly yang sengaja kakaknya buka. Jun membuka laci dan tidak menemukan kunci cadangan itu. Ia membuka-buka lemari pakaian kemudian tidak menemukan apa pun. “Di mana ya kuncinya.” Jun mondar-mandir menekuk kedua tangannya.


Jun yang kebingungan justru menemukan lukisan tua yang dibungkus beledu merah anggur di atas lemari kamar tidur kakaknya.


“Siapa tau kuncinya ada di sana!”


Jun mendorong kursi dan kakinya menaiki kursi itu hingga lukisan dalam bungkusan kain beledu itu diambilnya.


“Kayaknya bagus nih lukisan! Gada salahnya kalo gue buka.” Jun melepaskan bungkusan kain yang melindungi lukisan kuno itu. Jun batuk-batuk, ia menganga menatap lukisan yang rupanya perempuan seumuran dengannya. Jun meragukan dan mau mengembalikan lukisan itu lagi. Tetapi dia justru memilih memasang bingkai lukisan ke dinding, tanpa ia sadari, hatinya mulai berdegup mengagumi betapa bagusnya lukisan itu.


Sepertinya gadis dalam lukisan itu bukan murni orang Indonesia kebanyakan, melainkan peranakan atau keturunan Eropa. Perempuan dalam lukisan itu tersenyum, bajunya gaun korset berlengan pendek namun dengan bawahan gaun melembung. Mungkin jika perempuan itu masih hidup, barangkali tidak ada yang mampu menandingi kecantikannya.

__ADS_1


Jun sibuk mengagumi lukisan itu sampai melupakan Shelly kakaknya sendiri. “Aduh gue sampai lupa lagi! Lagian di mana sih kuncinya!” Jun menyibak tirai jendela di depan meja belajar kakaknya. “Ini dia!” Jun mengambil kunci serep di tepian jendela kamar kakaknya.


Tanpa ia sadari rembulan sedang bersinar begitu terangnya. Jun tidak sempat menutup kembali tirai jendela itu, lukisan yang semula diam, tanpa ia ketahui mengeluarkan asap dan cahaya. Jun menengok ke belakang, ia terlonjak kaget dan duduk ke atas ranjang Shelly. Lukisan itu meledak. Lukisan itu kosong tanpa sosok perempuan yang barusan ada di dalam bingkai. Jun kembali batuk-batuk akibat asap yang baru hilang dari lukisan.


Sayup-sayup matanya menganga besar, tidak jauh darinya berdiri perempuan dalam gaun kuno dan tersenyum di bawah sinar rembulan. Perempuan itu berjalan semakin mendekatinya. “Jangan takut anak muda. Kamu telah membebaskanku dari lukisan itu. Sekarang sebutkan permintaanmu. Aku bersedia akan selalu membantumu.”


Jun tidak mampu berkata apa pun. Ia berteriak dan meninggalkan kamar tidur Shelly. Shelly yang sedang menunggu begitu marah padanya. “Kok lo lama banget sih! Liat nih udah jam satu malem. Kita bisa ketauan papa, mama. Apalagi banyak penjahat!”


“Hus! Elo juga sih ngajak gue keluar jam segini.”


Mereka menyetir mobil ke dalam perumahan yang barusan sore mereka lewati, pemandangan begitu sepi dengan cahaya bulan, Jun sendiri memikirkan perempuan yang muncul seperti dalam lampu ajaib barusan. “Lo jangan pergi ya! Gue sebentar aja.” Shelly keluar menutup kembali mobilnya.


“Iya bawel!” Jun memandang sekitar perumahan yang dingin dan sepi. Ia merasakan badannya kedinginan, ketika itu dalam kabut di jalanan perumahan muncul perempuan dalam lukisan barusan. Jun tidak menyadari perempuan itu menatapnya sekarang. “Sendirian aja?”


Jun melirik ke samping pundaknya. Perempuan itu tertawa-tawa menatapnya. “Kamu! Saya gak kenal siapa kamu ya! Kembali ke lukisan sana.”


“Kamu yang sudah membebaskan saya. Saya harus berterima kasih sama kamu.”


“Oke! Kalo begitu apa yang bisa kamu kasih ke saya?”


“Apa pun selama tidak menentang kehendak Tuhan.”


“Kalo begitu saya mau minum coca cola sekarang!” Jun girang mengusap tangannya sendiri.


“Itu urusan kecil untuk bos! Saya bisa datengin satu tokonya langsung. Liat nih ya!”


Perempuan itu tertawa gembira. Ia menyulap tangan kosongnya dan muncul botol coca cola. “Silakan minum Tuanku.”


“Wah kamu hebat! Saya gaperlu jalan kaki ke swalayan.”


“Tempat apa itu Tuan?”


“Swalayan itu tempat buat belanja kebutuhan kita. Kita bisa beli apa aja ke sana. Selama ada uang.”


“Aku kira Swalayan itu rumahnya bos.”


“Kamu ngaco aja.”


Shelly sudah kembali dari wartel dan memandang Jun keheranan. “Lo dapet minuman dari mana?”


“Ini barusan ada penjual asongan mba. Jadi Jun beli aja.”


“Kok aneh ya? Biasanya jam segini udah gada tuh!”

__ADS_1


Mereka kembali masuk ke dalam mobil. Perempuan itu sudah duduk ke sana, ia meminum botol kaca yang barusan diminum Jun. “Seger banget rasanya Tuan!”


“Hush! Jangan abisin!”


Shelly menatap kebingungan dari kaca spion depan. “Ih lo kenapa sih kok ngomong sendiri!”


“Enggak kok mbak, Jun lagi latihan sandiwara aja.”


Dalam perjalanan menuju rumahnya ban mobil kempes tiba-tiba. Shelly menggeram menuju ke kap bagian depan. “Jun lo turun dong, masa gue doang yang benerin nih mobil.”


“Iya-iya! Lo sabar dong!”


“Bukan mesinnya yang rusak Tuan. Tapi ban mobilnya kena paku.”


“Oh gitu ya?”


“Gimana sih lo orang gue gak ngomong juga!” Shelly memberengut menatapnya.


“Iya maksudnya mungkin aja ban mobilnya kempes gitu mbak. Coba liat deh.”


Shelly menuruti perintah adiknya dan benar saja mobilnya bocor. “Sekarang lo bantu gue dorong ya. Jam dua gak mungkin ada bengkel buka!”


“Oke deh terserah!”


Perempuan lukisan yang sekarang sudah bebas itu membantu Jun, perempuan itu mengembalikan bentuk ban bocor menjadi utuh seperti semula.


“Kayaknya udah gak bocor deh mbak!”


“Masa sih?” Shelly melihat kembali ke posisi ban kempes. “Wah kamu hebat Jun!”


Tanpa mereka tahu muncul motor berandalan yang menghadang mobil itu di perumahan sepi. “Turun kalian!”


“Aduh Jun kita mungkin harus terobos aja deh!”


“Tenang mbak. Ada Jun pasti semua beres!” Jun keluar menantang preman itu. “Kalian mau apa?”


“Heh bocah! Serahkan mobil ini atau kalian gue beri!”


“Beraninya lawan anak kecil.”


Preman itu melompat turun motor dan menyerang, tanpa ia tahu tubuh keduanya terpental ke tanah dan Jun tidak apa-apa. “Dia make ilmu kontak, kita lawan make perasaan!”


Satu persatu maju namun pukulan mereka meleset dan terlempar ke atas tiang listrik dan rumah seorang warga.

__ADS_1


“Gue gak nyangka lo jago banget bela diri. Ajarin dong!”


“Tenang aja. Itu masalah itu kecil.”


__ADS_2