
Malamnya ketika semua Keluarga Pak Bondan sudah menidurkan diri di kamar masing-masing, Shania dan Robert muncul diam-diam membuka pintu kamar mereka dari dalam kamarnya.
“Kayaknya mereka udah pada tidur deh.”
“Sekarang kita kerjain mereka!” Robert mendahului adiknya ke depan.
“Cepetan dong kak! Nanti kalo mereka bangun gimana?” Shania mengawasi keadaan sekitarnya.
“Sabar dong! Gue lagi siapin minyaknya nih!”
Setelah Robert mengoleskan minyak sawit di pintu tidur Pak Bondan dan Bu Bondan. Ia langsung menarik tangan Shania ke hadapan pintu kamar tidur Shelly dan terakhir Jun.
“Biar mereka kepleset besok!” Robert kesenangan tertawa-tawa, ia membayangkan bagaimana Keluarga Pak Bondan akan tergelincir badannya ketika bangun tidur membuka pintu.
Jinny muncul mendadak tanpa mereka tahu. “Nakal banget sih kalian. Kalian kan udah boleh tinggal di sini, masa begini balesannya.”
“Shania udah gak sabar banget kak. Pasti seru nih besok pagi!”
Mereka tertawa dalam kesunyian, Jinny membersihkan semua minyak sawit itu dalam sekali arahan telunjuk tangannya. Setelah Robert dan Shania masuk ke dalam tempat tidurnya, Jinny langsung memunculkan minyak sawit ke depan pintu tidur mereka. “Selamat bobok ya anak nakal!” Jinny tergelitik mengatakan itu.
Paginya mereka berdua menunggu mondar-mandir di dalam kamarnya. Shania begitu pun Robert kebingungan karena mereka tidak mendengar suara teriakan atau jeritan sama sekali. “Kok aneh banget ya? Apa mereka belum bangun sih?”
“Kayaknya kita bangun kesiangan. Jadi gak tau.”
“Sekarang kita lihat yuk kak!” Shania mengajak sodaranya untuk melihat keluar kamar.
Ketika mereka keluar pintu barengan, secara spontan Robert merasa kakinya licin dan kedua tangannya menarik Shania. Mereka tergelincir dan suara teriakan karena terpeleset pun terdengar. Jun, Shelly muncul disusul dengan Pak Bondan begitu pun Bu Bondan.
“Kalian kenapa nih?” Pak Bondan menahan ketawanya.
“Iya kok tiduran di lantai sih.” Bu Bondan tidak kalah mengejeknya.
“Mungkin di kamar kurang dingin Ma, Pa. Jadi mereka tidurnya dilantai deh!” Jun meledeknya.
“Kita jatuh nih! Bantuin kek!” Shania kesal berapi-api.
Jinny muncul mendekati Jun dan berkata. “Semalem mereka jail bos, Jinny gak sengaja liat mereka naroh minyak ke semua pintu kamar keluarga bos. Jadi Jinny pindahin deh!”
“Bagus deh. Mereka emang ngeselin. Jun aja sampe kesel banget!” Jun meneruskan bicara setelah mereka bersiap sarapan pagi.
“Jinny bantuin bos ngusir mereka ya?”
“Boleh kok. Jun malah seneng kalo Jinny mau bantuin keluarga Jun.”
“Udah siang nih bos, Jinny mau ngawasi mereka ya?”
“Pokoknya kamu awasi terus ya!”
“Oke Tuan Jun!” Jinny menghilang dalam sekejap.
Sementara itu Shania dan Robert sedang duduk di kursi kolam renang. Mereka kebingungan kenapa rencana semalam tidak berhasil. Mereka merencanakan ide lebih nakal lagi. “Kok minyaknya bisa pindah ke kamar kita kak?”
“Kakak juga gak tahu! Gimana kalo kamu pura-pura mandi aja. Terus kakak kerjain Jun, kalo dia ngintip kamu!”
“Wah bagus banget kak idenya!”
Jinny diam-diam melihat mereka di depan kolam renang. “Masih kecil kok jorok banget sih!”
__ADS_1
Jinny kesal lalu menghilangkan kursi duduk milik Robert. Seketika Robert terjengkang ke lantai. Shania tidak melihatnya. “Kok kursinya ilang! Bantuin kakak dong!”
Shania kaget melihat kakaknya sudah merintih di lantai. “Kok duduknya di bawah kak? Kan ada kursi.”
Robert tidak menjawabnya karena kesal. Jinny tertawa besar melihat mereka sibuk bertengkar.
***
Sorenya ketika Keluarga Pak Bondan sudah pulang, mereka baru rehat dari kegiatan diluar rumah, Robert diam-diam menyuruh Shania untuk pura-pura mandi. Nanti Robert akan mengajak Jun ke kamar mandi, dia akan beralasan barang miliknya hilang di kamar mandi, lalu Jun disuruh membantunya untuk mencari.
“Baru pulang sekolah Jun?”
Jun menutup kulkas setelah mengambil segelas minuman soda dingin. “Iya nih! Kalo sekolahnya belum bubar, Jun mending gak pulang deh.”
Robert merasa tersinggung mendengar itu.
“Ada apa Rob? Lo mau makan? Kita belum masak nih.”
“Bukan Jun. Gue barusan ke kamar mandi, nah gue lupa naroh barang, barang gue ilang nih. Lo mau bantu gue nyari gak?”
“Barang apaan dulu nih?”
“Ehm itu Jun! Pejer gue ilang di kamar mandi.”
“Ada-ada aja deh lo. Masa pejer bisa ilang di kamar mandi!”
“Kayaknya rumah lo ada hantunya deh!”
“Ngawur aja kamu. Ayo saya bantu nyari!”
“Kan lo yang butuh barangnya! Masa gue yang masuk sih.”
Mulanya Jun ragu-ragu tetapi karena kasihan maka ia membuka pintu, tetapi sebelum itu Bi Iyem muncul tiba-tiba. “Mas Jun! Kebetulan di sini. Bantuin Iyem di dapur yuk!”
Jun tidak jadi membuka kamar mandi. “Ya udah deh. Sorry ya Rob, gue ada urusan nih.”
Robert kesal melihat itu dan spontan dia membuka pintu kamar mandi. Shania tiba-tiba muncul menyiram air dari dalam gayungnya, Robert kekagetan dan seluruh bajunya basah kuyup!
“Sialan! Kok lo nyiram gue sih!”
“Sorry kak! Shania kira barusan itu Jun!”
Shelly tidak sengaja mau ke kamar kecil dan kebetulan melihat mereka. “Aduh kalian kurang kerjaan banget sih. Masa udah gede main basah-basahan!”
Robert dan Shania semakin kesal melihat Shelly meledeknya.
Malamnya Jun sedang menuruni tangga dengan Jinny, mereka mengobrol satu sama lain menuju tangga turun. “Coba deh kalo kamu gak muncul. Pasti Jun udah basah, terus Jun dituduh ngintip Shania.”
“Iya bos, mereka emang usil banget, makanya Jinny gak suka mereka.”
“Jadi kamu tahu dong, kalo Robert sama Shania punya niat jahat.”
“Jinny sengaja ilangin kursi Robert bos. Biar tahu rasa!”
Jun tertawa-tawa mendengar itu. Ketika mereka sudah turun, muncul Robert dan Shania di belakang guci besar. Mereka merencanakan untuk mengerjai semua Keluarga Pak Bondan.
“Aku ada ide nih! Nanti malem, gimana kalo kita coretin muka mereka waktu tidur?”
__ADS_1
“Ide kakak hebat banget. Tapi, Shania takut ketauan!”
“Cengeng banget sih lo. Gue bantuin nanti! Pokoknya beres deh!”
Shania semangat mendengar itu.
***
Ketika suasana sudah menjelang satu dini hari. Robert bersama adiknya Shania, mereka sudah mengumpulkan spidol dan pensil berwarna untuk mencoret-coret muka Keluarga Pak Bondan. Mereka yakin besok paginya, keluarga menyebalkan itu akan bangun dengan muka mirip dakocan. Robert sedang sibuk memilih pewarna spidol. Shania membuka jendela, ia melihat keadaan luar kamar dan merinding. Halaman belakang rumah itu begitu dingin mencekam. Bagaimana semisal dia melihat perempuan baju putih berdiri di sana?
Shania buru-buru mendatangi kakaknya. “Kayaknya rumah ini beneran ada hantunya deh kak!”
“Lo penakut banget sih. Pokoknya lo bantuin gue aja. Semua beres nanti!”
Jinny menampakan diri diluar jendela kamar mereka. Shania dan Robert tidak mengetahuinya. Jinny melompat dan muncul di tengah mereka.
“Kakak buka kamar Pak Bondan. Terus kamu ke kamar Jun sama Shelly!”
Shania hanya menurutinya.
Robert telah sampai di depan ranjang Pak Bondan, ia meringis dengan senyuman usilnya. Lelaki muda itu mengambil spidol dan hendak mencoret-coret wajah Pak Bondan. Jinny segera muncul lalu mencolek pinggang Robert, Robert melihat ke belakang dan menemukan kain putih melayang-layang di pintu kamar. Robert ketakutan lalu berlarian keluar kamar. Dilain itu Shania sedang berusaha mencoret wajah Shelly yang sedang tidur pulas, Jinny muncul di belakangnya dan menyulap spidol itu untuk melayang. Shania kaget melihat semua spidol miliknya melayang, ia langsung kabur dari kamar Shelly dan menabrak Robert yang berlari dalam kegelapan rumah.
“Tidur kalian!” Jinny menyihir keduanya untuk bobok.
Seketika Robert mengantuk dan Shania pun begitu. “Asiknya mereka diapain ya?” Jinny memutari mereka yang tidur sambil berdiri.
“Kayaknya asik nih!” Jinny kegirangan menyihir keduanya.
Robert dan Shania berjalan seperti mumi, mereka keluar rumah melalui pintu depan teras dengan berjalan sambil tidur, Jinny mengarahkan keduanya sampai Robert dan adiknya sudah berdiri di atas genteng rumah!
Keduanya saling menghadap dengan Jinny yang berada di tengahnya. “Apa yang kurang ya? Jinny ada ide!”
Jinny memunculkan arang hitam di dalam tangannya. “Robert bakal tambah ganteng, kalo mukanya Jinny coret!”
Jinny mencemongi muka Robert dengan arang hitam, lalu beralih mencemongi muka Shania.
“Beres deh! Kalian di sini dulu ya!”
Jinny telah menghilang dari atap rumah itu.
Ketika burung-burung pagi sudah berbunyi, Robert bersama adiknya Shania terbangun, pemuda itu kaget melihat wajah adiknya sudah coret-coret. Shania tertawa-tawa melihat kakaknya sudah cemong mukanya. Mereka sadar tidak berada di bawah, melainkan di atap rumah! Kontan Robert berteriak minta tolong dengan adiknya. “Kok kita bisa di sini!”
“Shania kapok gak mau jail lagi!”
Tidak mereka sangka, Keluarga Pak Bondan sudah datang melihat mereka. “Loh kalian kok di atas sana?”
“Mungkin mereka gak bisa tidur di dalem, Pa. Jadi tidurnya di atap rumah!” Shelly tidak tahan untuk mengejeknya.
“Mau turun gak? Apa tante ambilin ember sekalian? Biar sekalian mandi di sana?” Bu Bondan kasihan tapi justru tertawa.
“Maafkan kami ya om, tante. Kami udah nakal, kami janji deh gak mau jail lagi.” Robert berkata sambil memeluk adiknya karena ketakutan.
“Makanya kalian jangan usil!” Jun menasehati.
Jinny muncul di sampingnya. “Mereka mau nakal lagi bos, untung muka bos gak jadi badut semalem!”
Jun tergelitik perutnya mendengar itu dan keluarganya melihatnya dengan keheranan.
__ADS_1