
Ketika pelajaran berlangsung, Jun sedang sibuk menulis jawaban untuk gurunya. Fahmi yang tidak menyukai Jun berencana untuk mempermalukan Jun nantinya.
“Oke anak-anak. Pelajaran kali ini kita teruskan nanti ya. Sekarang kalian boleh istirahat.”
Melihat semua murid sudah pergi dari sana. Fahmi beranjak mengambil semua kapur tulis yang berada di papan tulis. Lelaki itu memasukan semua kapur ke dalam tas sekolah Jun. Jinny muncul di belakang Fahmi. Jinny menyentil keras kuping lelaki itu. “Aduh! Siapa sih yang nyentil kuping gue!”
Pelajaran kembali berlangsung, bu guru sedang menerangkan di mejanya. “Sementara ini, kita bisa menyimpulkan relativitas itu benar adanya. Sekarang Jun maju ke depan. Tuliskan jawaban kamu ke papan tulis.”
Jun membawa buku tulisnya. Jinny muncul di sebelah papan tulis itu. “Bos, si Fahmi jail!”
Jun mengedipkan satu matanya. Jun berpura-pura kaget melihat tidak ada satu pun kapur di papan tulis. “Bu! Kok gak ada kapur sih?”
“Serius kamu Jun?” Bu Guru bangkit melihat kotak tempat kapur. “Siapa yang ambil kapur di sini! Ayo ngaku!”
Semuanya diam tidak ada yang menjawab. Fahmi justru tersenyum jahat. Ia berdiri menjawab. “Tadi sebelum masuk, saya liat Jun masukin semua kapur tulis ke tasnya, bu.”
“Benar itu Jun?”
“Enggak kok bu!”
“Sekarang saya mau liat kamu buka tas. Ayo!”
Semua siswa-siswi berkerumun mendekati tempat duduk Jun dan Jun mengeluarkan semua isinya. “Mana bu? Jangan-jangan si Fahmi lagi pencurinya.”
“Fahmi, ibu gak mau ya, kamu nuduh Jun yang enggak-enggak, buka tas kamu sekarang.”
Fahmi terkejut kenapa kapur yang dia masukan sekarang tidak ada. Jinny muncul di tengah kerumunan dan memindahkan semua kapur di dalam laci meja Fahmi ke dalam tasnya.
“Ayo buka tas! Kok malah bengong.”
Fahmi segera membuka seluruh isinya dan ia menyentuh kotak kapur itu di dalam ranselnya.
“Kok diem? Ayo keluarin tangan kamu.”
Fahmi tetap mengelak namun secara ajaib kapur di dalam tas sekolahnya berubah menjadi kepiting. Fahmi menjerit kesakitan. Ia mengeluarkan tangannya dan sekotak kapur berhamburan ke mana-mana.
“Astaga Fahmi! Sekarang kamu saya skors. Ambil kapur itu dan berdiri di kelas!”
Semua tertawa memandangnya. Fahmi selesai memungut kapur dan meletakan semuanya ke bawah papan tulis. Jinny menudingkan telunjuknya dan kedua kapur secara ajaib berpindah ke hidung Fahmi. Ketika ia berbalik badan semua menertawakan terpingkal-pingkal. Bu Guru kembali bangkit kebingungan. “Heh diam! Ada apa sih ribut-ribut.”
Fahmi menutupi wajahnya. Bu Guru mendekatinya. “Kamu kenapa?”
“Fahmi malu bu!” pemuda itu menunjukan kedua kapurnya ada di hidungnya.
“Ya ampun Fahmi! Lepasin kapurnya dari hidung kamu. Buat apa kamu masukin kapur ke lubang hidung kamu?”
Jinny memindahkan suaranya ke dalam tenggorokan Fahmi. “Buat nakutin si Jun bu! Biar dia takut sama saya.”
__ADS_1
Semua siswa tertawa mendengar itu. Bu Guru langsung menjewer Fahmi. “Sekali lagi kamu ribut, saya bakal kasih surat teguran untuk kamu.”
Jun baru turun dari atas kerang terbang milik Jinny. Mereka membesar ke dalam ukuran tubuh manusia. Jun menggeletakan tas miliknya ke bangku belajarnya. “Hari ini seru banget deh, Jinny.”
“Iya bos, pokoknya selama ada Jinny, semua urusan Tuan Jun pasti beres!”
“Kalo gitu, sehabis Jun mandi, kita makan bareng lagi yuk? Tapi di mall biasa.”
“Jinny mau banget bos.”
“Kamu boleh main deh sana. Tapi jangan usil ya.”
Jun bergegas menuju kamar mandi sementara Jinny menembus dinding untuk menunggu Jun. Sehabis membersihkan badan, Jun mematut di depan cermin, mengenakan baju santainya dan Bi Iyem masuk membuka kamarnya dengan gerakan kaget. “Aduh mas Jun! Kok mas udah di sini aja?”
“Eh, Iyem? Iya soalnya Jun manjat pager, Yem. Abis gerbang depan sepi banget sih.”
“Mas Jun kan gak boleh manjat lagi kata Bu Bondan.”
“Gimana ya yem? Jun lagi suka adrenalin nih. Jadi gak ada salahnya dong lompat atau manjat. Yang penting kan bukan rumah orang.”
“Mas Jun ini suka aneh-aneh aja. Makanan belum ada Mas. Tadi siang, Iyem belum belanja sama ibu, katanya Bu Bondan lagi pergi sama Bu Maria. Mungkin ntar malem Mas pulangnya.”
“Gak papa kok bi. Jun juga punya urusan diluar.”
“Yah Mas, Iyem sendirian dong di rumah?”
“Kerjaan Iyem masih banyak. Masa Iyem tinggalin gitu aja.”
“Kalo gitu jaga rumahnya, ya, Bi Iyem!” Jun memasang topinya dan berangkat keluar menemui Jinny.
***
Di dalam food court atau tempat makan yang ramai di swalayan, Jun memesan satu nampan donat dengan pesanan Jinny, perempuan itu duduk di atas nampan makanan sambil bersila dalam ukuran kecil. Jun meletakan makanan itu dan Jinny membesarkan badannya. Mereka memakan lahap donat lalu mengobrol. Jun tidak sengaja melihat perempuan di bawah umur sedang duduk dengan pengusaha. “Jaman sekarang ada-ada aja. Kamu liat cewe yang di sana? Apa om-om itu bapaknya, Jinny?”
“Oh itu bos?” Jinny menyedot minuman dan meletakan gelas plastiknya. “Kayaknya bukan deh bos. Kalo Jinny perhatiin, mungkin si cewe itu lagi butuh bos, makanya mau diajak jalan sama om-om.”
“Apa di jaman kamu udah ada yang begini?”
“Kalo di jaman Jinny dulu lebih buruk lagi bos. Cewe yang di panggil itu suka rela, bahkan ada yang cuma di kasih sisa makanan aja. Apalagi orang kaya di jaman Jinny pada pelit bos. Sehabis mereka ngambil cewe buat jadi selir, cewe itu gak pernah di kasih makan layak bos. Kalo ada yang beruntung bisa sampe nikah bos. Tapi pasti cewenya dibuang bos.”
“Kamu pernah di panggil juga sama raja atau pejabat?”
“Jinny cuma pelayan biasa bos. Jinny jarang merawat diri, Jinny biasanya mandi sama minum rempah-rempah aja bos. Kalo untuk yang di panggil biasanya kalangan atas bos.”
“Kamu gak perawatan? Tapi kok bisa cantik begini sih?”
“Mungkin hawa di Eropa sana lebih dingin bos daripada Eropa sekarang. Bos tahu pemanasan global gak? Nah pemanasan global itu yang membuat keadaan manusia sekarang dan dulu itu beda banget.”
__ADS_1
“Kalo pelayan biasa aja udah cakep banget. Apalagi putri sama ratu jaman itu ya?”
“Wah, mereka bukan tandingan Jinny bos, apalagi kecantikan Cathrine Howard bos, beliau cakepnya gak ada yang ngalahin bahkan sampai sekarang.”
Perempuan muda dengan pengusaha kaya dan buncit itu telah pergi. “Mereka udah gak di sana Jinny.”
“Bos mau Jinny panggilin buat bos? Ih, bos kok masih sekolah udah suka gituan sih.”
“Pikiran kamu tuh piktor! Maksud saya, kamu pantau cewe tadi, kayaknya cewe itu masih satu sekolah sama Jun.”
“Jinny kira bos doyan sama yang begituan.”
“Sorry lah yau!”
Jun telah pulang menaiki taksi lebih dulu. Sementara itu Jinny memunculkan diri di samping mobil pengusaha itu. “Om minta maaf, kita gak bisa main malam ini, soalnya istri om baru pulang dari Australia.”
“Iya deh om gak papa. Lain kali Arnita mau kok kalo tidur di rumah om.”
“Om semakin sayang deh sama kamu.”
Jinny masih memandang mereka. “Aduh, udah tua bangka masih suka main perempuan, kalo si bos berani begini. Jinny bakal lepasin kepala si bos!”
“Mana dong om?” Arnita meminta jatahnya.
“Apa yang barusan masih kurang?”
“Om kan barusan ngajak makan aja.”
“Oke saya mau kasih kamu uang. Tapi, kamu harus mau saya cium dulu.”
“Ngasih uang kok make nyium segala sih!” Jinny emosi melipat kedua tangannya diluar kaca mobil.
“Tutup mobilnya dong om!” Arnita bicara begitu manja.
“Oh iya, om lupa. Maklum udah mau mati!” pengusaha itu menutup mulutnya. “Loh kok aku bilangnya begitu?”
Jinny tertawa puas setelah memindahkan suaranya barusan ke lelaki bangka itu.
“Nah sekarang om mau cium kamu.”
Mobil sudah sepenuhnya aman dari orang yang mau mengintip. Jinny langsung pindah ke belakang mereka berdua. Om pengusaha itu akan mencium Arnita yang muda dan menggairahkan. “Biasanya kalo laki-laki sama perempuan berdua kan, yang satunya setan. Aduh, Jinny berarti setan dong! Ah, Jinny kan harus selametin temen bos.”
Seketika bibir lelaki itu sudah monyong untuk mencium Arnita lebih dekat dan lebih monyong. Jinny mengubah Arnita menjadi orang utan, dan seketika lelaki itu membelalak kaget, mengetahui Arnita bukan manusia tapi orang utan!
“Se! Setan!” lelaki itu lari meninggalkan mobilnya dan Arnita telah kembali wujudnya seperti semula.
“Ih kok si om lari sih! Arnita kan belum dapet bayaran! Om bayar dulu dong!” perempuan itu kesal dengan Jinny yang tertawa-tawa di dalam mobil.
__ADS_1