
Selama Jun liburan di rumahnya, ia merasa bosan dan tidak tahu apa yang bisa membuatnya senang, sementara itu Jinny kelelahan karena semalam ia baru saja mendatangi acara minum teh sesama hantu.
“Jun! Sana kamu ke depan, Bi Iyem butuh bantuan kamu tuh, temen mama bakal mampir sebentar, katanya kamu bakal dikenalin sama anak temen mama itu.”
“Siapa sih, Ma?”
“Makanya kamu keluar dong. Masa hari minggu males-malesan di sini, papa kamu malah udah keluar dari tadi pagi.”
“Iya deh, Jun mau bantuin Bi Iyem, tapi Jun penasaran nih, siapa sih anak temen mama itu?”
“Pokoknya kamu cocok deh sama dia!” Bu Bondan tidak memberitahu siapa anak sahabatnya itu. Ia memang sengaja ingin membuat putranya penasaran!
Jun pun mengikuti kemauan mamanya untuk membantu-bantu Bi Iyem, ketika itu Shelly justru sedang menonton televisi dan meledek Jun. “Sibuk banget, Jun, santai dong kaya gue, nih.”
“Mbak emang resek nih, orang Jun lagi kerja kok, emang mbak yang sukanya main, mbak kalo gak nonton pasti wakuncar kan diluar?” Jun membalas meledeknya.
“Eh! Lo sembarangan banget sih bilang gue begitu! Mana ada gue begituan lagi. Yang ada gue aduin lo ke mama, papa, kalo sering jalan sama Jinny yang gila itu!”
“Udah ah, Jun males berantem mulu!”
Tidak lama dari itu Jinny memunculkan diri di belakang Shelly, perempuan hantu itu melihat makanan kue yang ada di dalam toples di atas meja. “Kebetulan Jinny laper! Ambil satu ah!”
Jinny memakan sendirian biskuit itu. Setelahnya ia melihat film yang sedang Shelly saksikan di dalam tv tabung, Jinny tertarik untuk masuk ke dalamnya, secara ajaib dirinya melompat masuk ke dalam salah satu adegan koboi di bar. Shelly yang mulanya tidak menyadari, ia mengocok-ngocok matanya dengan tangannya. “Loh, siapa sih cewe itu? Kok dia duduk aja di bar. Mana gak ngomong lagi, eh, kok tiba-tiba dia ketawa!”
Jinny meminum gelas di bar itu dan pemain koboi di dalam sana melihatnya kebingungan. Shelly pun tidak tahu siapa peran Jinny di sana.
“Mbak bos, Jinny barusan ambil kuenya satu, gak papa kan?”
Shelly yang duduk menatap layar langsung ketakutan. “Kok dia ngomong sama gue sih! Dia kan ada di dalem tv!” perempuan muda itu menjerit dan melarikan diri ketakutan.
Shelly yang berlari ke halaman rumahnya, ia sama sekali tidak melihat ke depan, Jun kaget melihatnya kabur ketakutan dan langsung mengarahkan selang air ke arah kakaknya itu. Shelly langsung basah sekujur badannya.
“Jun! Mbak jadi basah nih!”
Jun segera mematikan selang air mancur. “Sorry deh. Abis mbak ngagetin Jun sih. Ada apa sih mbak? Kok lari-lari gitu?”
“Itu Jun! Mbak kok liat temen kamu di tv sih! Terus dia bicara sama mbak lagi. Hih, itu kan serem tahu!”
“Bagus dong kalo temen Jun masuk tv.”
“Bagus dari mananya Jun? Masa temen kamu bisa ngomong sama mbak? Itu kan serem. Hih!”
“Mana mungkin mbak, palingan mbak kecapekan kali.”
“Kalo lo gak percaya, yuk ikut gue!”
Mereka berdua telah sampai ke ruangan keluarga. Jun bersama Shelly memperhatikan seksama tayangan televisi. “Mana mbak? Tuh liat, gak ada apa-apa kan?
“Tadi beneran ada kok Jun! Mbak gak bohong.”
Jinny muncul dalam sekali kedipan mata ke tengah mereka. “Sorry ya bos, Jinny barusan masuk tv, abis seru sih filmnya, jadi Jinny mau gabung sama pemain filmnya!”
“Iya deh gak papa, lain kali jangan diulangi ya!”
__ADS_1
Shelly mengernyit memandang adiknya. “Jun! Lagian siapa lagi yang mau liat temen kamu masuk tv! Mbak gak mau!”
Jinny dan Jun menertawakan Shelly yang kesal.
***
Bi Iyem sedang menyambut taksi diluar gerbang rumahnya Pak Bondan. Ia mempersilakan perempuan berumur empat puluh tahun dan kedua keponakannya.
“Tolong kamu bawain barang-barang keponakan saya ya!” katanya ramah.
“Siap bu!” Iyem mengambil satu demi satu tas sampai kopor milik tamu itu.
Salah satu lelaki dalam baju bagusnya meledek.
“Kok rumahnya di atas bukit sih tante!”
“Iya nih! Mana pembantunya kaya gini lagi, kita kan jadinya kaya nginep di Transilvania.”
“Nanti gimana dong kalo ada vampirnya?”
“Iya tante! Shania gak mau dimakan!”
Keduanya mencerocos mirip beo. Tantenya merasa sikap keponakannya begitu menyebalkan. “Kalian ini baru pulang dari luar negeri. Ayo dong, tunjukin sikap baik kalian. Tante malu kalo kalian kampungan begini!”
“Tante yang bener aja dong, masa kita nginepnya jauh banget.” Shania keberatan.
“Mending kita nyewa hotel aja deh.” Robert membuat tantenya semakin kehabisan sabar.
“Eh Bu Retno? Udah sampe nih?” Bu Bondan muncul menyalami sahabatnya.
“Oh, jadi Bu Retno, mau nitipin keponakan ke rumah saya?”
“Kalau ibu tidak keberatan, saya maunya begitu sih.”
“Ya udah deh gak papa. Saya mau-mau aja, mereka bisa kenal sama Jun dan Shelly anak saya, kami pasti mengawasi keponakan ibu.”
“Wah, terima kasih bu, saya pamit dulu ya. Pesawatnya udah nunggu tuh!”
“Sukses ya Bu Retno!” Bu Bondan melambaikan tangan ke jalanan ketika Bu Retno kembali naik taksi.
***
Shelly yang baru pulang dari teater melihat Shania dan Robert sedang membaca naskah dramanya. “Ih kok jelek banget perannya!”
“Iya, masih bagusan opera Belanda ya?”
Shelly mendatangi mereka dengan mata melotot. “Heh! Siapa kasih kalian ijin buka-buka naskah gue! Sini kembaliin!”
“Orang kita nemu di kolong meja depan kok.” Shania menatap kesal.
“Lagian, lo kan cewenya gelap, apa pantes meranin tokoh Rika? Rika itu kan putih kulitnya.”
“Robert bener! Harusnya Shania yang main.” katanya bangga menekuk kedua tangannya di dada.
__ADS_1
“Ma! Pa! Siapa sih mereka!”
Pak Bondan dan Bu Bondan muncul buru-buru ke depan mereka. “Shelly? Oh ini keponakan Bu Retno, temen deket mama kamu.”
“Kalian udah kenalan? Kok pada diem?” Bu Bondan keheranan.
“Shelly capek, Shelly sebel sama mama!” perempuan muda itu pergi karena disakiti omongan Robert yang rasis padanya.
“Ada apasih? Kalian berantem?” Pak Bondan bertanya kepada bocah peranakan Belanda itu.
“Enggak kok om, barusan Shelly pulang, katanya dia abis dikejar anjing, terus marah deh sama kita.” Shania berbohong.
“Oh begitu toh. Di kampung sini banyak anjing, apalagi anjing hantu!” Bu Bondan sengaja menakuti mereka.
Shania terlonjak dan memeluk kakaknya. “Lo penakut banget sih!”
Pak Bondan menertawakan mereka.
Malamnya Keluarga Pak Bondan kembali mengelilingi meja makan. Makanan mereka kali ini cukup enak karena menyambut tamu dari Belanda. Jun melihat Shelly yang diam saja selama acara makan terjadi. Biasanya kakaknya selalu banyak omong atau cerewet, tetapi sekarang tidak sama sekali.
“Kok makanannya biasa aja tante?” Shania mengeluhkan lidahnya sehabis makan.
“Kami biasanya makan begini kok.” Pak Bondan menjawab. “Sekarang kita harus belajar hemat, banyak perusahaan temen om yang bangkrut karena gak bisa hemat, kalian harus belajar hemat sedari dini. Agar nanti bisa investasikan uang kalian, untuk hal-hal berguna.”
“Tapi kan om udah kaya? Masa harus nabung?” Robert bertanya tanpa sopan.
“Om biasa aja kok. Om malah sering sedekah dan gak pernah membuang uang.”
“Robert kan di Belanda pasti belajar. Kok sikap kamu kaya gak sekolah satu tahun?” Bu Bondan menyindir halus tamunya itu.
“Iya nih, mana naskah gue dibuka-buka lagi.” Shelly masih jengkel ke mereka.
“Kami rajin belajar kok tante. Robert malah sering dapet nilai sepuluh, kalo Jun sama Shelly mau belajar sama kita. Kita gak keberatan kok!” Shania justru yang menjawabnya.
Robert menahan kesalnya karena Shelly barusan.
“Bagus deh, kalian itu harusnya rajin belajar, seumuran kalian belum pantas mikirin uang, seumuran kalian pantasnya menabung dan terus belajar!” Pak Bondan berkata sambil tertawa seperti biasanya.
Jinny baru muncul di samping Jun. “Kayaknya keponakan Bu Retno, gak beres deh bos. Mereka jelek banget sikapnya! Jinny jadi kesel deh.”
“Sabar, nanti juga mereka kena batunya.”
“Jun! Kamu bilang sama siapa sih?” Bu Bondan keheranan.
“Untung keponakan Bu Retno udah pergi.” Pak Bondan mengelus dadanya sendiri.
“Shelly juga kesel nih. Masa naskah teater Shelly dibuka mereka, terus Shelly dijelekin lagi.”
“Mama sebetulnya gak mau si Robert sama adiknya tinggal di rumah ini. Tapi, gimana dong? Mama udah kenal baik sama Bu Retno.”
“Oh jadi alesan mama itu aja?” Jun tersenyum menatap Jinny.
“Iya Jun, mama udah tahu kalo mereka itu anak-anak nakal, mereka biasa makan enak. Jadi kita diledek deh sama si Shania.”
__ADS_1
“Semoga Bu Retno cepat pulang, papa gak keberatan kalo mereka di sini. Tapi? Sikapnya itu loh. Bikin kesel!”