Pacarku Kuntilanak

Pacarku Kuntilanak
Selingkuh di Hotel


__ADS_3

Malamnya setelah Jun menyelesaikan pelajarannya. Jinny baru muncul menceritakan kejadian sore tadi. “Bener bos. Itu Arnita temen bos yang satu sekolah kan?”


“Kok kamu bisa tahu?”


“Iya soalnya Jinny tahu dari perasaan cewe itu bos. Apa bos masih mau Jinny cari tahu tentang cewe itu lagi?”


“Kayaknya gausah deh Jinny. Mungkin besok pagi aja. Biar Jun bicara sama dia.”


“Oh jadi bos mau denger langsung dari Arnita.”


“Soalnya dari yang Jun tahu, mereka yang kerjanya gak bener itu, mungkin bisa juga ekonominya atau gak orangtuanya udah gak perhatian lagi.”


“Sekarang Jinny tahu kenapa bos bilang gitu. Bos punya perasaan kan sama cewe itu?”


“Perasaan?” Jun bangkit dari kursi belajar dan tertawa. “Kalo perasaan sebagai temen ya punya. Tapi kalo perasaan lain? Kayaknya enggak deh.”


“Jinny kira bos mau ngajak Arnita jalan juga.”


“Aduh Jinny, kalo gitu caranya, Jun sama juga boong dong, kaya om-om itu. Buat apa nolongin Arnita kalo ada maunya?”


“Okedeh bos, Jinny percaya. Sekarang Jinny mau ronda dulu ya.” Jinny keluar dari jendela kamar Jun dalam bentuk hembusan kabut.


Paginya Jun memutuskan untuk menunggu kemunculan Arnita. Biasanya cewe itu sedang latihan menjadi pemandu sorak tetapi sekarang Jun tidak melihatnya sama sekali di lapangan olahraga. “Duh, Arnita kok gak muncul-muncul ya? Ke mana lagi tuh cewe.”


Jun mondar-mandir memikirkan siasat untuk menyelamatkan Arnita dari kerja kotornya.


“Mau Jinny bantu gak bos?” Jinny menampakan dirinya ke depan Jun.


“Untung kamu dateng. Kamu bisa gak cari tahu di mana Arnita sekarang?”


“Itu mah urusan kecil bos. Serahin sama Jinny!” Jinny justru kembali menghilang.


“Loh kok malah ilang sih!” Jun sedikit dongkol tapi memilih menunggu.


Sementara itu dilain tempat di sebuah kota besar bernama Jakarta. Arnita baru bangun dari ranjang di penginapan milik om yang begitu tulus menyewanya. Jinny muncul di depan cermin tanpa Arnita tahu. Arnita mendekati meja makan dan menemukan sepotong roti masih utuh tanpa ada gigitan.


“Lumayan bisa buat dimakan!”


Terdengar suara si om memanggilnya dari kamar mandi. “Kamu udah bangun sayang? Gak mau sekalian mandi sama om?”


“Enggak deh om. Arnita udah capek main terus sama om semaleman. Sekarang Arnita mau makan dulu ya.” Arnita mulai sibuk memakan dan tidak memperhatikan om baik hatinya.


“Tolong dong ambilin om handuk, masa om harus lari telanjang keluar kamar mandi.”


“Bentar ya om. Arnita mau sikat gigi dulu.”

__ADS_1


Sementara itu di dalam kamar mandi om-om itu sudah kedinginan. “Ayo dong sayang ambilin handuknya. Om udah kedinginan nih!”


Jinny puas mengubah suaranya menyerupai Arnita.


“Ambil aja sendiri. Hihihi!” Jinny menyulap handuk itu melayang keluar jendela apartemen dan mendarat tepat di atas mobil si om berhidung belang.


“Arnita? Arnita sayang! Kok lama banget ambilin handuknya.” lelaki itu memutuskan untuk keluar. Ia mencari-cari celana pendek miliknya. “Loh? Celanaku! Handuk! Kok semuanya gak ada?”


Jinny memunculkan diri di depan pintu dapur dan menyihir celana pendek Arnita keluar dari lemari pakaian. “Arnita! Aduh kamu kok ngerjain si om sih! Mana handuknya?”


“Arnita gak tau om! Arnita baru aja makan.”


“Sialan! Ini pasti ada yang gak beres.” lelaki itu tidak menemukan celana pendeknya. Apalagi handuknya. Ia meremas rambutnya karena kesal lalu menemukan satu-satunya celana pendek perempuan. “Loh kok adanya celana cewe sih? Masa saya harus make celana cewe? Ah, daripada bugil mending dipake aja deh!”


Setelah mengenakan celana perempuan lelaki itu menyuruh Arnita menemukan handuknya. “Itu om handuknya ada diluar!”


Om hidung belang muncul di sebelah Arnita. “Waduh! Kok handuknya bisa ada di atas mobil sih!”


Sesaat ia berpikir keras. “Sayang, kamu mau gak ambilin handuknya? Gak mungkin dong saya keluar.”


“Okedeh om, tapi Arnita mau makan dulu ya.”


“Aduh dari tadi kok gak habis-habis sih makannya. Kamu makan apasih?”


Arnita kembali lagi ke dapur dan menemukan roti miliknya sudah habis separohnya dan nampak gigitan bekas orang yang baru memakannya. “Om! Kok om makan roti Arnita!”


“Pokoknya Arnita gak mau ambilin handuk! Om udah bohongin Arnita!”


“Aduh sayang. Kamu jangan ngambek gitu dong. Tolong ya ambilin.”


“Ambil sendiri!” Arnita memutuskan untuk pergi mengambil tas miliknya.


“Sayang! Jangan tinggalin om dong!”


Jinny muncul tertawa-tawa dan meneruskan memakan roti yang baru saja Arnita habiskan.


“Waduh. Kalo aku keluar cuma pake celana perempuan. Aku bisa dikira gila. Ah, gimana kalo aku hubungi reservaris. Aku bisa suruh mereka buat ambilin handuk!”


Ketika hendak menelpon tahu-tahu kabel tidak berfungsi dan lelaki itu kesal membanting telpon. “Perasaan telpon di sini gak pernah macet!”


Lelaki tua bangka itu pun mengintip melalui pintu kamarnya di apartemen sewaan dan berjalan mengendap-endap melewati lorong dan akhirnya berlari sampai ke parkiran terbuka. Beberapa orang memandang sambil tertawa-tawa hebat, di mana lelaki itu hanya memakai celana wanita. “Heh! Apa kalian lihat-lihat! Pergi!”


“Kok makenya celana cewe pak?”


“Iya, mungkin lagi dikerjain kali sama bininya.”

__ADS_1


“Sembarangan aja! Pergi!”


Jinny memunculkan diri dan menyihir handuk itu sampai lelaki tua itu pun melayang tinggi lalu masuk ke dalam jendela kamar atasnya. “Ha! Hantu!”


Jinny muncul lagi dan sekarang lelaki itu bisa melihatnya yang sedang menyeringai ke arahnya. “Hai kau lelaki tua bangka! Cepat tinggalkan perempuan muda itu. Kau sudah punya anak dan isteri! Pikirkan nasib mereka!”


“Siapa kamu? Siapa!”


“Aku hantu perempuan yang akan selalu datang ke siapa saja, yang berani mempermainkan perempuan!”


Jinny tertawa-tawa dan menembus lelaki itu hingga lelaki itu pun kabur ke bawah meninggalkan handuk dan hanya bercelana perempuan. Semua orang menertawakannya. Jinny sekarang kembali ke tempat Jun. Sewaktu ia telah sampai ke sana Jun baru pulang dari sekolahnya.


“Gimana Jinny? Kamu udah ketemu Arnita?”


“Udah bos. Arnita ketiduran di hotel bareng om-om kemarin.”


“Makanya Arnita bolos sekolah. Terus kamu udah ngomong sama dia?”


“Sorry ya bos. Jinny gak bilang apa-apa sama Arnita. Tapi tenang bos, Jinny udah kerjain mereka. Om genit itu pasti kapok deh. Lelaki kurang ajar itu, gak bakal berani ajak tidur temen bos lagi.”


“Bagus deh.”


“Kok bos sampe ngurusin Arnita banget? Emang tuh cewe siapa sih bos? Adik bos ya? Sepupu? Atau jangan-jangan pacar bos!”


“Hus! Kamu ini ngawur aja. Arnita itu temen baik Jun, dia dulu peduli banget sama Jun. Pokoknya kita udah kaya kakak adek deh. Tapi Arnita berubah setelah mama sama papanya cerai.”


“Sekarang Jinny tahu alasan bos melindungi Arnita. Itu karena Arnita udah baik banget ya sama bos.”


“Itu kamu tahu! Yuk kita pulang.”


Shelly kebetulan sedang satu mobil dengan Ringo. Mereka menghentikan mobil ketika Jun melintas di pinggir jalan. “Jun! Mau sekalian pulang bareng gak?” Shelly memunculkan kepalanya keluar mobil.


“Serius mbak?”


“Iya buruan dong masuk!”


“Bos, aku boleh naik juga, gak?”


“Boleh kok, masuk aja.”


Shelly dan Ringo saling berpandangan.


“Ih Jun, lo ngajak siapa? Kita berdua udah masuk kok di suruh masuk lagi.”


“Enggak mbak. Itu tadi Jun lagi latihan drama.”

__ADS_1


Mereka mengendarai mobil itu dan Jinny mengacungkan jempol tangannya padamu.


__ADS_2