Pacarku Kuntilanak

Pacarku Kuntilanak
Wisata Memalukan


__ADS_3

Jun baru pulang dari sekolah, kebetulan Shelly belum menjemputnya bersama mobil temannya, padahal jarak sekolahnya dengan kakaknya belum begitu jauh.


“Udah pulang nih bos?” Jinny muncul menepuk pundak Jun.


“Iya nih, Jun gak bawa sepeda, kemarin pagi lupa, bannya kempes belum Jun ganti.”


“Itu mah masalah kecil bos. Biar Jinny bantu ya?”


“Emang beneran bisa?” Jun berhenti jalan kaki.


“Rebes Tuan Jun!” Jinny mengayunkan tangannya. Hanya dalam sekejap sepeda Jun yang berada di rumahnya, sekarang telah muncul di depan mereka. “Silakan Tuan Jun.”


“Makasih ya Jinny!” Jun menaiki sepedanya. “Kok masih kempes? Kalo gini gimana Jun bisa pulang?”


Jinny tertawa mendengar itu. “Sorry bos, aku lupa benerin bannya, Jinny kira bos cuma butuh sepedanya.”


“Kalo gitu ceritanya, Jun mending jalan kaki deh!”


Jinny langsung menyulap ban bocor itu menjadi berisi kembali seperti sebelum kempes. “Nih bos, bannya udah bunting lagi!”


“Thanks ya Jinny! Tapi Jun haus nih. Mana ongkos udah habis lagi.”


“Jadi bos mau minum juga nih? Susu apa soda bos?”


“Terserah kamu deh.”


Jinny kembali terkikik lalu memunculkan botol kaca minuman soda yang sudah terbuka. “Nih bos, biar gak haus!”


Jun meminumnya, Jinny menatap Jun dengan penuh perasaan, ia tidak pernah membayangkan akan hidup kembali setelah empat ratus tahun melalui jaman kegelapan di negerinya Eropa. England yang sekarang sudah berubah tidak seperti jaman Tudor, perempuan hantu dari lukisan itu tetap mensyukuri hidupnya sekarang yang telah bebas dan bahagia.


“Yuk kita pulang sekarang!” Jun menaiki sepedanya. Jinny mengangguk sambil menepuk-nepuk tangan seperti anak kecil.


Ketika di perempatan jalan menuju rumahnya, Jun menemukan ibu-ibu sedang di todong penjahat, Jun menghentikan sepedanya.


“Cepat serahkan tas itu! Atau ibu pulang tanpa kepala!” penjahat dengan jaket belel dan badan kurus kering itu mengancam.


“Saya mohon jangan ambil tas saya!”


Mereka saling tarik-tarikan di tempat sepi.


Jun melompat turun dari sepedanya. “Lepasin ibu itu!”


“Siapa lo bocah! Gue gak ada urusan sama lo ya!”


“Gue gak akan biarin lo rampok ibu itu! Cepat kembalikan tas ibu itu!”


“Berani juga lo sama gue. Sekarang lo gak bisa kabur!” penjahat itu mengeluarkan pisau lipat.


Jun menghindari serangan penjahat kurus itu. Jinny muncul membantu Jun, secara ajaib pemuda itu melompat tinggi menjauhi penjahat itu.


“Sialan! Jangan-jangan bocah setan lagi.” preman itu mengejar Jun yang melayang lalu melemparkan pisau lipat itu. Seketika pisau berubah menjadi bulu angsa, yang langsung Jun tangkap di mulutnya. Penjahat itu kaget melihatnya. “Bener kan dia bukan manusia!” sebelum kabur membawa tas, Jun sudah menyerobot tas ibu itu dengan posisi terbang seperti supermen.


Jun berhenti ke tempat semula lalu menyerahkan tas itu kepada perempuan asing itu. “Ini bu tasnya, lain kali ibu hati-hati ya!”


“Terimakasih ya dek. Coba kalau tidak ada kamu, pasti saya pulang gak bawa apa-apa.”


Penjahat barusan melihat sepeda Jun dan berniat mau mencurinya sekaligus melarikan diri dari Jun. Jinny muncul di pinggir plank stop bis. “Jun! Sepeda kamu!”


Jun kebingungan, ia berlari mengejar penjahat itu, beruntungnya ia punya akal untuk menghentikan penjahat tanpa kekerasan. “Tendang kaleng itu bos!”


Jun mengikuti perintah Jinny dan secara cepat kaleng bekas minuman itu meluncur masuk menyumbat mulut penjahat kurus itu. Jun tertawa-tawa menyaksikan itu, ketika penjahat sudah pingsan akibat keanehan barusan, lelaki sekolah itu pun mengambil sepedanya kembali.


***


Jun sedang menata buku-buku di meja pinggir kolam renang, Shelly muncul mencoleknya. “Semester kan udah selesai Jun. Kok lo sibuk belajar terus sih!”


“Lo kok demen banget sih ngurusin gue.” Jun kesal meletakan buku-buku miliknya kembali ke meja.


“Abisnya lo asik sih, kalo gue kerjain mulu.”

__ADS_1


“Mbak pasti punya maksud kan? Biasanya gak pernah pulang, kok sekarang gak ke mana-mana?”


“Gue gak gitu juga kali. Kebetulan besok itu libur, papa sama mama ngajak kita buat liburan.”


Jinny senang mendengar itu. “Asik! Liburan nih ye!” katanya cekikikan diakhir bicaranya.


“Hus! Diem!” Jun menyuruh Jinny untuk diam tetapi justru Shelly yang merasa tersinggung.


“Lo kenapa sih? Orang gue ngajak seneng-seneng kok malah lo tolak. Ya udah gak papa kalo gak mau.”


“Bukan mbak, maksud Jun itu, kok papa gak bilang dari kemarin? Kenapa mendadak begini?”


“Iya Jun, mbak juga kaget, tapi katanya nih, papa mau ngajak kita naik kapal! Seru gak tuh?”


“Hah? Serius mbak? Kenapa harus kapal? Kan ada pesawat?”


“Mbak juga gak tahu Jun. Mungkin papa punya urusan lain, udah yang penting lo ikut ya?”


“Siap deh mbak! Jun mau kok!”


Shelly pergi dengan mukanya yang tidak judes seperti biasanya. Jinny kembali muncul di tempat duduk Shelly sebelumnya. “Wah asik banget dong, bos. Jinny belum pernah naik kapal! Jinny boleh ikutan ya bos?”


“Masa kamu belum pernah naik kapal?”


“Iya bos, Jinny beneran gak bohong, jaman Jinny dulu kan, kapal itu untuk orang kaya aja bos, kami yang pedagang biasa belum boleh naik kapal.”


“Jun kira kamu biasa naik kapal. Kalo gitu kamu boleh ikut deh, tapi jangan bikin keributan ya?”


“Rebes Tuan Jun!” Jinny menjawabnya dengan penuh canda seperti biasanya.


Paginya keluarga Pak Bondan sudah berada di dermaga, mereka mengajak Iyem untuk ikut juga, keadaan rumah benar-benar kosong. Mereka telah menitipkan rumahnya kepada satpam pinggir rumahnya, Pak Samin.


Jinny sudah mengubah bajunya menjadi pakaian akhir tahun 70an kembali, perempuan itu memunculkan diri menjadi penumpang lain.


Shelly yang berdiri anteng, sayup-sayup matanya melirik Jinny yang mengenakan kacamata hitam. “Kok gue kaya pernah liat ya?”


Sebelum ia melihat jelas Jinny yang sedang mengantri barisan menuju kapal, siulan cerobong membangunkan Shelly dari keseriusannya mengamati Jinny.


Jun mengagumi seisi kapal yang memiliki tempat untuk santai di pinggiran kabin, serta restoran satu keluarga yang bebas untuk makan siapa saja. Jinny muncul dari kerumunan orang-orang yang baru masuk, perempuan hantu itu menggeletakan kopor ke samping kursi santai. “Enak bos kapalnya! Jinny bisa cium bau laut sama angin segernya!”


“Kok kamu gak bilang-bilang Jun sih? Kalo jadi manusia.”


“Sorry ya bos, Jinny janji deh bakal jagain bos Jun.”


“Tapi jangan bandel ya?”


“Siap bos! Jinny bakal jadi anak baik!”


Malamnya tiba dengan acara menyenangkan, pemain musik memainkan musik waltz dan tamu-tamu menikmati suasana gembira di dalam kapal itu.


Jun sedang berdiri dengan Jinny di kabin luar, mereka berdua menonton permainan musik, sementara Shelly diam-diam mengikuti Jun tanpa adiknya tahu. “Jinny mau gabung ke sana ya bos!”


“Okedeh!”


Jinny menghilang ke dalam kerumunan dan muncul menari-nari di tengah permainan orkes seniman kapal itu. Jun tertawa-tawa menyaksikan itu. Shelly tanpa dia tahu sudah berdiri di dekatnya. “Jun! Lo ke mana aja sih? Barusan cewe siapa?”


“Oh itu kenalan Jun mbak.”


“Sekarang cewenya di mana? Kok gue kaya kenal ya sama dia? Apa itu Jinny!”


Jun sedikit kaget mendengar itu. “Gak mungkin dong mbak. Masa temen Jun bisa ke sini.”


“Siapa tau kan? Jinny kan aneh cewenya. Gimana kalo temen kamu itu hantu? Hih! Hantu kan bisa muncul di mana-mana!”


“Udah deh, Jun males nih berantem mulu, mending mbak nyari cowo sana, siapa tau ketemu jodoh di sini?”


“Lo nyebelin banget sih! Gue gak kaya gitu ya! Awas loh, gue aduin kalo itu beneran temen lo!” Shelly pergi dengan wajahnya yang kembali marah-marah.


Menjelang sembilan malam setempat di dalam kapal, Keluarga Pak Bondan sudah duduk mengelilingi meja makan, mereka begitu khidmat memakan hidangan makanan laut di kapal.

__ADS_1


“Pa, kok tumben banget ngajak kita liburan?” Jun bertanya setelah menghabiskan makannya.


“Soalnya papa punya temen di Tulikup, dia itu orang Bali, papa udah lama gak ketemu temen papa itu. Orangnya pinter gambar! Kamu pasti suka sama hasilnya.”


“Shelly kok baru tahu? Kalo papa punya temen di Bali.”


“Papa baru cerita sekarang. Nah, kebetulan kita mau ke sana, jadi papa kenalin sekalian, kalo papa belum lupa, namanya Wayan Kutut!”


“Iyem kayaknya pernah denger tuh Pak. Iyem juga punya temen di kampung, dia pinter nyari burung kutut, terus orang-orang sering manggil dia kutut deh, Pak.”


“Kamu ini Yem, ada-ada aja.” Bu Bondan menjawabnya, sementara yang lain menertawakan Iyem.


Di tengah obrolan menyenangkan itu, Jinny tahu-tahu muncul dalam baju manusianya, dan sudah pasti dia bisa dilihat siapa saja. “Malem om, tante. Boleh saya numpang makan di sini?”


Kontan Bu Bondan dan Pak Bondan kaget mendengar itu. Tetapi mereka masih baik hati.


“Oh silakan, duduk!”


“Kenapa kamu numpang makan di meja kami? Apa gak ada meja kosong lagi?” Bu Bondan bertanya keheranan.


“Begini tante, saya lupa bawa uang, jadi gak bisa makan di kapal deh.”


Semua keluarga Jun terkejut mendengar itu.


“Loh, kalo kamu gak punya uang, kok bisa beli tiket kapal ini? Terus kamu tidurnya di mana?” Pak Bondan yang sekarang bertanya.


“Saya bisa tidur di mana saja. Di darat, di udara bahkan di air pun bisa!”


Shelly batuk-batuk mendengar itu. Ia meminum jus lemon lalu menatap Jinny bergidik.


“Kamu asalnya mana? Kok bajunya gaya dua puluh tahun lalu?”


“Iya nih Ma. Papa jadi inget, sewaktu mama muda dulu, mama kepingin banget bisa make cutbray sama syal, katanya biar kebarat-baratan!”


“Ih Papa ini! Itu kan waktu mama lagi kerja di butik! Sekarang mama gak perlu tampil modis lagi. Yang penting, perempuan itu harus bisa merawat penampilan, terus sikapnya baik!”


“Asal saya England, om, tante.”


“Kok kamu bisa lancar begitu bahasa Indonesianya?” Pak Bondan melupakan bahwa Jinny sudah numpang makan bareng keluarganya.


“Begini Pa, temen Jun ini, kebetulan baru sekolah di Indonesia, dia mau nerusin sekolahnya ke Melbourne!”


Shelly termasuk Bu Bondan kaget.


“Oh, jadi ini temen kamu Jun?” Pak Bondan malah terhibur.


“Iya nih, si Jun kok temennya banyak banget? Kemarin Jinny, sekarang siapa lagi? Lo sekarang udah playboy ya!”


“Enggak kok! Orang temen Jun cuma satu.”


Serempak keluarga Pak Bondan kaget mendengar itu. “Hah!”


“Maksud Jun begini, Pa, Ma. Temen Jun ini masih sodara Cathrine sama Jinny!”


“Tuh kan, Shelly bilang juga apa, Jun mulai ketularan mereka Pa, Ma.”


“Hus! Gak boleh gitu. Siapa tau Jun jodohnya Cathrine atau Jinny.” Bu Bondan mengatakan itu sambil menatap geli Pak Bondan.


“Papa malah seneng, kalo Jun punya banyak temen, kamu kan gak pernah di rumah, masa bisa kalah sama adik kamu.”


“Shelly kan belajar Pa! Shelly gak main-main kaya Jun.”


“Saya boleh makan ya, om, tante!” Jinny permisi melahap makanan mewah kapal itu.


Mereka memperhatikan cara makan Jinny yang lucu, Jinny menggunakan tangannya untuk makan dan menaikan satu kakinya ketika makan. Pak Bondan merasa Jinny begitu kampungan, sementara itu Jun menyuruh Jinny bersikap sopan melalui kedipan matanya. Jinny beralih makan dari posisi duduk, menjadi duduk di lantai sambil menghabiskan makan seperti di jaman perbudakan.


Semua orang yang lewat mulai menaruh perhatian ke mereka.


“Jinny! Jun malu nih!”

__ADS_1


Ketika itu pelayan kelasi datang dan menegur mereka. “Itu keluarga bapak kan? Tolong ya bilang ke dia, jangan makan dilantai.”


Bu Bondan menunduk sambil menepuk dahinya sendiri.


__ADS_2