
Sementara itu di rumah Pak Bondan, pembantu setia mereka yang sudah bekerja sepuluh tahun sejak lama, melaporkan keanehan yang baru ia alami. “Beneran bu! Iyem tuh gak bohong! Tempat sampah itu beneran ada yang beresin!”
“Kamu itu ngarang aja sih Yem, mana mungkin rumah ini ada hantunya, mungkin aja itu Jun.”
“Yah ibu, dibilangin gak percaya.”
“Tolong ya ambilin wesel dari kampung. Kamu hafal kan perumahan sini?”
“Hafal bu!”
“Jangan sampe lupa ya nomornya. Nanti ketuker lagi!”
“Siap Bu Bondan!” Iyem segera melaksanakan tugas dan Pak Bondan muncul membawa tas kantor.
“Ada apa mah?”
“Itu pah, si Iyem tadi bilang, kalo di rumah kita yang baru ini. Ada hantunya!”
“Ada-ada aja. Mungkin minggu depan kita bisa undang kenalan papa. Dia katanya ahli nujum!”
“Bagus deh. Papa milih rumahnya kejauhan sih!”
“Habis gada lagi mah. Rumah ini udah yang paling murah sama deket kantor properti papah!”
***
Di jalanan sore-sore itu muncul pesepeda yang menyenggol tukang bakmi keliling. Perempuan dalam pakaian remaja umumnya itu. Memohon untuk tidak mengganti rugi. “Saya gak sengaja Pak. Barusan kan emang sepeda saya yang salah. Bukan saya.”
“Tapi situ kan yang naikin. Bukan sepedanya jalan sendiri.”
“Bapak harusnya minta ganti sama sepeda saya dong. Bukan saya.”
Shelly keluar dari mobil dan mendekati mereka. “Sheila? Kok kamu di sini?”
“Iya Shel, sepedaku nakal sama bapak-bapak ini.”
“Berapa harus sepupu saya ganti?” Jun muncul menanyakan.
“Dua ratus ribu!”
“Banyak banget pak!” Shelly protes. Ia mengeluarkan uang jajan dan menggantinya.
“Kamu juga ngapain nabrak tukang bakmi?” Jun bertanya.
“Mas Jun kan tahu, sepeda Sheila gak bisa ngerem!”
“Mbak beresin deh sepeda kamu. Tapi kamu jangan nakal ya!”
“Rebes mbak!”
Jinny baru muncul di atas pohon dan Jun mengedipkan satu matanya ke sana. Jinny tertawa diam-diam dan hilang lalu pindah ke dalam mobil Shelly.
“Ini mobil ada acnya gak sih? Kok panas ya?”
“Ini udah paling dingin kali Sheila!” geram Shelly.
Sheila terkikik diam-diam. Jinny mengecil dan duduk di bawah spion depan. “Nih cewe emang ngeselin bos. Apa Jinny kerjain aja?”
“Jangan! Nanti aja!”
“Kumat deh!” Shelly beralih menatap kesal Junaedi. Jinny cengar-cengir melihat keduanya.
Malamnya mereka telah berkumpul di meja makan. Ada Pak Bondan, Ibu Bondan, Shelly dan Jun. Termasuk saudara perempuan mereka yang kabarnya baru sekolah dari Berlin.
“Di Berlin itu enak-enak loh masakannya, om, tante. Gak kaya gini.”
“Ya jelas dong, di Berlin kan Eropa bukan Indonesia. Kalo kamu mau makan enak, kenapa gak pesen ayam goreng aja?”
“Sheila kan belum kerja tante! Gimana mau beli makanan kaya gitu terus.”
“Pokoknya, apa pun yang kita makan, itu sudah nikmat dari Tuhan. Kamu harusnya bersyukur masih bisa makan. Diluar sana banyak sodara kita belum makan.”
“Iya-iya terserah deh!” Sheila mengambil centong dan mencicipi kuah sayuran dengan centong itu langsung ke mulutnya.
“Sheila! Kamu gak sopan banget sih. Masa makan langsung suap aja. Itu kan centong buat ambil sayuran!” Shelly geram.
“Gak papa kali mbak. Aku kan emang doyan makan.”
“Tadi katanya gasuka makanan Indonesia.” sahut Bu Bondan tak kalah kesalnya.
“Apa kamu di Berlin diajarin begitu cara makannya?” Pak Bondan justru tertawa pelan memakan lalapan sambal miliknya.
__ADS_1
“Jinny udah gatel banget sama cewe ini bos!”
Jun hendak menahan Jinny mengusili Sheila. Sheila yang sedang lahap makan tanpa kesopanan. Ia hendak memakan apa pun yang ada di meja makan sekarang. Secara ajaib sambal Pak Bondan pindah ke bawah nasi putih Sheila. Sheila semakin lahap memakannya. Semakin lama mukanya semakin merah akibat kepedasan.
“Air mana om! Kok pedes banget sih!”
“Jun ambilin gue air dong!”
Junaedi kesal meladeni sepupunya. Secara spontan Jinny muncul dan secara ajaib seluruh air dalam teko menyembur keluar membasahi kepala Sheila.
“Jun! Lo resek banget sih! Gue kemarin baru potong rambut nih! Sialan lo!” Sheila melemparkan gelas sirop ke arah Jun dan gelas itu melayang kemudian Sheila melarikan diri ke kamar mandi.
“Wah kamu emang top Jun!” sanjung Pak Bondan
“Kayaknya Sheila itu gak pernah ke Berlin deh mah, pah. Kalo dia beneran ke sana, gak mungkin dong kurang ajar sama kita.”
“Sabar mbak. Sambil nunggu sepedanya bener. Kita kerjain aja biar dia cepet minggat dari sini.”
“Saran kamu boleh banget Jun!” Pak Bondan menyetujuinya.
“Besok Sheila pasti gak sekolah. Kita pantau dia sehari penuh.”
“Usul mama boleh banget.” Shelly mendukung juga.
***
Malamnya menjelang satu dini hari Jun baru menutup bukunya. Jinny muncul dari jendela dan duduk dalam pakaian gaun jaman renaisan miliknya. “Bos udah selesai nih belajarnya?”
“Kamu habis dari mana aja? Kayaknya lagi seneng nih.”
“Jinny cuma keliling rumah aja bos. Habis si Iyem udah tidur, jadi Jinny gak bisa usilin lagi.”
“Hush kamu nih nakal mulu.”
“Kalo bos gak keluarin lukisan itu. Barangkali Jinny bakal selamanya di dalem sana.”
“Kamu kok cantik banget. Pasti kamu dulunya putri raja.”
“Aku malah pelayan istana biasa bos.”
“Terus kerjanya kamu apa dong?”
“Gak jauh beda kaya Iyemlah bos. Bedanya Jinny melayani raja, dulu banyak wanita pelayan yang mau jadi pelayan raja. Raja Henry itu baik loh bos. Orangnya suka bercanda.”
“Yah si bos, hukuman kaya gitu kan biasa di jaman Jinny.”
“Iya di jaman kamu hukum kan belum ada. Kalo sekarang kita punya HAM.”
“HAM? Apa itu makanan bos?”
“HAM itu, hak asasi manusia, jadi kita gak boleh sembarangan hukum orang. Termasuk presiden.”
“Presiden itu raja ya bos?”
“Kok kamu tahu?”
“Jinny baru liat papa bos nonton tv barusan. Terus Teluk itu di mana bos?”
“Teluk? Teluk yang lagi perang sama Amerika?”
“Amerika itu di mana bos?”
“Amerika itu di Eropa. Pokoknya jauh deh. Apa kamu bisa ajak aku ke sana?”
“Jinny gak punya paspor ke sana bos. Banyak drakula sama vampir jahat di sana bos. Jinny gak mau!”
“Kamu jaga rumah ini ya. Aku besok mau sekolah.”
“Siap Tuanku!” Jinny bersaluir mencontoh tontonan yang baru dia lihat di tv.
***
Sheila yang tidak bisa tidur memutuskan pergi mengelilingi ruangan, ia mengintip jendela Shelly dan melihat perempuan galak itu sedang menulis mendengarkan radio.
“Gue kerjain lo!” Sheila mendorong pintu kamar Shelly dan lari masuk ke kamarnya. Shelly terperanjat lalu melihat keluar kamarnya.
“Perasaan Bi Iyem udah tidur. Kok pintu bisa kebuka sendiri ya?” Shelly bergidik dan menutupi badannya dengan selimut.
Sheila keluar meneruskan aksi jahilnya, ia menyembunyikan sepatu Pak Bondan, dan menukarnya dengan sepatu Jun. “Biar tahu rasa kamu Jun!”
Jinny melihat Sheila yang baru menutup kamar tidur Pak Bondan dan ponakan usil itu menukar selai roti dengan bumbu dapur.
__ADS_1
Mengetahui itu Jinny menyentil kuping Sheila. Sheila terkejut dan marah-marah sendirian. Ia melarikan diri ke dalam kamarnya.
Esoknya Jun, Shelly dan Pak Bondan bersiap untuk berangkat, Shelly menceritakan bahwa pintu kamarnya ada yang membukanya semalam.
“Tuh kan bu, bener, rumah baru kita ada hantunya.” Bi Iyem menyahuti obrolan.
“Mungkin ada yang sengaja ngerjain kita.”
“Sheila udah nuker selai sama sambel bos!” Jinny membisiki Jun yang baru duduk di tengah meja makan.
“Jun bosen makan roti mulu. Sekali-kali mau makan di kantin ah.”
“Rotinya enak loh Jun, kamu gak mau coba nih?” Sheila menawarkan rotinya.
“Kamu duluan deh. Aku gausah.”
“Ehm, aku juga bosen sama roti. Kamu aja deh.”
“Loh katanya kamu suka makanan Eropa? Kok sama roti gak mau.” Bu Bondan membalas.
“Iya tante, Sheila sukanya ayam goreng, kalo roti kan di India sama Arab juga banyak kok.”
“Justru ini rotinya Indonesia. Kamu cobain deh!” Jun mengoleskan roti milik Sheila dengan cokelat yang sudah bukan selai tapi sambal dapur.
Sheila menggigit roti ragu-ragu dan mulutnya kecut lalu menyemburkan roti ke wajah Shelly.
“Aduh kok kamu jorok banget sih!” Shelly geram lalu pergi ke kamar mandi belakang.
“Kok dimuntahin?” tanya Bu Bondan menatap terhibur ponakannya.
Sheila pergi entah ke mana. Pak Bondan bersiap mengenakan sepatunya, ia justru menemukan sepatu Jun. “Jun! Sini! Papa mau ngomong!”
“Iya ada apa pah?”
“Masa papa ke kantor make sepatu kamu. Sepatu papa mana?”
“Bentar pa!” Jun membantunya mencari sampai ia menemukan sepatu papanya menggantung di dalam lemari pakaiannya.
“Jun! Kamu yang bener dong. Masa kamu jahil banget, jangan-jangan kamu ketularan Sheila ya.” Papanya muncul mencopot sepatu gantung itu.
“Aduh pa! Sepatu papa emang Jun baru liat sekarang. Semalem Jun gak nemuin sepatu papa di sini.”
“Lain kali jangan diulangi ya!”
Jinny baru muncul setelah pintu kamar Jun ditutup. “Jinny minta maaf ya bos. Semalem Jinny tahu Sheila pelakunya.”
“Terus kenapa kamu gak cegah!”
“Jinny nunggu perintah dulu dari bos.”
“Gini aja. Kamu jebak Sheila biar dia ngakuin kesalahannya.”
“Caranya bos?”
“Kamu cewe Eropa tapi kok goblok sih!”
“Yah sorry bos. Aku kan lahirnya empat ratus tahun lalu bos.”
“Pokoknya kamu pancing dia biar mau ngakuin kesalahannya.”
“Siap Tuan!” Jinny hilang ke dalam pintu yang tertutup.
Jun berangkat ke sekolah dengan Shelly yang sama-sama cemberut.
Di waktu siang setempat Sheila sedang menyetel radio keras-keras di kolam renang, perempuan itu bergoyang-goyang dalam pakaian senam. Jinny kesal menatapnya dikejauhan. Bi Iyem memasuki kolam renang dan Sheila berniat mengerjainya. “Bi! Ambilin pisang saya yang jatuh di kolam renang dong!”
“Masa pisang bisa jatuh ke sana sih neng? Gimana ceritanya?”
“Pokoknya ambilin! Saya gak mau tahu!” Sheila semakin emosi.
Bi Iyem yang gemuk berusaha menarik pisang yang mengambang di tengah kolam renang.
“Biar kecebur lo!” Sheila berbisik sambil tertawa dibalik kacamata hitamnya.
Jinny tahu-tahu menggerakan tangannya dan kursi santai milik Sheila melayang jauh ke atas kolam renang dan Sheila terjebur keras-keras ke bawahnya.
“Aduh non! Kok bisa nyebur sih! Bibi gak bisa ambilin pisangnya dong!”
“Sialan! Siapa sih yang dorong gue!”
Bu Bondan muncul dan menertawakan keduanya. “Ada apa bi?”
__ADS_1
“Ini bu, non Sheila katanya mau diambilin pisangnya yang jatuh di kolam renang, eh, dia malah nyebur ke sana.”
“Udah-udah, Sheila sebel!” Sheila lari ke dalam dan mengunci kamarnya.