
Jun baru menyelesaikan tugas kelompoknya. Ia berjalan kaki saja memasuki pekarangan rumahnya. Jinny memunculkan diri di dekatnya. “Gimana bos? Beres gak tugasnya?”
“Beres kok, tapi Jun belum ketemu Renatha nih, semua jawaban Jun ada di dalem bukunya. Jun belum ambil ke rumahnya. Mana Jun gak boleh keluar ntar malem lagi.”
“Kalo gitu, serahin ke Jinny aja. Biar Jinny yang ambilin buat bos.”
“Okedeh Jinny.”
Shelly datang dengan Ringo, mereka berjanjian untuk ketemu besoknya di rumah Jun, mereka akan membahas drama sepulang Shelly sekolah esok paginya. Ringo berpamitan untuk melanjutkan kerja teaternya.
“Jun, mbak bantuin nyiapin cemilan ya, buat besok kalo temen mbak si Ringo dateng.”
“Mbak Shelly ini gimana sih. Jun kan baru pulang, masa langsung di suruh-suruh aja. Jun capek tahu!”
“Lo jadi adek gue, jangan peritungan dong. Mbak kasih ongkos deh buat jajan besok.”
“Jadi mbak udah gajian nih?”
“Tebak aja sendiri. Ketauan deh, lo mata duitan!”
Shelly pergi ke dalam rumah setelah menepuk jidat Jun.
“Asik bos. Mbak Shelly udah gajian, kita makan ke mall lagi yuk!”
“Aduh Jinny! Jun mau nabung buat beli buku nih. Kalo kita sering-sering ngemall, itu namanya pemborosan. Apalagi krismon kan baru selesai dua tahun ini, Jun gak mau ah jadi konsumtif!”
“Jinny kan udah jatuh cinta sama donatnya bos. Jinny jarang dulunya bos, makan enak terus.”
“Kamu kan tinggal sulap aja tangan kamu. Kenapa harus repot?”
“Yah si bos gak asik nih. Pelit!” Jinny mengubah wajahnya menjadi bercahaya biru terang. Jun merinding seketika.
“Iya-iya, Jun pikirin lagi deh, muka kamu biasa aja kali. Gausah kaya setan gitu.”
“Jinny kan emang hantu. Bos gimana sih!”
Mereka saling bercanda satu sama lain. Dan Jun mulai terbiasa dengan sikap Jinny yang kekanakan dan manja. Semua yang terpenting, ia telah menemukan orang yang selalu ada untuknya, Jinny begitu memahami dirinya dan begitu pun sebaliknya. Jun sangat mengaguminya.
Pak Bondan mengadakan kumpul keluarga seperti biasanya. Bu Bondan tengah membaca sebuah novel picisan. Shelly dalam baju ketat dan rok semata kakinya, sedang mengunyah makanan seperti pop corn.
“Kalian semua udah tahu belum? Kita punya tetangga baru loh.”
“Siapa Pah?” Jun baru datang ke tengah mereka.
“Namanya Pak Munich, beliau mungkin akan tinggal sebulan di sini, kalian harus baik sama dia. Orangnya pendek, botak tapi baik sikapnya.”
“Serius Pah?” sekarang Shelly. “Terus kalo botak, kenapa gak tumbuh lagi rambutnya, Pah?”
“Hus! Kamu ini ngawur aja.” Bu Bondan menegurnya. “Kita ini harus punya sikap baik ke tetangga kita. Apalagi papamu itu kan direktur, kalian sebagai anaknya, harusnya bisa rendah hati. Dan jangan menghina orang lain.”
“Kita juga kan belum tahu sikap Pak Munich, Ma. Terus gimana kalo Pak Munich itu, bukan seperti dugaan mama sama papa?”
“Maksud kamu itu apasih Jun? Papah gak ngerti.”
“Maksud Jun itu, jaman sekarang kan banyak orang pura-pura baik, terus mereka ngambil kesempatan dalam kesempitan Pa.”
“Semua tergantung sikap kamu, Jun. Kita gak bisa menduga kalo Pak Munich itu buruk orangnya. Sebaiknya, kenalah dulu sebelum kita membenci siapa pun orangnya.”
“Papamu bener itu!” Bu Bondan beranjak. “Sekarang kita ke kamar, besok kalian harus sekolah!”
Jun masih mencari-cari Jinny yang belum kelihatan, biasanya perempuan hantu itu sudah muncul mengikutinya. Tetapi sekarang tidak sama sekali. Jun memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya.
Sementara itu Renatha sedang duduk di depan meja rias. Perempuan itu baru selesai mengenakan masker kecantikan, ia akan segera mengistirahatkan dirinya ke atas kasur. Tanpa ia tahu Jinny sudah muncul di ambang jendela. Perempuan hantu itu melayang mencari buku Jun, Renatha yang tidak bisa melihatnya biasa saja. Jinny berhenti terbang, kedua tangannya menembus laci meja belajar Renatha. Ketika Renatha hampir menidurkan kepalanya, ia mendengar laci meja belajarnya tertutup sendiri. Jinny langsung menarik buku Jun keluar dari laci.
“Kok lacinya bunyi sendiri?” Renatha turun memeriksa lacinya. Perempuan itu meraba-raba seluruh selorok tempat menaruh buku-buku dan peralatan sekolahnya.
“Loh buku Jun! Kok ngilang dari laci gue!”
Jinny melambaikan tangannya di belakang cermin. “Jinny mau bawa bukunya dulu ya!”
Renatha tidak sengaja melihat Jinny yang membungkuk di atas jendela kamarnya yang belum ia tutup hordennya. “Ha! Hantu!”
__ADS_1
Jinny memunculkan diri kembali ke samping ranjang Jun. Jun kebetulan baru naik ke ranjang. “Bos! Bukunya udah ada nih!”
“Jinny! Kamu ke mana aja? Jun kira kamu marah sama Jun.”
“Jinny gak marah kok. Jinny paham bos, bos mau beli buku baru kan? Jinny mau belajar biar gak boros!” Jinny mengikik diakhir bicaranya.
“Terus, kamu permisi gak sama temen Jun?”
“Jinny udah bilang bos, eh temen bos langsung teriak aja. Jinny kan jadinya serba salah bos!”
“Besok kamu temenin Jun ke swalayan ya!”
“Wah boleh tuh! Jinny mau donat bos. Apalagi yang dingin-dingin empuk!”
“Beres deh! Kamu boleh keluar deh sana.”
“Siap Tuan Jun!” Jinny melayang menembus jendela kamar Jun untuk menjaga rumahnya.
***
Keadaan swalayan di Jakarta ketika itu begitu ramai. Jun sudah membawa pesanan Shelly, ia berjalan bareng Jinny yang memakai baju jas dan celana cutbray, tidak ketinggalan syal merah muda yang selalu ada dilehernya. Penampilan itu hanya ketika ia menjadi manusia, menyamar menjadi manusia umumnya.
“Sekarang kita tinggal bayar deh.” Jun berkata ke Jinny yang senyum padanya.
Seseorang lelaki tambun muncul buru-buru.
“Minggir! Gue duluan!” ia langsung menyerobot duluan ke depan.
“Itu siapa sih? Resek banget.”
“Jinny juga gak tahu bos.”
Pelanggan yang mengantri seperti tidak menyukai lelaki itu. Mereka mulai protes, termasuk Jun sendiri.
“Tenang bos, biar Jinny pindahin!”
Orang yang pemarah dan tidak mau sabar itu, ia menyingkirkan keranjang belanja miliknya. Kepalanya tidak menengok ke samping, ia mencari-cari keranjang belanja miliknya, tangan kanannya tidak sengaja menyentuh bokong perempuan yang ada dibelakangnya. Perempuan itu menjerit kekagetan, semua orang memandang ke arah mereka. “Kurang ajar! Mas mau lecehin saya ya? Nih rasain!” perempuan itu menampar lelaki itu beberapa kali. Terlihat wajahnya hampir memar karena tamparan. Jun dan pelanggan lain tertawa-tawa melihat itu.
“Mungkin lagi macet di jalan kali.”
“Mungkin aja kali ya, Jun?” Shelly datang ke sampingnya. Ia melihat keluar rumah besar itu. Muncul orang di kejauhan jalan raya, lelaki itu sedang menuju ke pekarangan rumah mereka. Lelaki tambun itu melihat ke arah mereka. Akhirnya ia bertamu juga.
“Selamat sore! Kalian anak-anak Pak Bondan?”
“Iya betul Pak. Bapak ini siapa ya?” Shelly tidak mengenalnya.
“Kenalkan, saya tetangga baru kalian. Pak Munich!”
Jun terkejut ditempatnya mendengar itu. “Loh, ini kan orang yang di mall barusan.”
Jinny muncul menyentuh pundak Jun, membisikan. “Iya bos! Orang ini yang gak sabar ngantri!”
“Kalo gitu gawat dong, bisa-bisa semua makanan di dalem bisa dihabisin sama dia.”
“Ayo Pak! Silakan masuk. Kebetulan kami lagi nunggu temen nih.”
“Rumah kalian bagus ya? Nyaman dan luas!” Pak Munich mengatakan itu seperti orang kampungan. Matanya liar memandang apa pun yang membuatnya seperti kampungan.
Shelly mempersilakan Munich untuk duduk. “Saya mau bikin minuman dulu buat bapak ya!”
Jun tidak duduk ke dalam, ia menunggu Ringo. Tidak lama muncul mobil ceper yang membawa Ringo. Lelaki itu turun menyapa Jun. “Jun! Gue sorry banget ya, barusan macet. Jadi lama sampenya!”
“Gak masalah kok. Lo duduk aja ke dalem, kebetulan Mbak Shelly udah nyiapin semuanya tuh.”
Ringo menuruti Jun. Mereka mengobrol sepanjang ruangan tamu, Munich melongok mereka. “Salaman dulu dong! Saya ini orang tua loh. Masa kalian lewati aja.”
“Saya Ringo!”
“Mama kamu lahirnya di Inggris ya? Kok begitu namanya? Apa jangan-jangan kakek kamu Beatles?”
“Bapak ini bisa saja. Saya lahir di Bandung, Pak. Saya juga suka Beatles, tapi bukan karena nama saya.”
__ADS_1
“Terus kamu suka Beatles karena apa?”
Jun mulai tidak menyukai sikap Munich.
“Saya suka musik mereka Pak!”
“Kalau begitu, coba mainkan piano itu!”
Jun terkejut mendengar itu. “Loh Pak! Itu kan piano papa saya! Kok bapak main suruh temen saya aja!”
“Gak papa toh. Orang saya tetangga kamu. Berarti saya bebas dong mau apa aja? Selama saya tidak mengganggu kalian!”
Jinny muncul di tengah Ringo dan Pak Munich. “Orang ini resek banget bos! Ini kan rumah papa bos, masa dia main suruh-suruh aja.”
“Cepet mainin! Katanya suka Beatles?” Munich memaksa.
Ringo duduk dengan ragu-ragu. Ia tidak mengira akan bertemu tetangga yang sebrengsek ini. Ringo mulanya ragu memainkan piano. Kepalanya terus melihat Jun dan Munich dengan gerogi, seharusnya ia hanya mengajarkan teater, bukan main piano. Apalagi yang menyuruhnya bukan pemilik rumah ini!
“Ayo! Kok bengong sih! Kaya bebek nelen karet aja kamu.”
Jun mulai bermain mata dengan Jinny. Jinny mengerti apa yang Jun maksud padanya.
“Begini deh Pak! Gimana kalo bapak dulu yang main piano. Katanya bapak suka Beatles? Berarti bapak harus bisa main musik mereka dong!”
Munich mendadak keringat dingin, ia menelan ludah seperti bebek yang ketemu anjing kelaparan. “Loh, kamu ini gimana sih? Saya kan orang tua. Masa kamu berani suruh-suruh saya. Gak takut dosa?”
“Kalo bapak gak mau. Jun bilangin ke papa, kalo Pak Munich nyuruh Ringo macem-macem di rumah ini!”
“Iya-iya! Saya mau main piano deh.” Munich menggantikan Ringo yang sebelumnya sudah duduk. Lelaki tambun itu membuka papan piano dan menghadap piano lemari, nafasnya gugup dan matanya ragu-ragu.
“Ayo Pak! Keburu papa pulang nih!”
“Iya! Sabar dong!” Munich mulai menekan piano tetapi belum membunyikan suara apa pun.
“Mana Pak? Katanya bisa.” Jun menertawakan tetangga tidak tahu diri itu.
“Mana saya bisa konsentrasi, kalo kalian di deket saya!” Munich mendadak mengusir mereka.
“Okedeh, kami tunggu dulu ya ke depan!” Jun melangkah beberapa meter kakinya.
Ketika itu Munich ditinggal sendirian. “Sialan! Gue kayaknya dikerjain nih!”
Jinny tahu-tahu muncul dibelakang Munich. Perempuan hantu itu menyulap piano dan piano itu membunyikan suara sendiri! Munich terkejut dari tempat duduknya, ia hendak kabur karena melihat piano bermain sendiri, tetapi secara tiba-tiba penutup piano mendadak turun dan menjepit tangannya begitu keras. Teriakan Munich membuat Jun dan Ringo datang kembali.
“Ada apa Pak? Kok main pianonya cepet banget?” Jun geli menanyakan itu.
“Piano kamu ada hantunya! Lihat nih! Jari-jari saya sampe bengkak begini!”
Ringo tertawa-tawa melihat itu. Begitu pun Jinny yang baru saja mengerjainya.
“Mau main piano lagi? Atau mau minum Pak?”
“Kamu gila! Tangan saya kejepit nih!” Pak Munich bangkit dari sana menuju ruang tengah. Kebetulan Shelly sudah muncul mengantarkan nampan cemilan dan minuman. Setelah Jun memberikan perban ke tangan Pak Munich. Lelaki tambun itu belum kapok, ia mengambil begitu saja minuman milik Ringo.
“Kebetulan saya haus nih!” Munich tanpa dosa meminum begitu saja minuman orang lain. Yang jelas tidak dikenalnya begitu dekat. Tetapi sikanya begitu kurang ajar!
“Itu kan minuman temen saya Pak! Jangan gitu dong!” Shelly marah.
“Kalian ini harus bersyukur punya tetangga seperti saya. Saya orangnya baik loh, kalian pasti akan senang kalau saya sering dateng ke sini!”
Munich tertawa-tawa bangga setelah mengatakan itu. Lelaki plontos itu mengambil begitu saja cemilan, yang Shelly sediakan untuk Ringo. Ketika hendak memakannya suara telpon bunyi. Shelly mengangkat telpon. Setelahnya ia memberitahu Jun dan Ringo.
“Papa sama mama gak bakal pulang, Jun. Kita sendirian di rumah nih.”
“Bi Iyem gak ada di rumah, terus kita makannya gimana dong kak?”
“Kalian gak ada pembantu?” mendengar itu Shelly dan Jun sudah menebak maksud Munich. “Gimana kalo nanti malam, kalian makan aja di rumah saya.”
“Beneran nih Pak?” Jun meragukan.
“Iya beneran! Pokoknya, pintu rumah saya, selalu terbuka untuk kalian.”
__ADS_1