Pacarku Kuntilanak

Pacarku Kuntilanak
Perkemahan Angker


__ADS_3

Mereka telah sampai ke pantai untuk kemah selama sehari atau dua hari. Jinny mengagumi pemandangan pantai Carita yang begitu sejuk dan damai. Hannah sengaja tidak turun. Ia memiliki akal untuk kembali mengusili Jun.


“Jun! Lo bawain tas gue dong. Gue kan capek abis lari.” Hannah bilang begitu sambil melirik Devita dan Donna.


“Iya-iya!” Jun mulai membopong tas milik Hannah.


Shelly sedang sibuk membawa barang miliknya sendiri.


“Bentar Jun!” Devita muncul menyerahkan kopor. “Gue sekalian ya!”


“Gue juga nih!” Donna menambahkan kopor berisi bajunya yang berat-berat.


“Aduh! Satu-satu dong! Emang Jun supermen!”


Jinny turun dari karavan dan membisikan Jun. “Udah bos nurut aja. Nanti biar Jinny sulap!”


Jun senang mendengar itu. Ia menerima kopor-kopor Devita dan Donna. Ketiganya tertawa terpingkal-pingkal di tempat. Mereka puas telah mengerjai Jun. “Mampus lo!” Devita berkata sambil tertawa pelan.


“Biar si Jun tahu rasa!” Hannah tak kalah nakalnya.


“Makanya gausah ikut kita!” Donna melipat kedua tangannya sombong.


Jun tenang-tenang saja mengangkat kopor-kopor mereka. Jun beratraksi dengan memutar-mutar kopor hanya dengan tangan kosongnya. Hannah melihatnya emosi seketika. Begitu pun Devita dan Donna. “Kok si Jun bisa bawa kopor kita?”


“Iya, gue juga bingung, kan gue udah isi barang-barang berat!” keluh Donna memonyongkan bibirnya.


“Sialan! Kayaknya si Jun permainin kita deh!” Hannah tidak sabar memberi Jun keusilan lain.


Shelly selesai menemukan posisi nyaman untuk mereka gelar tenda semalaman. “Adek gue mana lagi?”


Shelly mencari-cari keberadaan Jun. Ia melihat Jun sedang memasukan kopor milik ketiga teman kakaknya ke sebuah tenda. “Kurang ajar banget tuh si Hannah. Masa adek gue disuruh-suruh mulu.”


Jun sedang menata-nata kopor perempuan yang mengerjainya di dalam tenda. Jinny muncul di dalamnya. “Halo bos! Mau Jinny beresin gak?”


“Gausah deh, ini kan emang tanggung jawab Jun, lagian salah Jun juga sih. Ngapain Jun mau diajak Mbak Shelly, kalo temen-temennya nakal banget.”


“Jinny jadi gak tega sama bos. Abis ini kita jalan-jalan yuk bos. Jinny udah lama nih gak liat pantai.”


“Sabar ya, Jun mau naroh barang-barang mereka dulu.”


“Oke bos!” Jinny menghilang seketika dari dalam tenda.


Hannah sedang memikirkan siasat baru untuk mengerjai Jun habis-habisan. Devita menyarankan ide paling liar miliknya. “Gue punya ide nih. Gimana kalo nanti malem, kita pura-pura jadi rampok aja, biar si Jun kapok!”


“Wah, keren juga ide lo!” Hannah menyanjungnya.


“Tapi gimana dong, kalo Shelly sama Jinny tahu?”


“Tenang, gue udah bawa obat tidur nih. Jadi kalo lo ngerjain si Jun, lo bakal aman!” Hannah merangkul mereka berdua.


Jinny tidak sengaja mendengarnya. “Duh! Mereka anak siapa sih! Kok nakalnya amit-amit banget. Jinny jadi sebel deh!”


Jun sudah membereskan kopor gadis-gadis nakal itu. Ia justru sibuk mencari Jinny di antara pohon kelapa pantai. “Jinny! Kamu di mana! Giliran Jun cari Jinny malah ilang.”


Jinny langsung muncul di belakang pohon kelapa.


“Jinny gak ke mana-mana kok bos!”


“Kamu ngagetin aja.”


“Jinny punya berita heboh buat bos.”


“Berita?”


“Iya bos, Jinny gak sengaja denger nih, katanya si Hannah bakal jadi rampok ntar malem! Dia sama temen-temennya yang gila itu, mau ngerjain bos supaya kabur dari sini!”


“Kok kurang ajar banget sih!” Jun begitu kesal mendengar itu.


“Santai ae atuh bos. Jinny punya solusi. Bos pura-pura masuk duluan aja ke tenda. Nanti, biar Jinny yang adepin Hannah!”


“Makasih ya! Jun belum makan nih. Kamu bisa sulap makanan gak?”


“Bisa atuh bos! Tuan Jun maunya apa?”


“Gimana kalo pizza sama es teh dingin!”


“Kalo gitu sekalian sama Jinny ya bos?”


“Okedeh!”


Jinny menyihir kedua tangannya dan muncul satu kotak pizza hangat di atas nampan dengan dua gelas teh dingin.


“Yuk kita makan!”

__ADS_1


Jinny langsung kegirangan. Dan menyuap pizza ke dalam mulutnya. Jun juga memakan pizza begitu lahap sambil menyeruput es teh!


Tanpa mereka tahu Devita sedang mengintipnya. “Kok mereka bisa makan pizza? Ada es teh lagi! Jangan-jangan Jinny beneran setan lagi. Gue harus laporin Hannah!”


Hannah sedang bermain gitar di depan tenda Shelly. Mereka bertiga dengan Donna sedang bernyanyi, meski suara ketiganya menyerupai anjing dan kucing.


“Han! Gue mau ngomong sama lo!”


Hannah bangkit mendekati Devita yang baru lari. “Ada apa sih? Kok lo ngos-ngosan gini?”


“Itu gue barusan liat si Jun lagi makan pizza sama es teh!”


“Apa! Kok bisa?”


“Makanya! Gue juga bingung nih! Masa ada yang jual pizza dilaut!”


“Ayo! Kita kasih tahu Donna sama Shelly!”


Mereka berombongan datang untuk melihat kebenaran tentang berita itu. Tetapi sebelum itu, Jinny sudah tahu kalo Devita barusan telah mengintip mereka. “Kayaknya si Devita mau dateng deh bos. Dia ngaduin kita!”


“Waduh! Gawat dong! Jun harus sembunyi di mana nih!”


“Tenang bos! Biar Jinny sulap es teh sama pizzanya.”


“Cepet dong!” Hannah semakin tidak sabar ingin melihat kebenaran berita itu.


“Tuh apa gue bilang!” Devita sudah sampai ke depan Jun dan Jinny.


Shelly, Donna dan Hannah terkejut melihat ke sana. Jun sedang memakan lemper dengan minuman kelapa muda. Jinny mengambil lemper lalu memakannya sambil tersenyum.


“Ada apasih ribut-ribut? Kalian mau?”


“Loh! Mana pizzanya?” Devita mencari-cari makanan yang begitu membuatnya cemburu.


“Kok pizzanya gak ada!”


“Jun lo yang bener dong. Masa lo nipu kita!” Devita terus mendesaknya. “Orang gue tadi liatnya pizza kok! Masa berubah jadi lemper!”


“Lagian siapa mbak, yang makan pizza? Jun kan bawanya bekal, isinya kan emang lemper.”


“Mana Dev? Lo suka ngaco deh!” Hannah berubah emosi pada temannya.


“Lagian, mana ada lagi orang jualan pizza di sini!” Shelly membantah Devita. “Heh Dev! Kalo lo mau minta, ngomong aja kali! Gausah ngomongin Jun aneh-aneh.”


“Bilang aja lo lagi ngidam!” Donna menyumpal mulut Devita dengan lemper.


Semua menertawakan perempun itu terbahak-bahak.


***


Malamnya Shelly baru mengumpulkan kayu dan membakarnya menjadi api unggun. Jun sedang membuka-buka novel horor miliknya. Jinny yang berada di dekatnya beberapa kali tertawa membaca buku horor itu.


“Eh, lo perhatiin gak sih? Jinny kok cewenya aneh banget. Jun kan lagi baca buku serem, kok dia malah ketawa.” Devita masih mengurusi keduanya.


“Ah, lo paling cemburu sama mereka.” Donna membalas sahabatnya sambil menatapnya geli.


“Devita gak ada salahnya sih.” Hannah memperhatikan Jinny dari seberang. “Jinny kayaknya bukan cewe sekarang deh, kalian lihat mukanya gak? Kok gue kaya pernah liat wajahnya tapi lupa!”


“Iya! Jinny mirip sama nenek lo Han!”


“Bukan nenek gue dodol! Gue inget sekarang. Gue pernah liat lukisan di koran, harganya mahal tapi gak boleh dibuka. Jinny punya kemiripan sama lukisan papa gue! Iya, papa pernah bilang, kalo lukisan itu belum pernah dia buka, karena kalo lukisan itu dia buka. Katanya hantu yang ada di lukisan itu bakal keluar!”


“Ih kok gue jadi takut ya! Jangan-jangan Jinny hantu lukisan lagi!”


“Jangan ngaco deh! Lo berdua kok kuno banget! Gak mungkin kalo Jinny hantu. Paling dia cewe murahan yang mau jadi pacar Jun!”


“Tapi gue gak bohong loh! Jinny cakep banget!” Devita mengikik sambil bicara menatap Hannah.


“Kita harus kerjain Jun! Kalian bikin minuman cepet!” Hannah menyuruh kedua temannya membuat minuman dengan obat ngantuk.


Shelly sedang bicara dengan Jun dan Jinny. “Kalian keliatannya aus. Nih gue bawa minuman biar anget!” Devita meletakan minuman yang baru dia masukan obat bius.


“Jinny! Lakuin sesuatu!”


“Gampang bos!” Jinny menyihir minuman itu menjadi kelapa dingin dan segar. “Sip bos! Jinny udah ganti minumannya!”


“Wah makasih banget ya!” Shelly meminum duluan dan mukanya keheranan. “Loh, katanya minuman anget, tapi kok dingin sih?”


Devita tersentak mendengarnya. “Serius Shel?”


“Cobain dong! Masa kita aja yang minum.” Jun menyindirnya.


“Eh, iya-iya!” Devita ragu-ragu meminumnya dan ia merasakan keanehan. “Kok minuman gue jadi dingin banget ya? Terus, kenapa jadi kelapa rasanya!”

__ADS_1


“Jun ngantuk nih. Jun mau masuk tenda dulu ya!”


“Jun! Lo kan cowo! Masa ninggalin kita yang cewe sih!” Shelly kesal memanggil adiknya.


“Tenang mbak, Jun pasti jagain kalian kok!” Jun memasuki tendanya. Jinny langsung menghilang. Shelly terkejut melihat Jinny sudah tidak ada di sampingnya.


“Jinny! Ke mana sih cewe itu?”


Devita melaporkan keanehan barusan ke Hannah. Donna juga kaget mengetahui minuman itu sudah berubah menjadi kelapa dingin dan segar. “Kok minuman kita jadi kelapa sih!”


“Kayaknya pantai ini ada hantunya deh!” Donna merinding mengatakan itu.


“Si Shelly belum tidur lagi. Semua salah lo Dev!”


“Kok salah gue sih?”


“Kemarin siang, lo bilang liat Jun makan pizza. Terus, sekarang minuman kita jadi kelapa!”


“Mana gue tahu dodol!” Devita kesal berapi-api.


“Jun kan udah masuk tenda. Mending sekarang aja kita kerjain!” Donna menyarankan.


“Ide lo boleh banget!” Hannah girang mendengar itu.


Jinny muncul di tengah mereka tetapi tidak bisa dilihat. Hannah sedang mengganti bajunya dengan pakaian hitam seperti maling. Devita dan Donna mengenakan topeng penjahat untuk menakuti Jun. “Jadi cewe kok jahat banget sih. Jinny kerjain ah!” Jinny tertawa kecil diakhir kalimatnya.


Jinny menyulap pakaian Devita dan Donna menjadi badut, seketika rambut mereka berubah menjadi kribo dan hidung mereka merah seperti tomat!


Hannah yang paling depan berubah menjadi perempuan rimba dengan rambut gimbal dan wajah penuh kotoran lumpur.


“Serahkan barang kalian!” Hannah maju duluan.


Shelly terkejut melihat perempuan rimba itu. “Hah! Kok di pantai ada orang gila sih? Pergi kamu!”


Hannah terkejut mendengar bentakan Shelly. Perempuan itu mengambil cermin dari saku celananya dan kaget melihat mukanya sudah coreng moreng. Hannah menjerit. “Kok muka gue jadi gini!”


Devita dan Donna memasuki tenda Jun dan mereka saling berteriak satu sama lain, keduanya melihat penampilan masing-masing yang menyerupai badut!


“Kok lo jadi badut?”


“Lo juga kok jadi badut sih!”


Jun terbangun dan tertawa-tawa melihat mereka. “Kok di pantai ada badut? Kalian mau menghibur anjing laut ya?”


Devita dan Donna melarikan diri dari sana. Mereka saling menyalahkan satu sama lain hingga Jinny muncul dalam wujud lukisan tempo hari. “Makanya jadi cewe jangan nakal dong!”


“Siapa lo hah!” Devita mengeraskan suaranya.


“Aku kan Jinny? Masa kalian lupa?” Jinny tertawa-tawa dan membesarkan badannya begitu besar dan tinggi.


Devita dan Donna saling berpelukan. “Se! Setan!”


Mereka berlarian ke tenda dan menabrak Hannah yang persis wanita jaman purba.


“Siapa lo!” Devita masih sembunyi dibelakang Donna.


“Gue Hannah! Temen kalian!”


“Masa sih ini lo Han!” Donna mendekatinya dan terkejut. “Kok lo jadi kotor begini!”


“Gue juga gak tahu! Pokoknya kita pergi malem ini juga!”


“Loh! Kok jadi kita yang kabur sih!” Devita protes.


“Udah jangan banyak omong!” Hannah mengajak mereka mengemas kopor buru-buru. Dalam suasana panik itu Jinny muncul di belakang mereka. Jinny mengubah dirinya menjadi bercahaya dan mengeluarkan cakar-cakar tajam dari kedua tangannya. Dan mulutnya membuka memunculkan taring-taring tajam mirip drakula!


“Buruan! Kok lo bengong sih!”


“Han! Dibelakang lo!” Devita kencing duluan di celana.


Hannah berpaling ke belakang dan melihat Jinny sudah seperti vampir perempuan. Darah menetes dari dagunya. “Kalian akan Jinny makan! Kalian tidak bersyukur menjadi perempuan!”


“Ampun Jinny! Kami ngaku salah deh.”


“Iya Jinny! Kami cuma iseng kok!”


“Cepat kalian minta maaf ke Jun!”


Mereka buru-buru kabur dari tenda dan menemui Shelly sampai Jun. “Maafin kami ya Jun!”


“Hah! Kalian kok aneh banget bajunya?”


Shelly dan Jun tertawa melihat kedua badut dan satu perempuan rimba meminta maaf ke mereka. Jinny muncul kemudian tersenyum geli.

__ADS_1


__ADS_2