Pandeka Pedang Bulan Sabit

Pandeka Pedang Bulan Sabit
Chapt. 1 Bayi Lelaki dan Pedang Bulan Sabit


__ADS_3

Alam nagari Minang kabau sekitar abad ke dua belas. Pada masa itu bentang alam Minang kabau masih kecil, belum luas seperti sekarang. Bentang wilayah alam Minangkabau masih berupa sawah gadang satampang baniah yang kemudian berkembang membentuk tiga Luhak. Lebih dikenal sebagai Luhak nan tigo. Ketiga Luhak itu adalah Luhak nan tuo atau Luhak Tanah Datar, Luhak nan tangah atau dikenal dengan Luhak Agam dan Luhak nan bungsu atau dikenal dengan Luhak Lima puluh kota. Semua Luhak dari Luhak nan tigo itu, termasuk kedalam wilayah kekuasaan kerajaan Melayu Dharmasraya.


Kerajaan Dharmasraya merupakan kerajaan Melayu yang sangat besar yang pernah ada. Kerajaan Dharmasraya mulai berdiri ketika kerajaan terbesar di nusantara saat itu, kerajaan Sriwijaya semakin merosot dan lemah.


Kerajaan Melayu yang sangat besar ini, didirikan oleh seorang pemuda gagah perkasa dari wangsa Mauli. Mauli Pancara, yang sebelumnya adalah seorang jenderal besar di kerajaan Sriwijaya.


Mauli Pancara merasakan kekuasaan dan kekuatan kerajaan Sriwijaya yang makin lemah. Keadaan itu semakin buruk, karena tidak ada lagi keturunan Maharaja Diraja Sriwijaya yang cakap dari wangsa Syailendra.


Mauli Pancara sang jenderal pada suatu hari, mohon izin kepada Maharaja Diraja Sriwijaya melihat ayahnya yang lagi sakit keras. Atas izin Maharaja Diraja Sriwijaya, Mauli Pancara meninggalkan istana Sriwijaya menuju tanah Melayu.


Mauli Pancara adalah seorang putra Kedatuan Melayu yang takhluk dibawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Ayahnya adalah Yang Dipertuan Kedatuan Malayu Tua


Namun Mauli Pancara tidak pernah sampai ke Kedatuan Melayu.


Sang Jenderal Mauli Pancara membuat keputusan lain. Keputusan paling besar dan paling berani dalam hidupnya. Keputusan besar yang akan merubah kehidupan menjadi sesuatu yang melewati batas angan-angannya yang paling liar. Dia mengikuti petunjuk yang datang berulang ulang sampai tujuh kali lewat mimpinya.


Rombongan Mauli Pancara terus berjalan menembus hutan belantara yang masih murni. Hutan lebat penuh jebakan di pedalaman pulau Perca atau Suvarnabhumi. Setelah berjalan nyaris tanpa henti, hampir satu purnama. Rombongan Mauli Pancara sampai juga mereka ditanah yang dijanjikan.


Dipinggir Batang Momong yang merupakan anak sungai Batang Hari. Rombongan itu mulai menaruko membuka hutan dan membangun kawasan pemukiman baru. Kawasan pemukiman baru itu berkembang pesat karena di sungai Batang Momong ditemukan butiran butiran emas di dasar sungainya. Akhirnya sang Pancara mulai mengatur sistem administrasi di wilayah pemukiman baru.


Perlahan dan pasti wilayah pemukiman baru itu berubah menjadi sebuah Kedatuan. Kedatuan itu terus tumbuh dan berkembang.


Ketika Maharaja Diraja Sriwijaya mangkat dan digantikan oleh putra dari selirnya. Mauli Pancara merubah Kedatuan yang dibangunnya menjadi sebuah kerajaan Melayu baru dengan nama kerajaan Dharmasraya. Sang Mauli Pancara setelah menjadi raja menamai dirinya dengan Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa.

__ADS_1


Dimasa masa awal berdirinya kerajaan Dharmasraya, sang Pancara Maharaja Maulibhusana Warmadewa menyerang dan menaklukkan hampir semua kerajaan bekas kekuasaan Sriwijaya. Bahkan akhirnya kerajaan Sriwijaya juga ditaklukkan. Pada masa pemerintahan sang Pancara, kekuasaan kerajaan Dharmasraya membentang dari negeri Sabang sampai Lampung, juga terus ke dataran Sunda di selatan. Ke Utara kerajaan Dharmasraya mengusai sampai ke semenanjung Malaka dan Thailand. Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa sang Pancara memeritah dalam waktu yang sangat lama dari tahun 1183 sampai tahun 1286 masehi.


Lebih dari seratus tahun yang sebagian besar diisi dengan perang penaklukan demi penaklukan. Sang Pancara yang agung lengser ketika berumur sangat sepuh. Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa digantikan oleh cucu tertuanya. Raja baru Dharmasraya bernama Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa. Dari sinilah kisah Pandeka Pedang Bulan Sabit kita ini dimulai.


Pada suatu malam bulan purnama. Sepert biasa di pure agung kerajaan diadakan kegiatan tilem yaitu upacara penghormatan untuk Dewi Bulan. Upacara malam tilem sebetulnya adalah kegiatan keagamaan dalam ajaran Hindu. Meski agama utama di kerajaan Melayu Dharmasraya adalah ajaran Buddha. Namun beberapa ajaran Hindu seperti tilem masih sering dilakukan.


Pada saat upacara tilem berlangsung, tiba-tiba terjadi gerhana bulan. Pada masa itu belum ada yang tau apa itu gerhana bulan. Semua orang yang melihat kejadian beranggapan bahwa dewa Siwa marah pada kerajaan. Rakyat yang mengikuti kegiatan tilem pada ketakutan. Warga kerajaan juga heboh. Melihat purnama seperti ditelan raksasa sang Kala. Banyak suara-suara isu kurang bagus terdengar setelah itu.


Malam manjadi jauh lebih gelap. Hitam teramat pekat. Pada saat itu tiba-tiba sebuah cahaya keemasan melintas dilangit malam. Seperti bintang berekor. Cahaya itu terus meluncur dengan sangat cepat kearah utara.


Datuk Aluih Tapa tersentak dari semedinya. Keringat membasahi tubuh pendekar tanpa tanding itu. Padahal temperatur udara di puncak gunung Tandikek itu amat dingin. Suara-suara bintang malam yang bisanya cukup tiba-tiba hening. Hanya ada gaung suara air terjun yang terdengar.


Dari dalam goa dibalik air terjun Lembah Anai ditingkat ke lima, Datuk Aluih Tapa melihat cahaya keemasan melintas sangat cepat dilangit malam. Pendekar super sakti itu langsung menghilang dari tempatnya. Dengan sangat cepat dia berlari bagaikan terbang mengikuti arah cahaya itu jatuh.


Datuk Aluih Tapa melesat menuruni jurang melintasi batang Sianok sampai di tempat terjadinya longsoran. Diatas tanah merah bekas longsor. Datuk Aluih Tapa melihat seorang bayi laki-laki ditutupi selembar selimut dari kulit tipis bersisik bewarna perak. Disamping bayi itu tergeletak sebuah pedang berbentuk bulan sabit, seperti yang terukir di dinding jurang.


Tiba-tiba terdengar suara berat tanpa wujudnya.


"Aluih Tapa, bayi itu adalah titisan sang Batara. Kau bertugas mendidiknya untuk menjadikan dia seorang pendekar terkuat. Bayi itu bernama Mandaga, didik dia untuk menjadi pendekar pilih tanding. Ini adalah kitab ilmu pedang bulan sabit." Sebuah kitab muncul dari kehampaan melayang di hadapan Datuk Aluih Tapa.


Perlahan Datuk Aluih Tapa, pendekar tanpa tanding itu meraih kitab tersebut. Pada sampul kitab itu terukir indah tulisan dengan warna emas. Pernafasan Langit Bumi, Ilmu Pedang Bulan Sabit. Tulisan nama kitab itu terukir timbul pada sampul kitab dari kulit.


"Lima belas tahun lagi aku akan kembali menemui kalian disini."

__ADS_1


Datuk Aluih Tapa berdiri sikap hormat diatas salah satu lututnya. Pendekar yang sangat diagungkan oleh orang banyak dan dianggap sebagai manusia setengah dewa itu diam menatap langit. Hening dalam sikap diam dan tunduk mendengarkan perintah gaib itu.


Suara gaib itu sudah cukup lama hilang. Datuk Aluih Tapa tersadar kembali mendengar suara celoteh bayi.


"Ga gag ga ga...


Brr... gaa gaga guguuu..."


Tangan dan kaki bayi itu bergerak-gerak merapai kearah Datuk Aluih Tapa. Dia seakan mencoba berbicara dengan Datuk Aluih Tapa.


Perlahan manusia setengah dewa berbalik kearah si bayi dan menggendongnya. Ketika Datuk Aluih Tapa mengambil pedang bulan sabit. Alangkah terkejutnya pendekar sakti mandraguna itu, ketika merasakan tekanan sangat besar dari pedang bulan sabit.


Sesaat kemudian Datuk Aluih Tapa menghilang dari sana. Tadak lama kemudian muncul beberapa orang tak dikenal di bekas runtuhan longsor.


Orang-orang yang baru datang itu mulai mencari-cari sesuatu dibekas longsoran. Namun tidak ada apapun, kecuali sisa aura energi yang sangat besar.


\=\=\=\=\=***\=©


#sawah gadang satampang baniah bisa diartikan bebas benih kebudayaan yang digagas, disusun kemudian dikembangkan.


#jurang Kerbouwengat sekarang dikenal dengan nama Ngarai Sianok mengikuti nama sungai yang ada didasar jurang.


#Batang, atau batang aia dalam bahasa Minang, berarti sungai

__ADS_1


__ADS_2