Pandeka Pedang Bulan Sabit

Pandeka Pedang Bulan Sabit
Chapt. 17 Bertemu Datuak Kumango Nan Sati dan Dewi Kematian 2


__ADS_3

Wajah Mendaga tiba-tiba agak mendung. Dia merasa rindu dengan kakeknya Datuk Aluih Tapa. Mereka kemudian ngobrol bersama sampai malam.


Pagi udara terasa dingin dan halimun tipis menutupi nagari Kumango. Mandaga sedang menikmati segelas kopi bersama Datuak Kumango Nan Sati. Andam Dewi muncul dengan penampilan berbeda. Gadis itu terlihat lebih cantik dan ayu. Mandaga terlihat sedikit bengong melihat Andam yang begitu beda.


"Ayah, Mandaga ayo sarapan dulu." mereka melangkah keruang makan dan duduk bersama di tikar pandan lalu sarapan.


Usai sarapan Andam bertanya kepada Datuak Kumango Nan Sati.


"Ayah... ada apa Ayah mencari Andam ?" Gadis cantik yang bersimpuh disebelah Mandaga itu, menatap serius kepada Datuak Kumango Nan Sati. Nilawati yang duduk disebelah Datuak Kumango melihat putrinya, sesekali dia melirik Mandaga.


"Sekitar seminggu yang lalu, ayah telah mengirim sekitar tujuh puluh lima orang murid untuk menjadi pasukan kerajaan Melayu Dharmasraya. Tadinya ayah mau kamu juga ikut ke kota raja, sebagai pengamat." Datuak Kumango Nan Sati menjelaskan pada Andam kenapa dia mencari putrinya. Wajah cantik Andam langsung berseri-seri. Dia memang mau minta izin untuk ke kota raja, karena Mandaga pujuan hati nya juga mau ke kota raja.


"Kenapa wajahmu jadi berseri begitu ?" Nilawati bertanya, meski dalam hati dia sudah memiliki jawaban. Datuak Kumango Nan Sati jadi ikut menatap tajam Andam dengan sebelah alis mata terangkat. Wajah Andini terlihat semakin cantik, rona merah dadu muncul dipipinya.


"Kebetulan, Andam pulang juga untuk minta izin. Andam memang mau menuju kota raja Dharmasraya." matanya melirik Mandaga sekilas. Namun pemuda tampan itu terlihat tenang, hanya menjadi pendengar.

__ADS_1


"Tadinya ayah mau kamu mendampingi paman Talang Parigi. Tapi paman mu itu sudah berangkat ikut dengan rombongan murid yang dikirim." Datuak Kumango Nan Sati melihat kearah Nilawati dan memberikan kode halus. Dia semalam sepakat untuk menjodohkan Andam Dewi dengan Mandaga. Nilawati sudah melihat gelagat, putri tunggalnya itu menyukai dan mencintai Mandaga. Setelah semalam membahas masalah ini dengan suaminya Datuak Kumango Nan Sati. Mereka sepakat untuk bicara soal itu dengan Mandaga pagi ini.


"Aku bisa pergi ke kota raja Dharmasraya bersama Mandaga. Jadi tidak ada masalah, jika paman Talang Parigi sudah pergi lebih dulu. Mungkin nanti kami bertemu di kota raja." Andam dengan suara mantap menjawab keragu-raguan ayahnya. Gadis cantik itu melihat kearah Mandaga dan tersenyum manis. Mandaga membelas dengan sekilas anggukan dan seyum kecil.


Jika hal kecil begitu luput dari mata Datuak Kumango Nan Sati, tidak begitu dengan Dewi Kematian, Puti Nilawati. Wanita yang masih sangat cantik itu, menghela nafas. Dia lalu buka suara...


"Mandaga..." Mandaga sedikit terkejut mendengar namanya dipanggil. Dia melihat kearah Nilawati dan mengangguk kecil dan tersenyum.


"Ya bibi Nila..."


Nilawati, Datuak Kumango Nan Sati dan Andam Dewi menatap Mandaga, menanti jawaban pemuda itu. Setelah menghela nafas dalam-dalam Mandaga menjawab.


"Saya benar menyukai Andam bibi. Tapi ada tugas berat yang harus saya selesaikan lebih dahulu. Tugas yang saya bawa sejak saya terlahir ke dunia ini." Nilawati terdiam sejenak, ada berbagai fikiran berputar didalam benaknya. Andam Dewi menatap Mandaga dengan mata berlapis kaca. Dia begitu yakin Mandaga akan memberikan jawaban yang sesuai dengan harapannya. Terdengar helaan nafas berat Datuak Kumango Nan Sati. Nilawati tersenyum ringan menatap Mandaga lalu bertanya.


"Boleh bibi tau tugas apa yang kamu pikul ketika kamu lahir kedunia ini nak Mandaga ?"

__ADS_1


"Aku juga tidak tau bibi. Petunjuk terakhir yang aku terima, jalan nasiblah yang akan mengantar aku kepada tugas itu ?" kerutan dalam muncul dikening Nilawati. Air mata jatuh sebutir dipipi Andam, namun tidak ada suara tangis. Hanya ada nafas yang tertahan, sementara hidung gadis cantik itu sudah merah. Nilawati menepuk lembut kaki Datuak Kumango Nan Sati melihat suaminya mulai emosi. Perempuan tengah baya yang masih amat cantik itu memang luar biasa. Dia bisa mengontrol batinnya dengan baik. Sehingga emosi tidak mudah mempengaruhi sikap dan lakunya.


"Daga, apakah kau mau bercerita lebih detail kepada bibi semuanya." Mandaga sangat kagum terhadap sikap Nilawati. Dia tidak merasakan sedikit pun hawa amarah dalam suara wanita itu. Malah Mandaga merasakan kasih dan ketulusan. Manda merasa menemukan sosok ibu dalam diri Nilawati. Setelah menarik nafas dalam-dalam, perlahan Mandaga mengangkat muka dan menatap Nilawati. Dia lalubmenceritakan semuanya seperti yang dia tau kepada Nilawati.


"Ketika saya mulai memahami segala sesuatu, saya hanya hidup bersama Angguik Datuk Aluih Tapa." Mandaga mulai menceritakan tentang dirinya dan semua perjalanan hidup yang dia lewati sampai bersua dengan Andam.


"Begitulah kisahnya bibi. Saya sungguh menyukai dan menyagi Andam. Namun tugas ini tidak tau kapan akan bertemu dan bisa dituntaskan." Andam tanpa sadar menggenggam tangan Mandaga. Apa yang telah dituturkan Mandaga terdengar aneh dan sangat memilukan.


"Aku akan selalu ada disisimu, dan akan mendampingi dirimu ketika bertemu dengan tugas yang akan kau tanggung." Andam berkata dengan tegas. Setelah mendengar penuturan Mandaga, gadis cantik itu menyadari bahwa Mandaga juga menyukai dirinya. Datuak Kumango Nan Sati melototi Andam mendengar apa yang diucapkan putrinya. Dia merasa agak malu dengan sikap putrinya. Apalah kata kaumnya jika mendengar kata kata Andam Dewi. Berbeda dengan Nilawati yang sudah terbiasa dengan sikap orang orang rimba hijau dunia persilatan.


Dia menatap dalam kepada Mandaga. Wanita tengah baya itu melihat kesungguhan pada diri Mandaga. Dia tidak tahu kenapa, dia merasa Mandaga memang jodoh putrinya. Dia juga tidak melihat kekurangan pada diri pemuda itu. Kecuali ayah bundanya tidak begitu jelas. Mandaga sangat masuk kriteria jodoh terbaik untuk putrinya yang sangat suka bertualang di rimba hijau dunia persilatan. Nilawati tau Mandaga berada ditingkat langit, sama dengan dirinya. Dia akan menjadi pelindung terbaik bagi Andam Dewi. Bahkan kekuatan batin dari Mandaga berada diatas kemampuannya. Mungkin hanya kakek buyutnya Pandeka Pedang Suling Kumala yang mampu mengimbangi Mandaga, pikir Dewi Kematian.


"Mandaga, setelah mendengar semua cerita mu dan juga keinginan Andam Dewi putriku. Juga kalian akan pergi bersama ke kota raja Dharmasraya. Kami ingin kalian berdua terikat dalam benang merah perjodohan. Menikah lah setelah tugas yang akan kau pikul selesai. Dengan begitu, kami bisa berlapang hati melihat kalian berdua. Ini semua untuk kita menjaga alua jo patuik, raso jo pareso sarato pandangan yang datang kakito. Bagaimana menurutmu, ada kah usulan bibi ini baik untuk kita semua ?"


\=\=\=\=\=***\=©

__ADS_1


__ADS_2