Pandeka Pedang Bulan Sabit

Pandeka Pedang Bulan Sabit
Chapt. 12 Menyerbu Sarang Perompak Lamun Kurai


__ADS_3

Mandaga dan Andam duduk di ruang makan Yang Dipertuan nagari Rantau Piaman. Diatas meja makan terhidang aneka hidangan laut. Sangat menggugah selera.


"Silahkan Raja Pedang dan Nona, ini semua menu khas Rantau Piaman." Sutan Muniang, Yang Dipertuan nagari Rantau Piaman mulai menyendok nasi kepiringnya. Ia mengangsurkan gulai kepala ikan Capa kepada Mandaga.


"Raja Pedang, izinkan kami mengundang mu dan nona Andam untuk bermalam disini." Mandaga melihat Andam lalu...


"Terimakasih Yang Dipertuan Sutan Muniang." Mandaga menyetujui undangan Sutan Muniang. Yang Dipertuan nagari Rantau Piaman minta pelayan menyiapkan dua kamar untuk Raja Pedang dan Andam Dewi.


Malam itu Mandaga dan Andam Dewi masing-masing mendapatkan kamar tidur yang nyaman. Mandaga mengisi malam dengan cara semadi, menghimpun kembali energi langit dan bumi. Sayup sayum terdengar deburan ombak menghempas pantai. Mandaga menhela nafas dalam-dalam. Perlahan dia mulai larut bersama alam, hilang sudah segala bunyi.


"Sebetulnya, Perompak Lamun Kurai itu juga sering merampok disekitar nagari Rantau Piaman. Namun kami tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mengatasi mereka." Sutan Muniang coba menjawab pertanyaan dari Mandaga. Masalah perampok Lamun Kurai, cukup menjadi pemikiran Mandaga.


"Apakah tidak bisa minta bantuan kepada kerajaan ?"


"Nagari Rantau Piaman terlalu jauh dari pusat kekuasaan kota raja Dharmasraya, Pandeka Pedang Bulan Sabit. Yang Mulia Maharaja Mauli Warmadewa tidak pernah perduli dengan daerah rantau. Karena itu wilayah pesisir pantai barat ini menjadi area paling rawan." Mandaga diam, memikirkan jawaban Sutan Muniang.


"Apa kalian masih setia untuk mengirimkan upeti tahunan ke kota raja ?"


"Sudah tiga tahun ini, kami tidak pernah lagi mengirimkan upeti. Tapi pihak kota raja Dharmasraya sepertinya tidak peduli sama sekali." Yang Dipertuan nagari Rantau Piaman menatap Mandaga agak lama. Lalu melanjutkan.


"Kami sudah mengundang banyak pandeka terkenal. Tapi tidak ada yang mampu untuk mengalahkan Perompak Lamun Kurai."


"Kalian mengetahui dimana sarang mereka ?"


"Ya, markas mereka di Batang Tajongkek arah keselatan dari koto Piaman ini."


"Kalau begitu besok kita bahas strategi paling sesuai untuk menyerang sarang penyamun itu." Mandaga lalu mengakhiri acara makan malam itu.

__ADS_1


Usai sarapan Mandaga dan Andam Dewi diajak berunding. Diruang pertemuan sudah ada Palimo Kumbang, jendral nagari Rantau Piaman. Hadir juga Ungku Labai penasihat nagari dan beberapa petinggi nagari Rantau Piaman lainnya.


"Dunsanak semua. Aku ingin mengenalkan pada anda semua. Dua orang pandeka hebat yang semalam telah mengalahkan lebih dari dua puluh orang anggota perompak Lamun Kurai. Salah seorang pemimpin perompak, yaitu Badai, ikut terbunuh semalam.


Mereka adalah Pandeka Pedang Bulan Sabit dan Dewi Merah Kumango. Sutan Muniang memberikan gelar kepada Andam Dewi. Andam melihat kearah Mandaga dan menaikkan sebelah alis mata kirinya. Pandeka Pedang Bulan Sabit dan Dewi Merah Kumango mengangguk pada semua yang hadir.


Semua orang yang ada dalam ruangan saling berbisik. Yang Dipertuan nagari Rantau Piaman, Sutan Muniang melanjutkan.


"Aku sengaja minta kalian hadir untuk bisa memberikan sumbang saran. Apa dan bagaimana langkah terbaik, agar perompak Lamun Kurai bisa dihilangkan dari nagari Rantau Piaman ini." Semua yang hadir kembali bicara dengan orang disebelahnya.


Ruangan menjadi cukup gaduh. Sutan Muniang mengangkat tangannya dan berdehem.


"Ehem... aku minta kalian semua tenang. Sampaikan saja usul kalian."


"Yang Dipertuan Sutan Muniang, sudah berkali kali kita mengirim pandeka hebat. Namun jangankan mengalahkan, masuk ke sarang perompak Lamun Kurai saja kita tidak pernah berhasil. Jika kali ini kembali gagal, bukankah tekanan akan jauh lebih berat dari mereka kepada kita ?" Ungku Labai mencoba memberikan hasil pemikirannya. Banyak orang yang mengangguk setuju.


Setelah pembahasan yang cukup lama dan alot. Usulan Palimo Kumbang yang disepakati. Namun sebelum itu Palimo Kumbang sempat bertanya pada Mandaga.


"Pandeka Pedang Bulan Sabit, seberapa besar keyakinan anda untuk memenangkan pertarungan ini nantinya ?"


"Jika tingkat kemampuan tertinggi mereka sampai tingkat utama awal, mestinya aku bisa mengatasi mereka. Jika kita ada sepuluh orang tambahan dengan tingkat menengah. Mungkin kita bisa mengatasi mereka semua." Mandaga menjawab dengan tegas.


Setelah itu diputuskan akan melakukan penyerangan tiga hari berikutnya. Sutan Muniang memerintahkan Palimo Kumbang untuk memilih para pandeka lepas untuk ikut penyergapan.


Tujuh kapal layar panisi sudah mendekati muara sungai Batang Hari. Sebuah kapal paling besar berlayar paling depan. Kebo Anabrang berdiri gagah di atas anjungan. Disebelahnya berdiri dengan tenang pemuda berwajah tampan Adwayawarman.


"Kira-kira dua minggu lagi kita akan sampai dikota raja Dharmasraya sang Adwa. Bagaimana menurutmu ?" Adwayawarman tersenyum tenang menatap Kebo Anabrang.

__ADS_1


"Ada baiknya rombongan kita di pecah dua Panglima. Agar tidak menimbulkan keresahan bagi kota raja Dharmasraya." Kebo Anabrang menatap agak lama pada Adwayawarman dan sedikit mengernyitkan keningnya. Panglima kerajaan Singosari lebih senang menampilkan semua armada. Tentu saja dengan membuat parade kekuatan besar, bisa menggetarkan pihak kerajaan Melayu Dharmasraya. Tapi dia menunggu Adwayawarman untuk menjelaskan. Tidak menunggu Kebo Anabrang mendengar Adwayawarman menjelaskan.


"Pasukun sebanyak empat kapal akan menunggu di sekitar muara sungai Batang Hari. Sementara kita akan berlabuh dengan tiga kapal di pelabuhan dekat kota raja Dharmasraya.


Jika dalam waktu sepuluh hari setelah kita berpisah. Empat kapal lainnya segera menyusul."


"Baiklah sang Adwa, jika anda yakin begitu. Itu artinya tiga hari dari sekarang, kita akan berpisah dengan empat kapal kita.


Semoga langkah ini menaikan pamor kita dimata kerajaan Melayu Dharmasraya. Jika tidak aku akan membumi hanguskan kerajaan orang bar bar Suvarnabhumi ini."


Kemudian Kebo Anabrang memanggil semua komandan. Esok paginya, Wakilnya pati Indrawarman dan komandan pasukan dari setiap kapal pinisi naik keatas kapal besar. Kebo Anabrang menjelaskan rencana kunjungan. Namun pati Indrawarman menolak.


"Maah Panglima dan sang Adwa. Saya berfikir agak beda dengan anda berdua.


Kunjungan kita sebenarnya adalah agar kerajaan Melayu Dharmasraya tunduk kepada Singosari yang agung.


Kita malah harus membuat rakyat kota raja Dharmasraya dan sekitarnya melihat. Betapa perkasanya kerajaan Singosari yang agung. Sehingga misi utama dari sang Prabu Hanacaraka dapat kita wujudkan dengan mudah." Pati Indrawarman mencoba untuk meyakinkan Kebo Anabrang dan Adwayawarman.


Tiga hari sudah terlewati. Sutan Muniang melihat satu demi satu personel pasukan khusus. Semua orang mengenakan pakaian ringkas serba hitam.


Ini adalah hari dimana nagari Rantau Piaman melakukan upaya terakhir menumpas perompak Lamun Kurai. Hanya sebelas orang, sudah termasuk Pandeka Pedang Bulan Sabit dan Dewi Merah Kumango. Bukan dua belas seperti yang direncanakan di awal. Enam orang akan dari mereka, akan mendatangi sarang perompak Lamun Kurai melalui jalur sungai. Mereka akan menyaru sebagai pedagang keliling, ikut kapal dagang yang biasa berkunjung sekali seminggu. Hari ini adalah jadwal mereka berlayar ke sarang perompak.


Sedangkan sisanya lima orang lain akan mendatangi sarang perompak lewat jalur lain. Mereka adalah Pandeka Pedang Bulan Sabit, Dewi Merah Kumango, Palimo Kumbang dan dua orang pandeka lainnya.


Setelah memberi semangat dan janji-janji. Yang Dipertuan nagari Rantau Piaman, Sutan Muniang melepas kepergian mereka.


"Kita akan berkumpul nanti malam, disebelah timur gerbang utama. Aku harap semua bisa berjalan sesuai rencana." Setelah Palimo Kumbang menjelaskan detail rencana pertemuan. Mereka meninggalkan kediaman Sutan Muniang menuju sarang perompak Lamun Kurai.

__ADS_1


\=\=\=\=\=***\=\=©


__ADS_2