
Lima tahun sudah waktu berlalu sejak kejadian longsor sangat besar di jurang Kerbouwengat. Lima tahun pula Mandaga hidup bersama Datuk Aluih Tapa. Pendekar tua namun terlihat berusia empat puluhan itu, merawat dan mendidik Mandaga seperti cucunya sendiri.
Sejak usia dini Datuk Aluih Tapa memberikan pelatihan dasar. Meski sangat ringan terlihat, namun latihan dasar untuk pembentukan tulang dan otot. Agar kelak kekuatan kasar atau tenaga luar Mandaga juga terbentuk dan sangat kuat.
Pagi itu sang surya seperti lebih bersemangat dari hari hari biasanya. Cahaya hangat dari sang Surya perlahan menembus dan menghapus halimun tebal yang biasanya menutupi tingkat ke lima air terjun lembah Anai.
Lembah Anai merupakan lembah yang tidak terlalu lebar disisi barat gunung Tandikek. Sebagian sisi gunung Tandikek berupa batu karang. Dibagian itu ada air terjun yang bertingkat tujuh. Menurut legenda, ditingkat ketujuh yang merupakan tingkat tertinggi, bersemayam seekor ular naga raksasa. Jika sang naga sedikit saja bergerak, maka terjadilah gempa.
Pada tingkat ke lima air terjun lembah Anai. Terdapat sebuah ngalau yang cukup besar dan panjang. Ngalau itu berliku dan bercabang. Tidak ada yang tau seperti apa sebenarnya. Ditingkat ke lima itulah yang menjadi tempat tinggal Datuk Aluih Tapa.
Seorang bocah lelaki sedang melakukan latihan silat di lapangan dekat telaga dibawah air terjun lembah Anai ditingkat ke lima. Meski terlihat seperti bocah lelaki usia tujuh tahun, sebenarnya bocah lelaki itu baru berumur lima tahun lebih. Anak itu memang tumbuh dengan baik. Berkat latihan yang dijalani selama ini.
Bocah lelaki itu melakukan gerakan-gerakan silat seperti harimau bertarung. Lincah, cepat dan lentur. Terkadang terlihat lembut, dilain waktu tampak bergitu ganas
Kadang bocah itu melenting melakukan gerakan seperti harimau menerkam. Tiap kali dia melakukan gerak berupa tamparan, cakaran ataupun pukulan. Terdengar cuitan angin tajam ikut menderu melapisi serangannya. Tidak salah, itu adalah silek harimau yang sangat terkenal.
Usai melatih gerakan silat harimau, bocah itu merubah bentuk dasar kuda-kudanya. Kini dia bergerak dengan cepat, kuat dan sangat bertenaga. Gerakan serangan terlihat rapat. Pukulan yang cepat rapat beruntun seperti riuhnya gerakan daun bambu tertiup angin kencang. Kadang dia melenting tinggi, berputar dan berjumpalitan melakukan gerakan memukul, menendang dan menusuk. Gerakan silatnya juga terlihat memiliki pertahanan yang sangat kuat. Tagak satageh gunuang, manggarik kancang cok angin. Itulah filosofi gerakan silat yang tampak dari gerakan bocah lelaki itu. Gerakan silat itu yang menjadi cikal-bakal dari silat starlak yang sangat kuat.
"Mandaga.....!!" Sebuah suara berat dan dalam terdengar memanggil. Bocah lelaki itu berhenti dan berbalik.
"Saya Angguik" bocah lelaki itu menjawab.
"Matahari sudah condong ke barat. Istirahatlah dulu buyuang." Datuk Aluih Tapa menghentikan Mandaga yang sudah berlatih sejak parak siang. Sekarang matahari sudah condong ke barat, anak itu masih juga asik berlatih.
"Itu ada ayam hutan bakar dan talas rebus. Makanlah dulu Mandaga."
"Baik Angguik. Aku mandi dulu." bocah kecil itu berkata sambil berlari dan...
Byuurrr....
__ADS_1
Air telaga memuncrat tinggi ketika Mandaga melompat dan nyemplung. Telaga kecil yang airnya sangat dingin itu, sama sekali tidak memberi dampak apapun kepadanya.
Setelah membersihkan dirinya Mandaga duduk dipalanta dari kayu ulin didepan pondok kecil yang ada di dataran dekat telaga. Deru air terjun dan gesekan daun bambu adalah musik alam yang amat indah di pelataran air terjun lembah Anai ditingkat ke lima. Dua lelaki tua dan anak-anak itu duduk menikmati makanan yang ada berdua.
Seekor ayam hutan bakar yang besar dihabiskan sendiri oleh Mandaga. Selera makan anak itu memang luar biasa. Datuk Aluih Tapa hanya makan sepotong talas rebus.
"Angguik ga mau makan lagi ?" Datuk Aluih Tapa menggeleng.
"Angguik sudah kenyang" Datuk Aluih Tapa tersenyum.
"Gaga habiskan ya..." ucap Mandaga menghabiskan sisa semua talas rebus tanpa menunggu persetujuan gurunya.
Sejak berusia tiga tahun, Datuk Aluih Tapa sudah mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada Mandaga. Melewati usia empat tahun, Datuk Aluih Tapa telah mulai mengajarkan Mandaga cara pernafasan menghimpun tenaga dalam.
Dasarnya Mandaga seorang anak jenius. Semua yang diajarkan Datuk Aluih Tapa diserapnya dengan cepat. Diusia lima tahun bocah itu sudah memiliki tenaga dalam yang lumayan. Jika hanya berhadapan dengan tiga pendekar pemula tingkat puncak, semua akan dilibas oleh Mandaga.
Datuk Aluih Tapa kagum sekali melihat kemampuan dan pemahaman sangat baik pada Mandaga. Juga sikap dan lakunya yang santun. Rasa sayang dan kecintaan Datuk Aluih Tapa semakin besar pada bocah itu.
Jauh dari gunung Tandikek, tepatnya di istana kerajaan Dharmasraya. Maharaja berkuasa Dharmasraya Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa duduk merenung diruang kerjanya. Berbagai hal dan masalah berkecamuk di pemikirannya.
Sejak kejadian bulan purnama yang menghilang diacara malam talem lima tahun lalu. Suasana yang dulunya damai dikerajaan Dharmasraya, sudah terasa berubah. Beberapa intrik politik mulai terasa. Kepala Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa sering kali merasa ditusuk-tusuk kepalanya. Sangat pusing memikirkan kondisi politik dilingkungan istana Dharmasraya.
Sungguh berbeda dengan masa sang Pancara berkuasa. Semua tunduk, semua patuh dengan apapun keputusan yang dikeluarkan sang Pancara. Sekarang, sejak kejadian malam talem lima tahun yang lalu. Tidak ada lagi penerimaan mutlak atas apapun kebijakan yang dikeluarkan oleh Maharaja.
Siang tadi, Mapatih Giring Amarta melaporkan bahwa telah berlayar empat kapal pinisi besar utusan kerajaan Singosari menuju kota raja Melayu Dharmasraya. Katanya adalah kunjungan persahabatan. Tapi siapa yang tidak tau Prabu Hanacaraka adalah seorang penguasa gila yang memiliki mimpi yang amat sangat muluk. Penguasa kerajaan di timur Javadwipa itu berambisi menguasai Suvarnabhumi dan Semenanjung Malaka, bahkan sampai ke Campa. Apakah utusan Singosari benar hanya sekedar kunjungan lawatan persahabatan saja ??
Maharaja berkuasa ditanah Melayu, Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa benar-benar pusing.
Maharaja Mauli Warmadewa memanggil pengawal yang selalu berjaga di depan pintu.
__ADS_1
"Panggil Mapatih Giring Amarta dan Begawan Dharma Pecala Buwana." perintah Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa.
"Daulat Yang Mulia Maharaja Warmadewa" pengawal memberi sembah dan sesaat kemudian dia menghilang.
"Salam sejahtera yang mulia Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa" Mapatih Giring Amarta datang menghampar sembah.
"Sejahtera berkat Shang Hyang Widhi Wasa dan Bodhisatwa atasmu Maharaja Mauli Warmadewa." Begawan Dharma Pecala Buwana menghamparkan doa untuk Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa.
"Ada hal yang sangat menggangu pikiran ku. Aku perlu pandangan dan masukan kalian." Maharaja Mauli Warmadewa langsung memaparkan masalah yang mengganggu pikiran dan perasaan was-was sang Maharaja.
"Sebetulnya kita tidak bisa melakukan apapun sebagai antisipasi. Tapi kita bisa membuat beberapa persiapan untuk persiapan menyambut kedatangan utusan dari Prabu Singasari." Begawan Dharma Pecala Buwana memberi masukan.
"Kita juga perlu membuat parade kekuatan armada perang kerajaan Melayu Dharmasraya." Mapatih Giring Amarta lalu menambahkan.
"Kita tentu perlu mengadakan jamuan dan menampilkan dua kecantikan sempurna kerjaan Melayu Dharmasraya."
Awalnya Maharaja Mauli Warmadewa agak marah akan masukan dari Mapatih Giring Amarta. Namun setelah mendengar penjelasan lebih rinci, Mauli Warmadewa masih tersisa sedikit ragu di hatinya terkait masukan dari Mapatih. Apakah dia harus melepaskan dua putri Dara Petak dan Dara Jingga ??
\=\=\=\=\=***\=©
#Ngalau \= goa
#Angguik \= kakek (biasa dipakai di Luhak Agam)
#garak \= insting kemampuan merasakan apa yang akan terjadi.
#garik \= tindakan yang dilakukan sebagai wujud respon dari insting
#tagak satageh gunuang, manggarik kancang cok angin \= Berdiri kokoh seperti gunung berdiri, bergerak sangat cepat seperti angin.
__ADS_1