Pandeka Pedang Bulan Sabit

Pandeka Pedang Bulan Sabit
Chapt. 6. Pembunuhan Pertama


__ADS_3

Golok besar itu membelah udara menderu kencang. Sebagian pengunjung yang masih berdiri diluar rumah makan untuk menonton, menutup mulut dengan tangan. Rasanya mereka sudah melihat kepala pemuda tampan itu terbelah seperti semangka.


Duughhh...!!


Uhuk...!!


Tiba-tiba tubuh besar Parewa Setan Guriang terbatuk dan terjengkang ke belakang. Wajah Parewa setan guriang merah padam oleh rasa malu dan amarah memuncak. Pria besar itu segera berdiri dan berteriak kepada anak buahnya.


"Bunuh pemuda sialan itu !!" Suaranya terdengar keras membahana. Keempat anak buah Parewa setan guriang mencabut golok mereka dan menyerang kearah Mandaga dan Andam Dewi. Gadis cantik berbaju merah segera meraih dan mencabut pedang miliknya.


Wuuuu wuuungg...!!


Terdengar suara mendengung dan suatu benda berbentuk bulan hitam dengan bingkai keemasan melesat sangat cepat.


Craasssh...!! Dug..


Craack...!! Pletak...


Kepala dua orang anggota Parewa golok setan lepas dari lehernya dan jatuh tergeletak di lantai. Benda bulat seperti bulan yang terbang menebas putus leher dua orang Parewa golok setan kembali ketangan Mandaga.


Semua orang sekarang bisa melihat sebuah pedang yang ada digenggaman Mandaga. Bentuk pedang itu tidak wajar. Pedang hitam dengan barutan garis emas itu tidak lurus, tetapi meliuk berbentuk bulan sabit.


Pedang aneh apa itu, yang berbentuk seperti bulan sabit. Orang-orang yang menonton bertanya tanya dalam hati. Begitu juga dengan Andam Dewi dan Parewa setan guriang. Ini sungguh pertama kali. Tidak pernah sebelumnya mereka melihat sejata seperti itu.


"Sekarang giliran mu !" ucap Mandaga dan melesat dengan sangat cepat menyerang pria besar itu. Parewa setan guriang mengayunkan golok besar miliknya menyambut kedatangan pedang bulan sabit.


Pletranngg...!!


Craasszzz...!! Tugh...!!


Terdengar suara logam jatuh dan sebuah benda padat. Parewa merasa lengan kanan memegang golok lebih tebal dan ringan.


Aaaaaaaachhh...!!


Pria besar itu berteriak keras. Parewa Setan Guriang melihat tangan yang memegang golok telah putus. Pria besar itu segera menotok lengannya agar darah yang muncrat segera berhenti.


Sementara itu, anggota yang terlanjur menyerang Andam Dewi kaget. Akibatnya serangan yang dilakukannya jadi kacau. Tebasan pedang menyilang yang dilepaskan Andam, dengan telak membelah dadanya.

__ADS_1


Slash....!! Craasssh...!!


Lelaki itu tersungkur dengan dada belah. Memang dalam pertarungan hidup dan mati, sedikit saja kelengahan akan sangat fatal. Maut langsung menyambar ketika keraguan muncul di dalam hatinya. Parewa setan guriang berbalik dan melarikan diri bersama anak buahnya.


"Kau tunggu pembalasan kami anak muda...!!" Suara Parewa setan guriang terdengar cukup keras.


Andam Dewi melihat kearah Mandaga, dengan tatapan kagum. Gadis cantik itu lebih kaget lagi, ketiga Mandaga mengibaskan tangannya, pedang bulan sabit hilang begitu saja.


Mandaga memanggil pemilik kedai. Pemuda itu meminta pemilik kedai membersihkan bekas-bekas pertarungan. Dia juga menanyakan berapa besar kerugian yang ditanggung kedainya karena kejadian itu. Pemilik kedai membungkuk menyuruh anak buahnya memanggil orang yang biasa membersihkan bekas pertarungan.


"Tidak apa Tuan Muda, tidak ada yang perlu diganti." pemilik kedai berkata kepada Mandaga. Andam Dewi yang telah mengumpulkan harta tiga anggota Parewa Golok Setan berkata


"Tunggu, ini ada lima puluh keping perak dan dua ratus gobang. Apakah cukup ?" gadis cantik itu menaruh semuanya diatas meja.


"Ini banyak sekali Nona" pemilik kedai membungkuk kepada Andam Dewi.


"Ambil saja paman. Tolong juga bikinkan teh hangat dengan gula saka serta kopi. Kami harus menunggu dulu kedatangan gerombolan Parewa Golok Setan." Andam Dewi berkata seperti tidak ada terjadi apapun. Kemudian gadis cantik itu melangkah ke meja kosong yang lain.


"Kita harus pindah duduk kesini Pandeka Pedang Bulan Sabit" katanya kepada Mandaga dan memberi seulas senyum yang berbeda kepada Mandaga.


Sambil menunggu datangnya rombongan Parewa Golok Setan. Mandaga ngobrol ringan dengan Andam Dewi. Mereka ngemil kue pinyaram dan kue sikili kili.


"Pertama, jangan panggil aku Pandeka Bulan Sabit, nama ku Mandaga, ingat Man da ga." Mandaga memberi tekanan pada saat mengulang menyebutkan namanya.


"Aku tinggal bersama Angguik dan empat orang pelayan di jurang Kerbouwengat. Keempat orang pelayan itu, kemudian diangkat jadi murid oleh Angguik.


Angguik orangnya sudah sangat tua. Usianya sudah ratusan tahun, meski wajah nya terlihat seperti empat puluh tahun. Orang-orang memanggil Angguik dengan nama Datuk Aluih Tapa..."


"Apa !! Datuk Aluih Tapa !??" Andam Dewi sangat terkejut mendengar nama kakek Mandaga. Mandaga malah lebih terkejut lagi, mendengar suara lantang dari mulut Andam Dewi.


"Apakah kau mengenal Angguik ku Andam ??" Mandaga bertanya penuh selidik kepada Andam Dewi. Gadis cantik itu melihat penuh kagum pada Mandaga.


"Aku tidak mengenal kakekmu tapi aku mengetahui namanya. Tidak ada satupun pandeka dikerajaan Melayu Dharmasraya, dan mungkin para pendekar dipulau perca. Bahkan sampai semenanjung Malaka dan tataran Sunda serta Javadwipa yang tidak mengenal nama Datuk Aluih Tapa." Andam Dewi bicara dengan nada penuh kagum. Gadis cantik itu jadi ingin mengajak Mandaga untuk bertemu dengan ayahnya. Ayah Andam Dewi adalah seorang yang sangat mengagumi Datuk Aluih Tapa. Seorang pendekar yang dianggap manusia setengah dewa oleh orang-orang rimba hijau dunia persilatan. Andam Dewi mencari cara agar bisa mengajak Mandaga ke nagari Kumango.


"Kemana rencana mu setelah ini ?" Andam Dewi kembali bertanya. Tidak tau kenapa dia ingin bisa lebih banyak mengenal Mandaga.


"Aku rencana mau melihat negeri rantau setelah itu aku mau melihat kota raja Dharmasraya. Kenapa ?" Mandaga menjelaskan dan balik bertanya kepada Andam Dewi.

__ADS_1


Mereka berdua kaget ketika mendengar suara keras Parewa Setan Guriang.


"Itu mereka, keluar kalian !!" Parewa Setan Guriang berteriak keras dari luar kedai makan.


Mandaga dan Andam Dewi melihat keluar. Diluar tampak Parewa Setan Guriang bersama seorang pria tengah baya yang sebagian rambutnya sudah berwarna abu. Dia berpakaian merah dengan jubah hitam panjang. Pria berambut abu itu adalah wakil ketua kelompok Parewa Golok Setan. Wakil kedua. Pria tengah baya itu lebih dikenal dengan nama Golok Mini Terbang. Sesuai dengan senjata andalannya, yaitu ratusan golok mini yang dilempar dengan kecepatan tinggi kepada lawan lawannya. Selain Golok Mini Terbang masih ada dua puluh anggota Parewa Golok Setan.


Mandaga melangkah keluar diikuti oleh Andam Dewi. Dia melihat cukup banyak orang menonton kejadian ini.


"Kenapa lama sekali baru kembali ? Sudah begitu kau kenapa hanya bawa dua puluh orang saja ??" Kata-kata yang diucapkan Mandaga meski dengan nada biasa. Terdengar sangat sombong dan sangat merendahkan bagi orang yang menonton mereka. Apa lagi bagi kelompok Parewa Golok Setan.


Golok Mini Terbang wajahnya menjadi merah padam. Pria itu mengibaskan tangannya. Dua buah golok seukuran belati melayang cepat, berdesing menuju leher dan jantung Mandaga.


Zhiiiiingg...!! Whuiiingg...!!


Melihat kedatangan dua buah golok mini itu. Mandaga berputar meliuk. Tiba-tiba ada sebuah pedang yang unik di tangannya. Pedang berbentuk bulan sabit, dan


Traaanggg...!! Triiiingg...!!


Mandaga memapas kedua golok mini itu. Tidak paham bagaimana caranya, kedua golok mini berbalik dengan kecepatan lebih cepat kearah Golok Mini Terbang dan Parewa Setan Guriang. Golok Mini Terbang melenting tinggi dan golok mini meluncur di bawah kakinya. Parewa Setan Guriang melompat kesamping dan golok mini meluncur kencang disampingnya.


Zuiiingg...!! Zleepp...!!


Whuiiingg...!! Clep...!!


Aaaachhh....!!


Kedua golok mini itu melintas dan menancap di dada dan di perut dua orang anggota kelompok Parewa Golok Setan. Kedua orang yang terkena golok berkelenjotan sebentar dan kemudian mati dengan tubuh menghitam dan mulut berbusa.


Racun...! Ya semua golok mini itu telah direndam dulu dalam cairan racun king kobra. Hanya dengan sedikit sayatan golok mini pada kulit, maka kematian akan datang menjemput.


Golok Mini Terbang dan Parewa Setan Guriang merasa kemarahan memenuhi dada dan kepala mereka.


\=\=\=\=\=***\=\=©


#gobang \= mata uang logam yang bolong ditengahnya.


#gulo saka \= gula aren.

__ADS_1


#kue sikili kili \= kue yang terbuat dari singkong diparut berbentuk angka delapan.


__ADS_2