
Dalam waktu yang singkat Mandaga dan Andam Dewi sudah berada di hutan bambu Silaiang. Mandaga berhenti dan melepas pegangannya. Andam Dewi melihat kepada Mandaga dengan tatapan senang. Dia tersenyum sangat manis kepada Mandaga.
Mandaga merutuki dirinya di dalam hatinya. "Kenapa juga aku harus menarik gadis ini kesini...? Cilaka benar, mampus lah aku"
Mandaga menarik nafas dalam lalu berkata.
"Sekarang sudah aman. Kau bisa berangkat ke nagari Kumango. Aku akan lanjut ke nagari rantau. Sampai jumpa lagi." Mandaga membungkuk dan berbalik. Namun belum sempat pergi Andam Dewi memanggil namanya dengan suara keras.
"Mandaga...!" pemuda itu tak jadi melesat pergi. Dia berbalik dan menatap bingung pada Andam Dewi.
"Aku akan ikut dengan mu ke rantau. Sehabis dari rantau, ketika menuju kota raja Dharmasraya. Kita singgah ke rumahku. Karena kalau mau ke kota raja Dharmasraya, pasti harus melewati nagari Kumango." Mendengar apa yang dikatakan Andam Dewi, Mandaga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Siaaall siaaall... duh o-onnya aku." Mandaga merutuki dirinya. Andam Dewi memeluk lengan Mandaga.
"Ayuk kita lanjutkan perjalanan kita menuju rantau" Andam menarik tangan Mandaga. Senja telah jatun ketika mereka sampai di telaga kabut yang menampung curahan air terjun lembah Anai. Mandaga tertegun sejenak. Dia menatap air terjun lembah Anai. Dia lalu menatap Andam.
"Apakah kau bisa naik keatas ?" Mandaga bertanya kepada Andam.
"Ada apa diatas ? Ilmu meringankan tubuh ku tidak cukup tinggi. Akan sangat sulit untuk naik." Tiba-tiba Mandaga merangkul erat pinggang ramping Andam. Dia melenting naik menggunakan ilmu Melenting dilipatan angin dan mereka naik dengan cepat.
"Aaaww..." Andam menjerit kaget ketika melenting naik. Hatinya sangat senang dan dadanya bergemuruh oleh debaran kebahagiaan.
Sesaat kemudian mereka sudah menjejakkan kaki di tingkat kelima air terjun lembah Anai. Terlihat sebuah pondok mungil yang terbuat dari kayu ulin. Juga ada satu palanta di depan rumah itu.
Mandaga masuk kedalam pondok, menyalakan lampu togok. Setelah membersihkan kamarnya dia keluar.
"Andam kalau kau mau bersih bersih bisa ditelaga itu. Aku akan mencari ayam hutan atau apa yang bisa dimakan." Mandaga langsung menghilang.
Setelah membersihkan palanta, Andam membuka pakaiannya dan menyebur ke telaga.
__ADS_1
Aaaaaaahhh...!!
Gadis cantik itu menjerit keras dan buru-buru keluar dari telaga. Mendengar jeritan yang keras dari Andam Dewi, Mandaga buru-buru kembali ke pondok.
"Ada apa...?? Eh... uhm..." Mandaga berdiri salah tingkah menatap Andam Dewi yang berdiri polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh nya.
Aaaaaaahhh...!!
Gadis cantik itu kembali menjerit, berjongkok sambil menutupi bagian-bagian sensitifnya. Mandaga tersadar dari pesona keindahan didepan matanya. Dia buru-buru berbalik dan kembali menghilang.
"Gunakan tenaga dalam mu untuk penyeimbang suhu tubuh ketika kau mandi ditelaga." terdengar suara Mandaga diudara. Andam akhirnya bisa mandi dan membersihkan diri. Wajah cantiknya kadang merah kadang putih mengingat apa yang baru saja terjadi. Kadang ada senyum dibibirnya mengingat tatapan terpesona Mandaga saat melihat dirinya tadi.
Mandaga datang membawa seekor rusa muda. Pemuda itu langsung menguliti dan membersihkan hasil buruannya. Dia membuat potongan daging dengan ukuran dua jari. Lalu menusuk daging itu dengan batang bambu. Satu tusukan berisi empat potong daging. Mandaga membuat lima belas tusuk. Sisa daging rusa dibelah dan sayat tipis-tipis dijadikan dendeng lalu menyimpannya dalam cincin semesta miliknya.
Mandaga menyerahkan daging yang sudah ditusuk tusuk itu kepada Andam Dewi. Lalu dia membuat api unggun.
"Kamu yang bakar ya. Aku mandi dulu." Mandaga lalu menyelinap dibalik batu besar ditelaga dan membersihkan dirinya.
"Kenapa kau bisa tau dengan tempat ini Mandaga ?" Suara Andam terdengar agak gemelutuk menahan hawa yang sangat dingin. Mandaga merengkuh Andam kedalam pelukannya agar tidak terlalu kedinginan.
"Aku tinggal disini bersama Angguik dari kecil sampai berumur lima belas tahun. Setelah berusia lima belas tahun, baru kami pindah ke jurang Kerbouwengat." Andam Dewi semakin dalam merapat diperlukan Mandaga.
"Sebaiknya kita pindah saja kedalam pondok. Agar angin tidak langsung menerpa kulit mu." Mandaga menuntun Andam memasuki pondok.
"Ini kamar ku. Kau bisa tidur disini." Mandaga menunjuk tikar pandan yang ditutupi dengan kulit harimau. Dia lalu melangkah keluar kamar.
"Tunggu... kau mau kemana ?" Andam bertanya kepada Mandaga.
"Aku akan menunggu dan menjaga mu dari langkan."
__ADS_1
"Jangan, kamu disini saja" Andam Dewi menahan agar Mandaga tetap berada dekat dengannya.
Perlahan Andam merebahkan dirinya diatas kulit harimau. Namun hawa dingin masih sulit dia atasi. Gadis cantik itu menarik Mandaga. Dia lalu menyelinap kedalam pelukan Mandaga. Rasa hangat mulai terasa, begitu nyaman. Tidak tau siapa yang memulai, bibir mereka sudah bertautan erat. Saling pagut dan saling *****. Nafas keduanya semakin sesak. Ada hasrat purba yang menuntut untuk dilepaskan. Udara menjadi lebih panas. Andam mendesah, merapat menekan dan menggesekan dadanya yang kencang dan kenyal kedada Mandaga.
Keinginan penuntasan hasrat purba semakin menuntut.
"Haaah...!!" tiba-tiba Mandaga berteriak nyaring. Dia menarik dirinya dan mendorong sedikit tubuh Andam Dewi dari tubuhnya.
"Kita belum boleh melakukan itu Andam." suara Mandaga terdengar serak dan berat.
"Kenapa ? Aku rela kok melakukannya dengan mu. Aku mau kau yang mengambil mahkota ku" suara Andam mendesah penuh keinginan.
"Aku juga mau, tapi nanti jika kamu sudah jadi istriku" suara Mandaga terdengar lebih tenang. Dia sudah lebih bisa mengontrol dirinya lagi.
"Kau mau menikah dengan ku Mandaga ? Aku menyukaimu dan aku menginginkan mu" Andam Dewi bertanya dalam ******* hasrat purba yang masih memeluk erat hatinya. Mandaga hanya tersenyum dan memeluk erat tubuh indah Andam. Tapi pelukannya tidak lagi ditunggangi keinginan purba, pelukannya berubah menjadi pelukan sayang yang tulus .
Perlahan hasrat yang merajai hati Andam secara perlahan bisa dikontrol. Pelukan dari Mandaga mendatangkan perasaan damai di jiwa Andam. Gadis cantik itu akhirnya tertidur lelap dalam pelukan Mandaga. Ada seulas senyum indah dibibirnya.
Pagi sekali Mandaga sudah bangun. Dia langsung berendam didinginnya telaga embun. Usai mandi Mandaga menyalakan kembali unggun semalam. Dia mengeluarkan dua potongan sedang daging rusa. Membalur daging rusa itu dengan beberapa bumbu lalu membakarnya.
Andam Dewi terbangun ketika harum bau daging rusa bakar menyelinap ke hidungnya. Perlahan dia membuka kedua matanya. Kejadian semalam melintas dipikirannya. Pipinya merah ranum mengingat apa yang dia lakukan dan katakan pada Mandaga. Senyum amat manis mengembang dibibir ranumnya. Andam segera bangkit dan berjalan keluar. Mandaga tersenyum melihat kedatangan Andam lalu menunjuk kebelanga berisi air hangat.
"Itu ada air hangat, cucilah wajahmu."
Andam duduk menempel disebelah Mandaga. Masih ada sedikit risih, pipinya memerah. Tapi dia tetap nekat memeluk Mandaga. Mencium lembut pipi pemuda tampan itu dan berbisik
"Selamat pagi sayaang..." Mandaga tersenyum dan menyerahkan sepotong besar daging bakar yang sudah matang.
Ombak berlari berkejaran lalu menghempas di pantai Karan Aur. Mandaga melihat Andam terheran heran melihat ombak yang bergulung-gulung dan berkejaran menuju pantai.
__ADS_1
\=\=\=\=\=***\=\=©