Pandeka Pedang Bulan Sabit

Pandeka Pedang Bulan Sabit
Chap. 7 Pembantaian Didepan Kedai


__ADS_3

Golok Mini Terbang dan Parewa Setan Guriang merasa kemarahan memenuhi dada dan kepala mereka. Mandaga melihat situasi yang makin memburuk, berkata pelan tapi suaranya terdengar jelas.


"Aku tidak suka bersengketa dengan siapa pun. Apakah hal ini tidak bisa kita selesaikan dengan baik ?" Andam Dewi tersenyum kecil, merasa lucu dengan perkataan Mandaga.


"Bisa...!! Asalkan kau setuju melepaskan nyawamu dan meninggalkan gadis itu disini" Golok Mini Terbang menjawab dengan suara penuh amarah. Mandaga menatap Andam Dewi sejenak, dan kembali melihat kearah Golok Mini Terbang dan berkata.


"Aku tentu tidak bisa bicara atas nama gadis ini. Kau harus bertanya sendiri kepada dia. Apakah dia mau tinggal disini atau tidak. Kalau aku, bagaimana caranya agar aku bisa meninggalkan nyawaku, jika tubuhku ini pergi ke..."


Mandaga belum selesai bicara. Golok Mini Terbang membentak dengan suara yang keras.


"Bacot kau. BUNUH MEREKA !!"


Semua anggota kelompok Parewa Golok Setan bergerak menyerang dengan ganas kearah Mandaga dan Andam Dewi.


Golok Mini Terbang melenting tinggi dan berputar diudara. Lima sinar berkilau melesat sangat cepat menuju Mandaga.


Trangg...!! Trangg...!! Treck !!


Tringg...!! Tap...!!


Mandaga menangkis empat golok mini dan menangkap satunya


Zuiiingg...!! Zuiiingg...!!


Zhiiiiingg...!! Zuiiingg...!!


Cleeb...! Zlep...!


Empat golok mini meluncur dengan kecepatan tinggi mengarah kepada anggota rombongan Parewa Golok Setan. Empat orang menjerit dan tewas dengan tubuh hitam dan mulut berbusa.


Golok Mini Terbang dan Parewa Setan Guriang pucat melihat empat orang anggota mereka kembali tumbang. Mereka melihat Mandaga masih memainkan satu golok mini ditangannya.


"Ini untuk mu Parewa !!" golok mini ditangan Mandaga meluncur amat sangat cepat. Parewa langsung bergulingan menjauh kesamping.

__ADS_1


Namun golok mini itu tidak meluncur kearah Parewa. Golok mini itu meluncur dengan kecepatan sangat tinggi menuju Golok Mini Terbang. Wakil ketua kelompok Parewa Golok Setan itu tidak menduga kalau golok mini dilempar kepada dirinya. Kelengahan sekejap itu berakibat buruk untuknya. Golok Mini Terbang berputar mengibaskan jubahnya. Tujuh golok mini terbang menuju Mandaga. Namun golok mini yang dilempar Mandaga lolos dari tangkisannya.


Jleebb...!!


Golok mini itu menancap di batang lehernya. Golok Mini Terbang berkelenjotan sebentar. Wakil ketua Parewa Golok Setan mati dengan tubuh menghitam dan mulut berbusa. Pria itu mati oleh senjata dan racun racikan sendiri.


Mandaga memutar pedang Bulan Sabit. Empat golok mini menerjang empat anggota Parewa Golok Setan. Mereka langsung bergelimpangan dan tewas. Satu golok mini lagi ditangkap dan dua lainnya berhasil dihindari. Tapi sial, dua golok mini yang dihindari meluncur kearah Andam.


"Awas Andam !!" Mandaga teriak kepada Andam.


Andam Dewi yang sedang menghadapi keroyokan, dari anggota Parewa Golok Setan kaget. Gadis itu melenting tinggi, namun sebuah golok membeset betisnya. Andam jatuh berlutut, lalu duduk nyelepok di tanah.


Mandaga melesat kearah Andam. Saat itu pula golok mini yang ditangannya melesat bagai kilat dan menancap di dada Parewa Setan Guriang.


Zhiiiiingg....!! Jleebb...!!


Parewa Setan Guriang yang baru saja bangkit setelah berguling kaget. Pria brewok bertangan buntung itu tersentak. Golok mini nancap menembus jantung. Dia jatuh tengkurap dan mati.


Mandaga langsung menotok tiga titik dipaha Andam Suri. Dia membuka ikat rambutnya dan mengikat paha Andam Dewi. Dia melakukan semua tanpa pikir panjang. Setelah itu Mandaga berbalik dan melemparkan pedang bulan sabit.


Pedang Bulan Sabit melayang cepat berdegung menujuk anggota Parewa Golok Setan yang bingung melihat pemimpin mereka sudah pada tergeletak tak bernyawa.


Pedang Bulan Sabit memapas leher empat orang dari mereka.


Mandaga mengambil empat golok mini yang tersisa ditubuh Golok Mini Terbang. Tanpa keraguan dia melempar golok itu kearah anggota Parewa Golok Setan. Empat orang lagi jatuh, mati menghitam dengan mulut berbusa. Mandaga mengambil kantong penyimpanan milik Golok Mini Terbang. Dia menemukan sebuah botol tembikar kecil bewarna putih. Dia membuka tutup botol dan mencium aroma herbal.


Tanpa pikir panjang Mandaga memasukkan dua butir pil ke mulut Andam. Gadis cantik itu menelan pil dari Mandaga. Wajah cantiknya merah pekat karena jengah. Dia merasa campur aduk oleh rasa malu, senang dan geli. Tidak pernah ada lelaki menyentuh dirinya selain ayahnya Datuak Kumango Nan Sati. Itupun ketika Andam Dewi masih kecil.


Mandaga melirik sekilas dan melihat wajah Andam Dewi merah pekat. Pemuda tampan itu sedikit bingung, dia bergumam dalam hati,..


"Apakah Andam marah ? Kenapa mukanya merah begitu ??"


Mandaga menatap tajam kepada dua anggota Parewa Golok Setan yang tersisa. Keduanya berlutut, melihat Mandaga dengan rasa takut. Begitu Mandaga melihat, keduanya langsung bersujud.

__ADS_1


"Pandeka Pedang Bulan Sabit, kami mohon ampun. Kami bertobat, kami akan keluar dari kelompok Parewa Golok Setan. Kami akan kembali ke kampung dan jadi petani." Mereka bicara menghiba hiba kepada Mandaga. Akhirnya Mandaga membebaskan mereka sambil berkata.


"Aku ampuni kalian kali ini. Tapi kalau kutemukan lagi kalian berbuat tidak benar, akan ku potong kaki dan tangan kalian satu persatu." Mereka mengangguk angguk seperti ayam mematuk beras.


"Terimakasih Pandeka Pedang Bulan Sabit..." ucap mereka serempak.


"Pergilah jauh-jauh dari koto Gadang ini." Kedua lelaki itu segera bangkit dan berlari meninggalkan kedai makan. Membiarkan jasad teman temannya dan bekas atasan mereka.


Mandaga melihat kearah pemilik kedai. Lelaki pemilik kedai mengerti arti tatapan Mandaga.


"Kami akan mengurus mayat mereka Pandeka Pedang Bulan Sabit. Oooh..." Mandaga segera menyerahkan dua ratus keping perak. Semua dia ambil dari tubuh anggota Parewa yang sudah mati.


"Sebaiknya paman istirahat dulu berdagangnya, paling tidak seminggu." Mandaga coba mengingatkan pemilik kedai.


"Ayo Andam..." Mandaga mengajak gadis putri tunggal Datuak Kumango Nan Sati meninggalkan kedai. Andam Dewi bangkit dan melangkah. Baru selangkah Andam meringis dan kembali jatuh.


"Maaf..." Mandaga meraih Andam dan menggendong, lalu melenting tinggi dan menghilang. Sejak kejadian itu nama Pandeka Pedang Bulan Sabit mulai diperbincangkan orang-orang dimana-mana.


Andam Dewi melingkarkan tangannya ke leher Mandaga. Mukanya sebentar merah, sebentar putih. Bulu remang nya berdiri dan dari mulutnya terdengar ringisan pelan.


"Apakah kakimu sangat sakit ?" Mandaga bertanya dengan polos kepada Andam. Dia benar-benar tidak tahu, jika wajah merah putih dan bulunya yang meremang bukan karena sakit. Tapi karena digendong dan begitu rapat dengan Mandaga. Gadis itu menjadi panas dingin.


Mandaga berhenti berlari di dekat pohon Ketaping besar dekat anak sungai beraruus deras. Dia menyandarkan Andam Dewi di pangkal batang pohon besar itu.


Brreeettt...!!!


Terdengar bunyi kain robek ketika Mandaga menyobek celana Andam Dewi. Terlihat bekas luka yang membengkak dibetis Andam Dewi. Betis putih mulus itu jadi ternoda oleh warna darah yang merah menghitam. Pinggiran luka juga tampak biktik putih, menandakan racun belum di keluarkan.


Mandaga menelan dua butir pil yang tersisa dibotol tembikar. Lalu pemuda tampan itu mengisap luka dibetis Andam Dewi. Hangat bibir Mandaga membuat dada Andam Dewi menjadi sesak. Air mata mulai jatuh dipipinya.


Mandaga tidak menyadari semua itu. Dia mengisap luka dibetis Andam Dewi berulang kali. Sampai darah yang keluar dari luka itu bewarna merah bersih. Mandaga mengeluarkan salep khusus dari cincin semesta miliknya. Andam Dewi melihat Mandaga seperti mengambil dari ruang hampa. Setelah itu pemuda itu mengoleskan pada luka dibetis Andam. Usai mengoleskan salep, Mandaga melepas ikatan dipaha Andam Dewi. Pemuda itu dengan santai mengikat kembali rambutnya sambil turun ke anak sungai.


\=\=\=\=\=***\=\=©

__ADS_1


#nyelepok \= duduk dengan kaki terjulur.


__ADS_2