
Andam Dewi juga bergerak sangat cepat. Terlihat satu bayangan merah melesat dan dua kepala lagi terjatuh dari tempatnya menggelinding di tanah.
Craakk... Craakk... Craakk...!!
Semua sisa dari anggota Bayangan Hantu Silaiang yang masih hidup ketakutan. Keringat dingin membanjiri punggung mereka hingga kuyup.
"Pandeka Pedang Bulan Sabit dan Dewi Merah Kumango kami menyerah. Kami mohon ampun."
"Ketika penduduk atau mereka yang kalian rampok, memohonkan hal sama dengan apa yang kalian lakukan sekarang. Apa yang kalian buat untuk mereka ?"
"Kami adalah penjahat dari golongan hitam, kerja kami memang sudah begitu adanya. Tapi anda tuan Pandeka kan orang golongan putih. Kalian selalu punya maaf dan tidak akan sudi membunuh lawan yang sudah menyerah. Meskipun itu dari golongan hitam." salah seorang dari anggota penyamun Bayangan Hantu Silaiang mencoba mengajuk hati Mandaga dan Andam.
Andam Dewi terdiam. Persis seperti ucapan penyamun itu, begitulah keyakinan yang di tanamkan kepadanya sejak kecil.
"Kalian benar..." Mandaga merespon ucapan anggota penyamun itu. Andam tanpa sadar juga mengangguk membenarkan Mandaga. Sisa anggota penyamun Bayangan Hantu Silaiang sedikit lega ketika Mandaga membenarkan semua ucapan nya.
"Mohon lepaskan kami. Kami berjanji tidak akan melakukan lagi kejahatan ini" anggota penyamun itu membenturkan keningnya ketanah. Air mata mengalir di pipinya. Teman temannya mulai mengikuti tingkahnya.
"Mohon ampuni kami Pandeka" mereka memohon bersahutan. Mandaga kesal mendengar mereka, dia lalu menarik nafas berkata.
"Baiklah, tapi aku baru yakin bahwa kalian tidak akan jadi orang jahat lagi setelah...
Zhiiiiingg... Craasszzz...!
Craakk...!! Crash...!!
pedang Bulan Sabit bergerak amat cepat. Semua anggota penyamun Bayangan Hantu Silaiang masing-masing kehilangan satu kaki dan satu tangan. Jeritan kesakitan terdengar sampai jauh.
"Bangsaaat kau Pandeka. Kau lebih buruk dari kami para penjahat. Kau... Kau..." anggota penyamun itu tidak bisa melanjutkan omongan nya ketika Mandaga berkata.
__ADS_1
"Aku tidak punya maaf untuk penjahat busuk seperti kalian. Karena sudah terlanjur janji tidak akan membunuh, aku harus mengambil satu tangan dan satu kaki kalian. Aku berharap kalian kedepannya tidak lagi berbuat jahat" Mandaga berkata sabil tersenyum kecil. Andam Dewi merinding melihat kelakuan Mandaga.
"Kenapa Mandaga ??" Andam Dewi menatap Mandaga penuh tanya.
"Mereka sudah puluhan tahun jadi penjahat dan pasti sudah pernah dimaafkan Pandeka lain sebelum ini. Tapi mereka tetap melakukan lagi. Apakah kau pikir mereka terlalu pintar untuk mengeluarkan ucapan mereka tadi, kalau belum pernah mengalami ??" Mandaga menjelaskan dasar tindakannya. Andam terdiam, namun dalam hati dia membenarkan ucapan Mandaga. Apa lagi dia melihat para penjahat itu juga tertegun mendengar ucapan Mandaga.
"Bunuh saja kami Pandeka, bunuh saja kami Dewi."
"Ayo kita pergi" Mandaga menaiki kudanya, Andam mengikuti apa yang dilakukan Mandaga.
Sudah menjelang senja ketika mereka memasuki desa Kubu Karambia. Mandaga mencari penginapan. Ada satu rumah makan agak besar yang juga menyediakan tempat nginap. Mereka makan dan istirahat di penginapan sederhana itu. Paginya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Menjelang sore mereka melihat gerbang nagari Kumango. Andam Dewi mempercepat lari kudanya. Setelah sampai didepan gerbang Andam Dewi turun dari kudanya.
Penjaga gerbang menyambut kedatangan Andam Dewi dengan ramah. Penjaga itu melihat kearah Mandaga.
"Dia temanku." Andam Dewi menjelaskan siapa Mandaga.
"Selamat datang di nagari Kumango, pandeka." penjaga itu menyambut Mandaga dengan ramah. Kemudian dia kembali melihat kearah Andam.
"Baiklah, terimakasih. Ayo Mandaga." Andam Dewi kembali menunggang kuda miliknya dengan cepat. Mandaga mengikuti Andam dari belakang.
Sesaat kemudian Mandaga melihat sebuah rumah megah dengan halaman yang sangat luas. Andam Dewi memacu kudanya agar lebih cepat dan melewati halaman yang luas itu. Sesampai didepan rumah yang paling besar dan megah, Andam Dewi melenting turun dari kudanya. Seorang pria setengah tua mengambil tali kekang kuda.
"Selamat datang Puti Andam." ucapnya sambil menjura hormat.
"Makasih, apa kabar pak Umam. Oh iya, bawa juga kuda temanku sekalian yaa." "Baik Puti" jawab pak Umam tersenyum. Dia adalah orang yang bertanggung jawab mengurus kuda kuda dan kereta keluarga Datuak Kumango Nan Sati.
Datuak Kumango Nan Sati sedang duduk berbincang dengan istrinya Puti Nilawati. Meski berusia hampir empat puluh tahun, Puti Nilawati terlihat cantik menawan bagai gadis berusia dua puluhan tahun. Jika lagi bepergian bersama Andam mereka dikira orang beradik kakak.
Puti Nilawati sangat ditakuti di rimba hijau dunia persilatan Suvarnabhumi. Kesaktiannya nyaris tiada lawan. Wanita itu terkenal sangat kejam kepada para penjahat. Tidak satupun penjahat yang lolos dari kematian jika bertemu dengan Nilawati. Mungkin karena itu dia diberi gelar sebagai Dewi Kematian. Bahkan suaminya Datuak Kumango Nan Sati tidak pernah mampu mendekati kesaktiannya.
__ADS_1
Puti Nilawati adalah cucu satu satunya Pandeka Pedang Suling Kumala yang sangat sakti. Bahkan menurut cerita, Pandeka Pedang Suling Kumala adalah pendekar terkuat di Nusantara. Pandeka Pedang Suling Kumala tinggal bersama istrinya di puncak gunung Padang di daerah rantau nan jauah. Andam pernah bertemu sekali dengan kakek dan nenek buyutnya, ketika berusia empat tahun.
"Sembah ananda Bunda dan Ayah." Andam Dewi langsung memberikan sembah dan memeluk ibundanya.
"Bagus jika kamu sudah pulang Andam. Apakah kau bertemu dengan Paneh atau Bidin yang aku suruh mencari kamu ?" Datuak Kumango Nan Sati bertanya lembut pada Andam dengan suaranya yang berat.
"Tidak, ada apa Ayah mencari Andam ? Oh ya, Ayah, Bunda kenalkan ini teman Andam. Namanya Mandaga, di rimba hijau dunia persilatan dia dikenal dengan sebagai Pandeka Pedang Bulan Sabit."
"Sembah ku untuk mu paman dan bibi." Mandaga memberi salam kepada ayah dan bundanya Andam.
Datuak Kumango Nan Sati menatap tajam dan dalam kepada Mandaga. Dia tidak bisa merasakan tingkat kekuatan dan kemampuan pemuda tampan didepannya. Datuak Kumango melirik istrinya yang sedang tersenyum lembut kepada Mandaga.
Mereka kemudian ngobrol kian kemari setelah Nilawati meminta pelayan membawa minuman untuk putrinya dan Mandaga.
"Coba ceritakan pengalaman pengembaraan mu dan dimana kamu bertemu Mandaga ?!" Nilawati minta putrinya bercerita. Andam Dewi dengan antusias bercerita tentang pertemuan dan pengembaraannya bersama Mandaga. Dia juga bercerita perjalanan ke rantau Piaman dan menumpas Perompak Lamun Kurai untuk membantu Yang Dipertuan nagari Rantau Piaman Sutan Muniang.
Nilawati tersenyum mendengar cerita putrinya. Dia tau, putrinya Andam Dewi telah jatuh hati pada Mandaga. Dia menatap Mandaga agak lama mencoba melihat isi hati pemuda yang dicintai putrinya.
"Jadi sekarang kau sudah mendapatkan gelar di rimba hijau dunia persilatan, Dewi Merah Kumango ??" Nilawati tersenyum menatap Andam Dewi. Lalu dia malanjutkan.
"Bagaimana dengan mu Mandaga ??" Nilawati beralih menatap Mandaga. Sebelum pemuda itu menjawab...
"Mandaga ini adalah cucu Datuk Aluih Tapa dia..."
"Apa...??" Datuak Kumango Nan Sati berteriak kaget. Dia menatap Mandaga lebih serius
"Kau cucunya Datuk Aluih Tapa, bener ??" Datuak Kumango Nan Sati bertanya kepada Mandaga. Pemuda itu mengangguk.
"Yaa, Angguik mestinya baik baik saja. Meskipun sudah sangat tua, tapi Angguik terlihat seperti orang berusia tiga atau empat puluh tahun saja. Sekarang menetap di jurang Kerbouwengat." Wajah Mendaga tiba-tiba agak mendung. Dia merasa rindu dengan kakeknya Datuk Aluih Tapa.
__ADS_1
\=\=\=\=\=***\=\=©