Pandeka Pedang Bulan Sabit

Pandeka Pedang Bulan Sabit
Chapt. 3 Kembali ke Ngarai Sabik


__ADS_3

Awalnya Maharaja Mauli Warmadewa agak marah akan masukan dari Mapatih Giring Amarta. Bagaimana mungkin dia akan menghinakan kedua anak gadisnya yang cantik jelita. Kenapa harus Dara Petak dan Dara Jingga yang mesti menjadi korban ? Fikirnya. Namun setelah mendengar penjelasan lebih rinci, Mauli Warmadewa bisa menerima masukan dari Mapatih.


Kerajaan besar Melayu Dharmasraya mulai berbenah. Maharaja Mauli Warmadewa bersikap lebih tegas kepada semua aparat negara. Beberapa pejabat telah diganti. Namun sayangnya penggantian itu tidak berjalan baik. Banyak pejabat baik yang dicopot karena masukan dari pembisik yang tidak benar. Sedangkan para pengganti adalah dari kelompok yang bersebrangan dengan Maharaja Mauli Warmadewa.


Jauh di wilayah timur pulau Javadwipa. Prabu Hanacaraka tengah memimpin upacara pengiriman pasukan besar ke Suvarnabhumi. Hanacaraka bergelar Sri Maharajadhiraja Kertanagara Wikrama Dharmmotunggadewa.


Empat ribu pasukan dikirim dalam rangka pamalayu yang katanya missi persahabatan. Meski makna dari kata pamalayu dalam bahasa java bisa diartikan secara bebas dengan perang melawan Melayu atau penguasaan tanah Melayu.


Pada saat acara pelepasan itu Prabu Hanacaraka rajadiraja dari kerajaan Singhasari memberi sebuah cendramata berupa sebuah arca. Arca Armoghapasa sebuah arca yang menggambarkan tentang Lokeswara atau Awalokiteswara yang bisa diartikan Tuan Kehidupan.



Ekspedisi penaklukan yang dibungkus dengan kunjungan persahabatan itu dipimpin oleh seorang jenderal atau panglima utama Singhasari bernama Kebo Anabrang. Lelaki tinggi besar seorang yang sangat kaku. Panglima yang keras itu didampingi seorang menteri negara muda yang sangat lihai bernama Adwayabrahma. Sedangkan untuk memimpin pasukan tempur, Kebo Anabrang dibantu oleh Pati prajurit Indrawarman bersama empat puluh bekel prajurit.


Dengan berkhidmat meminta bimbingan dan perlindungan serta berkat dari Mahadewa Siwa. Pada tahun Saka musim sisiria di bulan Asujisima, Prabu Hanacaraka bergelar Sri Maharajadhiraja Kertanagara Wikrama Dharmmotunggadewa, melepas kepergian ekspedisi pamalayu.


---***


Malam menyelimuti gunung Tandikek. Gelap malam lebih berasa pekat karena hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Disebuah palanta didepan sebuah pondok kecil di air terjun lembah Anai tingkat ke lima. Dua orang duduk saling berhadapan dengan diterangi ublik atau lampu togok.


Datuk Aluih Tapa menatap Mandaga yang bersila diam dihadapannya. Pria yang sudah sangat sepuh namun masih tampak seperti berusia empat puluhan. Dia menatap Mandaga dengan rasa kasih yang sangat kentara.


"Besok pagi-pagi sekali kita pergi menuju ngarai sabik di jurang Kerbouwengat." Mendengar ucapan Datuk Aluih Tapa, Mandaga mengangkat wajah melihat pada kakeknya.


"Mau ngapain kita kesana Angguik ?" mata Mandaga melihat kearah Datuk Aluih Tapa penuh selidik. Datuk Aluih Tapa tidak langsung menjawab. Dia mengeluarkan sebuah baju dalam tanpa lengan, bewarna perak dan bersisik.

__ADS_1


"Ini adalah sebuah pusaka langit. Sepertinya terbuat dari kulit nago langik yang dulu menyelimuti dirimu waktu Angguik menemukan mu. Baju ini akan menyesuaikan bentuk dan ukuran dengan tubuhmu. Kehebatan pusaka ini jika sudah kau kenakan, akan menghangatkan tubuh di hawa dingin dan akan menyejukkan tubuh bila hawa panas. Yang lebih hebat, baju pusaka ini menjadikan dirimu kebal senjata tajam." Datuk Aluih Tapa tersenyum lembut pada Mandaga.


"Cobalah kau kenakan" Datuk Aluih Tapa menyodorkan baju pusaka itu kembali. Mandaga melepas bajunya. Setelah baju pusaka itu dikenakan, baju yang tadinya sangat longgar menyesuaikan bentuk dan ukuran Mandaga.


Pemuda itu tiba-tiba merasakan suatu esensi energi murni memasuki tubuhnya. Dia merasa tenaga dalamnya bertambah besar. Hawa hangat dan lembut terasa merambat menyelimuti seluruh tubuhnya. Mandaga merasa jauh lebih fit dan kuat dibandingkan sebelumnya. Dia memakai kembali baju luarnya.


"Jadi... besok mau apa kita ke Ngarai Sabik Angguik ?" Mandaga mengulang pertanyaan awalnya yang belum dijawab oleh Datuk Aluih Tapa. Manusia setengah dewa itu menatap dalam pada Mandaga.


"Panjang sekali ceritanya Daga." Datuk Aluih Tapa diam menghela nafas dalam-dalam.


"Tidak apa Angguik. Kita berdua punya banyak waktu untuk itu." Mandaga menatap Datuk Aluih Tapa dan tersenyum lebar. Datuk Aluih Tapa akhirnya menceritakan semua kejadian sekitar lima belas tahun lalu kepada Mandaga secara detail. Mulai dari bulan kabangan, cahaya keemasan dilangit. Suara gaib dan lain sebagainya.


Mandaga mendengarkan yang diceritakan oleh Datuk Aluih Tapa. Dia tidak menyela saat Datuk Aluih Tapa yang sedang bicara. Mandaga larut dengan pikiran sendiri.


"Kau tidak apa-apa cucuku ?" suara Datuk Aluih Tapa menarik kembali Mandaga dari lamunannya. Pemuda itu menatap Datuk Aluih Tapa dan tersenyum hangat. Rasa sayang di hatinya bertambah besar.


"Baiklah Angguik, besok kita pergi ke Ngarai Sabik. Kalau begitu aku akan istirahat dulu." Mandaga menanggapi gurunya dan masuk kedalam pondok.


Matahari sudah sudah naik sepenggalan. Seorang lelaki setengah baya yang gagah berdiri berdampingan dengan seorang pemuda tampan. Pemuda itu mengenakan pakaian bewarna biru tua. Rambutnya hitam panjang bergelombang menari nari di tiup angin lembah yang cukup kencang.


Mereka adalah Datuk Aluih Tapa dan Mandaga. Keduanya berdiri dipinggir tebing Buatan Sianok, menatap kedinding jurang di seberang Batang Sianok. Pada dinding jurang terlihat ukiran bedang bulan sabit raksasa seperti pusaka Pedang Bulan Sabit yang kini tergantung menempel di punggung Mandaga.


Dikaki jurang, terbentang satu lapangan luas ditutupi rumput dan diselingi beberapa pohon besar. Seperti sebuah taman stepa yang terawat baik. Diujung lapangan dan sejajar dengan ukiran pedang bulat sabit di dinding jurang. Berdiri sebuah rumah panggung yang sangat bagus. Tiang tiang rumah dan lantainya terbuat dari kayu ulin, sedangkan dindingnya dari kayu andaleh. Sebuah suara berat terdengar dari rumah, padahal jaraknya lebih dari satu setengah kilometer dengan Datuk Aluih Tapa dan Mandaga.


"Sampai kapan kalian berdiri disa Aluih Tapa dan Mandaga ?" Datuk Aluih Tapa dan Mandaga kaget, mereka saling berpandangan. Kemudian keduanya melinting menuju pondok seperti terbang. Itu ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, berlari dilipatan angin. Ilmu itu memanfaatkan perbedaan lapisan udara sebagai tumpuan untuk tumpuan lentingan. Untuk menguasai ilmu meringankan tubuh berlari dilipatan udara, harus lebih dulu memiliki kekuatan tenaga dalam dan tenaga bathin yang tinggi.

__ADS_1


Sesaat kemudian mereka berdua sudah berdiri didepan rumah. Pintu rumah yang terbuat dari selembar kayu andaleh utuh itu terbuka sendiri. Suara gaib kembali terdengar.


"Masuklah Aluih Tapa dan kau juga Mandaga." Datuk Aluih Tapa dan Mandaga melangkah masuk kedalam rumah. Dilangkan rumah terbentang sebuah lapiak rotan yang sangat halus buatannya.


"Kalian duduklah" kembali ada suara gaib. Datuk Aluih Tapa dan Mandaga bersila menghadap kearah undakan seperti palanta yang dialas dengan kulit harimau. Senyap terasa setelah Datuk Aluih Tapa dan Mandaga bersila. Begitu hening.


Tiba-tiba muncul sosok dilapisi cahaya menyilaukan. Datuk Aluih Tapa dan Mandaga tidak bisa melihat siapa sosok tersebut.


"Aluih Tapa, tidak salah para dewa memilih dirimu untuk merawat putra langit titisan Mahadewa Siwa. Sekarang kau telah menyelesaikan tugas itu dengan sangat baik. Mahadewa Siwa akan memenuhi satu permintaan mu, apapun itu." Datuk Aluih Tapa menghamparkan sembah kearah sosok dilapisi cahaya menyilaukan itu.


"Apakah kesempatan itu boleh aku gunakan nanti disuatu hari ?" Datuk Aluih Tapa balik bertanya.


"Tentu saja. Kau boleh saja mengajukan permintaan itu jika sudah yakin. Kau harus membaca mantra ini sebelum mengajukan permintaan." Selarik sinar mengenai kening Datuk Aluih Tapa dan sebuah mantra terukir kuat diotaknya.


"Terimakasih dewa..." Datuk Aluih Tapa kembali menghamparkan sembah.


"Mandaga..." suara berat dari sosok berlapis cahaya itu bicara kepada Mandaga.


\=\=\=\=\=***\=\=©


#ublik/lampu togok \= adalah penerangan menggunakan sebuah tempurung kelapa diberi bambu kecil dengan secabik kain yang dinyalakan dengan minyak kelapa.


#lapiak \= tikar atau permadani.


#ngarai Sabik \= jurang sabit, sebuah tempat yang ada di ngarai Sianok.

__ADS_1


__ADS_2