Pandeka Pedang Bulan Sabit

Pandeka Pedang Bulan Sabit
Chapt. 11 Perompak Lamun Kurai


__ADS_3

Ombak berlari berkejaran lalu menghempas di pantai Karan Aur. Mandaga melihat Andam terheran heran melihat ombak yang bergulung-gulung dan berkejaran menuju pantai. Dia menahan ketawa ngakak, menutupi kelucuan itu dengan tersenyum kecil.


Mandaga menyandarkan tubuhnya dipokok kelapa. Membiarkan angin pantai sepoi-sepoi membawa dia ke alam mimpi. Tidak apakah rasa capek atau nyaman terkena angin, Mandaga tertidur pulas.


Andam tersenyum kecil ketika melihat Mandaga tertidur lelap. Tidak lama kemudian Andam ikut tertidur lelap. Gadis cantik rang Kumango bersandar nyaman di pundak Mandaga.


Mandaga terbangun ketika mendengar banyak suara langkah. Dia membuka sedikit matanya. Ada sekitar dua puluh orang mengitari mereka.


"Ajo Kaciak, sebaiknya kita ikat lalu bawa mereka ke markas. Tampaknya mereka lalok lamak." Seorang diantara mereka bicara dengan suara pelan. Seorang berbaju hijau dengan sarawa galembong alias celana pangsi menanggapi.


"Boleh juga kau Budui, tapi jika gadis secantik ini tidak kita garap dulu...?!" dia meleletkan lidah nya. Seorang pria tetapi bertubuh kecil berkata dengan suara ditahan namun penuh tekanan. Dia adalah orang yang dipanggil dengan Ajo Kaciak oleh yang lain.


"Diam kalian semua. Tangkap mereka dan ikat yang kuat." Semua orang itu diam dan mulai melakukan perintah pria bertubuh kecil. Tampaknya pria kecil itu adalah pemimpin rombongan. Tidak salah, pria kecil itu adalah Badai orang ketiga dari lima pemimpin Perompak Lamun Kurai yang sangat ditakuti diperairan laut Piaman. Markas Perompak Lamun Kurai berada di Batang Tajongkek sebuah kawasan rawa pantai yang banyak ditumbuhi bakau dan rumbia. Lokasi yang tersembunyi, tapi memiliki akses khusus menuju laut lepas.


Hanya ada satu jalur untuk menuju markas Perompak Lamun Kurai. Melewati jalur sungai, diluar itu jalur lain hanya bisa dilewati pendekar utama keatas. Itu artinya pendekar puncak, pendekar menengah, awal dan dasar tidak akan bisa melewati jalur selain jalur sungai. Pemimpin gerombolan Perompak Lamun Kurai berada ditingkat utama sampai tingkat bumi.


Tingkatan dalam dunia persilatan di Nusantara saat itu terbagi atas :


- Tingkat dasar, ini adalah level paling rendah. Ini adalah tingkatan orang-orang yang baru belajar silat.


- Tingkat awal, suatu tingkat dimana para pendekar mulai mengenal tenaga dalam. Tingkat ini kebanyakan menjadi prajurit dikerajaan atau dikadipaten dan nagari.


- Tingkat menengah adalah tingkatan dimana seorang pendekar mulai mengukir nama mereka di rimba hijau dunia persilatan.


- Tingkat puncak


- Tingkat utama


- Tingkat bumi, disini seorang pendekar mulai belajar menghimpun tenaga bathin.


- Tingkat langit, ini adalah tingkatan tertinggi seorang pendekar. Butuh waktu puluhan tahun menempa diri untuk bisa mencapai tingkatan ini. Sehingga kalau tidak seorang jenius sejati tidak akan bisa mencapai pada tingkat ini.


Setiap tingkatan juga dibedakan lagi atas tiga lapisan yaitu lapisan perak, emas dan intan. Sebetulnya masih ada satu tingkatan lagi yaitu Tingkat Legenda. Ini adalah tingkatan manusia setengah dewa. Sampai saat ini di pulau Perca atau Suvarnabhumi hanya ada satu orang yaitu Datuk Aluih Tapa.


Kembali ke Mandaga dan Andam Dewi.


Empat orang anggota perompak bergerak perlahan untuk menangkap Mandaga dan Andam. Ketika mereka mulai menerkam, tiba-tiba


Plak...! Dughh...!

__ADS_1


Buagh...! Plak...! Ugh...!!


Aduuuh...!!


Keempat anggota perompak terpelanting berguling teriak kesakitan. Mandaga bergerak sangat cepat menghajar para perompak. Pemuda itu berdiri gagah didepan Andam. Gadis cantik itu terbangun, dia melihat bintang-bintang bertaburan dilangit ketika pertama membuka matanya. Ketika melihat banyak bayangan orang terlihat, Andam langsung berdiri disamping Mandaga.


Mandaga menatap Badai. Meski paling kecil, semua orang yang mengepung patuh pada perintah nya.


"Siapa kau...! Kenapa kalian menyerang kami ??!!" Mandaga bertanya dengan suara lantang. Badai tertawa dan menunjuk pada Mandaga dan Andam.


"Ha haa haa haaa.... kamilah Perompak Lamun Kurai yang sangat ditakuti. Aku adalah Badai, pimpinan ketiga Perompak Lamun Kurai. Nasib kalian memang lagi sial, harus bertemu kami disini.


Kau boleh meninggalkan tempat ini setelah meninggalkan semua harta mu, termasuk supiak kamek ko." Mandaga tersenyum kecil.


"Hanya ikan bada seperti kalian mau menyerang kami. Aku hitung sampai tiga, jika kalian tidak segera minggat. Kalian semua akan jadi mayat tak berkubur. SATU." Mandaga mulai menghitung. Badai jadi sangat marah. Tidak pernah ada orang ataupun kelompok yang berani melawan mereka selama. Bahkan Yang Dipertuan nagari Rantau juga tidak berani melawan mereka.


Maharaja Mauli Warmadewa tidak pernah memberi perhatian pada daerah rantau. Pelayaran perdagangan dan lainnya selalu melewati perairan pantai timur pulau Perca atau Suvarnabhumi. Pantai barat terlalu luas dan terbuka. Sangat jarang dilayari kapal dagang. Karena itu wilayah pantai cenderung menjadi sarang perompak.


"Dua...!!" terdengar suara keras Mandaga meneruskan hitungan. Anak buah perompak melihat kearah Badai menunggu perintah. Badai mencabut sepasang Piarik pusaka miliknya.


"Maka kau harus mat..."


Whuiiingg....!! Ngiiiiiingg...!!


Crassz...! Crack...! Crassz...!


Crack...! Crack...!


Enam buah kepala jatu dari tempatnya, menggelinding di atas pasir. Semua anggota perompak yang masih hidup menatap ngeri mayat teman temannya yang tanpa kepala.


"Bunuh mereka !!" Badai berteriak keras. Tapi anak buahnya berjatuhan satu demi ditangan Mandaga. Bukan suatu pertarungan sengit yang berujung kematian. Tapi pembantaian.


Pertarungan terjadi antara empat perompak melawan Andam. Menggunakan jurus jurus sakti dari perguruan silat nagari Kumango. Andam melakukan serangkaian serangan rendah. Pedangnya berkilau menebas sangat cepat. Dua orang anak buah perompak berteriak kesakitan.


Zhiiiiingg...!


Aach...!! Aaaachhh...!!


Dua anak buah perompak itu jatuh terjelepok dipasir. Otot paha mereka sobek sampai ke tulang paha. Darah merah mengalir deras membasahi pasir dibawah mereka.

__ADS_1


Badai memutar piarik pusaka nya. Pria bertubuh kecil itu melenting dan menukik. Piarik pusaka menusuk lurus kearah jantung dan menebas leher Mandaga. Pedang Bulan Sabit melintas mementahkan serangan piarik. Tendangan mandayuang yang dilepaskan Mandaga menghatam ulu hati Badai.


Buaghhh...!! Uugh...!!


Badai terlempar keatas dan batuk darah. Mandaga melesatkan kembali Pedang Bulan Sabit.


Whuiiingg...! Ngngiiiieeng...!


Crack...! Crassz...!


Empat kepala lagi jatuh diatas pasir.


Mandaga melesat keatas menjemput tubuh Badai yang masih mengang.


Baaangg...!!


Pukulan sangat keras Aia mabusek dari bumi dengan telak menghantam dada Badai. Mata pria bertubuh kecil itu melotot, dia terbatuk tertahan. Piarik ditangannya terlepas, jatuh keatas pasir. Seiring dengan itu nyawanya yang lari ke akhirat. Tulang dada Badai remuk dihantam pukulan Mandaga.


Andam berputar dan bergerak zig zag. Pedangnya berputar dan meliuk, lalu membuat hujan seratus menusuk lurus kearah lawan. Dua orang anggota perompak yang masih tersisa dihadapannya mati dengan lobang pada bagian jantung dan leher.


Sisa lima orang lagi langsung membuang senjata dan bersujud.


"Ampun Tuan, kami menyerah. Kami tidak tau apa-apa." Andam berteriak memanggil lima orang prajurit yang sedang ronda keliling. Begitu mendengar teriakkan Andam, lima prajurit itu sigap berlari kearah Andam.


"Ada apa Nona ?!" seorang prajurit bertanya, tapi kemudian mereka tertegun melihat banyak mayat tanpa kepala.


"Mereka adalah perompak Lamun Kurai..." Andam lalu menjelaskan semua yang telah terjadi. Komandan prajurit jaga yang kebetulan ikut menyuruh anak buahnya melaporkan pada Yang Dipertuan nagari Rantau Piaman.


Mereka lalu mengikat kelima anggota perompak Lamun Kurai yang tersisa. Menggiring mereka menuju rumah Sutan Muniang raja kecil nagari Rantau Piaman atau secara umum disebut Yang Dipertuan nagari Rantau Piaman.


"Silahkan Tuan dan Nona pendekar." Kiman komandan prajurit mengajak Mandaga dan Andam.


\=\=\=\=\=***\=\=©


#sarawa \= celana


#galembong/pa*ng***si \= celana lebar yang biasa dipakai oleh pesilat Minang


#ikan bada \= okan teri

__ADS_1


__ADS_2