Pandeka Pedang Bulan Sabit

Pandeka Pedang Bulan Sabit
Chapt. 5 Hari Pertama Petualangan


__ADS_3

Tiba-tiba rasa rindu bergayut dihati pemuda gagah itu. Mandaga menghela nafas dalam-dalam, perlahan dia berbalik. Pemuda itu menotol tanah dengan ujung sepatu nya lalu melenting dalam sekejap menghilang.


Menjelang siang, Mandaga mulai melangkah dengan pelan ketika melihat sebuah gapura. Sesaat kemudian dia memasuki gapura yang tidak ada penjaganya.


Mandaga melihat orang ramai berlalu lalang. Ia merasa kagum melihat orang begitu banyak disuatu tempat. Dia yang selama ini berada sangat jauh dari keramaian, sangat heran melihat orang begitu banyak. Mandaga juga melihat banyak sekali bangunan berjejer sepanjang jalan.


Ketika melihat sebuah kedai, Mandaga mencium aroma makanan yang enak. Dia lalu menuju kedai dan langsung memasukinya. Anak gadis pemilik kedai yang lumayan manis menyambut didepan pintu kedai.


"Selamat datang Tuan Muda, silahkan masuk" ucapnya sambil membungkuk dan tersenyum. Melihat pemuda gagah yang berpakaian mahal Gadis itu berfikir pemuda itu pastilah seorang bangsawan. Meskipun model pakaian nya agak berbeda, namun pemuda itu terlihat tampan dan gagah.


Gadis itu langsung mengantar Mandaga menuju kesebuah meja kosong, yang ada agak di belakang.


Ada sebuah jendela besar yang memberi kesempatan pengunjung yang menempati meja itu bisa menikmati pemandangan diluar.


"Mau pesan apa Tuan Muda?" gadis itu bertanya dengan suara yang lembut.


"Hmm... apa masakan yang terkenal di kedai ini ?" Mandaga bertanya pelan.


"Itiak lado hijau Tuan Muda" katanya.


"Ya... saya pesan itiak tiga potong dan sayuran jangan lupa ya..."


"Baik, tunggu sebentar Tuan Muda" ucap gadis itu. Mandaga mengangguk dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kedai yang lumayan besar. Ada sekitar dua belas meja. Hampir semua meja penuh dengan pengunjung. Mandaga kemudian memandang keluar jendela. Dia melihat berbagai kesibukan diluar sana. Saking asiknya melihat-lihat pemuda itu tidak menyadari seseorang telah berdiri didepan meja yang dia tempati.


"Maaf, saya lihat kursi ini masih kosong. Jika tidak ada orang lain yang Anda tunggu, boleh saya duduk disini ?" Terdengar suara seorang gadis bertanya. Mandaga mengangkat wajahnya. Dia melihat seorang gadis cantik, berkulit halus kuning langsat. Berpakaian serba merah dan sebuah kerambit yang hulunya terbuat dari gading. Gadis itu mengenakan caping lebar untuk menyembunyikan wajah cantiknya. Mungkin juga untuk menghindari sinar matahari.


"Oh... silahkan Nona. Saya hanya sendiri" Mandaga agak buru-buru menjawab dan tersenyum ramah. Gadis menarik sedikit bibirnya yang merah mungil. Dia duduk dan meletakkan pedangnya diatas meja setelah mengangguk.


Anak gadis pemilik kedai datang membawa pesanan Mandaga dan menatanya diatas meja. Tiga potong itiak lado hijau, sepiring goreng baluik masiak balado, anyang bungo kaliki jo pucuak kaliki. Gadis itu juga menaruh kendi tembikar dan gelas bambu.


Kemudian gadis itu melihat kearah nona berpakaian serba merah dan bertanya.


"Nona apakah sudah pesan ?"

__ADS_1


Gadis cantik berpakaian serba merah itu menggeleng dan berkata.


"Saya pesan itiak lado hijau bagian paha dan telur dadar. Sayurnya anyang bunga bawang saja." Gadis itu membuat pesanan untuk dirinya. Anak gadis pemilik kedai segera berbalik untuk mengambil pesanan nona berpakaian serba merah. Sesaat kemudian dia kembali membawa pesan dari nona berpakaian merah. Gadis itu heran melihat Mandaga belum menyentuh makanan miliknya. Anak gadis pemilik kedai itu bertanya dengan heran.


"Maaf, kenapa makanan anda belum tersentuh Tuan Muda ?" Mandaga tersenyum kecil dan bertanya.


"Tidak apa. Oh ya, boleh saya bertanya nama koto ini ?" Anak gadis pemilik kedai menatap Mandaga dan tersenyum.


"Nagari ini namanya Koto Gadang. Maaf saya lihat Tuan Muda bukan orang sini ya ?"


"Terimakasih" jawab Mandaga sambil menggeleng.


"Mari makan Nona..." ucap Mandaga kepada gadis di depannya, setelah anak gadis pemilik kedai meninggalkan mereka. Mandaga mulai menyuap makanannya. Mata Mandaga membulat lalu terpejam. Rasa enak gurih dan lezatnya masakan itiak lado hijau memenuhi rongga mulutnya. Ia menggigit lagi daging itiak lado hijau. Ketika mengunyah goreng baluik masiak, Mandaga kembali dikejutkan oleh cita rasa yang mengejutkan. Tanpa sadar makanan yang sudah dipesan ludes, tandas dengan cepat.


Diam-diam gadis berpakaian merah didepannya mengintip cara makan Mandaga yang tampak sangat bersemangat. Dia tersenyum kecil sambil menikmati makanan miliknya.


Disebuah perguruan silat khusus di nagari Kumango diluhak nan tuo, Luhak Tanah Datar. Datuak Kumango Nan Sati guru besar perguruan silat nagari Kumango, menatap dalam kepada murid-muridnya. Mereka berkumpul terkait surat dari Maharaja Mauli Warmadewa yang diterima oleh Datuak Kumango Nan Sati dua hari lalu.


Isi surat itu meminta kepada perguruan silat besar dinagari Kumango untuk mengirimkan sekitar seratus sampai tiga ratusan orang murid untuk menjadi prajurit kerajaan. Permintaan terkait dengan rencana akan datangnya utusan dari Prabu Hanacaraka penguasa kerajaan Singosari.


Masalah ini cukup rumit. Datuak Kumango Nan Sati tidak ingin sebenarnya ikut terlibat dalam urusan kerajaan yang terlalu banyak intrik. Guru besar perguruan silat nagari Kumango itu tiba-tiba teringat putrinya Andam Dewi yang sedang menjalani misi perguruan. Kalau ada putrinya tidak terlalu sulit bagi Datuak Kumango Nan Sati untuk mengambil sebuah kebijakan. Putrinya Andam Dewi adalah seorang pendekar wanita yang sangat cerdas.


Gadis berpakaian serba merah sudah menyelesaikan suap terakhirnya. Pelan gadis itu meneguk minumannya. Kemudian dia menatap Mandaga penuh selidik.


"Maaf, apakah Anda seorang pendatang baru ?" gadis itu bertanya kepada Mandaga. Pemuda tampan itu segera berdiri menangkupkan kedua tangannya di dada memberi hormat.


"Betul Nona, Aku Mandaga. Ini hari pertama kalinya aku meninggalkan Angguik ku." Mandaga menjawab pertanyaan gadis cantik di depannya. Gadis itu tersenyum kecil.


"Oh ya, Aku Andam Dewi dari sebuah perguruan silat di nagari Kumango. Nagari Kumango termasuk kedalam wilayah Luhak Tanah Datar." Gadis cantik berpakaian serba merah itu menyebutkan nama dan asalnya kepada Mandaga. Gadis cantik berpakaian merah itu ternyata Andam Dewi, putri tunggal Datuak Kumango Nan Sati. Gadis itu kembali bertanya kepada Mandaga.


"Siapa Angguik mu, dan apa rencana mu selanjutnya ?"


Sebelum Mandaga sempat menjawab, para pengunjung tampak terburu buru pergi meninggalkan rumah makan.

__ADS_1


Mandaga melihat kearah pintu masuk rumah makan. Dia melihat lima orang berpakaian hitam merah dengan tampang sangar memasuki rumah makan. Dipinggang mereka masing-masing terselip sebuah golok. Uniknya kepala gagang golok mereka ada ukiran tengkorak.


"Kelompok parewa golok setan", Andam Dewi mendesis pelan. Mandaga hanya diam tidak mengerti kelompok itu. Hanya instingnya merasakan bahwa kelima orang itu bukan orang baik.


Para pengunjung yang pergi meninggalkan meja mereka melirik kearah Mandaga dan Andam Dewi. Mereka merasa heran melihat muda mudi itu tidak bergeming dari meja mereka. Mereka merasa lebih kasihan, melihat parewa golok setan menuju meja muda mudi itu.


"Anak muda, ini adalah meja yang selalu kami pakai kalau kami datang. Kau boleh pergi kali ini, asal Supiak kamekko tinggal menemani kami." Pria bertubuh besar berjambang awut-awutan berkata kepada Mandaga. Gayanya sungguh sangat sombong dan sengak. Mandaga tidak menggubris pria itu. Dia bertanya kepada Andam Dewi seolah tidak ada yang berkata kepadanya.


"Andam... apakah kau juga mendengar ceracauan baruak barusan ?" Andam Dewi menutup mulutnya, menahan cekikikan mendengar pertanyaan Mandaga.


"Hai tumbuang baruak !! kau tau siapa yang sedang bicara dengan mu ??! Aku adalah Parewa setan guriang seorang pemimpin tingkat tiga dari Gerombolan Parewa Golok Setan, ia berkata dengan nada bangga.


Parewa Golok Setan setan merupakan sebuah kelompok penjahat besar yang sangat terkenal di luhak Agam. Koto Gadang merupakan nagari yang termasuk kedalam wilayah Luhak Agam. Tentu saja kelompok ini sangat ditakuti.


"L a l u....??" Mandaga bertanya dengan nada suara mengayun.


Parewa Setan Guriang heran, lalu pria besar itu tertawa keras. Ia berteriak lantang dan mengayunkan golok besarnya kepada Mandaga.


"Mati...!!"


\=\=\=\=\=***\=\=©


#itiak \= bebek sawah


# itiak lado hijau \= bebek dimasak dengan bumbu cabe muda


#Baluik masiak balado \= belut goreng kering dikasih sambal merah.


#parewa \= Preman atau penjahat


#supiak kamekko \= gadis cantik ini


#baruak \= jenis beruk atau kera yang digunakan untuk memetik kelapa.

__ADS_1


#tumbuang \= pantat atau ekor


#tumbuang baruak \= pantat beruk


__ADS_2