
Angin menderu kencang dan bersuitan. Bayangan pedang dan golok memburu bagian tubuh vital Pandeka Pedang Bulan Sabit.
Zuiiingg...!! Zreeengg...!!
Mandaga menahan serangan Rajo Geleang dan Hiu Setan wakilnya. Mandaga berputar dan tumitnya menghantam lambung Hiu Setan.
Buuagh...!! Heek...!!
Hiu Setan meringkuk dan terjajar mundur tiga tombak. Ia meludah membuang darah memenuhi rongga mulutnya.
Rajo Geleang merasa tangan nya yang memegang golok tergetar hebat. Dia tidak ingat mimpi apa semalam, sehingga hari ini mendapat lawan yang sangat berat hari ini.
Dewi Merah Kumango terus menghadapi seratusan orang anggota perompak Lamun Kurai. Perlahan gadis cantik itu mulai terdesak. Puluhan anggota perompak sudah tewas ditangannya. Andam Dewi mulai merasa kecapean. Beberapa luka ringan sudah terukir di tubuhnya. Melihat hal itu Rajo Geleang tertawa.
"Ha ha ha... Pandeka Pedang Bulan Sabit, sebaiknya kau menyerah. Atau kekasih mu akan mati sia-sia disini !?" Namun rasa senang itu hilang dalam waktu sangat singkat.
Pada saat itu pula Palimo Kumbang dan delapan orang Pandeka memasuki arena pertarungan.
"Dewi Merah, istirahatlah kami akan membereskan mereka." Palimo Kumbang bersama delapan pandeka menyerang semua anggota perompak Lamun Kurai. Dalam waktu singkat semua dibabat habis mereka. Palimo Kumbang bertemu dengan wakil ketua kedua Hiu Macan.
"Sudah saatnya bagi kalian untuk mengakhiri perjalanan karir kalian didunia ini. Bersiaplah untuk bertemu penjaga neraka." Mandaga menatap tajam kepada Raja Geleang dan Hiu Setan. Kedua pentolan utama perompak Lamun Kurai saling pandang.
"Pandeka Pedang Bulan Sabit, kami akan mengadu nyawa dengan mu !!" Raja Geleang berteriak keras dan menerjang kearah Mandaga. Hiu Setan segera menyusul dengan serangan mematikan.
Mandaga menatap kasihan kepada Raja Geleang dan Hiu Setan. Dia berkelebat bagai kilat, pedang Bulan Sabit berdengung menderu. Raja Geleang dan Hiu Setan tersentak karena Pandeka Pedang Bulan Sabit hilang.
Zhiiiiingg...!!
Craasssh...!! Craakk...!!
__ADS_1
Aaaaahh...!!
Jeritan pilu terdengar, keluar dari mulut Raja Geleang. Pria itu terhempas kebelakang dengan dada koyak besar. Ketua perompak Lamun Kurai yang selama ini merupakan orang terkuat di nagari Rantau Piaman tewas.
Tidak berbeda jauh dengan Raja Geleang, Hiu Setan juga terlempar ke belakang dengan perut robek. Dia mencoba untuk bangkit. Pandeka Pedang Bulan Sabit sudah ada disampingnya. Pedang Bulan Sabit meraung dan memotong leher orang kedua perompak Lamun Kurai.
Craakk...!!
Hiu Setan mati dengan tubuh dan kepala terpisah. Malam itu Perompak Lamun Kurai benar-benar sial. Sudah lima belas tahun mereka malang melintang diperairan Piaman, akhirnya mereka hancur tertumpas.
Palimo Kumbang berteriak diikuti oleh delapan pandeka menyambut kemenangan ini. Walaupun sebagian dari mereka mengalami luka-luka, namun tidak ada korban jiwa.
"Pandeka Pedang Bulan Sabit dan Dewi Merah, terimakasih ini benar-benar kemenangan luar biasa." Mandaga hanya tersenyum mendengar Palimo Kumbang. Pemuda tampan itu melangkah kearah Andam setelah berkata kepada Palimo Kumbang.
"Palimo Kumbang, mungkin anda bersama delapan pandeka membebaskan tawanan jika ada. Juga anda bisa memeriksa gudang harta perompak sebelum tempat ini kita bakar dan tinggalkan." Palimo Kumbang bergegas mengajak delapan pandeka untuk melakukan perkataan Pandeka Pedang Bulan Sabik.
"Gimana keadaan mu Andam, apa ada luka yang agak parah ?"
"Tidak usah bangun dulu, biar aku obati dulu lukamu." ucap Mandaga melihat Andam mau bangkit. Pria itu memberikan sebutir pil yang langsung ditelan Andam. Lalu Mandaga mengoleskan semacap salep pada luka di tubuh Andam.
Selesai mengobati Andam, Palimo Kumbang dan delapan pandeka kembali dengan sepuluh tawanan yang semua perempuan.
"Pandeka Pedang Bulan Sabit, tidak banyak harta mereka simpan disini. Hanya ada dua ribu keping emas dan tiga ribu keping perak. Itu saja." Palimo Kumbang menjelaskan.
"Berikan kepada setiap tawanan itu masingmasing lima puluh keping emas dan seratus keping perak. Sisanya anda bagi saja dengan delapan pandeka." Mandaga merespon laporan Palimo Kumbang. Palimo Kumbang menatap Pandeka Pedang Bulan Sabit agak lama.
"Bagian anda dan nona Dewi, Pandeka ?" Mandaga senyum sambil menarik Andam Dewi berdiri.
"Ayo bakar tempat ini dan kita kembali ke kediaman Sutan Muniang." Mandaga mengajak mereka meninggalkan sarang perompak Lamun Kurai.
__ADS_1
Menjelang pagi mereka tiba dikediaman Yang Dipertuan nagari Rantau Piaman. Cukup orang berkumpul disana. Mereka semua batanggang menunggu Pandeka Pedang Bulan Sabit dan Dewi Merah Kumango beserta Palimo Kumbang dan delapan pandeka. Tiba-tiba seorang diantara mereka berteriak.
"Itu...! Itu mereka sudah kembali."
Semua orang langsung berdiri dan beberapa orang bergegas keluar. Mereka menyambut kedatangan rombongan Pandeka Pedang Bulan Sabit.
Semua orang memberi jalan ketika Yang Dipertuan nagari Rantau Piaman, Sutan Muniang keluar.
Semua orang bersorak riang gembira. Semua senang dan memuji Pandeka Pedang Bulan Sabit dan Dewi Merah Kumango. Nama kedua pendekar muda itu langsung menjadi buah bibir.
Tawanan yang ikut kekediaman penguasa nagari Rantau Piaman, beristirahat sementara. Ketika matahari naik sepenggalan, mereka dipulangkan kerumahnya masing-masing. Sementara Mandaga dan Andam Dewi beristirahat di kamar mereka masing-masing.
Malam harinya, diadakan jamuan makan besar dimedan nan bapaneh nagari. Acara menyambut kebebasan mereka dari tekanan perompak Lamun Kurai. Hampir semua warga nagari Rantau Piaman hadir dan bergembira malam itu. Acara paling meriah yang pernah ada nagari Rantau.
Dua hari kemudian, Mandaga dan Andam Dewi pamit pada Sutan Muniang. Mereka akan segera melanjutkan perjalanan menuju nagari Kumango. Sutan Muniang memberikan dua ekor kuda terbaik yang ada di nagari Rantau Piaman. Kuda itu bewarna coklat dan terlihat sangat gagah. Andam Dewi langsung jatuh hati melihat kuda kuda itu. Pelana kedua kuda itu juga sangat bagus. Andam membelai kepala kuda dan meraih tali kekangnya.
Penguasa nagari Rantau Piaman juga memberikan dua kantong yang masing-masingnya berisi lima ratus keping emas. Mandaga dan Andam Dewi menerima kuda tapi menolak dua kantong berisi kepingan emas.
"Jangan menolaknya Pandeka Pedang Bulan Sabit dan Dewi Merah. Kantong emas ini sudah kami sediakan jauh sebelum anda datang. Paling tidak ini bisa menjadi dana cadangan anda berdua diperjalanan." Akhirnya Mandaga dan Andam Dewi menerimanya. Setelah saling memberi penghormatan, Mandaga dan Andam Dewi menunggangi kuda kuda itu meninggalkan nagari Rantau Piaman.
Sore hari, terlihat dua orang penunggang kuda memasuki desa Ladang Laweh. Kedua penunggang kuda itu, menuju ke penginapan yang ada rumah makannya. Seorang pemuda pelayan menyambut mereka.
"Selamat Tuan dan Rangkayo. Apakah anda singgah untuk makan atau menginap ?" Mandaga dan Andam Dewi melenting dari kuda mereka.
\=\=\=\=\=***\=\=©
#batanggang \= begadang semalaman
#Medan nan baneh \= sebuah lapangan serbaguna yang ada disebuah nagari.
__ADS_1
#Rangkayo \= panggilan kehormatan untuk seorang wanita.