Pandeka Pedang Bulan Sabit

Pandeka Pedang Bulan Sabit
Chapt. 9 Menuju Nagari Rantau 2


__ADS_3

"Kami pesan gurame bakar dan ayam gulai korma. Juga tambunsu isi telor dan babek gulai." Andam memesan makanan untuk mereka.


Tidak lama pelayan rumah makan datang membawa pesanan mereka bersama sebakul nasi hangat dan uwok taruang jo samba lado tanak. Ketika makan tambunsu isi telor, mata Mandaga melotot lalu terpejam. Mulutnya berdecam decam menikmati rasa yang sangat unik.


"Enak ya ?" Andam tersenyum lebar menatap Mandaga.


"Mmm... mm." balas Mandaga sambil mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.


Lagi enak-enaknya makan, tiba-tiba masuklah lima orang dengan gaya tengik. Seorang pemuda tampan dengan empat orang pengawal. Dari pakaiannya terlihat dia pasti seorang dari keluarga kaya dan berkuasa. Setelah mengedarkan pandangan, dia melangkah pasti kearah Andam.


Tangan pemuda itu dengan santai memegang lengan Andam.


"Ayo Kamek, kau lebih baik menemani aku di maj..."


Zuiiingg...!! Craasssh...!!


Aaaachhh...!!


Andam menggunakan kerambit yang selalu terselip dipinggangnya menebas tangan jahil pemuda itu. Pemuda tampan itu menjerit keras, darah memancur dari lengannya yang terluka lebar dan dalam. Pemuda tampan itu memukul Andam dengan keras.


Buaghhh...!! Uuugh...!!


Bukan Andam Dewi yang kena tapi pemuda itu terpental dan memuntahkan seteguk darah karena tendangan Andam yang diisi sedikit tenaga dalam menghantam lambung nya.


"Keparat... Kau harus mati disini jangak !!" Pemuda itu berteriak marah.


"Bunuh dia !!" dia memberi perintah kepada pengawal yang menjaganya. Empat pengawal itu langsung maju menyerang Andam.


Aduuuh...!!


Aaachhhh...!!


Dua orang pengawal terpental dan bergulingan. Seorang pengawal menjerit karena pipi nya ditembus tulang ikan gurame. Yang satu lehernya sobek tidak terlalu dalam oleh tulang penutup insang ikan gurame.

__ADS_1


Andam menahan tebasan dan bacokan golok dengan kerambit ditangannya.


Traaakk....!! Trangg...!!


Duuukk...!!


Tumit Andam bersarang telak didada seorang pengawal. Dia langsung bedebam jatuh dan membuang ludah bercampur darah.


Pemuda tampan itu berbalik meninggalkan rumah makan.


"Aku akan membalas kalian...!!" dia berteriak dan meninggalkan rumah makan. Andam kembali duduk dimeja didepan Mandaga. Gadis itu kembali makan seakan akan tidak terjadi apa-apa.


"Apakah ditiap rumah makan gangguan seperti ini selalu terjadi ??" Mandaga bertanya agak sedikit bingung kepada gadis cantik didepannya.


"Mestinya siih tidak. Ini pasti kebetulan saja." Andam Dewi berfikir dalam hati. Apakah Mandaga benar-benar o on begitu masalah hubungan pria dan wanita ? Gadis nagari Kumango itu benar-benar tidak habis pikir.


Sebetulnya Mandaga bukan tidak tau apa itu hubungan pria dan wanita. Dia juga bukan tidak tau, jika gadis cantik didepannya telah jatuh hati padanya. Saat ini pemuda gagah itu belum mau terikat dengan urusan begituan. Ada tugas langit yang harus dia pikul. Hanya saja sampai saat ini dia belum tau bentuk tugas yang harus dia pikul.


Dikiri dan kanannya berdiri dua orang pendekar kelas menengah. Tampak gagah dan berjiwa pendekar dari golongan putih. Dibelakang mereka berbaris rapi sepuluh orang prajurit dengan senjata lengkap. Pemuda itu adalah tuan muda nagari Padang Panjang. Putera tunggal dari Datuk Sinapa. Yang Dipertuan nagari Padang Panjang agak memanjakan Binuang putra tunggalnya. Karena Binuang sudah ditinggal mati oleh ibunya semenjak kecil.


"Maaf Nona muda, apa benar kamu yang melukai putra ku ?" Datuk Sinapa bertanya dengan ramah. Datuk Sinapa tidak ingin ada silang sengketa dengan orang-orang rimba persilatan. Dia dulunya juga seorang pendekar yang cukup terkenal di daerah darek. Jadi dia juga mengerti dengan tabiat orang rimba persilatan.


Melihat sikap Datuk Sinapa yang ramah dan rendah hati, Andam Dewi dan Mandaga menjadi respek.


"Sebetulnya tidak akan ada masalah karena kami tidak saling mengenal. Hanya saja pemuda itu tiba-tiba datang dan berbuat tidak senonoh kepada ku. Karena itu aku memberinya sedikit pelajaran" Andam Dewi mencoba untuk menjelaskan. Ada sedikit rasa tidak puas dalam hati Datuk Sinapa mendengar jawaban Andam Dewi.


"Apakah karena sedikit salah Nona sampai hati melukai nya demikian parah ? Jika tidak tertolong tepat waktu, tentu tangannya akan lumpuh." Andam Dewi tersenyum kecil. Dia menatap tajam kepada Datuk Sinapa.


"Karena itu aku hanya melukai pemuda itu sedikit, kalau tidak pasti nyawa sudah tidak lagi ada ditubuhnya."


"Gadis sombong, kau rasakan ini !" seorang dari pendekar pengawal Datuk Sinapa menyerang Andam. Gadis itu berkelit sedikit dan serangan dari Limin lewat disisinya. Andam menyambar pedang miliknya dan melenting ketengah ruangan.


Pertarungan segera pecah. Namun Limin belumlah bisa melawan Andam. Pada saat pertarungan dijurus ketiga, pundak Limin robek lumayan dalam dibesut pedang Andam. Gurin segera maju membantu Limin. Setelah ada bantuan, pertarungan jadi lebih seimbang.

__ADS_1


"Berhenti !!" tiba-tiba suara menggelegar menyebabkan pertarungan terhenti. Semua mata melihat kepada pemuda yang duduk bersama Andam, tadinya.


"Tuan..." pemuda itu berkata kepada Datuk Sinapa.


"Aku melihat engkau seorang yang baik. Kenapa kau biarkan mereka bertarung ?" Datuk Sinapa menatap sangat tajam kepada Mandaga.


"Tidak usah ikut campur anak muda. Atau kau juga akan dihajar habis-habisan oleh para prajurit ku ?" Mendengar jawaban Datuk Sinapa yang kasar Mandaga tersenyum kecil. Hatinya mulai kesal.


"Kau tau orang tua ? Kurang dari satu jurus, kedua jagoan mu akan mati ditanganku ! Jangan pernah mengancam aku" suara Mandaga menjadi sangat dingin.


"Sombong, kau terima in.." Kalimat Datuk Sinapa belum selesai terucap. Terdengar suara dengung bercericit.


Whuiiingg...!!


Crack...!! Craasssh...!!


Kepala kedua pendekar tingkat menengah itu jatuh manggelinding di lantai rumah makan. Darah memuncrat deras dari batang lehernya yang tertebas putus.


Datuk Sinapa menjadi pucat. Dia juga seorang pendekar menengah yang hampir naik jadi pendekar utama. Datuk Sinapa tidak melihat apapun, hanya bayangan bulat seperti bulan dan suara mendengung. Tahu-tahu kepala kedua pendekar yang jadi pengawal pribadinya menggelinding di lantai.


Datuk Sinapa bukannya orang yang tidak punya otak. Dia segera menyadari telah memprovokasi orang yang salah. Datuk Sinapa buru-buru menjura hormat.


"Maafkan kami pendekar, mohon maafkan kami." Binuang juga kaget dan takut setengah mati. Dia malah berlutut dilantai memohon maaf.


"Jangan minta maaf pada ku. Kalian harus minta maaf pada gadis itu. Jika dia memaafkan maka urusan ini selesai sampai disini." Mandaga menunjuk kearah Andam Dewi. Datuk Sinapa memberi hormat dan mohon maaf kepada Andam. Gadis cantik yang memang pada dasarnya adalah orang baik. Menerima permohonan maaf dari Datuk Sinapa.


"Kami juga mohon maaf dan kerelaan Datuk" Andam balas menjura kepada Datuk Sinapa.


"Ayo kita pergi,..." Mandaga meraih tangan Andam Dewi dan berkelebat menghilang dari kedai makan.


\=\=\=\=\=***\=\=©


#jangak \= perempuan tidak benar.

__ADS_1


__ADS_2