
"Mandaga..." suara berat dari sosok berlapis cahaya itu bicara kepada Mandaga. Pemuda tampan itu melihat kearah sosok yang dilapisi oleh cahaya, mengangguk dan menghamparkan sembah. Tidak ada suara apapun yang keluar dari mulut Mandaga.
"Kau adalah titisan Mahadewa Siwa, terlahir dari rahim wanita suci dari tanah Melayu. Ibumu meninggal setelah melahirkan dirimu." Mandaga diam mendengar dengan khidmat. Hanya matanya rebak dilapisi kaca bening. Pemuda itu menundukkan kepalanya, diam mendengar.
"Mahadewa Siwa telah mengangkat jiwa ibu ke istana langit. Sedangkan engkau sejak dalam kandungan, telah memikul tugas mulia ditanah Melayu ini." Mandaga mengangkat kepalanya menatap kepada sosok yang masih tetap dilapisi cahaya menyilaukan.
"Boleh aku tau siapa engkau wahai utusan Mahadewa ? Jika suatu hari aku ingin lagi bertemu dengan mu, bagaimana cara aku bisa menghubungi mu ?" Mandaga bertanya dengan serius. Sosok cahaya itu berbinar sejenak. Terdengar suara dengan nada sedikit berbeda.
"Aku adalah Parameswara. Jika kau suatu waktu merasa benar-benar sangat ingin bertemu aku. Getar keinginan jiwamu akan memanggil daku dengan sendirinya. Mandaga menganggukan kepala meski dia tidak begitu paham apa yang dikatakan sosok cahaya itu.
"Apa gerangan tugas yang diberikan kepadaku ?" Mandaga bertanya kepada sosok cahaya itu.
"Suara hatimu akan menuntun langkahmu untuk menemukan apa yang menjadi tugas mu. Aku tidak berhak menjelaskan rahasia langit kepada mu." Sosok cahaya itu diam sejenak. Mandaga dan Datuk Aluih Tapa tanpa sadar sama sama menghela nafas panjang.
"Tempat ini selama ini dijaga dan dirawat oleh tiga orang Bunian. Sekarang tempat ini aku serahkan kepada kalian. Jaga dan rawatlah tempat ini dengan baik. Kau Aluih Tapa carilah beberapa yang akan membantu kalian merawat tempat ini." Datuk Aluih Tapa mengangguk takzim.
"Terakhir, untuk kau Mandaga. Terimalah ini." Sebuah cincin melayang kearah Mandaga, kemudian menempel dan melingkari jari telunjuk tangan kanannya. Begitu terpasang cincin itu berubah menjadi tato cincin.
"Itu adalah cincin semesta, kau bisa menyimpan barang barangmu disana. Cincin itu juga bisa menyimpan makhluk hidup didalamnya. Cukup alirkan sedikit tenaga bathin mu, maka kau akan bisa menyimpan dan mengambil barang yang kau inginkan di cincin semesta." Mandaga mencoba apa yang dikatakan oleh sosok berlapis cahaya itu. Dia menyimpan Pedang Bulan Sabit miliknya ke cincin semesta.
"Ini yang terakhir" sosok berlapis cahaya itu kembali berkata dan dari arah sosok berlapis cahaya itu, muncul cahaya keemasan membias dan menyelimuti tubuh Mandaga. Setelah beberapa waktu, cahaya itu meresap ke dalam tubuh Mandaga.
Mandaga merasakan kekuatan tenaga dalam dan tenaga bathin nya meningkat dua kali lipat. Pemuda itu juga merasa tiba-tiba menguasai satu ilmu yang merupakan perpaduan tenaga dalam dan tenaga bathin yang sangat hebat. Titiak datang dari ateh aiah mambusek dari bumi.
Sosok berlapis cahaya itu perlahan menghilang. Tinggal aroma wangi kembang Kenanga. Hening. Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat sepi, diam dan bisu.
__ADS_1
Kkrrrk... krruurrk....!!
Tiba-tiba terdengar suara kruyukan dari perut Mandaga. Datuk Aluih Tapa tersadar dari diamnya. Dia tersenyum arif. Dia ingat ada sesisir pisang mamban emas dan beberapa buah yang lain diratakan.
Datuk Aluih Tapa bergeser dan duduk kembali ketengah langkan.
"Mandaga... Ayo makan dulu buah-buahan ini sebagai pengganjal." Mandaga melihat kearah Datuk Aluih Tapa dan tersenyum sedikit malu.
"Sampai agak lupa aku Angguik. Masih setengah yakin setengah ragu dengan semua ini." Mandaga melihat dan beringsut kearah Datuk Aluih Tapa. Pemuda gagah itu mencomot sebuah pisang dan melahapnya dengan nikmat.
Sambil makan buah-buahan, Mandaga mengintip isi cincin semesta hadiah yang diberi oleh Parameswara. Matanya terbelalak melihat semua isi cincin semesta. Ratusan ribu, bahkan mungkin ada jutaan keping emas dan perak dalam dua gundukan besar. Selain itu juga ada pakaian, kitab, senjata dan aneka buah yang tidak pernah dilihat Mandaga. Datuk Aluih Tapa tersenyum arif melihat sikap Mandaga.
Sehabis makan Datuk Aluih Tapa mengajak Mandaga untuk melihat lihat apa saja yang ada di dataran dibawah Ngarai Sabik. Mereka mulai pengamatan dari rumah. Mumpung mereka sedang berada disana.
Rumah kayu itu memiliki empat kamar besar serta ada sebuah ruangan keluarga dan langkan yang besar. Pada bagian belakang ada tiga kamar. Dibelakang rumah juga ada bangunan untuk gudang dan dapur. Disamping gudang dan bagian belakang tersedia lahan yang cocok dijadikan kebun sayuran. Masih ada lahan yang cukup luas membentang dari belakang gudang sampai ke kaki ngarai. Dari depan rumah terdapat lapangan luas di batasi oleh sungai Batang Sianok. Sungai Batang Sianok berada sekitar tiga meter dibawah lapangan. Jadi ada tebing dan tangga batu yang tersusun untuk turun ke sungai. Pinggir tebing tumbuh berbagai pohon buah dan juga pohon Munggai.
"Angguik... kemana kita bisa mendapatkan orang bekerja disini ?" Datuk Aluih Tapa tersenyum mendengar pertanyaan Mandaga. Tentu saja hal yang sangat mudah baginya.
Sebulan sudah mereka tinggal di Ngarai Sabik. Mereka sudah memiliki empat orang yang terdiri dari Mak Malin dan istrinya Tek Bidah. Juga ada Bujang dan Buyuang. Pekerjaan mereka semua sudah diatur oleh Datuk Aluih Tapa.
Siang itu diawal musim Sisiria Mandaga bersila dengan tenang di hadapan Datuk Aluih Tapa. Pemuda gagah itu menghela nafasnya sebelum mulai bicara.
"Angguik,... Besok pagi-pagi aku akan pergi merantau. Hm... maksud Daga, besok aku akan mulai memasuki rimba hijau dunia persilatan."
Datuk Aluih Tapa menatap lama dan dalam pada murid yang juga sudah diangkat jadi cucunya itu. Memang sudah waktunya bagi Mandaga untuk memasuki rimba hijau dunia persilatan. Saat ini sepertinya tidak ada lagi yang pendekar di Dharmasraya dan mungkin di Sriwijaya yang mampu mengimbangi Mandaga.
__ADS_1
"Baiklah Daga. Memang sudah waktunya bagimu untuk memasuki dunia nyata. Angguik hanya menitipkan beberapa pituah kepada mu.
Ingatlah dan terapkan hereang jo gendeang, raso jo pareso. Dimano harus mamakai kato mandaki, kato mandata, kato malereang dan kato manurun.
Ingat ingatlah selalu dengan dima bumi dipijak disitu langik dijunjuang."
Mandaga mengangguk ta'zim mendengar petuah dari Datuk Aluih Tapa. Dia paham benar dengan apa yang diingatkan Datuk Aluih Tapa.
Malamnya Mandaga tidak tidur, dia melakukan semedi menata semua rasa dalam hening jiwa. Pemuda gagah itu larut dalam hening. Dia melihat kedalam dirinya dan menakar kembali kekuatan tenaga bathin dan tenaga dalamnya.
Saking asiknya Mandaga terlarut dalam semadinya. Kokok nyaring dan panjang ayam hutan menyadarkannya. Mandaga buru-buru mandi di Batang Sianok. Air Batang Sianok yang dingin bagaikan es terasa nyaman meresap dikulitnya.
Mandaga berdiri didepan rumah. Dia menggunakan pakaian biru dengan ikat pinggang dari kain warna merah. Rambutnya yang panjang sepundak diikat ekor kuda dan dibiarkan tergerai. Berbeda dengan gaya ikat kepala orang Melayu pada umumnya. Mandaga terlihat lebih gagah dan tampan.
Setelah melakukan sembah kepada Datuk Aluih Tapa, Mandaga berbalik dan berlari diudara dengan ilmu meringankan tubuh berlari dilipatan angin, Mandaga seakan terbang menuju puncak jurang Kerbouwengat. Dalam waktu singkat, jarak antara rumahnya dikaki Ngarai Sabik dengan puncak tebing jurang Kerbouwengat yang berjarak lebih dari tiga kilometer terlewati. Mandaga berhenti ditepi jurang Kerbouwengat, mencoba melihat kearah rumahnya. Dia terpesona melihat pemandangan alam yang terpampang didepan matanya.
Tiba-tiba rasa rindu bergayut dihatinya. Mandaga menghela nafas dalam-dalam, perlahan dia berbalik dan melenting menghilang.
\=\=\=\=\=****©
#sayak \= cangkir untuk minum yang terbuat dari batok kelapa.
#pituah \= wejangan
__ADS_1
#dima bumi dipijak disitu langik dijunjuang \= dimanapun kita berada, kita harus mengikuti cara-cara dan aturan yang berlaku di negri itu agar kita tidak menjadi perusak dan menimbulkan kerusakan.