
Pemuda itu dengan santai mengikat kembali rambutnya. Dengan sedikit tergesa Mandaga turun ke anak sungai. Dia segera mencuci bersih mulutnya dengan air sungai yang bening. Setelah itu Mandaga kembali kepada Andam Dewi.
Alangkah kagetnya Mandaga melihat Andam Dewi sedang menangis. Gadis cantik itu menunduk, bahunya tampak terguncang guncang. Mandaga menjadi bingung dan tidak tau harus berbuat apa.
"Kenapa gadis itu menangis ? Mestinya luka karena besetan golok mini sudah bersih dari racun...??" Mandaga berfikir fikir dalam hati.
Pemuda ini sungguh tidak tau harus berbuat apa. Dia menunggu sambil melihat sedikit rasa bingung. Akhirnya sembari menunggu Andam Dewi agak tenang, Mandaga mencari tempat dan melakukan semadi. Suasana dipinggir hutan Pandai Sikek terasa hening. Hanya ada isak tertahan Andam Dewi.
Andam Dewi diam-diam melirik kearah Mandaga. Gadis cantik itu makin kencang isak tangisnya saat melihat Manda diam bersemadi. Andam Dewi ingin Mandaga bertanya kenapa dia menangis. Dia ingin Mandaga menghiburnya dan berjanji akan bertanggung jawab. Tidak pernah ada lelaki yang menyentuh dirinya. Mandaga bukan saja menyentuh, lelaki itu sudah memeluk dan membopong dirinya. Bukan itu saja, Mandag juga sudah menyentuh betisnya dengan bibirnya yang hangat.
Mengingat kembali bibir dari lelaki yang sedang bersemedi itu, dada Andam Dewi jadi berdetak lebih kencang.
Setelah beberapa waktu, Andam Dewi mulai merasa berhenti menangis. Isakannya tinggal satu-satu. Mandaga membuka matanya. Dia menatap Andam Dewi agak lama.
"Kau kenapa Andam ? Apakah luka oleh besetan golok mini itu masih terasa sakit ?" Mandaga bertanya dengan wajah lugu.
"Kau.. kau lelaki bodoh." jawab Andam Dewi. Gadis itu berdiri dan men munuju sungai. Andam Dewi tidak habis pikir. Apa benar pemuda tampan di depannya tidak mengerti. Apa dia pura-pura saja ?? Muncul perasaan nelangsa di dalam hati Andam Dewi perika fikiran itu muncul. Namun kemudian rasa itu normal lagi ketika muncul fikiran lain. Wajar jika Mandaga tidak berfikir seperti orang kebanyakan, karena belasan tahun hidup terasing berdua gurunya.
"Aku akan membersihkan badan dan berganti pakaian. Kau pergilah dan jangan pernah melihat. Atau kau harus bertanggung jawab." ucap Andam Dewi dan mulai untuk bersiap turun ke sungai.
"Baiklah aku akan mencari ayam hutan untuk bekal kita nanti." dan Mandaga langsung menghilang.
Setelah yakin Mandaga tidak ada, Andam Dewi membuka pakaiannya. Kulitnya yang kuning langsat halus mulus tampak berkilau. Lekuk tubuh yang sempurna sungguh akan memacu keinginan paling dalam setiap lelaki normal.
Andam Dewi sudah berganti pakaian dengan yang baru, ketika Mandaga kembali. Tetap bewarna merah, hanya sabuk lebar dipinggangnya bewarna hitam dengan garis emas dipinggiran. Andam Dewi tampak lebih ramping dan terlihat lebih menawan.
__ADS_1
Mandaga mengacungkan dua ekor ayam hutan. Lalu turun ke kali membersihkannya. Dia menyerahkan kepada Andam Dewi untuk dipanggang. Mandaga kembali ke kali dan membersihkan diri.
Aroma wangi ayam bakar mengawang diudara. Terbawa angin senja kehidung Mandaga. Dia segera menyambar pakaiannya dan menuju Andam Dewi.
"Sepertinya enak banget Andam. Aromanya wangiii... bangeeett..." Mandaga duduk disebelah Andam Dewi.
"Sudah boleh dimakan kah ?" Mandaga bertanya dengan suara lucu. Andam Dewi tersenyum lebar dan menahan cekikikan nya.
"Mestinya sudah bisa untuk dimakan,..." Andam diam sejenak melihat reaksi Mandaga.
"satu jam lagi...!" lanjutnya.
Wajah tampan Mandaga penuh keriut mendengar ucapan Andam. Gadis cantik itu langsung cekikikan melihat wajah Mandaga yang tampak seperti orang bodoh.
"Hi... hii... hiii... ha ha haa..." Andam memegang perutnya yang terasa kejang karena tertawa.
"Sudah... sudah ampun ha haa.. aku gak tahan lagi ha haa..." namun tiba-tiba dia kembali tertegun. Saat menyadari mereka sudah berpelukan. Andam buru-buru melepaskan pelukan mereka.
Gadis cantik itu buru-buru merapikan kembali pakaian dan rambutnya yang agak kusut.
"Ayo kita makan saja" suara Andam terdengar sedikit mengambang. Gadis cantik itu mencoba menenangkan debar didalam hatinya.
"Hmm... enak, wah enak sekali. Mmm... bagaimana cara kau membakarnya Andam ? Ayam hutan bakar ini bisa lebih enak dari biasa" Mandaga memuji ayam bakar buatan Andam. Andam Dewi mengerling sedikit centil dan tersenyum.
"Ada bumbu khusus yang aku tambahkan. Sayangnya tidak ada yang menjual bumbu itu." Andam menjawab. Gadis itu memotong satu paha dari ayam yang jadi bagiannya dan memberikan pada Mandaga.
__ADS_1
"Hm... aku lebih suka bagian sayap, apakah boleh ?" Mandaga bertanya, dia tidak mengambil bagian paha yang disodorkan.
"Boleh... boleh banget, untuk mu apa saja boleh." Andam tersenyum manis kepada Mandaga. Lalu memotong kedua sayap ayam hutan bakar dan memberikan pada Mandaga.
"Aaah... terimakasih Andam" Mandaga langsung memakan kedua sayap ayam yang diberikan Andam.
Malam sudah membungkus dunia dengan selimut gelap nya. Hutan Pandai Sikek lebih gelap. Namun perlahan sinar rembulan mulai menerabas gelap malam dengan cahaya sinarnya yang lembut dan hangat.
Mandaga berselonjor sambil bersandar pada pokok pohon Ketaping. Andam Dewi duduk disebelah Mandaga. Gadis itu menjadi lebih berani, dia menyandarkan kepalanya di bahu Mandaga. Mereka diam menikmati sinar purnama. Andam Dewi merubah posisi duduknya. Dia menatap dalam bola mata Mandaga.
"Mandaga... maukah kamu bercerita tentang dimu ?"
"Untuk apa ?"
"Aku ingin tau, lagian malam ini kita punya banyak waktu." Andam Dewi memberi senyum paling manisnya pada Mandaga. Melihat senyuman manis dan tatapan penuh harap dimata Andam, pemuda itupun bercerita.
Malam terus bergulir semakin larut. Mereka akhirnya tertidur pulas. Andam Dewi tertidur di dada Mandaga. Lengan nya memeluk tubuh Mandaga. Tanpa sadar, gadis cantik kembang nagari Kumango itu telah menyerahkan hati, jiwa dan tubuhnya pada Mandaga.
Sinar matahari pagi menerpa tubuh mereka. Mandaga lebih dulu terbangun. Dia melihat Andam Dewi tertidur lelap di dadanya. Lengan Andam Dewi merangkul tubuhnya. Ada rasa nyaman dan sedikit aneh di hati Mandaga. Perlahan dia membangunkan Andam.
Andam Dewi buru-buru pergi ke kali kecil dan mencuci muka dan mulutnya. Mukanya merah dadu mengingat cara tidurnya semalam. Tertidur lelap didada Mandaga sambil memeluk tubuh pemuda itu. Ada rasa malu, senang dan tengsin yang bercampur baur didalam hatinya. Dadanya jadi berdebar tidak karuan mengingat kejadian itu.
Pagi itu mereka melanjutkan perjalanan. Lewat tengah hari mereka sampai di Padang Panjang. Kota kecil itu sangat ramai. Mungkin karena lokasi Padang Panjang adalah koto persinggahan. Banyak terlihat pendekar berlalu lalang, selain pedagang dan penduduk.
"Kita cari rumah makan dulu aja. Dari pagi kita belum makan apa-apa." Andam Dewi mengajak Mandaga masuk ke sebuah rumah makan yang paling besar. Rumah makan Aia Badarun. Dari jalanan sudah tercium aroma masakan yang menggugah selera.
__ADS_1
\=\=\=\=\=***\=\=©