Pandeka Pedang Bulan Sabit

Pandeka Pedang Bulan Sabit
Chapt. 15 Dihadang Penyamun Hantu Silaiang


__ADS_3

Selamat datang Tuan dan Rangkayo. Apakah anda singgah untuk makan atau menginap ?" Mandaga dan Andam Dewi melenting dari kuda mereka. Mandaga lalu bertanya kepada pelayan.


"Yaa, kami mau makan. Oh ya, apakah masih ada kamar kosong ?"


"Masih Tuan, silahkan masuk tuan."


"Urusin juga kuda milik kami. Kasih rumput yang bagus dan batang sagu." Mandaga minta pelayan itu juga mengurusin kuda dan memberi tiga keping perak kepada pelayan itu. Pelayan rumah makan dan penginapan itu sangat gembira karena mendapatkan tip sebanyak itu.


Mandaga segera meminta kamar kepada penerima tamu.


"Hanya tinggal satu kamar ?" Mandaga bertanya kepada pelayan penerima tamu.


"Ya Tuan, kamar jenis utama yang besar. Biayanya dua keping emas semalam." penerima tamu itu menjelaskan. Mandaga melirik Andam Dewi. Gadis cantik itu mengangguk.


"Baiklah, siapkan juga air hangat dan makanan serta air niro." Mandaga menyerahkan tiga keping emas. Penerima tamu itu menerima dengan senang hati.


"Baik Tuan dan Rangkayo, silahkan ikuti saya." Pelayan penerima tamu mengantarkan Mandaga dan Andam menuju kamar utama di lantai tiga.


"Silahkan masuk Tuan dan Rangkayo, didalam ada kamar mandi dengan air hangat. Kami akan mengantarkan makanan untuk anda nanti ke kamar anda.


Saya permisi dulu kebelakang untuk menyiapkan makanan."


Pelayan penerima tamu lalu meninggalkan Mandaga dan Andam.


Mandaga dan Andam kagum melihat kamar yang mereka masuki. Ada sebuah ranjang besar, meja makan sedang, sebuah kursi panjang menghadap jendela. Ada kamar mandi besar dengan bak yang berisi air hangat.


"Andam, kau mandilah duluan, setelah itu baru giliran ku." Mandaga duduk dikursi panjang sambil melihat suasana Ladang Laweh sore dari jendela kamar. Jalanan masih terlihat ramai oleh orang-orang yang menikmati suasana sore. Tampak juga banyak pedagang makanan. Ada pedagang sate dan jagung rebus serta kacang goreang diperempatan dekat taman.


"Mandaga, giliran mu yang mandi." Andam muncul dan tampak lebih cantik dan segar sehabis mandi.


Pelayan datang mengantar makanan ketika Mandaga lagi mandi. Andam minta pelayan menata semua makanan di meja yang ada dikamar. Ada banyak jenis makanan yang diantar.


Usai Mandaga membersihkan diri, mereka makan dengan santai. Setelah itu mereka duduk dikursi panjang menikmati suasana malam sambil minum air niro. Andam bersandar manja dipundak Mandaga.


Pagi baru saja menampakkan diri, Mandaga dan Andam Dewi memacu kuda mereka menuju Luhak nan tuo. Lewat tengah hari, mereka sampai di hutan lebat Silaiang Kariang. Kuda yang mereka tunggangi mulai jalan melambat.

__ADS_1


Mandaga mengajak Andam untuk istirahat sejenak. Dekat sebuah sungai kecil mereka berhenti. Mandaga memberi kuda mereka dengan buah kaliki yang dibelinya di Ladang Laweh. Dia juga mengambil empat tusuk manggis muda dan dua butir telur asin. Dia memberikan setengahnya dan Andam dengan senang hati menerima nya.


Lagi asik menikmati manggis muda, tiba-tiba muncul dua belas orang berpakaian hitam dengan ikat pinggang merah. Sepuluh orang menggenggam pedang dan golok yang sudah keluar dari sarangnya. Mereka membentuk setengah lingkaran dan mengitari posisi Mandaga dan Andam Dewi. Seorang lelaki tinggi besar berdiri dengan tangan terlipat di dada. Sepertinya dialah yang memimpin rombongan itu. Lelaki disebelahnya tampak lebih tua dia bicara setelah melirik kearah lelaki tinggi besar itu. Dia berkata kepada Mandaga.


"Anak muda, sepertinya tetua Guntur Bukik lagi berbaik hati kepada mu. Pergilah dengan selamat, namun tinggalkan kuda, wanita dan semua harta mu." Pria itu menatap garang kepada Mandaga. Pandeka Pedang Bulan Sabit melihat kearah pria itu dengan wajah bingung, lalu menjawab...


"Aku... aku tidak kenal dengan Selamat. Siapa dia ?"


"Ha... haa... haaa.." suara tawa Andam pecah terdengar terpingkal-pingkal, dia merasa geli sekali sambil menatap Mandaga.


Pria yang bicara itu menjadi kesal setengah mati. Lelaki tinggi besar menatap tajam pada Andam.


"Diaaamm...!!" dia berteriak sangat keras. Dia menunjuk Mandaga...


"Kau minta mati bangsaaat..!" pria itu langsung melesat menerjang Bagaga. Sebuah bayangan tinju sebesar bola kaki muncul menuju kearah Mandaga. Itulah jurus Tinju bayangan kegelapan. Suara gemuruh menderu terdengar. Ini adalah jurus yang sangat mengerikan yang dapat meratakan sebuah Guguak.


Bayangan tinju itu melaju cepat kearah Mandaga. Mandaga bergerak sangat cepat cepat.


Plaak...!! Plaakk...!!


Aduuuh...!!


"Tidak ada angin tidak ada hujan kau berani menyerang ? Siapa kalian ??" Mandaga berkata dengan suara dingin penuh ancaman. Guntur Bukik, lelaki tinggi besar menjawab Mandaga dengan suara berat dan penuh hawa pembunuh.


"Kami adalah Bayangan Hantu Silaiang. Kau terpaksa harus meninggalkan nyawamu disini anak muda. Sebutkan siapa dirimu !!" Guntur Bukik mulai memancarkan aura kematian yang kuat.


"Hanya penjahat kecil... Kalian tidak pantas mengenal diriku. Hanya saja kalau ingin tau juga cukup kalian akulah elmaut. Bersiaplah...!!"


Mandaga melesat dengan cepat tinjunya menghantam kening Guntur Bukik dan jari tangan satunya merapat menusuk ulu hatinya.


Zzzssstt...!


Ssshhhhtt...! Beeghhh...!!


Aaaachhh...!!

__ADS_1


Gugur Bukik berteriak tertahan, dia nyaris tidak bisa bernafas. Gugur Bukik berhasil menghindar tinju yang menuju kepalanya. Tapi serangan sebenarnya adalah sotokan yang telak bersarang diulu hatinya.


Pada saat dia terdorong ke belakang sebuah bayangan berkelebat cepat cepat menyusul. Begitu Gugur Bukik berhenti dan berusaha bisa bernafas, sebuah kilatan telah melintasinya.


Craasssh...!!


Kepala lelaki tinggi besar itu jatuh menggelinding. Andam berdiri di dekatnya dengan pedang terhunus.


Semua anggota penyamun Hantu Bayangan Silaiang merinding. Si Tinju Bayangan yang tadi ditampar Mandaga kuyup oleh keringat dingin. Dia menyesal telah salah pilih memprovokasi lawan.


"Aku adalah Dewi Merah Kumango dan dia..." Andam melirik kearah Mandaga. "dia adalah Pandeka Pedang Bulan Sabit. Ini adalah detik-detik terakhir bagi kalian untuk menghirup udara."


Zhiiiiingg...!! Zhuiiiiingg...!!


Pedang Andam berkelebat cepat, tubuhnya merendah dan bergerak sangat cepat.


Craasssh...!! Slash...!!


Dua orang jatuh tersungkur di tanah dengan dada dan perut terbelah.


Whuiiingg...!!


Craasssh...!! Craakk...!!


Craakk...!! dug... dug... dug...


Tiga buah kepala jatuh menggelinding ketika bulatan seperti bulan bewarna keemasan melintas. Mandaga berdiri disebelah Andam. Ditangan pemuda tampan itu terlihat sebuah pedang unik berbentuk bulan sabit.


Tiba-tiba Mandaga dan Andam berkelebat sangat cepat. Terdengar dengungan pedang bulan sabit. Hawa kematian begitu kental terasa.


Zhiiiiingg...!! Craasssh...!!


Tinju Bayangan merasa hawa dingin melintas. Dia melihat tubuhnya jatuh dan darah memuncrat deras dari batang lehernya. Itulah pemandangan terakhir yang sempat ia lihat sebelum semuanya menjadi gelap.


Andam Dewi juga bergerak sangat cepat. Terlihat bayangan merah melesat dan dua kepala lagi terjatuh dari tempatnya menggelinding di tanah.

__ADS_1


\=\=\=\=\=***\=\=©


#guguak \= bukit kecil


__ADS_2