Pandeka Pedang Bulan Sabit

Pandeka Pedang Bulan Sabit
Chapt. 13 Menyerang Markas Perompak Lamun Kurai 2


__ADS_3

Pandeka Pedang Bulan Sabit dan Dewi Merah Kumango melesat diantara hutan bakau. Mereka melenting dari satu pohon bakau ke pohon bakau yang lain. Palimo Kumbang dan dua pandeka lainnya ikut berjarak dua pohon dari Pandeka Pedang Bulan Sabit.


Beberapa kali mereka bertemu ular laut yang sangat beracun. Begitu juga dengan hewan buas lainnya seperti buaya, laba laba beracun dan lain-lain. Tapi Pandeka Pedang Bulan Sabit menyuruh semua untuk menghindar.


"Jangan sampai muncul suara pertarungan, sehingga tidak ada anggota perompak Lamun Kurai yang tau kedatangan kita." Mandaga mengingatkan mereka semua.


Waktu terus bergulir, tak terasa sudah lewat tengah hari. Mereka semakin dekat dengan sarang perompak Lamun Kurai. Palimo Kumbang mendekati Mandaga.


"Pandeka, apa sebaiknya kita memutar dulu kearah timur ?" Area bagian timur terlihat lebih gelap, sehingga lebih memudahkan untuk sembunyi.


"Yaa, boleh juga. Kita bisa istirahat disana sambil menunggu waktu." Mandaga menyetujui usulan Palimo Kumbang. Mereka berhenti sekitar lima ratus meter dari sarang perompak Lamun Kurai. Mengamati kegiatan di sarang perompak dari jarak jauh.


"Kita beristirahat disini sekitar dua jam Palimo. Gunakan kesempatan ini untuk mengisi ulang tenaga yang terpakai."


"Kita serang sekarang saja, mestinya mereka dalam kondisi tidak siap." Andam Dewi mengusulkan. Palimo Kumbang melihat kearah Mandaga, mendengar usulan Dewi Merah Kumango.


"Tetap dengan rencana awal." Mandaga menjawab dengan suara pelan, namun terdengar tegas.


Datuak Kumango Nan Sati menghela nafas panjang. Dia menatap Talang Parigi dan Limbak Buni.


"Sudah kalian putuskan berapa orang yang akan kita kirim untuk jadi prajurit dikota raja Dharmasraya ?" Suara Datuak Kumango Nan Sati terdengar agak malas.


"Setelah kami data berdasar peminat dan terpilih, hanya ada tujuh puluh lima orang Datuak." Talang Parigi coba memberikan jawaban. Limbak Buni menambahkan...


"Ada lima puluh lima pendekar tingkat awal dan delapan belas pandeka tingkat menengah mula dan tengah. Serta dua orang ditingkat menengah puncak. Kekuatan itu, setara dengan tiga ratus pandeka tingkat perak tengah dan puncak." Datuak Kumango Nan Sati menganggukan kepala, lalu ia juga menggeleng pelan.


"Bagaimana dengan kekuatan kita yang tersisa ?"


"Perguruan Kumango masih memiliki seratus lebih anggota. Ada dua tingkatan tinggi awal, lima tingkat menengah puncak, dua puluh tingkat menengah. Sisanya ada ditingkat awal. Sepertinya sudah waktunya untuk buka penerimaan murid baru." Limbak Buni menjelaskan keadaan perguruan silat nagari Kumango.

__ADS_1


Datuak Kumango Nan Sati juga setuju untuk membuka penerimaan murid baru. Pimpinan perguruan silat nagari Kumango itu, memberi perintah kepada Limbak Buni dan Talang Parigi.


"Baiklah, kapan rencana murid yang disiapkan untuk kerajaan berangkat ke kota raja ?


Terus kalian berdua juga mulai lakukan persiapan untuk menerima murid baru." Datuak Kumango Nan Sati lalu menutup pertemuan setelah mendengar bahwa murid-murid akan berangkat tiga hari lagi menuju kota raja Dharmasraya.


Maharaja Mauli Warmadewa menatap tajam pada Mapatih Giring Amarta dan Begawan Dharma Pecala Buwana. Penguasa agung kerajaan Melayu Dharmasraya merasa bimbang.


"Giring Amarta, bagaimana persiapan pasukan khusus yang disiapkan untuk menyabut kedatangan utusan Singosari ?"


"Daulat Yang Mulia Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa." Mapati Giring Amarta menghamparkan sembah.


"Mestinya dengan tambahan pasukan yang baru dikirim dari nagari Kumango. Besok sudah bisa kita mulai bentuk pasukan khusus yang terdiri dari kekuatan tingkat menengah. Pasukan khusus ini akan kita jadikan dua kekuatan pasukan khusus sayap kanan dan sayap kiri. Masing-masing pasukan terdiri dari seratus lima puluh orang personil." Maharaja Mauli Warmadewa cukup puas dengan penjelasan Mapati Giring Amarta.


"Bagaimana dengan informasi dari telik sandi yang kau sebar dikawasan muara sungai Batang Hari dan pesisir pantai timur Suvarnabhumi ?"


"Sepertinya pihak Singosari datang dengan tujuh kapal pinisi. Terdiri dari satu kapal besar dan enam kapal perang. Menurut perhitungan waktu, utusan Singosari akan sampai disini antara tiga sampai empat minggu lagi." Mapati Giring Amarta melaporkan perkembangan kepada Sang Maharaja Mauli Warmadewa.


"Begawan Dharma Pecala Buwana, bagaimana persiapan dari istana Puti Dara Jingga dan Dara Petak ?"


"Daulat Maharaja Mauli Warmadewa." Begawan Dharma Pecala Buwana menghamparkan sembah.


"Semua berjalan dengan baik. Kedua rembulan kerajaan Melayu Dharmasraya malah setuju jika harus menikah dengan Wanakrama Wijaya."


Senja mulai turun di nagari Rantau Piaman. Hutan bakau di Batang Tajongkek seperti diselimuti cahaya keemasan. Palimo Kumbang menatap Pandeka Pedang Bulan Sabit.


"Sudah saatnya kita menuju lokasi yang ditetapkan Pandeka."


"Ayo kita berangkat." Pandeka Pedang Bulan Sabit melihat kearah Palimo Kumbang dan mengangguk. Mereka melesat kearah gerbang utama sarang perompak Lamun Kurai.

__ADS_1


Sesaat kemudian mereka berkumpul di tempat yang sudah disepakati. Palimo Kumbang menjelaskan strategi penyerangan. Palimo Kumbang akan melakukan serangan lewat pintu belakang bersama dua pandeka. Enam pandeka yang lain menyerang tiga dari sisi kiri dan tiga kanan. Sedangkan Pandeka Pedang Bulan Sabit dan Dewi Merah Kumango menyerang dari depan.


Pandeka Pedang Bulan Sabit memulai serangan, sedang yang sembilan lainnya mulai menyerang jika pertempuran sudah pecah sekitar sepuluh menit.


"Siapa kalian !!" Tiga orang penjaga gerbang membentak ketika Mandaga dan Andam Dewi mau memasuki gerbang. Tanpa banyak bicara Andam Dewi berkelebat cepat.


Crack...!! Craasssh...!!


Dua orang penjaga langsung tewas. Yang satu lehernya nyaris putus, dan satunya dengan dada terbelah lebar. Kawannya langsung berteriak keras.


"Ada penyeraaang...!!" penjaga itu berteriak keras. Suasana langsung gaduh, karena bunyi kentungan dipukul keras.


Aaaaaaahhh...!!


Dewi Merah Kumango tanpa keraguan membunuh penjaga yang tersisa.


Puluhan bahkan lebih dari seratus perampok langsung menyerang kearah Pandeka Pedang Bulan Sabit dan Dewi Merah Kumango. Mandaga menyambut kedatangan semua anggota perompak Lamun Kurai. Pedang Bulan Sabit berkelebat kesana kemari. Setiap kali Mandaga mengayun atau menebas, satu atau dua nyawa perompak melayang. Tidak beda dengan apa yang dilakukan oleh Mandaga. Dewi Merah Kumango dengan cepat membunuh anggota perompak yang datang satu demi satu.


Jerit kesakitan dan jeritan menyayat bercampur baur. Ini bukan lagi tertarungan hidup dan mati. Tetapi pembantaian sepihak. Dalam waktu singkat sudah puluhan orang yang tewas.


"Hentikan...!!" Rajo Geleang, pimpinan perompak Lamun Kurai berteriak. Pertarungan terhenti sejenak. Pandeka Pedang Bulan Sabit dan Dewi Merah Kumango melihat kearah Rajo Geleang.


"Anak muda, siapa kalian ? Selama ini tidak ada sengketa diantara kita. Kenapa kau menyerang markas kami ?" Mandaga tersenyum miring dan menjawab.


"Aku dipanggil orang-orang dengan Pandeka Pedang Bulan Sabit dan dia adalah Dewi Merah Kumango. Aku juga mau bertanya. Apakah selama ini kalian merampok dan membunuh mangsa kalian sebelumnya ada silang sengketa diantara kalian ?"


Rajo Geleang tertegun, tidak bisa menjawab. Tetap tidak tau apa yang akan diucapkan, Rajo Geleang bersama dua wakilnya menyerang Pandeka Pedang Bulan Sabit.


Angin menderu kencang dan bersuitan. Bayangan pedang dan golok memburu bagian tubuh vital Pandeka Pedang Bulan Sabit.

__ADS_1


Zuiiingg...!! Zrreeengg...!!


\=\=\=\=\=***\=\=©


__ADS_2