Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah

Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah
Eps. 11


__ADS_3

Seperti biasa Rafa dan juga Rafi mereka berangkat sekolah di antar oleh Luna, hari ini Rafi memutuskan untuk ekstra berada di dekat Rafa terus karena dia takut kalau ada yang menyakiti Rafa seperti kemarin kemarin.


"Anak anak ganteng ibu belajar yang rajin ya, ibu pergi ke toko dulu," ucap Luna saat mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah Rafa dan juga Rafi.


"Iya Bu, ibu juga semangat kalau kerja, kita doain semoga hari ini pelanggan ibu banyak," balas Rafa.


"Aamiin," balas Rafi dan juga Luna.


"Ya udah sana kalian masuk, nanti keburu bel lho," suruh Luna.


"Iya Bu, kalau begitu kita pamit masuk dulu, assalamualaikum," pamit Rafi.


"Waalaikum salam," balas Luna.


Kedua anak Luna itupun masuk ke dalam gerbang sekolah, dengan Rafi yang berjalan di samping Rafa dengan Rafa yang menggunakan tongkat sebagai petunjuk jalannya.


"Semoga ada kebahagiaan untuk kita nanti ya sayang," ucap Luna menatap anak anaknya yang sudah mulai menjauh.


Setelah tidak terlihat lagi oleh pandangan mata, Luna pun memutuskan untuk segera pergi kerja toko bunga miliknya karena hari sudah mulai beranjak siang.


...**...


Hari pun berlalu, hari ini tepat di mana hari Rafa akan mengikuti acara lomba menghafal Al Qur'an, dia sudah bersiap dengan seragam yang sudah di berikan oleh tempat dia menggaji.


Rafa akan di temani oleh Rafi dan juga ibunya, sebenarnya Rafa sangat berharap kalau ayahnya bisa ikut tapi sepertinya itu sangat mustahil, pikir Rafa.


"Rafa ayo sayang kita berangkat, takutnya nanti kamu malah telat," ajak Luna menggajak Rafa untuk berangkat.


"Iya Bu," balas Rafa.


"Ayo sini aku bantu," ucap Rafi membantu Rafa membawakan tas punggung milik Rafa.


"Terimakasih," balas Rafa mengucapkan terimakasih.


"Iya sama sama," balas Rafi.

__ADS_1


"Eemm... ibu ayah mana, Rafa ingin pamit pada ayah," ucap Rafa yang ingin berpamitan kepada Ruli.


Kalau pun Ruli tidak bisa menghantarkan dirinya mengikuti acara lomba, setidaknya Rafa ingin berpamitan kepadanya dan juga meminta restu agar di mudahkan ketika dia hafalan nanti.


"Ayah sudah berangkat barusan sayang," jawab Luna merasa kasian dengan anaknya.


"Ooh gitu, ya udah ayo kita berangkat," balas Rafa berusaha tegar, walaupun sebenarnya hatinya ingin berteriak memanggil nama ayahnya.


""Kamu yakin sabar ya, ibu akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu agar kamu di lancarkan ketika hafalan nanti," ucap Luna memberikan semangat kepada Rafa.


"Iya Bu," balas Rafa.


Mereka bertiga pun pergi menggunakan mobil Luna menuju tempat di mana akan di adakan nya lomba menghafal Al Qur'an.


"Aku akan berusaha sebaik mungkin agar nanti aku bisa menang dan membuat ayah bangga," batin Rafa yang bertekad agar dia bisa memenangkan lomba ini dan nanti pialanya akan dia persembahkan kepada Ruli.


Sampai di tempat lomba ternyata di sana sudah sangat ramai oleh anak anak dan juga para orang tua yang sepertinya tengah menggantarkan anak anak mereka.


Melihat ada anak yang di antar oleh kedua orang tua lengkapnya membuat hati Rafa iri, Rafa ingin seperti mereka yang akan di sayang dan di berikan semangat oleh ayahnya.


"Assalamualaikum wr. wb. Teruntuk anak anak yang akan mengikuti acara lomba do mohon memasuki ruangan yang sudah di sediakan, dan untuk para penonton di harap menempati tempat yang sudah di sediakan di depan podium," ucap seseorang melalui pengeras suara.


"Waalaikum salam wr. wb." Balas orang orang yang ada di sana menjawab salam orang itu.


"Rafa pamit dulu ya Bu, Rafa minta doanya dari ibu semoga Rafa di berikan kelancaran dalam melakukan hafalan," ucap Rafa meminta doa dari ibunya.


"Iya sayang, doa ibu selalu menyertai anak anak ibu," balas Luna.


"Rafa yang semangat hafalannya agar nanti bisa menang," ucap Rafi memberikan semangat kepada saudara kembarnya.


"Iya Rafi terimakasih, kalau begitu Rafa pergi dulu assalamualaikum," pamit Rafa sambil mengambil tas yang ada di punggung Rafi.


"Waalaikum salam," balas Rafi dan juga Luna.


Rafi membantu Rafa memakai tasnya, baru setelah itu dia dan Luna mengantarkan Rafa mendekati pintu masuk ruangan yang khusus untuk anak anak yang mengikuti acara lomba.

__ADS_1


Tak lama setelah itu acara pun di mulai, Luna dan Rafi sangat bangga mendengarkan suara merdu Rafa yang tengah melantunkan ayat ayat suci Al Quran.


Tak lupa Luna juga mengabadikan momen momen itu untuk nanti dia tunjukkan kepada suaminya.


...**...


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kantor perusahaan Ruli dia tengah di sibukkan dengan beberapa berkas yang akan dia bawa untuk besok menemui klien.


Meskipun ini hari libur, tapi Ruli tetap memilih datang ke kantor dari pada harus mengerjakan pekerjaan itu di rumah seperti biasanya, karena hanya dengan cara itu Ruli bisa menghindari Rafa.


"Enak saja aku di suruh nemenin dia, nanti yang ada malah dia akan membuat ku malu di depan orang orang karena kekalahannya, mana dia cacat lagi," gumam Ruli sambil menandatangani beberapa berkas penting.


"Ya kalau Rafi yang ikut lomba, sesibuk apapun waktu aku kerja, aku akan tetap mendahulukan Rafi karena aku yakin dia pasti akan membuat aku bangga," lanjut Ruli.


Tok tok tok.


Suara pintu ruangan Ruli di ketuk, membuat Ruli menghentikan pekerjaannya.


"Iya ada apa?" tanya Ruli setelah sekertaris nya masuk.


"Selamat siang tuan, ini ada berkas yang harus anda tanda tangani lagi," ucap sekertaris Ruli menyerahkan beberapa berkas lagi.


"Huh, apakah ini masih banyak?" tanya Ruli yang sudah mulai merasakan lelah.


"Hanya tinggal ini saja tuan, nanti setelah ini selesai kita bisa pulang," jawab sekertaris Ruli yang Ruli minta untuk menemui Ruli lembur di kantor.


"Oh iya tolong belikan saya makanan, soalnya tadi saya belum sempat sarapan," perintah Ruli kepada sekertaris nya.


"Baik tuan," balas sekertaris Ruli dan pamit pergi untuk membelikan makanan untuk dirinya.


"Huh capek banget," keluh Ruli yang mulai merasakan pinggangnya pegal.


"Nanti sampai rumah harus minta pijat sama Luna sih ini," lanjut Ruli.


Tak ingin membuang buang waktu, Ruli pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena kehadiran sekertaris nya tadi.

__ADS_1


...*** ...


__ADS_2