
Sudah satu Minggu setelah kepergian Luna dan juga kedua anaknya, keadaan Ruli bagaikan tanah tandus yang lama tidak terkena air, hidupnya menjadi gersang dan tidak terurus.
Ruli juga sudah sangat menyesali hidupnya, setiap malam dia akan bermimpi bagaimana saat dia menyiksa Rafa dan tangisan suara Rafa yang selalu terngiang-ngiang dia telinganya.
Ruli sangat menyesal mengingat perlakuannya dulu, selama satu Minggu ini juga Ruli belum pernah bertemu dengan kedua anaknya dan juga Luna yang masih berstatus sebagai istrinya karena dia belum mentalak Luna.
""Biasanya jam segini mereka sedang main di samping rumah, tapi sekarang terasa sangat sepi setelah kepergian mereka," gumam Ruli menatap samping rumahnya yang masih terdapat banyak mainan anak anak.
"Apa aku harus datang menemui mereka ya, biar mereka mau akui ajak pulang ke sini," lanjutnya bingung.
Jujur, meskipun Ruli sudah sadar dengan kesalahannya, tapi dia juga masih bingung harus melakukan tindakan apa, apakah dia harus meminta maaf ataukah dia biarkan saja sampai nanti anak anak dan istrinya kembali dengan sendirinya, bingung Ruli.
"Iya, sepertinya aku harus mencari mereka," lanjut Ruli yang memutuskan untuk mencari keberadaan istri dan juga kedua anaknya.
Sebenarnya Ruli juga belum tahu di mana tempat tinggal istri dan anaknya saat ini, mungkin nanti dia akan datang kembali toko bunga istrinya karena dia yakin istrinya pasti tidak akan lepas tanggung jawab begitu saja kepada karyawannya.
Ruli segera mengganti pakaiannya dengan yang lebih bagus, dan setelah itu dia langsung pergi meninggalkan rumahnya untuk mencari si kembar dan juga istrinya.
...**...
Sementara itu, kehidupan Luna dan juga si kembar berjalan dengan baik, karena hari hari mereka sekarang terasa lebih tenang karena tidak ada lagi yang akan menghina hina Rafa seperti sebelumnya.
Luna menjadi ibu yang baik untuk kedua putranya, dia selalu berusaha untuk membuat kedua putranya bahagia tanpa membedakan mereka berdua.
Saat ini Luna berada di toko bunga miliknya, sedangkan kedua anak kembarnya sedang pergi ke sekolah karena ini masih jam belajar.
"Lis tolong nanti ini di rangkai ya bunganya, soalnya udah mau di ambil sama costumer," suruh Luna kepada karyawan yang membantu dia di toko bunga.
__ADS_1
"Baik Bu," balas Lisa, karyawan Luna.
Luna pun pergi untuk memeriksa stok persediaan bunga di tokonya, sepertinya sudah banyak bunga bunga yang kosong, itu artinya dia harus segera menambahkan stok kembali.
"Mawar biru habis, mawar merah juga tinggal sedikit, sepertinya sekarang orang orang pada menyukai bunga mawar, terutama yang warna biru," ucap Luna yang memeriksa persediaan bunga di tokonya.
"Bu, anggrek putihnya juga sudah habis dari kemarin, saya lupa memberitahu ibu," ucap Lisa yang sedang merangkai bunga.
"Langsung kamu cacat di list pembelian barang aja, nanti biar saya periksa di sana," balas Luna.
"Oke bu siap," balas Lisa.
Luna pindah ke toko bagian depan, di sana ada berbagai macam tanaman hidup yang bisa di rawat.
Selain menjual bunga jadi, Luna juga menjual tamanan tanaman yang bisa di rawat di rumah, seperti anggrek, bugenvil, dan lain sebagainya.
"Sayang," ucap seseorang di belakang Luna, hal itu berhasil membuat Luna kaget.
"Ka-kamu kok di sini?" tanya Luna gagap karena mendapati suaminya berada di toko bunga miliknya.
"Aku datang untuk menemui kamu dan juga anak anak," balas Ruli.
"Anak anak? Gak salah kamu bilang seperti itu, bukannya anak kamu hanya satu?" balas Luna menyindir Ruli.
"Maaf, aku sangat menyesal atas apa yang sudah aku perbuat, aku sudah menyesali semuanya, aku ingin kita berempat mulai dari awal lagi," balas Ruli membuat Luna tertawa.
"Hahaha... kami habis mimpi apa sampai sampai kamu bilang seperti itu mas, kemana saja kamu selama ini, kenapa di saat aku dan anak anak sudah pergi kamu baru menyadarinya?" balas Luna.
__ADS_1
"Aku sangat menyesal sayang, plis tolong maafkan aku," mohon Ruli.
Kamu tidak harus meminta maaf sama aku mas, seharusnya kamu meminta maaf kepada Rafa, dialah yang sangat tersiksa selama ini," balas Luna.
"Iya aku tahu, makanya aku datang untuk mencari kalian dan akan meminta maaf kepada kalian terutama kepada Rafa," balas Ruli mantap.
"Kalian sekarang tinggal di mana?" lanjut Ruli menanyakan tempat tinggal istri dan anaknya.
"Apartemen," jawab Luna singkat.
Ah iya, kenapa Ruli bisa lupa sih, kan istrinya ini punya satu apartemen, jadi sudah pasti mereka tinggal di sana, kenapa selama ini dia tidak kepikiran buat datang ke sana sih, pikir Ruli.
"Terus sekarang anak anak kemana, aku boleh kan bertemu mereka?" lanjut Ruli yang ingin segera bertemu dengan kedua anaknya dan meminta maaf kepada mereka, terutama kepada Rafa.
"Sekarang mereka sedang sekolah, aku nanti yang akan mengantarkan kamu bertemu mereka, aku masih belum percaya kalau harus membiarkan kamu bertemu mereka sendiri," balas Luna yang memang masih tidak percaya kalau Ruli benar benar sudah menyesal.
"Terimakasih sayang, aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi setelah nanti aku mendapatkan maaf dari Rafa, aku akan menyayangi dia sama seperti aku menyayangi Rafi," balas Ruli.
"Syukurlah," balas Luna cuek.
Ruli memaklumi itu, mungkin Luna masih belum sepenuhnya memaafkan dirinya, tapi tidak apa setidaknya Luna tidak melarang dirinya datang untuk menemui si kembar.
"Kamu tunggu di sana saja dulu, aku masih ada kerjaan yang belum selesai, nanti setelah waktunya anak anak pulang kamu ikut aku menjemput mereka di sekolah," ucap Luna menyuruh agar Ruli menunggu dirinya bekerja.
"Oke siap sayang, semangat kerjanya ya," balas Ruli sambil memberikan semangat.
Luna tak akan luluh hanya dengan kata kata seperti itu, dia masih akan memantau Ruli sebelum dia mengambil keputusan besar yang akan menyangkut masa depan si kembar, kembali bersama Ruli, atau mengakhiri pernikahan dirinya dengan Ruli.
__ADS_1
Luna pun kembali bekerja, sedangkan Ruli dia langsung pergi menuju tempat duduk yang tersedia di sana menunggu Luna bekerja.
...***...