Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah

Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah
Eps. 18


__ADS_3

"Tidak, aku tidak mau pisah sama kamu," tolak Ruli yang tak ingin berpisah dengan Luna.


"Maaf mas keputusan aku sudah bulat, aku gak tega melihat anak aku kamu siksa terus terusan, mental anak aku lebih penting dari pada rumah tangga kita mas," balas Luna.


"Bu, Rafa gak papa kok, Rafa mohon ibu jangan pisah sama ayah," ucap Rafa yang tidak ingin juga ibu dan ayahnya berpisah.


"Maaf sayang keputusan ibu sudah bulat, nanti kita cari kebahagiaan kita sendiri, agar Rafa bisa hidup bahagia dan gak ada lagi yang akan menyiksa Rafa," balas Luna sambil memegang kedua tangan Rafa yang terluka.


"Ibu, Rafa, ayah, ini ada apa kok rame rame gini?" tanya Rafi yang entah baru saja datang dari mana.


"Rafi kamu dari mana saja, kenapa kamu meninggalkan Rafa sendirian?" tanya Luna dengan nada yang lembut, tidak ada nada marah dalam bahasa Luna kalau sedang berbicara dengan anak anaknya.


"Tadi Rafi buat minum untuk Rafi sama Rafa Bu," jawab Rafi sambil menunjukkan dua gelas air minum jus jeruk.


"Ya sudah, ibu sama Rafa akan pergi dari sini, kamu mau tetap di sini sama ayah atau mau ikut kita?" tanya Luna yang tidak ingin memaksa Rafi.


"Tidak, kalian tidak boleh pergi dari sini, biarkan anak cacat ini saja yang pergi, kalian tidak boleh," balas Ruli yang tidak ingin kehilangan Luna dan Rafi.


"Kenapa Bu, kenapa kita harus pergi?" tanya Rafi.


"Ayah sudah sangat keterlaluan, dia menyiksa Rafa lagi sampai kedua tangannya seperti ini, ibu tidak tega kalau membiarkan dia teru terusan di siksa oleh ayah," jelas Luna.


Rafi pun mendekat dan melihat luka yang ada di tangan Rafa, Rafi jadi merasa bersalah, seharusnya tadi dia tidak meninggalkan Rafa sendirian, seharusnya dia belajar dari kesalahannya dulu.


"Rafi mau ikut ibu sama Rafa, Rafi tidak bisa hidup tanpa kalian," ucap Rafi membuat Ruli semakin tidak terima.


"Gak, kalian gak boleh pergi, aku tidak mengizinkan kalian pergi." Ruli berusaha menahan Luna agar tidak pergi.

__ADS_1


"Ya sudah kamu bereskan semua barang barang kamu sama Rafa di kamar ya, biar ibu mengobati tangan Rafa dulu baru setelah itu kita pergi," suruh Luna pada Rafi dan langsung di laksanakan oleh Rafi.


Rafi berlari menuju kamarnya untuk membereskan barang barang miliknya dan juga milik kembarannya.


"Sayang aku mohon kamu jangan pergi, tolong maafkan aku aku janji tidak akan mengulanginya lagi," mohon Ruli agar Luna tidak pergi.


"Pikirkan lagi apa yang kamu katakan itu mas, kalau itu cuma berasal dari mulut kamu saja maka tidak ada artinya buat aku," balas Luna mengendong Rafa memasuki rumah.


"AAGRR... ini semua gara gara anak cacat itu, coba dari dulu aku bunuh dia, pasti rumah tangga ku akan tetap bahagia dan tidak berakhir seperti ini," marah Ruli yang merasa semua ini terjadi karena adanya Rafa di dalam rumah tangganya.


Ruli pun segera berlari memasuki rumah untuk menahan istrinya agar tidak pergi.


"Sstt... sakit Bu, perih," ringis Rafa saat Luna mengobati tangannya.


"Tahan sebentar ya sayang, ibu obati dulu biar tangan Rafa gak infeksi," balas Luna yang dengan telaten mengobati tangan Rafa.


"Kalian tunggu di sini dulu ya, ibu ambil barang barang ibu dulu di kamar," ucap Luna menyuruh kedua anaknya untuk menunggu.


"Iya Bu," balas kedua anak kembar itu.


Luna pergi menuju kamarnya setelah dia selesai mengobati tangan Rafa, dia langsung mengambil barang barang miliknya yang ada di dalam lemari dan memasukkannya ke dalam koper besar miliknya.


Setelah selesai dia langsung keluar dari kamar, tapi saat berada di depan pintu dia berpapasan dengan Ruli.


"Plis aku mohon kamu jangan pergi sayang, mas gak mau kehilangan kamu," mohon Ruli agar istrinya tidak jadi pergi.


"Maaf mas aku pergi dulu, anak anak sudah menunggu aku di bawah," balas Luna yang tetap setia pada pendiriannya dan tidak akan goyah.

__ADS_1


Luna mengabaikan Ruli yang terus memohon kepadanya, dia turun ke lantai bawah dan mengajak kedua anaknya untuk segera pergi dari rumah itu.


"Rafi ayah mohon Rafi jangan ikut pergi, kalau Rafi juga pergi ayah di sini sama siapa?" ucap Ruli yang saat ini berusaha untuk mempertahankan Rafi.


Kalau Luna gak bisa tetap tinggal, maka masih ada Rafi harapan dia satu satunya.


"Maaf yah Rafi gak bisa hidup sendiri tanpa Rafa karena kami sudah bersama sejak dalam kandungan ibu," balas Rafi yang tetap akan ikut pergi.


"Ayah mohon jangan tinggalkan ayah Rafi, ayah sayang sama kamu," balas Ruli.


"Ini salah ayah sendiri kenapa tidak bisa menerima Rafa dan selalu menyiksa Rafa, padahal tanpa ayah sadari sejak ada Rafa rezeki ayah terus bertambah banyak, seharusnya ayah bersyukur bisa mempunyai anak sepintar Rafa, tapi sayangnya ayah malah sering menyiksa Rafa," balas Rafi panjang lebar membuat Ruli terdiam.


Hal itupun di manfaatkan oleh Luna untuk segera pergi dari sana membawa kedua anaknya, Luna menyuruh mereka berdua masuk ke dalam mobil, dan diapun memasukkan ke-tiga koper yang mereka bawa ke dalam bagasi mobil.


Ruli hanya bisa menatap kepergian istri dan anaknya, di telinga Ruli masih terngiang ngiang ucap Rafi yang sangat menyentil hatinya.


Bagaimana bisa anak sekecil Rafi saja sudah mengetahui kalau rezeki dia meningkat saat ada kedua anaknya, bahkan di saat dia pernah menyiksa Rafa pagi harinya dia langsung mendapatkan musibah yang begitu besar.


Dan yang lebih Ruli ingat, tuan Ghozi mau bekerja sama dengan perusahaan dia karena dia adalah orang tua Rafa.


Sebegitu hebatnya pengaruh Rafa dalam kehidupannya tapi kenapa dia malah tidak menyadarinya, pikir Ruli yang mulai ada rasa sedikit menyesal karena sudah menyiksa Rafa.


"Apakah dosaku sudah sangat besar, sampai sampai istri dan kedua anakku pergi meninggalkan aku seorang diri," gumam Ruli.


Dengan lesu Ruli berjalan memasuki rumahnya yang akan terasa sepi karena tidak ada kedua anaknya yang biasanya rame bermain dan juga tidak ada istri yang biasanya akan menyambut dirinya ketika pulang bekerja.


Rasanya Ruli menyesal, tapi dia bingung harus bagaimana sekarang, mereka semua sudah pergi entah kemana, pikir Ruli.

__ADS_1


...***...


__ADS_2