Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah

Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah
Eps. 06


__ADS_3

Sementara itu, di tempat lain tepatnya di dapur Luna merasa perasannya tidak tenang, entah kenapa pikirannya tertuju pada kedua anak kembarnya.


"Kenapa perasaanku gak enak ya, anak anak juga kenapa belum balik dari ruangan ayahnya ya?" gumam Luna merasa heran.


Jika kalian bertanya kenapa Luna membiarkan Rafa pergi bertemu ayahnya sendiri hanya bersama Rafi, itu karena selama ini Ruli biasanya hanya menggunakan kata kata kasar saja, tidak pernah bermain fisik, jadi dia tidak terlalu khawatir.


"Aduh kenapa perasaanku semakin tidak tenang ya,"


"Aku harus melihat keadaan di atas," lanjut Luna dan langsung mematikan kompor dan langsung pergi menuju ruangan suaminya.


"Ayah lepaskan Rafa ayah Rafi mohon, Rafa gak salah ayah tadi Rafi yang suruh Rafa ambil minum buat ayah," ucap Rafi sambil memeluk kaki Ruli dan memohon dengan air mata yang terus menetes agar Ruli melepaskan Rafa.


"Rafi sebaiknya kamu minggir, jangan ikut urusan ayah, ayah gak mau menyakiti kamu," balas Ruli menyuruh Rafi agar menjauh dari dirinya dan melepaskan kakinya.


"Enggak ayah, Rafi mohon lepaskan Rafa, hiks hiks," mohon Rafi.


"Ayah rambut Rafa sakit, kepala Rafa pusing ayah, tolong kepada Rafa," mohon Rafa menahan rasa sakit yang ada di kepalanya akibat dari jambakan yang ada di rambutnya dan juga jeweran yang ada di telinganya.


Sudah tidak ada lagi air mata yang keluar dari mata Rafa, mungkin sudah habis karena di pakai menangis terus oleh Rafa.


"Jangan mimpi, rasakan ini karena kamu sudah menghancurkan pekerjaan ku yang sudah dengan susah payah aku kerjakan," bukannya melepaskan, Ruli malah semakin menambah jambakan serta jeweran di telinga Rafa sehingga membuat Rafa menjerit kesakitan.


"AAGRR ayah sakit," teriak Rafa kesakitan.


"Ayah tolong lepaskan Rafa ayah, Rafi mohon." Rafi yang melihat saudara kembarnya semakin tersiksa pun semakin mengeratkan pelukannya di kaki Ruli.


"IBU, TOLONG TOLONGIN RAFA IBU," teriak Rafi dengan keras berharap ibunya bisa mendengar teriakkan nya dan bisa menolong saudara kembarnya.


"Ayah sakit ...." ringis Rafa kesakitan.


Luna yang sudah dekat dengan ruangan kerja suaminya dan mendengar teriakkan Rafi dan juga teriakan kesakitan Rafa pun langsung berlari dan membuka pintu ruangan suaminya.


Brak.


"Astaghfirullah Rafa," Luna langsung berlari menghampiri Rafa dan memaksa tangan suaminya agar melepaskan Rafa.

__ADS_1


"Istighfar mas istighfar, Rafa ini anak kamu jangan kamu sakiti darah daging kamu sendiri mas, lepaskan Rafa," ucap Luna berusaha melepaskan tangan suaminya yang sangat erat berada di rambut serta telinga Rafa.


"Diam kamu, anak ini sangat merugikan, lebih baik aku bunuh dia saja," bantah Ruli.


Luna yang sudah bingung harus bagiamana pun langsung mengigit tangan suaminya dengan keras.


"AAGRR...." erang kesakitan Ruli dan seketika dia melepaskan tangan nya dari rambut dan juga telinga Rafa.


"Sayang kamu gak papa kan?" tanya Luna kepada Rafa dengan derai air mata yang terus menetes melihat nasib anaknya yang harus di siksa oleh ayah kandungnya sendiri.


"Kepala Rafa pusing ma," adu Rafa yang merasakan kepalanya pusing.


Mendengar itu, seketika mata Luna menatap Ruli dengan tatapan tajam.


"Puas kamu mas, kamu tega menyakiti Rafa, anak kandung kamu sendiri, puas kamu mas?" bentak Luna.


"Ini semua gara gara dia, kalau saja dia tidak membuat berkas berkas kantor hancur aku tidak akan mungkin menyiksanya, dia emang anak pembawa sial dan memang seharusnya mati dari dulu," balas Ruli yang tidak ada habis habisnya terus menghina dan menyalahkan Rafa.


Rafi berdiri dari posisi duduknya di lantai, dia menghampiri ibunya dan langsung memeluk ibunya.


"Tadi Rafi yang menyuruh Rafa mengambil minum untuk ayah, seharusnya Rafi saja yang ambil minum agar air minumnya tidak tumpah ke meja ayah dan membuat ayah marah, ini semua salah Rafi, bukan salah Rafa," lanjut Rafi menjelaskan.


"Tidak sayang, tidak ada yang salah di sini, yang salah itu ayah kamu. Tidak sepatutnya dia menyiksa anaknya sendiri."


"Ayo kita pergi ke kamar, kasian Rafa masih kesakitan, dia butuh istirahat," lanjut Luna mengajak kedua anaknya untuk kembali ke kamar mereka, biarlah nanti suaminya akan dia urus nanti.


Tidak baik kalau terus terusan berantem di hadapan anak anak, nanti yang ada mental mereka bisa terganggu, pikir Luna.


"Ayo sayang kita ke kamar, ibu obati kepala kamu biar rasa pusingnya mereda," ajak Luna kepada Rafa dan langsung di angguki Rafa.


"Aku berikan waktu buat kamu berfikir mas, renungkan semua apa yang sudah kamu lakukan tadi terhadap anak kamu," ucap Luna kepada Ruli sebelum dia pergi membawa kedua anaknya.


"Sudah aku bilang dia bukan anak aku," balas Ruli tapi tak di hiraukan oleh Luna.


Tapi meskipun begitu Rafa masih tetap saja mendengar ucapan ayahnya itu, sebegitu benci kah ayahnya kepada dirinya, apa dia salah kalau dia lahir ke dunia ini.

__ADS_1


Jika di suruh memilih Rafa pun tak ingin lahir dengan kekurangan seperti ini, tapi ini sudah menjadi takdir dari Allah yang harus dia terima, Rafa yakin pasti nanti ayahnya akan mau menerima Rafa dan memeluk Rafa dengan kasih sayang sama seperti ayahnya memeluk Rafi, pikir Rafa.


Sedangkan Ruli, bukannya memikirkan kesalahan yang sudah dia buat, tapi dia malah kembali melanjutkan pekerjaannya dan juga mengulangi membuat berkas baru lagi karena berkas yang sudah rusak itu tidak mungkin dia berikan kepada klien.


"Ini semua gara gara anak cacat itu, bikin pekerjaan orang jadi double aja," kesal Ruli kepada Rafa.


...**...


"Gimana masih pusing?" tanya Luna setelah mengompres kepala anaknya agar terasa dingin dan juga memberikan pijatan sedikit di kepala Rafa.


"Iya bu sudah mendingan, terimakasih karena ibu sama Rafi sudah mau merawat Rafa," balas Rafa mengucapkan terimakasih kepada ibu serta saudara kembarnya.


"Sudah kewajiban ibu untuk merawat anak ibu, maafkan ibu ya tadi telat datang menolong kamu, sampai sampai membuat kamu jadi seperti ini." Luna juga merasa bersalah, seharusnya tadi dia tidak membiarkan kedua anaknya menemui suaminya hanya berdua saja, seharusnya tadi dia menemani mereka.


"Ibu sudah melakukan yang terbaik buat Rafa, jadi ibu tidak perlu merasa bersalah." balas Rafa.


"Ya sudah ibu keluar dulu ya mau menyiapkan makan malam buat kalian, Rafi kamu temani kakak kamu dulu ya,"


"Iya Bu," balas Rafi.


Luna pun keluar dari kamar si kembar untuk menyiapkan makan malam buat anak anaknya.


"Apakah masih sakit?" tanya Rafi kepada saudara kembarnya.


"Udah enggak kok, terimakasih ya kamu sudah baik banget sama aku," balas Rafa.


"Aku minta maaf, gara gara ide aku kamu jadi seperti ini,"


"Ini bukan salah kamu, kan aku sendiri tadi yang meminta untuk kamu pergi duluan menemui ayah dan aku yang ambil minum," balas Rafa yang memang tidak menyalahkan Rafi.


"Aku janji, setelah ini aku akan menjadi orang yang kuat biar bisa melindungi kamu lebih baik lagi," janji Rafi.


"Terimakasih, kamu memang saudara terbaikku," balas Rafa dan mereka berdua pun berpelukan untuk mengungkapkan rasa sayang antara saudara di antara mereka.


...*** ...

__ADS_1


__ADS_2