Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah

Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah
Eps. 09


__ADS_3

Semua anak anak pun terdiam mendengar apa yang Cery katakan, tak berapa lama setelah itu datanglah Rafi yang baru saja kembali dari kantor kepala sekolah.


"Rafa, apa yang terjadi ini?" tanya Rafi menghampiri saudara kembarnya.


"Rafi kamu kok tega sih ninggalin Rafa sendirian, kamu tahu gak kalau dari tadi dia di jahati sama Bima," adu Cery mengadukan perbuatan Bima tadi kepada Rafi.


"Kamu gak papa kan, apakah Bima menyakiti mu?" tanya Rafi menatap saudara kembarnya.


"Enggak kok aku gak apa apa, tadi mereka hanya menyembunyikan tongkat ku saja," jawab Rafa.


Mendengar itu Rafi pun langsung menghadap ke arah Bima dan menatapnya tajam.


"Sudah aku bilang jangan menyakiti saudaraku, kalau berani lawan aku jangan Rafa," ucap Rafi menatap Bima tajam.


"Ckckck, ada pahlawan kesiangan di sini." Bima membalas menatap Rafi dengan pandangan yang mengejek.


"Ada apa ini kok rame rame?" tanya ibu guru yang baru saja memasuki kelas karena sudah waktunya masuk kelas setelah bel istirahat tadi.


"Ini Bu, Bima sama anak anak yang lain tadi menjahili Rafa," adu Cery kepada ibu guru.


"Benar begitu apa yang Cery bilang Bima?" ibu guru menatap Bima.


"Tidak bu dia bohong, tadi aku hanya ingin membantu Rafa mencari Rafi kok," bohong Bima.


"Mana ada, orang aku lihat sendiri kok tadi kamu melempar tongkat Rafa, terus kamu juga tadi mengejek Rafa, ibu bisa tanya ke anak anak yang lain kalau apa yang saya bilang tadi benar Bu," balas Cery.


"Iya bu Cery benar, tadi Bima mengejek Rafa," timpal yang lain membenarkan apa yang Cery katakan.


"Baiklah kalau begitu kalian silahkan kembali ke tempat duduk kalian masing masing, dan untuk Bima ayo kamu ikut ibu ke kantor," ucap ibu guru.


"Tapi Bu...."


"Sudah ayo kamu ikut ibu ke kantor," potong ibu guru yang tak menerima protes dari Bima.


"Ayo anak anak kalian silahkan duduk di tempat duduk kalian, ibu akan mengantar Bima ke kantor nanti kita lanjut belajarnya." lanjut ibu guru dan langsung di angguki oleh mereka semua.

__ADS_1


Ibu guru membawa Bima ke kantor untuk di berikan siraman rohani, dan setelah itu dia kembali ke kelas dan juga memberikan siraman rohani untuk murid murid yang lainya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan menyakiti Rafa lagi.


...**...


Hari sudah sore, keluarga kecil itu sekarang sudah berada di rumah mereka. Rafi dan Rafa sedari tadi fokus bermain lego dan juga mobil mobilan.


Rafi dengan telaten membantu Rafa merangkai lego hingga menjadi sebuah bentuk pesawat.


"Wah kamu hebat fa, lihat pesawatnya sudah jadi," ucap Rafi memuji kemampuan Rafa.


"Ini juga berkat bantuan kamu kok," balas Rafa.


"Aku ke kamar mandi dulu ya, kamu jangan kemana mana aku cuma mau buang air kecil," pamit Rafi dan di angguki Rafa.


Rafa bermain sendirian di sana, dia mulai mencoba untuk menerbangkan pesawat dengan bantuan tangannya, setelah bosen dia pindah memainkan mobil mobilan miliknya dan menyimpan lego itu di tempatnya.


"Lun, Luna kamu di mana sayang?" teriak Ruli mencari keberadaan istrinya.


"Rafi kamu tahu ibu di mana gak?" tanya Ruli tanpa melihat siapa anak yang dia tanya itu.


Ruli menatap ke arah Rafa, dan dia baru menyadari kalau ternyata di sana tidak ada Rafi.


Ini adalah momen yang sangat baik untuk Ruli menyakiti anak cacat itu, pikir Ruli.


"Heh kamu, jangan berani beraninya memainkan mobil mobilan itu, itu aku belikan buat Rafi bukan buat kamu," ucap Ruli melarang Rafa memainkan mobil mobilan itu yang katanya dia belikan hanya untuk Rafi bukan untuk Rafa.


"Ini punya Rafa ayah, ibu yang membelikan ini buat Rafa agar sama seperti punya Rafi yang ayah belikan," balas Rafa yang memang benar adanya.


Mobil mobilan itu adalah punya Rafa yang Luna belikan untuknya agar Rafa tidak iri saat Rafi mendapatkan hadiah mobil mobilan dari ayahnya.


"Halah, sini mana ini punya Rafi, tidak pantas kamu memegang mainan sebagus ini." Ruli mengambil mobil mobilan itu dengan paksa dari tangan Rafa.


"Ayah ini punya Rafa bukan punya Rafi ayah," balas Rafa yang tetap ingin mempertahankan mainan miliknya.


"Diam kamu, ingat ya jangan sekali kali kamu berani mengadukan ini kepada istri ku, awas kalau kamu berani mengadu akan aku buat kamu menyesal," ancam Ruli dan segera pergi meninggalkan Rafa sambil membawa mainan milik Rafa yang dia rampas.

__ADS_1


Ruli cepat cepat pergi dari sana sebelum nanti Luna dan Rafi kembali.


"Ibu, hati Rafa sakit," tangis Rafa sendirian.


Rafa segera menghapus air matanya, dia tidak boleh menangis di hadapan ibunya, nanti yang ada ibunya akan curiga dan dia akan mendapatkan hukuman dari ayahnya.


"Rafa maaf ya aku lama, tadi perut aku mules jadi sekalian aku buang air besar deh," ucap Rafi yang baru saja datang dari kamar mandi.


"Iya gak papa kok," balas Rafa sambil berusaha tersenyum agar Rafi tidak curiga kepadanya.


"Ayo kita main mobil mobilan," ajak Rafi.


"Loh mobil mainan punya kamu mana?" lanjut Rafi bertanya karena yang ada di sana hanya ada miliknya saja yang tadi belum dia dia keluarkan dari kotak mainan.


"Aku gak tahu, aku lupa naruh nya," balas Rafa bohong.


"Ooh gitu, ya sudah kita main yang lain aja deh," ajak Rafi dan di angguki Rafa.


Akhirnya kedua bocah itupun kembali memainkan Lego, karena hanya permainan itulah yang mereka sukai selain bermain mobil mobilan.


...**...


Luna yang tengah belanja di warung pun tak sengaja bertemu dengan ibu ibu tukang gosip, mereka di sana pada memuji kemampuan Rafa yang bisa mengikuti acara lomba menghafal Al Qur'an.


Luna merasa sangat bersyukur, ternyata meskipun ucapan ucapan yang keluar dari mulut ibu ibu tukang gosip itu sering terdengar pedas, tapi kali ini mereka malah memuji Rafa yang kata mereka adalah anak yang hebat.


"Lun anak anak kamu hebat banget ya, selain Rafa yang mengikuti lomba menghafal Al Qur'an, aku dengar juga dari anakku kalau Rafi ikutan lomba melukis di sekolah," ucap salah satu ibu yang ada di sana.


"Iya bu Alhamdulillah saya bisa di kasih anak sehebat mereka berdua," balas Luna tak lupa dengan senyuman ramah yang selalu dia perlihatkan.


"Iya aku juga dengar dari anakku, aku iri deh Lun sama kamu, udah anaknya pinter pinter suaminya juga penyayang banget sama keluarga," timpal yang lainnya membuat Luna tersenyum kecut.


Mereka tidak tahu saja bagiamana kelakuan suaminya yang sebenarnya terhadap anak pertamanya, pikir Luna.


...***...

__ADS_1


__ADS_2