Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah

Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah
Eps. 08


__ADS_3

Ruli yang sudah sampai di kantor pun langsung di sambut oleh sekertaris nya dan mendapatkan kabar yang tidak enak di dengar telinga.


"Tuan ada karyawan kantor yang melakukan korupsi di perusahaan," ucap sekertaris Ruli memberitahu.


"Apa maksud kamu?" tanya Ruli berharap telinganya salah dengar.


"Salah satu karyawan kantor berhasil membawa kabur uang perusahaan dengan jumlah yang tidak sedikit tuan," jelas sekertaris Ruli.


"Bagiamana ini bisa terjadi, apa kerja keamanan kantor selama ini Hah," marah Ruli yang mendengar kabar tersebut.


"Cari dia sampai dapat dan hukum seberat beratnya," perintah Ruli menyuruh agar sekertaris nya segera mencari koruptor itu.


"Kami sudah mencarinya tuan, dan dia sudah kabur entah kemana. Sepertinya ini sudah di rencanakan secara matang oleh dia sehingga kami sulit untuk menemukannya," balas sekertaris Ruli.


Brak.


"Dasar pengecut, lihat saja nanti kalau dia ketemu akan aku habisi dia," marah Ruli.


"Emm... ada satu lagi tuan," lanjut sekertaris Ruli yang ragu untuk mengatakannya.


"Ada apa, apakah ada kabar buruk lagi?" tanya Ruli.


"Klien yang akan bekerja sama dengan kita membatalkan secara sepihak kerja sama ini, bahkan dia juga membatalkan pertemuan kita nanti tuan," jawab sekertaris Ruli.


"Apa maksud ini semua, kenapa masalah datang bertubi-tubi seperti sekarang, klein ini adalah klien yang kita tunggu tunggu, bagaimana mungkin dia membatalkan kerja sama ini," kepala Ruli terasa mau pecah setelah mendengar berita berita yang sekertaris nya katakan.


"Dia mengatakan kalau tidak ingin bekerja sama dengan kita setelah mendengar kabar kalau ada salah satu karyawan yang korupsi tuan," jelas sekertaris Ruli.


"Ahh kepala ku sangat pusing mendengar ini semua, kamu silahkan kembali ke ruangan kamu dulu jangan ganggu aku untuk sementara waktu, aku ingin istirahat," pinta Ruli agar tidak ada yang menganggu dirinya terlebih dahulu.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dahulu, nanti kalau tuan perlu sesuatu tuan pangil saya saja," balas sekertaris Ruli.


"Hmm," balas Ruli dan sekertaris nya pun pergi meninggalkan ruangan Ruli, menyisakan Ruli yang tengah pusing tujuh keliling.


"Bagaimana ini bisa terjadi secara bersamaan, padahal aku kemaren sudah begadang untuk mengerjakan berkas berkas kerja sama," gumam Ruli sambil tangannya memijat keningnya yang terasa pusing.


Ruli tidak pernah berfikir kalau mungkin saja ini semua terjadi akibat dari perbuatannya kepada anaknya yang semalam dia siksa sampai menangis kesakitan.

__ADS_1


Rezeki Ruli bisa saja terhambat karena perbuatan dia selama ini.


Ruli pun memutuskan untuk menghubungi Luna dan menyuruhnya untuk datang ke perusahaan miliknya.


Ruli ingin berkeluh-kesah kepada istrinya, karena hanya dengan bertemu istrinya dia bisa merasakan ketenangan.


...**...


"Rafi kamu nanti jadi ikut lomba melukis ya, kamu akan berangkat sebagai perwakilan dari sekolah," ucap ibu guru kepada Rafi.


"Iya Bu, Rafi sudah siap kok," balas Rafi yang sudah menyiapkan dirinya.


"Bagus, kita sangat berharap kamu bisa mengharumkan nama baik sekolah, kamu adalah anak yang hebat ibu yakin kamu pasti bisa menang," doa ibu guru kepada Rafi.


"Iya bu Rafi minta doanya, semoga Rafi di berikan kemudahan dalam melukis nanti," balas Rafi.


"Aamiin nak,"


"Oh iya Bu, bolehkah nanti ketika aku lomba aku membawa keluargaku, ayah, ibu dan juga Rafa?" tanya Rafi yang sangat berharap kalau nanti di saat dirinya mengikuti acara lomba ada keluarga yang menemani dirinya.


"Iya sayang boleh, karena di lomba ini nanti akan di buka untuk umum," balas ibu guru yang mengizinkan Rafi membawa keluarganya.


"Iya nak," balas ibu guru dan Rafi pun pergi kembali menuju kelasnya.


"Heh anak buta, kemana pahlawan yang selalu melindungimu, pasti dia sudah capek menjadi tameng mu dan sekarang memilih pergi meninggalkan kamu sendiri kan," ucap anak laki-laki yang tak lain adalah Bima.


Bima sengaja mendatangi Rafa saat dia melihat kalau Rafa seorang diri di kelas tanpa ada saudara kembarnya.


"Enggak kok Rafi gak ninggalin aku, dia lagi pergi ke kantor kepala sekolah menemui guru," balas Rafa.


"Wah berarti ini kesempatan yang bagus dong buat aku mengerjain kamu," balas Bima dengan senyum liciknya.


"Jangan, kamu mau apa aku tidak pernah menganggu kamu, jadi aku mohon jangan ganggu aku," mohon Rafa yang tidak ingin di ganggu oleh Bima.


"Hahaha... hai kalian semua, ada yang mau lihat pertunjukan yang menyenangkan gak?" tanya Bima kepada teman satu kelasnya yang tengah sibuk dengan urusan urusan mereka.


"Mau, mau," balas teman satu kelas Rafa.

__ADS_1


"Nih lihat." Bima menyuruh agar Rafa berdiri di hadapannya, dan setelah itu dia langsung menendang tongkat yang Rafa pakai sehingga sekarang Rafa kesusahan mencari tongkat miliknya.


"Kemana tongkatku, kamu jangan nakal tolong ambilkan tongkat ku," mohon Rafa yang sekarang sudah terduduk di lantai dan meraba lantai di sekitarnya untuk menemukan tongkat miliknya yang bisa membantu dia menunjukkan jalan.


"Hahaha... dasar buta, masak tongkat ada di situ aja gak tahu," tawa mengejek Bima.


"Hahaha... Rafa lucu ya kalau seperti itu, dia terlihat seperti bayi yang merangkak," ucap salah satu teman sekelas Rafa.


"Iya kamu benar, Rafa sangat lucu," balas yang lainnya.


"Tolong kembalikan tongkat aku, aku mohon," pinta Rafa memelas.


Dia sudah meraba di sekelilingnya dan masih tetap tidak bisa menemukan tongkat miliknya.


"Ambil sendiri, makanya punya mata biar bisa melihat," balas Bima.


"Hahaha Rafa gak punya mata," tawa salah satu teman sekelas Rafa dan hal itu mengundang tawa teman teman yang lainnya.


"Hahaha iya Rafa gak punya mata,"


"Rafa gak punya mata,"


"Rafa gak punya mata,"


"Rafa gak punya mata,"


....


Mereka semua terus menyoraki Rafa dengan kalimat yang bisa membuat Rafa menangis, Rafa menghapus air mata yang tanpa dia sadari sudah menetes karena di perlakukan seperti itu oleh teman temannya.


Tiba tiba saja ada seorang murid perempuan yang datang menghampiri Rafa dan mengambilkan tongkat milik Rafa.


"Ini tongkat kamu, ayo aku bantu berdiri," ucap anak perempuan itu sambil membantu Rafa berdiri.


Semua anak anak yang melihat adegan itupun seketika terdiam, karena anak perempuan yang menolong Rafa itu adalah cery, anak yang Bima suka karena dia adalah anak yang paling cantik di satu sekolah ini.


"Cery, kenapa kamu menolong Rafa sih, biarkan dia di sana," kesal Bima menghampiri Cery.

__ADS_1


"Kalian itu sangat keterlaluan, tidak seharusnya kalian menjahili Rafa seperti ini, apa kalian tidak berfikir kalau kalian nanti akan mendapatkan dosa?" ucap Cery menatap satu persatu anak anak yang ada di sana.


...***...


__ADS_2