Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah

Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah
Eps. 14


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu, hari ini adalah hari di mana Rafi akan melakukan lomba melukis, sudah sedari petang tadi Ruli sudah heboh dengan ini itu untuk nanti dia gunakan buat menyemangati Rafi.


"Rafi nanti kalau kamu kehabisan ide kamu bisa lihat ayah ya, nanti ayah akan memberikan semangat buat kamu bisa kamu memiliki ide yang bagus buat menyelesaikan lukisan kamu," ucap Ruli memberikan pesan kepada Rafi.


"Iya ayah nanti akan Rafi lakukan,"


"Rafi senang deh karena akhirnya ayah bisa ikutan menemani Rafi lomba hari ini," lanjut Rafi yang merasa senang.


"Harus dong, meskipun tadi ayah ada meeting penting ayah langsung mengcansel nya demi bisa menemani kamu lomba," balas Ruli yang sangat antusias menemani Rafi lomba.


Rafa yang berada di sana pun hanya bisa berdoa dalam hatinya, semoga saja dia bisa seperti Rafi yang mendapatkan kasih sayang begitu besar dari ayahnya, doa Rafa dalam hati.


Rafa jadi teringat akan waktu dia mengikuti lomba beberapa hari yang lalu, saat itu bertepatan dengan hari libur tapi ayahnya tidak bisa menemani dirinya dan lebih memilih lembur di kantor, sedangkan sekarang seharusnya ayahnya itu ada jadwal meeting penting dengan klien tapi ayahnya itu lebih memilih menemani Rafi dari pada meeting penting itu.


Rafa sekarang lebih sadar diri, mungkin memang ini jalan hidupnya yang tidak bisa merasakan kasih sayang ayahnya, tapi terkadang dia juga suka merasa iri dengan Rafi yang selalu mendapatkan perlakuan khusus dari ayahnya.


"Ayo kita berangkat sekarang, nanti keburu telat," ajak Luna mengajak keluarga nya agar segera berangkat ke tempat lomba.


"Iya Bu," balas mereka.


Akhirnya mereka pun pergi menggunakan mobil Ruli, Rafa dan Rafi duduk di belakang, selama dalam perjalanan telinga Rafa terus mendengarkan ayahnya yang asik berbincang bincang dengan Rafi.


Jujur ingin sekali Rafa nimbrung dalam pembicaraan mereka, tapi dia takut nanti ayahnya malah akan menghina dirinya lagi.


"Rafa kamu kok diam saja sayang, apa kamu sakit?" tanya Luna yang sedari tadi belum mendengar suara Rafa.


"Enggak kok bu Rafa baik baik saja," balas Rafa.


"Seharusnya tadi kalau sakit itu diam saja di rumah jangan ikut kita, bikin repot aja," sahut Ruli dengan nada bicara yang tidak enak.


"Iya ayah maaf," balas Rafa.


"Mas kamu kok gitu sih," tegur Luna.

__ADS_1


Ruli pun tak membalas ucapan istrinya, dia lebih memilih fokus menatap jalanan yang ada di depan hingga mereka sampai di tempat acara tidak ada pembicaraan di antara mereka.


"Rafa kamu sama ibu ya, biar Rafi sama ayah," ucap Luna menggandeng tangan Rafa agar tidak hilang di tengah padatnya orang orang yang datang ke acara itu.


"Iya Bu," balas Rafa.


Ruli pun segera menggandeng tangan Rafi, mereka berempat berjalan menuju tempat berkumpulnya para peserta, setelah mengantarkan Rafi ke sana mereka bertiga langsung mencari tempat untuk mereka duduk.


"Kita duduk di sini saja mas biar nanti bisa kelihatan dengan jelas," ajak Luna menggajak Ruli untuk duduk di barisan paling depan.


Beruntungnya tempat duduknya masih banyak yang kosong sehingga membuat mereka bertiga bisa memilih tempat duduk yang paling depan.


"Sini kamu yang di samping aku, biar dia yang di pinggir sana," ucap Ruli saat Luna akan menyuruh Rafa duduk diam tengah tengah antara Luna dan Ruli.


"Tapi mas...."


"Udah lakuin aja, aku gak mau kita ribut di sini," potong Ruli yang tidak menerima bantahan dari Luna.


"Rafa duduk di sini gak papa kan?" tanya Luna yang sebenarnya sangat tidak tega kepada anaknya.


"Gak papa kok Bu, toh Rafa juga gak bisa melihat," balas Rafa.


"Nah itu bagus, akhirnya kamu sadar diri juga," sahut Ruli tanpa menoleh kearah Rafa.


"Mas, plis jangan bicara seperti itu lagi," tegur Luna memohon.


"Apa sih, orang aku juga gak menghina dia kok, orang dia sendiri yang bilang," balas Ruli.


"Hufft...." lagi dan lagi Luna hanya bisa menarik nafasnya agar dirinya bisa sabar dalam menghadapi suaminya yang seperti ini.


"Rafa kamu mau makan camilan apa sayang?" tanya Luna membuka bungkus kresek yang dia bawa dari rumah.


Bungkus kresek itu berisi beberapa camilan yang bisa menemani mereka dalam menonton acara lomba melukis agar tidak bosan.

__ADS_1


"Rafa mau kripik kentang saja bu, tapi yang tidak pedas," jawab Rafa.


Luna pun segera mengambil keripik kentang yang Rafa mau, tak lupa dia juga membukakan plastik snack itu agar memudahkan Rafa untuk makan.


Tak berapa lama setelah itu acara lomba pun di mulai, semua peserta sudah berada di tempat mereka masing masing termasuk Rafi.


Beruntungnya Rafi berada di barisan paling depan sehingga membuat dia bisa melihat keberadaan keluarganya.


"Ayo Rafi semangat, ayah selalu mendukungmu," teriak Ruli memberikan semangat kepada Rafi.


Rafi pun membalas dengan acungan jempol kepada ayahnya.


Rafa yang mendengar teriakan ayahnya pun hanya bisa tersenyum getir, mana bisa dia mendapatkan sorakan semangat dari ayahnya seperti itu, pikir Rafa.


Lomba di mulai dan semua peserta pun mulai melukis dengan kreasi mereka masing masing, cukup lama acara lomba itu berjalan hingga akhirnya pengumuman siapa pemenangnya pun berlangsung, dan Rafi lah yang mendapatkan juara pertama.


"Rafi kamu sangat hebat, ayah bangga sama kamu," teriak Ruli saat Rafi tengah menerima hadiah di atas panggung.


"Terimakasih buat ayah, ibu dan juga Rafa yang sudah menemani Rafi hari ini, dan hadiah ini Rafi persembahkan buat kalian, I love you ayah, ibu," ucap Rafi sebagai kata sambutan atas kemenangan dirinya.


Rafi pun langsung turun dari atas panggung dan Ruli yang melihat itu langsung berlari menghampiri Rafi dan memeluknya.


Sebenarnya Rafa tidak tahu adegan itu karena dia tidak bisa melihat, tapi bisik bisik dari orang orang yang ada di sekiranya membuat dia tahu kalau sekarang ayahnya tengah memeluk saudara kembar dirinya.


"Pasti ayahnya sangat bangga sama anaknya, lihatlah dia memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang," ucap orang di samping Rafa.


"Iya benar, siapa sih yang gak bangga kalau anaknya dapat juara satu, kalau aku mungkin akan melakukan hal yang sama seperti ayahnya itu, berlari dan memeluk anaknya dengan erat terus di beri kecukupan kasih sayang di seluruh wajahnya, itu adalah simbol kebahagiaan orang tua kepada anaknya," timpal orang yang di belakang Rafa.


Mendengar itu sungguh Rafa sangat merasa iri kepada saudara kembarnya yang mendapatkan perlakuan spesial dari ayahnya.


"Aku juga pengen di peluk ayah seperti Rafi," batin Rafa sedih.


...***...

__ADS_1


__ADS_2