Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah

Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah
Eps. 12


__ADS_3

Rafa melantunkan ayat ayat suci Al Quran dengan Tartil, semua orang yang berada di sana sampai terdiam mendengarkan suara indah Rafa.


Bahkan setelah Rafa selesai membaca ayat suci Al Quran banyak orang yang terus terusan memuji Rafa, tak terkecuali pasangan suami istri yang tengah berada di sana.


"MasyaAllah dia anak siapa sih kok suaranya bagus banget, pasti orang tuanya bangga punya anak seperti dia," ucap tuan Ghozi yang menonton acara lomba tersebut.


"Iya pa, bagus banget suara dia, seandainya saja kita punya anak seperti dia pasti kita akan selalu bahagia pa," balas istrinya yang bernama Dini.


"Mama gak boleh berbicara seperti itu, nanti kalau Allah sudah ingin memberikan momongan buat kita pasti dia juga akan segera menitipkan janin di perut mama," balas tuan Ghozi agar istrinya tidak bersedih.


"Iya pa mama minta maaf," balas Dini.


Tak berapa lama pengumuman pemenang pun berlangsung, dan Rafa lah yang menjadi juara pertama dalam lomba ini.


Semua orang bertepuk tangan dan menyoraki nama Rafa, sehingga membuat anak yang tidak bisa melihat itu merasa bahagia.


Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat di mulai teringat dengan ayahnya yang tidak bisa hadir di sini.


"Selamat sayang, ibu bangga sama Rafa," ucap Luna memberikan kecupan di seluruh wajah Rafa sebagai tanda kalau dia sangat bangga terhadap Rafa.


"Yeeyyy akhirnya kamu menjadi pemenangnya, nanti aku akan menceritakan ini kepada teman teman sekolah kita agar mereka tahu kalau kalau kamu itu hebat," timpal Rafi.


"Terimakasih Bu, fi karena kalian berdua aku bisa memenangkan lomba ini," balas Rafa.


"Mari buat pemenang silahkan naik ke atas podium untuk menerima penghargaan dari kamu," ucap MC menyuruh para pemenang agar segera naik ke panggung.


"Sana sayang itu kamu sudah di pangil," suruh Luna agar Rafa segera naik.


"Iya Bu," balas Rafa.


Luna dan Rafi pun membantu Rafa untuk naik ke atas panggung, dan setelah sampai di atas panggung barulah Rafa mendapatkan teropi, piagam dan juga uang tunai dari mereka.

__ADS_1


"Loh pa itukan istrinya salah satu klien papa kan, yang waktu itu mama ikut meeting di restoran," ucap Dini saat dia mengingat kalau wanita yang membantu Rafa naik ke atas panggung itu adalah istri dari rekan bisnis suaminya.


"Oh iya ya ma, apa jangan jangan Rafa itu anaknya Ruli?" tebak Ghozi.


"Bisa jadi pa, pa kalau gitu boleh gak mama minta buat papa menjalin kerja sama lagi sama tuan Ruli, biar kita bisa bertemu Rafa," pinta Dini agar suaminya bisa menjalin kerjasama lagi dengan perusahaan Ruli.


"Iya ma nanti akan papa pikirkan dulu," balas Ghozi.


"Assalamualaikum semua, terimakasih buat yang sudah mendukung Rafa, kemenangan ini Rafa persembahkan untuk kedua orang tua Rafa, ibu sama ayah yang tidak bisa datang ke sini menemani Rafa, Rafa cinta kalian," ucap Rafa mengungkapkan rasa cintanya kepada kedua orang tuanya.


Setelah itu Rafa pun turun dari panggung, dan para penonton yang ada di sana pun bertepuk tangan saat Rafa berjalan turun.


"Terimakasih sayang," ucap Luna terharu, dia memeluk tubuh Rafa dengan penuh kasih sayang.


"Sini ikutan juga," ajak Luna menyuruh Rafi agar bergabung dengan mereka.


Rafi pun langsung berpelukan bersama dengan ibu dan saudara kembarnya, dan setelah itu mereka pun pulang.


"Kita cari makan dulu yuk untuk merayakan kemenangan Rafa," ajak Luna kepada anaknya.


Sedangkan Rafa hanya diam saja, dia masih memikirkan ayahnya.


Apakah nanti ayahnya akan bangga dengan kemenangannya, pikir Rafa.


"Rafa kamu kenapa?" tanya Rafi.


"Rafa takut nanti ayah bangga atau tidak dengan kemenangan Rafa," jawab Rafa Jujur.


"Sayang dengerin ibu, apapun nanti yang akan ayah lakukan yang penting kan ada mama sama Rafi yang sangat bangga dengan prestasi kamu," jelas Luna sambil memegang kemudi.


Iya ibunya benar, seharusnya dia tidak perlu bersedih karena ada ibu dan saudara yang sudah sangat baik kepadanya, pikir Rafa.

__ADS_1


"Udah ya kamu jangan pikirkan ayah dulu, yang penting sekarang ayo kita happy happy dulu," lanjut Luna.


"Iya benar kata ibu, kita harus party party hari ini," setuju Rafi dan mereka pun tertawa mendengar bahasa Rafi yang sok Inggris.


...**...


Ruli sudah pulang dari perusahaan, saat baru membuka pintu rumahnya dia langsung di sambut Rafa yang berada di sana.


"Assalamualaikum ayah, Rafa mau kasih kejutan buat ayah," ucap Rafa yang meskipun buta tapi dia tahu kalau yang membuka pintu itu adalah ayahnya.


"Hmm waalaikum salam," balas Ruli cuek.


"Ayah tadi ayah tahu gak kalau Rafa itu berhasil memenangkan lomba lho, dan ini piagam sama teropinya Rafa persembahkan untuk ayah," lanjut Rafa memberitahukan kemenangannya.


"Aku ke kamar dulu mau mandi," ucap Ruli dan berlalu begitu saja meninggalkan Rafa yang sangat berharap mendapatkan pelukan serta ciuman kebanggaan dari ayahnya.


"Sepertinya ayah memang gak suka dengan aku, bahkan di saat aku membawa kabar baik pun ayah biasa biasa saja," gumam Rafa sedih.


"Rafa kok kamu ada di sini?" tanya Rafi menghampiri Rafa yang berdiri sendirian sambil memegang teropi dan piagam.


"Kamu habis ngapain?" tanya Rafi penasaran.


"Aku tadi ingin menyambut kedatangan ayah dan bilang kalau aku menang, tapi ternyata ayah sudah pulang jadi aku telat deh," bohong Rafa, padahal tadi dia tidak telat menyambut kepulangan ayahnya.


"Seharusnya kamu tadi bilang sama aku agar aku kasih tahu kapan ayah pulangnya, tapi kamu tenang saja kan masih ada waktu nanti saat makan malam, aku yakin pasti ayah akan bangga sama kamu," balas Rafi yang sangat yakin kalau ayahnya akan sama seperti dirinya dan juga ibunya yang sangat bangga dengan kemenangan Rafa.


"Semoga saja," balas Rafa tak bertenaga karena dia sudah tahu kalau ayahnya tidak akan menerima kemenangan Rafa.


"Ayah sudah menolak kemenangan ku Rafi, ayah memang gak pernah suka sama aku," batin Rafa menjerit.


"Ya sudah ayo sini aku bantu bawa teropinya ke kamar," ucap Rafi dan di angguki Rafa karena tadi Rafa juga kesusahan membawa teropi yang sangat berat itu, apalagi dia tidak bisa melihat.

__ADS_1


Mereka berdua pun berjalan menuju kamar dengan Rafi yang membawa teropi Rafa, sedangkan Rafa hanya membawa piagam miliknya.


...*** ...


__ADS_2