Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah

Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah
Eps. 16


__ADS_3

Mereka sudah sampai di sebuah restoran mewah yang akan di adakan pertemuan antara dua keluarga, hati Luna benar benar tidak tenang karena meninggalkan Rafa sendirian di rumah.


Begitu juga dengan Rafi, dia juga tidak tenang meninggalkan Rafa sendirian, tadi dia menolak untuk ikut kalau Rafa tidak di ajak, tapi dengan rayuan yang ayahnya berikan alhasil Rafi pun ikut.


"Selamat datang tuan Ruli sekeluarga," sapa tuan Ghozi kepada Ruli dan keluarganya.


"Terimakasih tuan Ghozi dan nyonya Dini karena sudah mengundang saya sekeluarga," balas Ruli.


"Ayo ayo sini silahkan duduk," suruh Ghozi mempersilahkan tamunya untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan.


Sedangkan Dini, dia sedari tadi sibuk mencari keberadaan Rafa, dia mencari Rafa di antara keluarga yang baru datang itu tapi dia tidak berhasil menemukannya.


"Emm... maaf tuan Ruli bolehkah saya bertanya?" ucap Dini meminta izin untuk bertanya.


"Iya nyonya silahkan bertanya apa yang ingin anda tanyakan," balas Ruli.


"Emmm... anak anda yang bernama Rafa kemana ya, kok tidak ikut juga?" tanya Dini.


Deg.


"Kenapa nyonya Dini bisa tahu kalau aku punya anak selain Rafi," batin Ruli.


"Itu tadi dia a...."


"Rafa sedang tidak enak badan nyonya makanya saya tidak mengajak dia, kasian nanti kalau dia kena angin malam," potong Ruli sebelum Luna menjawab pertanyaan Luna.


"Bisa bisanya kamu bohong seperti itu mas," batin Luna yang sangat marah karena suaminya bilang kalau Rafa sakit, padahal Rafa sehat sehat saja di rumah.


"Ooh seperti itu, padahal saya sudah sangat gak sabar pengen ketemu Rafa, ehh taunya malah dia gak ikut karena sakit, semoga Rafa cepat sembuh ya Bu," balas Dini yang memang sangat ingin bertemu Rafa.


"Aamiin, terimakasih doa nya," balas Luna terpaksa mengamini.


"Emm... maaf sebelumnya kalau boleh saya tahu nyonya dini kok bisa tahu kalau anak saya bernama Rafa?" tanya Ruli penasaran."Oh itu waktu itu kita berdua menghadiri acara lomba yang Rafa ikuti dan kebetulan Rafa adalah pemenangnya, terus tanpa sengaja istri saya melihat kalau Rafa itu tengah bersama istri kamu jadi kita mengambil kesimpulan kalau Rafa itu memang anak kamu," jelas tuan Ghozi dan mendapatkan anggukan kepala dari Ruli.


"Dan kerja sama yang saya katakan itu juga atas permintaan istri saya yang ingin sering sering bertemu dengan Rafa," lanjut tuan Ghozi.

__ADS_1


"Berarti ini semua karena anak cacat itu," batin Ruli.


"Aduh sayang sekali ya Rafa nya gak enak badan, coba kalau dia lagi sehat pasti dia bisa ikutan datang menemui kalian," balas Ruli.


"Iya tuan gak papa, mungkin lain kali lagi kita akan mengadakan makan malam seperti ini agar istri saya bisa bertemu dengan anak anda," balas tuan Ghozi.


"Iya tuan, nanti lain kali saya akan mengajak Rafa," balas Ruli.


Luna yang mendengar itu semua pun merasa kalau doa anaknya sangatlah kuat, di saat perusahaan Ruli ada masalah, malah Rafa yang sering Ruli siksa mendatangkan bala bantuan buat Ruli, sungguh anaknya itu adalah magnet rezeki yang sangat kuat, batin Luna.


"Ya sudah kalau gitu ayo kita makan dulu, nanti kita bisa ngobrol ngobrol lagi setelah makan," ajak tuan Ghozi dan di angguki oleh mereka yang ada di sana.


...**...


Sementara itu, Rafa yang di tinggal sendirian di rumah pun fokus mendengarkan surat surat Al Qur'an untuk bahan hafalannya lagi.


Tadi setelah sholat isya juga Rafa berdoa semoga rezeki ayahnya lancar, dan klien yang sekarang tengah bertemu dengan ayahnya itu mau bekerja sama dengan perusahaan ayahnya.


"Shodaqo allah hul adzim," ucap Rafa setelah menyelesaikan hafalannya.


"Padahal ini sudah lama, tapi kok ayah, ibu sama Rafi belum pulang ya," gumam Rafa.


Rafa mencari tongkat miliknya, dan dia berjalan menuju jendela yang ada di kamarnya.


"Kata orang orang malam itu indah, di hiasi bintang dan juga Bulan tapi sayangnya aku tidak bisa melihat itu," gumam Rafa menatap ke arah langit malam yang memang begitu cerah pada malam itu.


"Ya Allah terimakasih karena engkau sudah memberikan hamba kesehatan yang baik, ampuni hamba yang kurang bersyukur atas nikmat yang telah engkau berikan," lanjut Rafa.


"Langit, boleh kah aku menitipkan rindu kepada ayah, tolong sampaikan kepadanya kalau aku ingin di peluk oleh ayah meskipun itu hanya sekali dalam hidup aku," batin Rafa dan tanpa terasa air matanya sudah menetes.


Ceklek.


Terdengar pintu kamar Rafa di buka, Rafa pun segera menghapus air matanya agar tidak ada yang tahu kalau dia tengah bersedih.


"Rafa aku pulang," ucap Rafi menghampiri Rafa.

__ADS_1


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Rafi melihat keluar jendela yang gordennya tadi Rafa buka.


"Aku senang melihat langit malam, kata orang orang langit malam itu sangat indah, ada bulan dan juga bintang," jawab Rafa sambil tersenyum.


Rafi melihat ke arah langit, dan benar saja sekarang langit terlihat sangat indah.


"Iya kamu benar Rafa, langit sangat indah malam ini," balas Rafi.


"Benarkah, apakah ada bulan dan juga bintang?" tanya Rafa penasaran.


"Iya, di atas sana ada bulan dan bintang," jawab Rafi.


Rafa pun berjalan semakin mendekat pada jendela, dia menengadahkan kepalanya ke atas.


"Gimana tadi makan malamnya?" tanya Rafa penasaran.


"Biasa saja, tidak seru karena tidak ada kamu," jawab Rafi.


"Oh iya, kamu tahu gak tadi, klien ayah itu ternyata dia ingin bertemu sama kamu lho, katanya mereka melihat kamu waktu lomba hafalan dulu," lanjut Rafi memberitahu.


"Oh ya?" tak percaya Rafa.


"Iya, bahkan mereka bilang suara kamu sangat bagus," balas Rafi.


"Kata orang memang suara aku bagus, tapi kenapa tidak dengan ayah," raut wajah Rafa berubah menjadi sedu saat mengingat perlakuan perlakuan ayahnya kepada dirinya.


"Rafi kalau boleh jujur sebenarnya aku sangat iri sama kamu yang bisa merasakan pelukan dab kasih sayang ayah," lanjut Rafa.


"Bolehkah aku bertanya?" lanjut Rafa.


"Iya boleh, emang apa yang perlu kamu tanyakan?" balas Rafi menatap saudara kembarnya dengan iba.


"Rafi, gimana sih rasanya di peluk ayah?"


...***...

__ADS_1


__ADS_2