Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah

Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah
Eps. 22


__ADS_3

"Ibu?" ucap Rafa menatap wanita yang ada di hadapannya.


"Iya sayang ini ibu, Rafa bisa lihat ibu?" balas Luna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Rafa kamu lihat ini berapa?" tanya dokter kepada Rafa dengan jari tangan yang berjumlah dua.


"Dua," jawab Rafa.


"Kalau ini?"


"Lima," jawab Rafa lagi.


"Alhamdulillah, putra anda sudah bisa melihat dengan normal Bu," ucap dokter itu memberitahu Luna.


"Alhamdulillah, terimakasih dokter," balas Luna.


"Rafa apa yang kamu rasakan setelah bisa melihat, apakah ada yang sakit?" tanya dokter itu kepada Rafa.


"Tidak dok, tidak ada yang sakit," jawab Rafa sambil tersenyum manis.


"Lihatlah mas, anak kita sudah bisa melihat seperti apa yang kamu pesan, kamu pasti bahagia di sana," batin Luna menatap Rafa sambil tersenyum menyembunyikan rasa sedihnya.


"Ibu, ayah mana?" tanya Rafa tiba tiba membuat Luna bingung harus menjawab apa.


"Ya Allah aku harus jawab apa?" batin Luna bingung.


"Rafi, ayah mana?" tanya Rafa pindah bertanya kepada Rafi karena tidak menjawab pertanyaannya tadi.


"Emmm... sebaiknya kamu harus banyak banyak istirahat dulu, nanti biar kamu cepat sembuh trus bisa masuk ngaji sama sekolah sama aku deh," balas Rafi mengalihkan pembicaraan.


"Iya benar kata Rafi, kamu harus banyak istirahat kan kamu baru selesai operasi," timpal Luna setuju.


Dokter yang mengerti situasi pun mendukung ucapan ibu dan anak itu.


"Benar, Rafa harus istirahat dulu, nanti biar cepat sembuh," setuju dokter yang menangani operasi mata Rafa.


"Baik dok," balas Rafa patuh, meskipun dalam hatinya masih bertanya tanya kemana ayahnya.


Rafa ingat, sebelum dirinya di operasi dia mengalami kecelakaan bersama sang ayah, dan setelah itu dia tidak tahu lagi bagiamana keadaan ayahnya.

__ADS_1


Rafa sangat berharap bisa melihat dan memeluk ayahnya lagi karena sekarang ayahnya sudah bisa menerima dirinya, apalagi semenjak dia bisa melihat pasti ayahnya akan semakin menyayangi dirinya.


Rafa juga akan bekerja keras lagi agar bisa mendapatkan lebih banyak prestasi lagi dan membuat ibu dan ayahnya semakin bangga kepada dirinya.


"Ya sudah sekarang kamu istirahat ya, ibu sama Rafi akan jagain kamu di sini," ucap Luna mengelus rambut Rafa.


"Nanti aku kalau pulang akan bawa banyak mainan buat kita main di sini agar kamu tidak bosen," ucap Rafi dan di angguki Rafa yang sudah berbaring.


Rafa pun mulai memejamkan matanya, dia pun langsung tidur meskipun banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan.


...**...


"Ibu, bagaimana nanti kita memberitahu Rafa kalau sebenarnya ayah udah gak ada?" tanya Rafi setelah mereka keluar dari ruang rawat Rafa.


"Ibu juga tidak tahu nak," balas Luna memangku Rafi di ruang tunggu.


"Ayah sedang apa ya bu di sana?" tanya Rafi tiba tiba teringat dengan ayahnya.


"Kita sholat ya, kalau kita kangen sama ayah kita doain ayah dari sini, biar ayah bangga sama Rafi," balas Luna mengajak Rafi sholat dan di angguki oleh Rafi.


Mereka berdua pun pergi ke mushola yang ada di rumah sakit dan menjalankan ibadah sholat.


...**...


"Mas," ucap Luna saat memasuki ruangan yang ada Ruli berada.


"Sayang, mas minta maaf sama kamu karena belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik buat kamu dan anak anak, terutama buat Rafa," ucap Ruli dengan suara yang sangat lemah.


"Tidak mas, mas Ruli adalah suami dan ayah yang hebat buat aku dan anak anak, kita bangga punya mas," balas Luna dengan air mata yang sudah ingin keluar.


Luna tak kuasa menahan tangisannya lagi melihat keadaan Ruli yang sangat parah, kaki yang di perban, dan luka luka di tangan dan wajahnya yang sangat parah.


Terlebih pendarahan yang ada di kepalanya yang sudah di balut perban membuat Luna ikut merasakan sakit yang di derita Ruli.


"Sayang mas boleh kan pesan sesuatu sama kamu?" tanya Ruli menatap Luna.


"Emang mau pesan apa, mas simpan enegi mas agar tetap kuat, mas jangan ngomong yang aneh aneh," balas Luna.


Ruli menggelengkan kepala, "Mas sepertinya udah gak lama lagi sayang, nanti kalau mas gak ada tolong kasih kedua mata mas buat Rafa, agar dia bisa melihat seperti teman temannya," pesan Ruli.

__ADS_1


"Gak, mas gak boleh ngomong seperti itu, mas harus kuat, mas harus bertahan buat aku dan anak anak, kita bertiga masih membutuhkan mas." Luna menggelengkan kepalanya tak suka dengan apa yang Ruli katakan, dan air matanya juga keluar dengan derasnya.


"Mas titip salam buat Rafa ya, bilang sama dia kalau ayahnya ini sangat menyayangi dia, dan Rafi juga. Bilang sama mereka berdua kalau mereka harus saling sayang dan saling menjaga sampai nanti," lanjut Ruli.


"Stop mas, mas gak boleh bicara seperti itu, Rafa masih membutuhkan kamu, Rafi juga masih membutuhkan kamu, kamu harus kuat, kamu harus bisa melewati ini semua sama kita mas," bantah Luna.


"Maaf sayang, kepala mas sangat sakit, aku sayang sama kamu, maaf kalau aku ada banyak salah sama kamu, I love you Luna dan anak anak, mas pergi dulu jaga diri kamu dan anak anak dengan baik,"


"AGGRR...." erang Ruli kesakitan di bagian kepalanya.


"Mas, mas kamu harus kuat,"


"DOKTER DOKTER, SUSTER TOLONG," teriak Luna memanggil dokter.


Dokter dan suster pun berlarian memasuki ruangan Ruli dan mereka langsung mengambil tindakan untuk Ruli.


Luna pun di suruh keluar dan tangisnya langsung pecah dalam pelukan Rafi.


"Ibu ayah kenapa?" tanya Rafi yang tidak mengerti dengan keributan yang ada di depannya.


"Ayah sakit nak, ayah sakit hiks hiks," balas Luna menangis.


"Ayah pasti sembuh kan Bu, ayah pasti kembali sama kita kan Bu?"


"Iya sayang, kita doakan ayah agar ayah bisa melewati semua ini ya," balas Luna dan di angguki Rafi.


Mereka berdua berpelukan di depan ruangan Ruli, dan tak lama keluar lah dokter dan di ikuti beberapa suster di belakangnya.


"Dok, bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Luna.


"Maaf Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tuhan berkehendak lain, tuan Ruli sudah menghembuskan nafas terakhirnya." Dokter itu dengan wajah sedih memberitahukan kabar duka kepada Luna.


"Enggak dok, dokter pasti bohong kan, mas Ruli gak mungkin pergi meninggalkan aku sama anak anak, dokter pasti bohong kan?" tak percaya Luna dengan air mata yang terus membanjiri pipinya.


"Ibu yang tabah, kami akan segera menyiapkan ruang operasi sesuai dengan permintaan terakhir tuan Ruli, permisi." Dokter itu langsung pergi meninggalkan Luna dan Rafi yang berlari masuk ke dalam ruangan Ruli.


"Ayah kenapa ayah meninggal Rafi hiks hiks," tangis Rafi memeluk tubuh ayahnya yang sudah tidak bergerak lagi.


Begitupun dengan Luna, dia juga memeluk tubuh suaminya dan menangis tersedu-sedu di sana.

__ADS_1


Flashback off.


...***...


__ADS_2