Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah

Pelukan Pertama Dan Terakhir Ayah
Eps. 07


__ADS_3

Luna menunggu suaminya di dalam kamar, tapi tak kunjung batang hidung suaminya itu terlihat. Hal itu membuat Luna kesal sendiri, sehingga membuat dia langsung pergi menghampiri suaminya yang dia yakini masih berada di ruang kerjanya.


Ceklek.


Tanpa mengetuk pintu atau permisi dulu Luna main nyelonong masuk membuka pintu ruang kerja Ruli.


"Ada apa?" tanya Ruli mendongakkan kepalanya menatap Luna.


Sedari tadi Ruli sibuk mengerjakan pekerjaannya karena besok pagi harus selesai.


"Kamu ngapain aja sih, dari tadi aku tungguin kamu di kamar tapi gak datang datang," ucap Luna mendekati Ruli.


"Huh, pekerjaanku masih banyak, jadi kalau kamu mau marah marah di pending saja," balas Ruli yang tengah sibuk dan gak ada mood buat berantem dengan istrinya.


"Huh baiklah, aku akan menemani kamu di sini," balas Luna.


Bagaimana pun juga Ruli itu adalah suami yang sangat dia cintai, jadi sejahat apapun Ruli Luna tidak mungkin akan melepaskan Ruli begitu saja, bagaimana pun juga istri harus patuh terhadap suaminya.


"Kamu sebaiknya tidur saja di kamar, aku tahu kamu juga lelah," balas Ruli menyuruh Luna agar istirahat.


"Nanti saja, aku mau menemani kamu dulu," balas Luna yang kekeh ingin berada di sana.


Luna pun mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sana, dan menatap ke arah suaminya.


"Mas, bisa gak sih kamu kasih perhatian dan gak benci sedikit saja sama Rafa," ucap Luna.


Ruli menatap Luna, "Kalau kamu di sini mau membicarakan anak cacat itu sebaiknya kamu pergi ke kamar, kepalaku sudah pusing dengan pekerjaan double akibat ulah anak cacat itu," ucap Ruli yang tidak ada habisnya menghina Rafa.


"Plis mas aku mohon, jangan bilang Rafa anak cacat lagi, dia itu anak spesial pemberian dari tuhan yang harus kita jaga," mohon Luna.


Luna ingin berbicara dengan baik baik kepada suaminya dan dia berharap semoga saja suaminya itu bisa mengerti.


"Kenapa, orang itu memang kenyataannya kok, dia memang anak cacat," balas Ruli.


"Mas, Rafa itu sama seperti Rafi, dia itu sama sama anak kandung kita, apa kamu tega menghina anak kamu sendiri, di mana hati kamu mas," ucap Luna berharap suaminya itu cepat sadar.


"Apa kamu lupa, dulu waktu aku hamil kamu sangat antusias menunggu kelahiran anak kita yang kembar, kamu juga bilang sama aku kalau sebagai orang tua nanti kita tidak boleh membedakan kasih sayang di antara kedua anak kita," lanjut Luna mengingat pembicaraannya dulu bersama Ruli semasa si kembar masih berada dalam kandungan.

__ADS_1


"Tapi ini beda Lun, dia cacat dan dia bisa bikin malu keluarga kita," balas Ruli.


"Rafa enggak cacat mas, dia hanya di berikan kelebihan yang spesial dengan tidak bisa melihat kejamnya dunia ini, dia anak yang spesial mas, bukan anak cacat," balas Luna.


"Terserah kamu lah mau bilang dia anak spesial kek, punya kelebihan kek, pokoknya buat aku dia itu anak cacat titik gak pakai koma," balas Ruli yang tidak mempan dengan ucapan ucapan yang Luna berikan.


"Astaghfirullah hallazim, istighfar mas istighfar,"


"Rafa tidak akan membuat kita malu, seharusnya yang buat keluarga kita malu itu kamu mas, kamu orang tua yang tega menghina dan menyiksa darah daging kamu sendiri," lanjut Luna kali ini suara Luna sudah naik satu oktaf.


"Aku gak mau ribut sama kamu mas, aku tahu kamu sibuk. Aku cuma minta sama kamu jangan lagi menghina atau menyiksa Rafa, meskipun kamu tidak menyukai dia, tapi aku mohon jaga mulut kamu agar tidak bicara hal yang bisa membuat dia sakit hati," pinta Luna.


"Kali ini aku masih memaafkan perbuatan kamu kepada Rafa tadi mas, tapi kalau sampai nanti keulang lagi hal yang sama, maaf mas aku sudah tidak bisa lagi melanjutkan rumah tangga ini," lanjut Luna dan berdiri dari duduknya hendak pergi dari sana.


"Apa maksud kamu?" tanya Ruli.


"Aku rasa kamu tidak bodoh mas, aku yakin kamu mengerti dengan apa yang aku maksud tadi,"


"Aku pergi ke kamar dulu, jangan malam malam kalau tidur, tubuh kamu juga butuh istirahat," lanjut Luna dan beneran pergi dari sana meninggalkan Ruli di dalam ruang kerjanya sendiri.


"AAGRR...." teriak Ruli marah.


Setelah merasa sedikit tenang, Ruli kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi akan selesai, setelah selesai nanti dia akan menyusul istrinya ke kamar.


...**...


Keesokkan harinya keadaan Rafa sudah membaik, dia juga sudah bersiap dengan seragam lengkap miliknya sama seperti Rafi yang juga sudah bersiap dengan seragamnya.


"Kamu yakin mau pergi sekolah Fa?" tanya Rafi.


"Iya aku yakin, aku udah sehat kok aku gak mau bolos nanti aku bisa ketinggalan pelajaran," balas Rafa.


"Ya sudah, nanti kalau kamu merasa pusing atau apapun itu kamu bilang sama aku ya,"


"Iya kamu tenang aja,"


"Ya sudah ayo kita keluar, pasti ibu sudah menunggu kita di meja makan," ajak Rafi dan di angguki oleh Rafa.

__ADS_1


Rafi berjalan di samping Rafa, agar nanti dia bisa menunjukkan jalan untuk Rafa.


Sebenarnya sih Rafa sudah hafal dengan keadaan rumahnya, tapi tetap saja Rafi takut kalau nanti terjadi sesuatu dengan Rafa jadi dia harus siap siaga menjaganya.


"Selamat pagi ibu, a... yah," sapa Rafi dan Rafa, tapi saat menyebutkan kata ayah hanya Rafi saja yang menyebutnya karena Rafa tidak tahu kalau ada ayahnya di sana.


"Selamat pagi anak anak ganteng ibu, ayo cepat sini kita sarapan," balas Luna sedangkan Ruli hanya diam saja.


"Rafa kamu sudah sehat kok udah mau berangkat sekolah?" tanya Luna kepada Rafa sambil mengambilkan makanan untuk kedua anaknya.


"Iya bu Rafa sudah sehat kok," balas Rafa.


"Ya sudah, ayo cepat kalian makan nanti keburu kesiangan," suruh Luna dan langsung di angguki oleh mereka.


Sebenarnya sedari tadi bibir Ruli sudah gatal ingin menghina dan mencaci Rafa, tapi mengingat apa yang di ucapkan istrinya semalam membuat Ruli mengunci bibirnya rapat rapat agar rumah tangganya tetap aman.


Rafa dan Rafi pun merasa heran dengan sikap ayahnya yang hanya diam saja saat makan padahal biasanya ayahnya itu akan berbicara dan menghina Rafa.


Rafa senang karena tidak mendengar hinaan dari ayahnya lagi, dia mengira kalau ayahnya sudah sadar dan tidak membenci dirinya lagi setelah kejadian semalam.


Sedangkan Rafi yang bisa melihat raut wajah ayahnya pun merasa aneh, Rafi yakin pasti ada sesuatu yang membuat ayahnya jadi diam seperti itu.


Selesai makan, Luna segera mengantarkan Rafi dan Rafa pergi ke sekolah.


Seperti biasa Rafi akan berpamitan kepada ayahnya dan di sambut baik oleh Ruli, tapi saat Rafa akan berpamitan juga Ruli langsung melengos pergi berangkat kerja setelah pamit kepada istrinya.


"Gak apa apa ya sayang, kamu berdoa saja semoga ayah bisa cepat berubah, sekarang saja ayah sudah ada kemajuan dengan tidak menghina kamu lagi saat makan bersama tadi," ucap Luna kepada Rafa yang tidak di anggap oleh ayahnya.


"Iya Bu, Rafa akan selalu berdoa untuk keluarga kita," balas Rafa.


"Kamu tenang saja, aku pasti akan membantu kamu untuk mendapatkan hati ayah," timpal Rafi.


"Terimakasih, aku bangga punya ibu dan saudara yang sangat menyayangi aku," ungkap Rafa bahagia.


"Kita juga bangga punya Rafa, iya kan adek Rafi?" Luna menatap Rafi.


"Iya bu benar, aku bangga punya kakak seperti kamu," setuju Rafi.

__ADS_1


Sebelum berangkat mereka bertiga berpelukan terlebih dahulu, dan setelah itu mereka langsung masuk ke dalam mobil ibunya dan langsung pergi menuju sekolah tempat si kembar belajar.


...***...


__ADS_2