
___
Sesampai di kota Adry membubarkan bawahannya, memberi waktu untuk mereka beristirahat.
Aku pun mengalami trauma, semua hal itu terjadi begitu saja dan terngiang-ngiang di kepalaku.
Tanpa berbicara aku langsung pergi tetapi Adry memegang pundakku dan menghentikanku. "Tunggu Reza! Jangan biarkan ayahku mengetahui hal ini dari mulutmu. Cepat atau lambat dia pun pasti mendengar kabarnya. Aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir secepat itu," ucap Adry yang terlihat kesakitan.
"Omong-omong bisakah kau temani aku sebentar? Ikutlah aku ke kantor." Akupun mengikutinya, sesampainya dikantor Adry melepaskan seluruh pelindung dan zirahnya.
Adry tampak kesakitan, ketika dia membuka bajunya terdapat banyak memar di badannya. "Ah sial ini menyakitkan, sepertinya beberapa tulangku ada yang patah."
Aku bukanlah dokter, tidak mengetahui hal seperti ini. Aku hanya bisa mengambilkannya segelas air untuk dia menenangkan diri. "Bagaimana kau mendapatkan luka itu? sedangkan kau mengenakan zirah besi, pedang tidak akan membuatmu seperti ini kan?"
Dia berbaring di meja kantornya. "Mereka memiliki palu perang, bukan palu perang yang asli,mereka membuatnya akan tetapi cukup untuk membuatku babak belur, lihat saja zirahku yang penyok itu." Dia menunjuk zirahnya yang bersandar di tembok.
Aku bertanya, "Kenapa para bawahanmu tidak memiliki zirah besi sepertimu?"
Adry menjawab, "Zirah yang kupakai sangat mahal harganya, segelintir orang bisa membelinya, kebanyakan para bangsawan lah yang memiliki puluhan zirah seperti ini, lalu helm, senjata dan lain-lain. Anggaran untuk para penjaga tidaklah besar.
Atasanku hanya memberikan satu set pelindung yang terbuat dari kain tebal, jika kau ingin lebih, maka kau harus membelinya sendiri, karena tujuan kami adalah untuk menertibkan kota bukan untuk berperang."
__ADS_1
"Sepertinya aku harus memanggil dokter kemari untukmu." Lagi-lagi Adry menghentikanku.
"Tidak perlu, aku sendiri yang akan kesana nanti." Adry berdiri mengambil sebuah pena dan kertas. "Aku harus menulis laporan pada atasanku, kastil para perampok sialan itu bukanlah sesuatu yang bisa para penjaga hadapi." setelah dia selesai menulis dan menyegel surat, dia memberikan surat itu padaku. "Aku akan memberimu surat kuasa. Pulanglah dan bersihkan dirimu lalu tolong sampaikan surat ini pada pada atasanku di dalam kastil kota, jangan sampai segelnya terlepas. Aku akan pergi mencari dokter."
___
Sepertinya Adry tidak mengetahui kalau kejadian itu membuat ku trauma. Aku lelah saat ini, tetapi aku tak bisa menolak, ini salahku karena mengikutinya.
Aku pun kembali kerumahku, membersihkan luka di kakiku dan membalutnya lagi dengan perban setelah itu aku berangkat menuju kastil kota.
Akhirnya sampai di depan kastil. Saat aku mendekat, penjaga kastil menghentikanku dan menanyakan tujuanku datang.
Frustrasi dengan keadaanku yang sekarang, aku langsung memperlihatkan segel dari surat yang Adry berikan padaku.
Penjaga kastil menyuruhku untuk menunggu, lalu dia menghampiri seseorang yang terlihat mengawasi orang-orang yang berlatih disana. Penjaga itu memberi hormat kepada seorang pria yang bertubuh ramping dan anggun. "Tuan, ada seseorang yang ingin menemuimu." Sepertinya dia orang yang penting di kastil.
Lalu Penjaga dan Pria itu menghampiriku, Pria itu bertanya, "Siapa kau? Apa keperluanmu?"
Aku mengeluarkan surat itu dari sakuku. "Aku Arezha Tuan, hanya pria biasa yang bekerja di kedai. Temanku Adry, kapten penjaga dia sedang terluka karena pertarungan yang dia alami lalu menitipkan ini padaku Tuan." Dia mengambil surat dariku dan membuka segel surat itu kemudian dia mulai membaca isi surat ditempat. "Di surat ini namamu Reza, bukan Arezha?"
Aku menjawab, "Reza adalah panggilan yang Adry berikan padaku Tuan." Sepertinya Adry mencantumkan nama panggilanku daripada nama asliku disurat itu.
__ADS_1
Lalu Pria itu memperkenalkan dirinya, "Arezha, perkenalkan namaku Pier, jabatanku dikastil sebagai kepala keamanan kota." Lalu Tuan Pier menuntunku ke meja yang tampak mewah, seolah hanya bangsawan saja yang boleh menduduki kursi indah ini.
Tuan Pier mempersilakan. "Silakan nyamankan dirimu Arezha." Setelah dia duduk akupun mengikutinya. Dia membaca surat itu lagi, sedangkan aku melihat-lihat sekelilingku. "Tuan Pier tempat apa ini?", Tuan Pier berhenti membaca dan menjawab, "Tempat ini adalah barak, aku yang bertanggung jawab atas tempat ini dan melatih mereka secara langsung."
"Kukira mereka adalah milisi kota, bukan ya? "
Tuan Pier lalu menjawab, "Mereka adalah para kesatria, yaitu orang-orang terpercaya yang diangkat sebagai pengiring pribadi Tuan Adipram, Count dari Sernia. Kami memiliki milisi kota dari kalangan rakyat jelata yang baraknya di luar tembok kastil ini"
Tidak sepertiku para kesatria itu terlihat tangguh.
Tuan Pier kembali membaca surat itu. Beberapa menit berlalu, kemudian dia berkomentar, "Tampaknya mereka adalah sekelompok penjahat yang menggunakan tanah kerajaan secara ilegal, aku sudah mendengar kabar bahwa ada sekelompok perampok, tetapi ini... mereka memiliki wilayahnya sendiri? ini akan menjadi masalah besar jika dibiarkan."
Tuan Pier berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan ditengah para kesatria yang berlatih, mengambil pedang satu tangan yang tumpul dari rak pedang dan berkata, "Siapa di antara kalian yang ingin membuktikan diri dalam pertarungan, akan diberikan kemasyhuran!" Para kesatria yang sedang berlatih tertarik dan menghampiri Tuan Pier.
Tentu ini adalah kesempatan bagi mereka yang menginginkan hadiah berupa, ketenaran, uang, dan mungkin diangkat sebagai baron disuatu wilayah.
"Berduel lah denganku!" Tantangan dari Tuan Pier. Sungguh aku tidak berpikir dia akan menang, maksudku dia sama sekali tidak terlihat seperti para petarung dan tidak terlihat tangguh seperti para kesatria itu.
Salah satu dari kesatria melangkah maju melayani tantangannya. Tuan Pier memegang pedang itu dengan tangan kanan dan kaki kanan yang maju menyamping, ketika mereka saling berhadapan dan mendirikan kuda-kuda Tuan Pier berkata, "Kapanpun kau siap!"
Kesatria itu berteriak dan menerjang, mengayunkan pedangnya secara vertikal dari atas kebawah, tetapi Tuan Pier dengan mudah menghindari dan menendang pegangan pedang kesatria itu sehingga lepas dari genggaman lalu Tuan Pier mengarahkan pedangnya ke dada kesatria itu sembari berkata, "Kau mati." Dia pun mundur dan kesatria yang lain melangkah satu persatu.
__ADS_1
Sudah ada 8 kesatria yang kalah melawannya dalam duel saat ini, hasilnya selalu Tuan Pierlah yang menang. Gaya bertarung Tuan Pier cenderung pasif hanya mengandalkan tubuhnya yang ringan sehingga mudah untuk menghindari suatu serangan dan menyerang balik jika ada celah. Aku tidak menyangka jika dia sangat ahli dalam ilmu berpedang.
___