
___
"Perhatikan apa yang kulakukan dan dengarkan apa yang kuucapkan!" Dia mengambil sebuah anak panah kemudian memasangnya pada tali busur.
"Sejajarkan posisi badan tepat tegak lurus kepada sasaran. Sejajarkan diri mu dan bayangkan lah garis yang tertuju pada sasaranmu dari kakimu." Dia berdiri tegak serta merentangkan kaki selebar bahu.
"Rapatkan pinggulmu. Pertahankan punggung tetap tegak." Kemudian dia memegang tali busur dengan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis, menjepit panah di tengah jari telunjuk dan jari tengah.
Dia mengangkat busur dan mengarahkannya ke arah sasaran. Siku bagian dalamnya sejajar dengan permukaan tanah dan posisi busur yang vertikal. "Arahkan busur mu ke arah sasaran, tariklah tali busur sejauh mungkin ke belakang untuk meningkatkan akurasi, dengan otot bahu"
"Pusatkan konsentrasi pada titik terkecil yang bisa kau lihat pada pada sasaran, jangan biarkan hal lain mengalihkan pandanganmu." Dia berkonsentrasi mengarahkan busurnya pada sasaran.
"Jika kau sudah merasa siap untuk menembak, lepaskan jari-jari tangan pada tali busur dan biarkan panah mencapai tujuannya." Dia menembakkan anak panah itu sehingga terdengar suara anak panah yang melesat cepat dan mengenai tepat pada sasarannya.
___
Kemudian setiap barisan mencobanya, hingga tiba giliranku.
Aku mengingat-ingat perkataan Tuan Pier tadi. Sejajarkan posisi badan tegak lurus, kemudian rapatkan pinggul dan pertahankan punggung, lalu arahkan busur kepada sasaran dengan siku bagian dalam yang sejajar dengan permukaan tanah dan posisi busur secara vertikal.
Lalu apa lagi? Ah iya, arahkan busur pada sasaran dan tarik tali busur sejauh mungkin ke belakang menggunakan otot bahu, kemudian memusatkan konsentrasi dan lepaskan jari-jari tangan pada tali busur.
Panah ku melesat jauh dari sasaran. Sepertinya memanah lebih sulit daripada berkuda.
Tuan Pier melihatku melakukan semua hal itu, pasti saat ini dia sedang berpikir 'Sungguh kesatria milik Tuan Adipram yang memalukan.'
Aku mencoba lagi dan lagi, tetapi selalu gagal mengenai sasaran. Hingga tumbuh rasa frustasi di dalam diriku, apa mungkin yang kulakukan tidak benar? Mungkin karena posisi tubuh, genggaman ku, atau aku memang tidak bisa memanah dengan benar?
Tuan Pier menghampiriku. "Tenang, beristirahatlah beberapa menit," ucap Tuan Pier. Kemudian beberapa menit berlalu, dia menyuruhku untuk menembak lagi. Aku mengambil napas panjang kemudian memasang anak panah pada tali busur. Ketika aku menarik tali ke belakang, bergetar lenganku sehingga Pier menanggapi hal itu, "Perlahan saja."
Kemudian aku menembakan anak panah dan melesat jauh dari sasaran. "Tembakan lagi!" ucap Tuan Pier.
Tetap gagal. "Tembakan lagi!" teriak Tuan Pier.
"Lagi!"
"Lagi!"
__ADS_1
"Lagi!"
Hingga membuat aku sedikit tertekan namun membuatku menjadi fokus.
Aku membidik dan melepaskan anak panah, menyaksikan anak panah yang kutembakkan mengalir ke arah sasaran. Anak panah itu mendarat pada sasaran walaupun tidak tepat di tengah. "Cukup bagus," puji Tuan Pier kepadaku sembari mengangguk-angguk. "Ingatlah, Tembakan yang baik adalah dengan melatih memori ototmu bukan hanya melihat pada sasaran." Kemudian Tuan Pier pergi melihat yang lain.
Ketika aku mencobanya lagi tetapi gagal kembali, mungkin yang tadi hanya keberuntungan ku saja.
___
Pada akhirnya tembakan ku tidak bisa pernah mengenai sasaran lagi. Kemudian aku menghampiri Adry yang juga sedang berlatih, tembakannya tidak selalu tepat tetapi selalu mengenai sasaran.
Aku berkeluh kesah pada Adry mengapa kemampuan memanahku sangat buruk. "Mengapa memanah begitu sulit?"
"Teruslah berlatih, lambat laun kau akan terbiasa," ucap Adry yang sedang fokus berlatih.
Aku menghela napas. " Aku sudah melakukannya berkali-kali sampai Tuan Pier pun membantuku, awalnya aku bisa mengenai sasaran, tapi kemudian aku selalu meleset."
Adry menjawab, "Itu bukan alasan untuk berhenti berlatih Reza, kembalilah ke tempatmu."
Aku kembali pada tempatku berlatih, mencobanya lagi berkali-kali. TIDAK ADA SATUPUN YANG MENGENAI SASARAN!
Tuan Pier menatap diriku yang sedang berdiam, sehingga aku terpaksa terus berlatih.
___
Hari ini melelahkan. "Hei Adry, ayo pulang bersamaku." Dia masih saja terus berlatih.
"Kau duluan saja, aku masih belum puas dengan hasil latihanku." Aku heran, meskipun tembakkannya sering kali mengenai sasaran tetapi dia masih saja berkata begitu.
"Aku iri denganmu," ucapku.
___
Aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu setelahnya kemudian aku melihat seseorang berdiam di halaman rumahku.
Aku menghampiri mereka dan bertanya apa tujuan mereka, "Apakah ada keperluan denganku?"
__ADS_1
Salah satu dari mereka berkata sembari mengolok-olok diriku. "Dengar apa yang dia katakan Tuan Donovan? Dia berkata 'Apakah ada keperluaaaann denganku?' Setelah menjadi kesatria perilakunya menjadi sangat sombong."
Orang yang tampaknya bernama Donovan itu menghadap wajah ku, dia lebih tinggi dari aku, sehingga ketika aku berhadapan dengan wajahnya, aku harus mendongak.
"Aku telah mengamatimu semenjak kau diangkat menjadi seorang kesatria. Kupikir kau adalah 'Pahlawan' seperti yang dikatakan oleh orang-orang, tetapi pada kenyataannya kau hanyalah seorang badut yang bahkan tidak bisa menembakkan anak panah." Dia menertawakan aku bersama teman-temannya.
Aku merasa terintimidasi karenanya. "A-apa maksudmu? Lalu apa m-masalahnya?"
Seketika wajahnya memerah karena marah. "Bagaimana mungkin rakyat jelata sepertimu bisa menjadi seorang bangsawan!?" ucapnya sambil mendorong-dorong diri ku.
Apa yang terjadi, mengapa dia sebegitu marahnya padaku? "Maafkan aku tuan-tuan, aku h-harus segera pergi."
Aku tertahan olehnya. Donovan menghela nafas dan melirik teman-temannya. Mereka mengangguk lalu menghampiriku. "Jangan biarkan dia pergi."
Teman-temannya memegang tanganku sehingga terkunci dan membuatku tidak bisa bergerak, "Sialan! Apa yang kau inginkan!?" Aku berteriak padanya sembari meronta.
"Wah, Tuan Donovan! Dia memberikan perlawanan." Namun, di hadapan jumlah yang banyak, aku tidak bisa berkutik.
Kemudian dia memukul perut ku, sehingga membuatku mual. "Apa... s-salahku..."
Dia berkata sembari menampar pipi kanan dan kiriku. "Jangan pura-pura bodoh, Arezha. Meskipun kau adalah rakyat jelata, kurasa kau cukup pintar untuk mengetahui kesalahanmu. Kau bukanlah seorang keturunan bangsawan sepertiku. Meskipun kau telah dinobatkan sebagai kesatria bukan berarti kau bangsawan, ketahuilah tempatmu," kata Donovan dengan tegas.
Padahal hanya satu pukulan diperut, tetapi sekarang aku merasa sangat lemas tak berdaya, "I-tu... bukanl-lah sa-lah ku"
Donovan menggelengkan kepalanya sembari mencengkeram pipiku. "Kau benar-benar bodoh sehingga belum mengerti ya?" katanya dengan suara merendahkan dan pandangan yang meremehkan.
Dia melemparkan wajahku, kemudian memukul ku diperut lagi.
Kali ini aku benar-benar muntah. Teman-temannya melepaskan pegangan mereka dari ku karena merasa jijik, kemudian aku terkapar di tanah memuntahkan isi perutku.
Seseorang berteriak, "Bajingan!" Terdengar suara pukulan.
Ketika aku mengangkat wajah, aku melihat Adry sedang menghajar komplotan Donovan sehingga beberapa terkapar di tanah, sementara Donovan diam memperhatikan. "Lihatlah seorang rakyat jelata miskin datang menyelamatkan kawannya," ucap Donovan.
Adry dengan intens menghadap Donovan dan berkata, "Hei keparat! jaga omonganmu, keluargaku adalah keturunan pedagang dan harta kekayaanku jauh melimpah daripada dirimu anak rendahan dari seorang baron. Tanpa ayahmu kau bukan siapa-siapa."
Adry berdiri tegak dihadapannya, membuat Donovan mendongak ketika menatap wajah Adry.
__ADS_1
Seolah terpaksa, Donovan perlahan-lahan mundur. "Sialan, aku tahu namamu Adry, dari kemarin kau selalu saja menggangguku! Aku akan membuatmu menyesal berurusan denganku. Kau akan lihat!" Kemudian Donovan berbalik dan pergi, diikuti oleh komplotannya yang memberikan tatapan meremehkan kepada kami.
___