
___
Kerajaan Xiris
Kota Sernia
16 Juli 1300
___
Aku sedang bersantai duduk di ruang utama, melihat pemandangan kota yang terlihat indah dari jendela, matahari pagi menyinari dan ketenangan yang damai menyelimuti hati ini.
Stres dan kekhawatiran mencair saat aku memandangnya.
Aku menikmati semua itu, hingga aku mendengar seseorang datang dan mengetuk pintu rumahku.
"Reza, apakah kau ada di dalam?", itu merupakan suara Adry.
Aku segera berdiri dan membuka pintu untuknya. Aku mempersilahkan dia untuk masuk ke dalam namun dia menolak, "Tidak perlu, ayahku telah menyuruhku, apakah kau mau mengantarku?" Adry bertanya.
Aku melangkah keluar dari pintu, " Kemana kita akan pergi?"
"Ke sebuah toko roti yang bekerja sama dengan kedai ayahku. Mereka tidak mengirim roti hari ini, aku hanya ingin tahu apa yang mereka lakukan."
"Baiklah ayo, aku akan pergi ke kedai nanti, setelah kita mengunjungi toko roti"
___
Kami berjalan menuju toko roti, yang terletak di luar gerbang Sernia.
Suara angin yang berhembus di ladang gandum terdengar seperti sebuah lantunan irama, sehingga setiap helai gandum berayun dalam keselarasan yang sempurna. Setiap hembusan angin membawa lantunan irama yang baru, dimana masing-masing helai gandum menciptakan lantunan irama yang unik serta berpadu dalam keselarasan yang mempesona.
Matahari pagi memancarkan sinarnya ke hamparan ladang gandum, memberikan kehangatan. Ketika aku melangkahkan kaki, di kanan dan kiri ada barisan gandum yang membuatku merasa seolah-olah aku sedang mengambang di atas lautan emas. Akhirnya aku tiba di sebuah tempat terbuka dan melihat sebuah toko roti dari kejauhan yang terletak di tengah-tengah hamparan lahan gandum.
Kami hendak pergi ke sana. Kemudian ada seorang wanita tua duduk di halaman rumahnya, menatap kami sambil tersenyum, memberi isyarat agar kami bergabung dengannya. Dia sepertinya memanggil Adry, jadi kami menghampirinya.
Wajahnya tampak gembira melihat Adry menghampirinya, "Nak Adry, terima kasih sudah mengantar nenek waktu itu, aku sangat tertolong", nenek itu berdiri perlahan-lahan dengan bantuan Adry, "Tunggu sebentar ya", kata nenek itu, lalu dia masuk ke dalam rumahnya.
Beberapa menit kemudian, nenek itu keluar dengan membawa sekeranjang penuh dengan roti didalamnya, "Ambil semua roti ini nak, sebagai tanda terima kasih dari ku. Bagikan juga kepada temanmu itu", nenek itu menepuk pundak Adry dengan penuh kasih sayang.
Adry menerimanya, "Terima kasih nek, maaf sudah merepotkan", balas Adry.
Nenek itu berkata, "Apa yang kamu bicarakan, justru akulah yang seharusnya berterima kasih padamu".
Sementara kami berjalan menuju toko roti, Adry yang berjalan belum terlalu jauh dari rumah nenek itu berkata, " Aku akan memakan semua roti ini. Terima kasih, sampai jumpa lagi!", sembari melambaikan tangannya.
__ADS_1
Diperjalanan kami memakan roti yang diberikan nenek itu, kemudian karena aku penasaran dengan apa yang dilakukan Adry saat aku tidak bersamanya, jadi ketika kami berjalan aku bertanya, "Apa yang terjadi padanya?"
Adry berpikir dan menjawab, " Entah kapan tepatnya, namun ia pergi ke sebuah desa untuk mengunjungi kerabatnya yang telah meninggal dunia di sebelah barat laut Sernia dan menyewa seseorang untuk mengantarkannya, tetapi ia tidak memiliki cukup uang untuk kembali pulang ke Sernia, sehingga ia harus berjalan kaki dari sana.
Meskipun jarak dari sana menuju Sernia tidak terlalu jauh, namun ia sudah terlalu tua untuk berjalan kaki, beruntungnya aku beserta bawahanku sedang berpatroli ke arah sana dan melihatnya berjalan lambat seorang diri, jadi aku memberikan tumpangan dan mengantarnya pulang, kira-kira seperti itu ceritanya", dia memang orang yang baik.
___
Kami telah sampai di sebuah toko roti, memasuki toko tersebut. Aroma roti yang baru dipanggang setiap pagi sudah cukup untuk membuat setiap orang yang lewat masuk dan menikmati aroma hangatnya.
Berbagai roti hangat terpampang di dalam etalase, aku memperhatikan roti itu dari dekat, sementara Adry mencari pemilik toko roti tersebut.
Kemudian seorang wanita yang mengenakan gaun sepanjang lutut, dengan tunik tanpa lengan dan pita untuk mengikat rambutnya bertanya kepada ku sembari tersenyum manis, "Ada yang bisa aku bantu?", sepertinya dia adalah pemilik toko roti tersebut.
Wajahnya yang manis dengan tubuh yang mungil sepertinya seusia dengan kami, sehingga membuatku terbeku karena pesonanya.
Adry yang melihat hal itu, kemudian menghampiri kami, "Reza, kau kenapa melamun?"
___
Adry menjelaskan tujuan kunjungannya kepada perempuan tersebut, "Apakah kamu kenal dengan ayah ku Dery?"
Perempuan itu terkejut, "Wah aku tidak tahu kalau Pak Dery memiliki anak yang tampan", pujinya kepada Adry.
Sialan Adry kau membuatku cemburu, saat ini hatiku berteriak.
Wanita itu menjawab, "Ah iya, sebenarnya roda kereta kuda milik kami mengalami kerusakan, ayahku sudah berusaha memperbaikinya namun hasilnya justru semakin memburuk, maafkan kami", perempuan itu menundukkan kepalanya.
"Eh, tidak apa-apa, aku hanya memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi di sini", aku juga ingin berbicara dengan perempuan itu!
Aku mengusulkan sesuatu pada mereka, "Bagaimana kalau kita menyewa kereta kuda?"
Perempuan itu menjawab, "Sebenarnya tadi pagi aku juga berpikir seperti itu, tapi tidak ada orang di sekitar sini yang menyewakan kudanya."
Adry menyerahkan keranjang kosong yang di berikan nenek tadi kepadaku, "Tunggu di sini, aku akan kembali ke kota untuk mencari kereta kuda", kemudian dia pergi meninggalkanku begitu saja.
___
Suasana berubah menjadi canggung setelah kepergian Adry, "Maaf, siapa namamu?", tanya perempuan itu kepada ku.
Sontak aku terkejut karena dia tiba-tiba bertanya, "Ah, namaku Arezha."
"Arezha ya, ayo masuk terlebih dahulu sementara menunggu dia kembali", wanita itu
mempersilakan aku masuk kedalam dapurnya, "Duduklah di sana Arezha", aku meletakkan keranjang kosong di sampingku.
__ADS_1
"Mau roti?", dia menghampiri ku dan memberikan sepotong roti hangat yang baru saja dipanggang. Roti itu terlihat seperti roti yang diberikan nenek kepada Adry.
"Terima kasih", ucap ku. Aku memakan roti itu dengan perlahan agar terhindar dari rasa canggung, sementara ia membuat adonan roti, ia bertanya, "Siapa nama putranya Pak Dery?"
"Namanya Adry, aku temannya", aku ingin tahu nama perempuan itu, namun aku terlalu malu untuk menanyakannya.
Kemudian seorang pria yang sebaya dengan Pak Dery datang dan melihatku, "Siapa dia?"
Perempuan itu menjawab, "Dia temannya Adry. Pak Dery sepertinya menanyakan mengenai rotinya yang belum datang".
Akupun berdiri untuk memperkenalkan diri dan tujuan kedatangan ku ke sini.
___
"Adry datang ke sini? Anika, kenapa kau tidak bilang lebih awal?"
"Karena aku sibuk!", jawab perempuan yang bernama Anika itu. Jadi dia bernama Anika, aku akan melamarmu suatu hari nanti!
"Dia pernah ke sini sebelumnya, bagaimana bisa kamu tidak mengenalnya!?"
"Entahlah, ayah terlalu berisik aku sedang membuat adonan!"
___
"Paman, kau kenal Adry?", tanya ku.
"Dulu aku sering bertemu dengannya saat mengantarkan roti ke toko, tapi sekarang aku menyuruh orang lain untuk menggantikanku, sementara aku membantu di sini", dia mengambil roti lapis dan memakannya, "Adry seorang anak yang baik, ibuku bilang kepadaku kalau Adry pernah mengantarnya, padahal dia bisa saja bilang padaku kalau dia ingin diantar agar tidak merepotkan Adry", jawabnya menghela nafas.
Sepertinya dia bercerita tentang nenek yang tadi, dia ibunya? kenapa rumahnya terpisah?
"Apakah ibumu seorang nenek yang tinggal di sekitar ladang gandum di dekat gerbang Sernia?"
"Kau bertemu dengannya?"
"Dia memberi kami roti hangat, rotinya sangat lezat. Rotinya mirip seperti roti yang terbuat disini"
"Haha lezat bukan? ini adalah resep darinya, awalnya kami hanya pemilik lahan gandum, tetapi ibuku senang sekali memasak sesuatu, dan terciptalah resep roti itu sehingga putriku anika yang membuka toko ini", kemudian paman itu berdiri seperti mencari seseorang, "Anika, dimana ibumu?"
"Dia sedang mencuci baju di sungai", jawab Anika yang sedang membuat adonan roti.
"Anika, aku akan pergi menjenguk nenekmu, Reza sampaikan salamku kepada Adry ya!"
"Siapa namamu paman?"
"Namaku Aidan, sampai jumpa!"
__ADS_1
___