Pemuda Kesatria

Pemuda Kesatria
Perayaan Kemenangan II


__ADS_3

___


Aku kembali kepada kakek Izwar, "Dia sudah mengizinkanku, akan kemana kita?"


"Entahlah", dia berjalan mengikuti alur. Akupun mengikuti disampingnya.


Perjalanan kami dimulai dari mengunjungi beberapa tempat atraksi lokal, menyaksikan pemandangan dan kehidupan kota. Kami singgah untuk makan siang di sebuah kedai sederhana, di mana kami menyantap makanan yang mengenyangkan sekaligus berbincang-bincang.


Terbesit dalam pikiran, aku membutuhkan pakaian formal untuk menghadiri perayaan di kastil. "Kek, bagaimana jika kita pergi ke sebuah pusat perbelanjaan pakaian"


"Kau membutuhkan pakaian?",


"Iya, aku diundang untuk menghadiri acara di kastil besok, dan aku tidak memiliki pakaian formal selain pakaian kerjaku yang kotor. Aku belum sempat membersihkannya"


"Biar kutebak, itu adalah perayaan kemenangan?", dia menebaknya dengan benar.


"Haha, bagaimana kau bisa mengetahuinya?"


"Merayakan kemenangan dalam perang adalah hal yang umum. Bahkan ketika aku  masih mengabdi, unitku selalu dipanggil untuk menerima penghargaan atas berbagai prestasi kami di berbagai kancah peperangan"


"Itu mengagumkan, apakah aku akan mendapatkan sesuatu besok?"


"Sepertinya begitu haha. Aku tahu beberapa tempat toko pakaian"


Kami menuju ke sebuah toko pakaian. Setelah melihat-lihat rak pakaian, "Nak Arezha, tampaknya setelan mantel tunik akan terlihat menarik untukmu"


Aku bahkan tidak mengerti cara berpakaian yang benar, sepertinya kakek sangat mengetahui hal ini, "Yang bagaimana?"


Kakek menunjukkan beberapa pakaian kepadaku, " Cobalah kenakan semua pakaian ini "


Kami mencoba berbagai gaya dan warna hingga kami menemukan sesuatu yang cocok untuk kami. Kami tertawa dan bercanda sambil mencoba pakaian yang berbeda, saling memuji satu sama lain.


Setelah kami semua menemukan sesuatu yang cocok untuk kami, kami memutuskan untuk membelinya. Aku membeli mantel tunik hitam, karena beberapa alasan warna hitam tampak terlihat berkelas dan cocok untuk dikenakan.


Kami pun kembali setelahnya dan berpamitan satu sama lain.


___

__ADS_1


Kerajaan Xiris


Kota Sernia


14 Juli 1300


___


Pagi yang khas di kota Sernia, dengan matahari bersinar dan burung berkicau.


Tuan Adipram, dia adalah count dari Sernia telah mengadakan perayaan hari ini di kastil. Dia telah mengundang semua bangsawan dan orang-orang yang berpartisipasi dalam pengepungan dan membawa keluarga mereka masing-masing untuk mengikuti perayaan.


Perayaan di kastil sangat ramai. Ruangan kastil telah dihiasi dengan spanduk, bendera keluarga Tuan Adipram dan bendera kerajaan Xiris. Aroma makanan yang terlihat lezat memenuhi udara, tak sabar aku ingin mencobanya.


Di dalam kastil, aku sedang berbincang-bincang bersama Adry dan beberapa teman-temannya.


Beberapa menit berlalu Tuan Adipram bersama istrinya telah datang.


Tuan Adipram mengenakan jubah beludru, sehingga siapapun yang melihatnya pasti akan mengetahui kalau pria ini adalah seorang penguasa atau seseorang yang penting.


Sementara istrinya mengenakan gaun putih, terlihat sejumlah mutiara dan permata yang dijahit ke dalam gaunnya yang terurai panjang sehingga terlihat elegan, tanpa sambungan horizontal atau pemisahan di bagian pinggangnya.


Tuan Adipram duduk di atas singgasana bersama istrinya di ujung  tengah aula, dikelilingi oleh para pengiringnya yang masing-masing mengenakan zirah besi dengan tombak ditangan mereka. Kehadirannya mengundang rasa hormat dari semua orang yang melihatnya.


Suasana menjadi hening dan semua fokus tertuju padanya, "Kalian sudah bekerja dengan baik selama ketidakhadiranku. Pengabdian kalian takkan dilupakan begitu saja!", semua yang berada di dalam ruangan itu bersorak sorai.


Kemudian pelayan Tuan Adipram memanggil satu persatu orang yang dia kehendaki untuk menerima suatu penghargaan atau gelar.


Yang pertama dia panggil adalah Pier yang merupakan seorang kepala penjaga kota. Pier kedepan dan berlutut dihadapan Tuan Adipram, "Tuan Pier, aku tidak salah memilihmu sebagai kepala penjaga keamanan kota. Karena pengabdianmu kepada kota ini dan kerajaan. Aku sebagai count dari Sernia, mengangkatmu menjadi seorang viscount. Berdiri dan berbanggalah Tuan Pier!"


Semua orang di dalam ruangan bertepuk tangan.


"Ini adalah sebuah kehormatan untukku. aku akan menerimanya dengan senang hati dan menjalankan tugas dengan baik!", dia mengucapkan terimakasih dan memberikan hormat pada Tuan Adipram.


Kemudian dipanggilah Tuan Askari, dia maju kedepan dan berlutut, "Tuan Askari, senang bertemu denganmu kembali", Tuan Askari mengangkat wajahnya menghadap Tuan Adipram, "Begitu pula denganku, senang bertemu denganmu kembali, Tuan Adipram"


"Tuan Askari, aku telah mendengar bahwa kau telah berjuang menghadapi musuh kita dan memimpin pasukan dengan gagah berani ke medan perang, meskipun Sandrea datang untuk berbuat kekacauan dan kau berhasil mengatasinya. Aku telah mengangkatnya menjadi baron karena bakatnya dalam mengelola wilayah, tetapi sayangnya dia telah menyalahgunakan hal itu. Oleh karena itu, Tuan Askari kau akan menjadi pemegang gelar baron yang baru"

__ADS_1


"Sebuah kehormatan, aku akan mene-", ketika Tuan Askari hendak menerima gelar itu, ada seseorang yang berteriak, semua mata tertuju padanya, "Apa maksudnya ini Tuan Adipram! sebagai anak tertua seharusnya aku yang akan mewarisi gelar itu setelah kematian ayahku!", Tuan Askari terdiam, menunggu tindakan dari Tuan Adipram.


Tuan Adipram melirik ke arah pria yang berteriak tadi, dia adalah anak kandung Sandrea, "Sepertinya kau salah paham Tuan. Aku telah mencabut gelar mendiang Sandrea sebelum dia dihukum mati", Tuan Adipram berdiri dari kursi singgasana dan melanjutkan perkataannya, "Artinya, secara hukum kau tidak berhak mewarisi gelar tersebut", lalu berjalan menghampirinya, "Jika aku memberikan gelar itu padamu, apakah hal baik akan datang kepadaku? Meskipun saat ini kau sedang sangat marah atas kematian ayahmu. Aku tidak ingin ada sedikit pun benih pemberontakan"


Pria itu terlihat kesal saat berhadapan dengan Tuan Adipram, kemudian Tuan Adipram kembali duduk di singgasananya, "Tenang saja, disisi lain aku tidak merampas harta pribadi keluarga Sandrea. Kau tidak kehilangan apapun, karena dari awal tanah yang mendiang ayahmu kelola adalah tanahku"


Dia terdiam seribu bahasa dengan raut wajah yang kesal. Pria itu kemudian pergi dari ruangan ini.


___


Suasana menjadi meriah kembali setelah kepergian pria itu. Kemudian Tuan Askari dinobatkan sebagai baron yang baru, "Sebuah kehormatan untuk menerima gelar ini, aku Askari berjanji untuk melindungi tanah ini sebaik-baiknya!"


Tuan Askari kembali ketempat asalnya, setelah itu pelayan Tuan Adipram memanggil Adry, "Adry...", senang mendengarnya dia terpanggil, dia pasti akan diberi hadiah yang besar, "Dan Arezha, silakan menghadap Tuan Adipram!", aku juga?


Kami berdua melangkah maju menghadap singgasana yang sedang diduduki oleh Tuan Adipram. Berbeda dengan Adry yang tampak tenang, disisi lain aku merasa sangat cemas dan canggung, semua orang melirik padaku!


Tuan Adipram memperhatikan kami berdua yang sedang berlutut, "Jadi kalian berdua orang yang diceritakan. Seorang penjaga kota dan yang menarik adalah seorang pelayan kedai yang ikut berperang haha!", aku tidak tahu apakah dia bermaksud memuji atau menghinaku.


"Haha, maafkan ketidaksopanan ku. Aku mendengar cerita tentang bagaimana kalian telah menyelematkan Tuan Askari yang terperangkap oleh sang maut, sungguh jiwa kesatria yang luar biasa, terlepas dari siapa dirimu!", Adry menanggapi, "Terimakasih Tuan Adipram, aku merasa sangat terhomat setelah mendendengarnya!"


Tuan Adipram berdiri menghadap kami, "Aku akan membalas jasa kalian dengan memberi kalian berdua sebuah gelar kebangsawanan", aku merasa kalau ini hanya sebuah mimpi. Satu tahun sebelumnya aku adalah orang yang melarat, namun sekarang? aku seorang bangsawan!


Tuan Adipram berkata, "Aku ingin kalian mengambil sumpah pengabdian, ikuti setelah aku", kami bersumpah mengikuti Tuan Adipram.


"Aku bersumpah untuk membela yang lemah dan tak berdaya"


"Aku bersumpah untuk mencintai dan melindungi tanah airku"


"Aku bersumpah untuk melawan musuh-musuh kita hingga titik darah penghabisan"


Apakah seorang bangsawan ikut berperang? kurasa tidak.


"Berdiri dan berbanggalah!", Tuan Adipram memegang pundak kami berdua secara bersamaan


Dengan rasa canggung aku hanya mengikuti kata-kata yang diucapkan Adry, "Terimakasih Tuan Adipram, sebuah kehormatan bagiku. Aku akan menerima gelar ini dan terus setia padamu!"


Semua orang yang berada di dalam ruangan ini bertepuk tangan.

__ADS_1


Kami berdua kembali ketempat asal kami.


___


__ADS_2