
___
Aku pulang lebih awal di sore hari ini, berpamitan dengan Pak Dery dan segera bergegas kembali menuju kediaman baruku. Perjalanan dari kedai ke rumah ku kini menjadi dua kali lebih jauh dibandingkan sebelum aku pindah dari rumah lama.
___
Aku melihat Adry di halaman rumahnya sedang terduduk memandangi sesuatu. Aku melihat kearah apa yang dilihatnya, sepasang burung yang mungkin sedang jatuh cinta. aku hanya menduga mungkin dia sedang memikirkan sesuatu tentang hubungan asmara dengan seseorang.
Lalu aku menyapa dia hingga fokusnya terpecah setelah menyadari keberadaanku, kemudian bertanya tentang jumlah semua kepingan koin perak yang ada di dalam peti itu, " Apakah kau sudah menghitung berapa banyak jumlah koin perak itu?"
Fokusnya terpecah dan menanggapi, "Ya, aku sudah menghitungnya, ada sekitar 2300 koin perak lebih, kurasa milikmu juga berjumlah sama denganku", 2300 koin perak? Itu senilai 38 koin emas kecil, oh Tuhan, aku kaya raya!
Kemudian Adry berkata, " Sekarang kau sudah menjadi seorang bangsawan, juga ksatria, kau harus memiliki zirah dan senjata untuk melindungi tanah Tuan kita. Pakailah uang yang Tuan Adipram berikan kepadamu."
Aku baru saja mendapatkan uangnya, sekarang aku harus menghabiskannya!?
"Bagaimana, kau mau melihat-lihat zirah?", tanya Adry.
___
Awalnya aku sempat menolak, namun pada akhirnya kami berdua mengunjungi seorang pandai besi, yang merupakan kenalan Adry, berlokasi tidak jauh dari kastil.
Dari depan, kediaman pandai besi itu tampak seperti rumah biasa, tetapi ketika Adry membawa aku menuju halaman rumah bagian belakang, aku melihat sekilas dari luar sebuah ruangan yang cukup besar yang sangat berantakan dan dipenuhi oleh kotoran dan debu yang dihasilkan oleh batu bara yang dipanaskan dan puluhan orang di dalamnya yang sedang bekerja.
Suara kobaran api yang menderu-deru, diiringi dengan hentakan palu, terdengar jelas dari luar ruangan.
Kami melihat melihat-lihat zirah besi yang terpampang rapi siap untuk digunakan di deretan rak-rak zirah besi. Seseorang melihat kami kemudian menghampiri dan bertanya, "Ada yang bisa aku bantu?"
Adry menatapku dari atas ke bawah, "Sepertinya baju besi yang sudah jadi tidak cocok untukmu."
" Kau menghinaku ya?", dia berkata begitu karena tubuhku yang kecil dan kurus.
"Haha, bukan begitu. Zirah besi itu harus sesuai dengan tubuhmu agar kau dapat leluasa saat menggunakannya. Kau harus berlatih untuk meningkatkan massa setiap ototmu, kalau tidak, berat dari zirah besi itu akan membunuhmu haha"
"Melatih tubuh itu melelahkan dan menyakitkan", aku bahkan tidak sanggup melakukan semua itu.
__ADS_1
Orang yang melayani kami berkata, "Semua yang terpampang di sini adalah pesanan dari seseorang, jika kalian ingin memesan sesuatu, tanyakan saja pada Bos ku."
Adry menjawab, " Perlengkapan perang sebanyak ini? Kalau begitu terima kasih, aku akan bertanya pada bosmu."
___
Ini adalah pengalaman pertamaku berdiri di ruang kerja seorang pandai besi. Begitu masuk, seketika aku merasa sangat gerah dengan hawa panas yang berasal dari tempat menempa, tetapi aku juga terpesona oleh detail ruangan yang rumit.
Pandai besi yang Adry maksud adalah pemilik tempat ini yaitu seorang lelaki tua yang berperawakan kecil dan berkeriput. Terlepas dari itu semua, dia memiliki pengalaman yang luar biasa di bidangnya. Tubuhnya dipenuhi dengan noda jelaga serta keringat. Gerakan dan tenaga yang dia perlihatkan sangat cekatan sehingga sama sekali tidak sesuai dengan usianya.
Dia membawa sesuatu dan menuangkan logam cair panas ke dalam sebuah cetakan.
Adry mendekatinya saat lelaki tua itu selesai menuangkan logam cair itu, "Halo paman", lelaki tua itu melirik ke arah Adry dan menjawab, "Adry, lama tak jumpa!", keduanya berjabat tangan.
Adry menggiring tubuh ku untuk memperkenalkan aku pada lelaki tua itu, "Dia Reza, temanku!"
Kemudian lelaki tua itu mengulurkan tangannya, mengajak aku berjabat tangan, "Panggil aku Kenner, seorang pandai besi!"
Aku menjabat tangannya meskipun tangan itu penuh dengan kotoran debu, "Aku Arezha"
Dia mengambil sebatang besi yang dipanaskan dengan menggunakan sebuah pencapit, "Katakanlah apa yang kau butuhkan?", tanya paman Kenner.
"Teman ku ini membutuhkan satu pasang pelindung besi, bisakah kau membuatnya?"
Paman Kenner menempa batangan besi yang telah dipanaskan dengan menggunakan palu. Percikan api beterbangan saat dia membuat menempa batang besi itu, mengerjakannya dengan serius.
" Aku sekarang sedang mengerjakan tugas yang diberikan Tuan Pier padaku", ungkap paman Kenner
Adry menjawab, "Apakah kau bisa meluangkan sedikit waktu untuk membuat zirahnya? Omong-omong berapa banyak zirah yang dia pesan?"
Aku merasa pegal karena berdiri terlalu lama. Kemudian aku mencari tempat duduk yang nyaman di sekitar ruangan, melihat mereka berdua berbincang.
Paman Kenner berhenti menempa dan menjawab, "Sepertinya saat ini pandai besi di seluruh kerajaan menerima tugas yang sama, Kerajaan membutuhkan persenjataan untuk melawan Kekaisaran", lalu dia kembali menempa dan melanjutkan perkataannya, "Mereka ingin kami membuatnya sampai 5 bulan kedepan"
Aku sampai lupa dengan kekaisaran, sudah berapa lama mereka melakukan pengepungan terhadap kota Aldea?
__ADS_1
Adry menghela napas, "Sesibuk itu ya, berapa jumlah pedang dan zirah yang kau produksi dalam satu hari?"
"Toko kami memproduksi pedang sederhana sebanyak 12 setiap harinya, dan 4 set pelindung setiap 3 hari", jawab paman Kenner.
"Sepertinya tidak perlu terburu-buru. Kau bisa membuatnya kapan saja untuk temanku nanti, lalu aku juga ingin memperbaiki baju zirah besiku"
"Aku akan memberitahumu lagi dalam lima bulan, saat ini kerajaan adalah prioritas utama"
"Kau benar paman, Kerajaan adalah prioritas utama"
Aku berdiri dari tempat dudukku dan menghampiri mereka, "Jadi aku tidak bisa membelinya sekarang?", yang artinya aku tidak perlu menghamburkan uangku!
Adry menjawab, "Kita hanya bisa memesan untuk sekarang dan menunggu. Kau membawa uang?"
"Tidak"
Dia mengeluarkan kantung koin, "Kalau begitu gunakan milikku terlebih dahulu, lagipula aku yakin kau belum menukarkan seluruh koin perak itu menjadi koin emas" kemudian dia memberikan kantung itu kepada paman Kenner.
Paman Kenner mengambil dan menghitungnya, "Ini terlalu banyak, 20 keping koin emas sudah cukup", kemudian dia mengembalikan sisanya.
Adry mengambil sisanya dan berkata, "Dalam 5 bulan aku akan kembali lagi paman, buatlah zirah terbaik untuknya"
Kami berdua pun pergi meninggalkan tempat itu dan kembali, di perjalanan Adry berkata, "Kau berhutang 20 keping koin emas kepadaku"
Aku menghela napas, "Seharusnya aku tidak menghamburkan uang hanya untuk zirah"
"Bagaimanapun juga kau tetap membutuhkannya, karena suatu saat kita akan dibutuhkan untuk memenuhi tugas kita. Kau akan membutuhkan zirah itu dan peluangmu untuk bertahan hidup akan lebih tinggi"
"Semoga mereka memenangkan peperangan di Aldea, sehingga kita tidak diperlukan", ucapku.
"Ya semoga saja. Jika kota Aldea dan Venavo tertembus, maka benteng terakhir kita hanyalah dua buah sungai besar yang memisahkan antara kerajaan dan kekaisaran", tanggap Adry.
___
Peta Benua Barat
__ADS_1