Pemuda Kesatria

Pemuda Kesatria
Baron Perampok III


__ADS_3

___


Sampailah kami didepan hutan lebat, pada awalnya kami tetap mencoba walaupun tak yakin ada jalan. Medannya penuh dengan gundukan dan pepohonan. Setiap kali kami mencoba untuk bergerak maju, kereta kuda kami terhenti atau membuat kami keluar jalur, pada akhirnya kami menyerah dan memutar.


Saat mengendarai kereta kuda, aku melihat wajah Adry yang tampak serius sejak kemarin, sepertinya dia memikirkan banyak hal, tanpa ragu aku bertanya, "Adry ada apa denganmu? kau bertingkah aneh sejak kemarin"


Adry menengok wajahku, menjawab, "Aku hanya masih teringat dengan keluarga bawahanku. Ketika mereka mendengar apa yang terjadi pada ayahnya, suaminya, ataupun anaknya  yang bisa kulakukan hanyalah memberi mereka uang sebagai pengganti dan kata maaf"


Aku tidak tahu harus menjawab apa dan terdiam.


Adry pun meneruskan perkataannya, "Saat bawahanku terbunuh, hanya ada rasa marah di dalam diriku. Saat perampok itu menangis berkata jika dia memiliki keluarga dan akan berubah, perkataannya membuatku ragu untuk membunuh dia, tetapi pada kenyataan manusia tidak bisa berubah semudah itu, dia harus kehilangan sesuatu, barulah dia tersadar. Tuan Pier sempat memberiku peringatan karena telah melepaskan buronan itu"


Sekarang aku merasa bersalah karena telah bertanya seperti itu.


___


Kami telah berjalan selama berjam-jam dan mendekati tujuan kami, lalu pada akhirnya mencapai tempat terbuka di mana kami bisa mengendarai kereta kuda dengan mulus.


Tak lama dari itu, kami melihat kastil kayu itu dari kejauhan. Ketika kami mendekat, mereka sudah menutup gerbangnya dan bersiap diatas benteng kayu memegang busur dan anak panah ditangan mereka. Sepertinya mereka sudah mengetahui kedatangan kami beberapa jam yang lalu.


Tuan Askari memberi perintahnya, "Berhenti!", barisan kami berhenti bergerak, lalu Tuan Askari melanjutkan perintahnya, "Dirikan kemah disini, jaga jarakmu atau kau akan mati tertembak anak panah!", kami semua sibuk bersiap mendirikan perkemahan sedangkan aku, Adry dan bawahannya mengeluarkan beberapa perbekalan dari gerbong kereta kuda ditengah-tengah perkemahan untuk dipakai hari ini.


Musuh kami mencoba memanahi kami dibalik benteng mereka, tetapi tak satupun panah yang sampai pada kami. Tuan Askari melihat hal itu seraya mendekati gerbong kereta kuda lalu berkomentar, "Menyedihkan, bahkan mereka tidak bisa membuat busur dengan benar", lalu dia menengokku dan berkata, "Buatlah bubur gandum dan sup ayam, biarkan pasukanku mengisi tenaga"


Aku pun mengiyakannya, "Baik Kapten Askari", lalu Tuan Askari mendekati Adry dan memberi perintah, "Carilah sumber air, air kita sudah sedikit lalu distribusikan pada pasukan bersama dengan bawahanmu, mengerti?", Adry pun mengangguk, kemudian bersama dengan para bawahannya mereka pergi mencari sumber air.


Saat matahari mulai terbenam kami membuat api unggun dan menyalakan obor di seluruh kemah. Adry bersama bawahannya kembali setelah menemukan sumber air, beberapa dari pasukan mondar-mandir dari sumber air untuk membawanya ke kemah.

__ADS_1


kemudian saat mereka membawa air, aku mulai memasak bubur gandum dengan jumlah yang banyak sedangkan Adry dan bawahannya menyembelih beberapa ayam, membersihkan lalu memotong 1 ayam menjadi 18 bagian,  kemudian memasak sup ayam.


Ketika semuanya telah selesai, kami memberitahu pasukan untuk segera beristirahat dan mengisi tenaga mereka. Beberapa dari pasukan berjaga dan bergantian untuk memakan bubur gandum dan sup ayam.


Kami pun memakannya, sup ini terasa nikmat di malam yang sudah dingin ini, "Adry, sup buatanmu ini sangat lezat dan hangat!", tubuhku terasa hangat sekarang.


"Terimakasih Reza", ucap Adry.


Setelah kami menghabiskan semuanya, kemudian aku beristirahat didalam kemah yang sama bersama dengan Adry dan bawahannya.


___


Kerajaan Xiris


Hutan Utara Dari Sernia


20 Juni 1300


___


Aku keluar melihat-lihat pasukan yang sedang berbaris, kebanyakan milisi mengenakan mantel pelindung yang terbuat dari kain tebal dan kulit. Bersenjata garpu rumput, tombak dan perisai kayu, mengingat mereka adalah rakyat jelata.


Sedangkan dibelakang barisan mereka, ada barisan para kesatria yang penuh dengan pelindung besi dari kepala sampai kaki. Senjata mereka bermacam-macam, pedang dua tangan,palu perang,dan gada besar, mereka adalah bangsawan.


Tuan Askari didepan mereka semua memberikan amanat, "Ini hari pertama pengepungan, jangan sampai mereka keluar, biarkan mereka kelaparan dan kehausan didalam kastil kayu itu!", suara dia sangat kencang sepertinya musuh yang berada dalam benteng pun mendengarnya, dia melanjutkan amanatnya seraya berjalan mengelilingi barisan, "Jika mereka berani membuka gerbang dan menyerang, hujani mereka dengan panah, bunuh mereka!"


Aku tidak melihat Adry dan bawahannya berbaris, dimana mereka? aku berkeliling mencarinya disekitar kemah, ketika aku mendekati gerbong kereta kuda, dia sedang bersandar didalam gerbong, "Apa yang kau lakukan disini Adry?", dia menjawab, "Tentu saja menjaga persediaan"

__ADS_1


Aku memasuki gerbong itu dan menyandar seperti yang Adry lakukan, "Kau tidak ikut berbaris?", ucapku.


"Tugasku sekarang hanyalah menjaga persediaan dan bawahanku menjaga disekitar kemah. Kurasa unit yang Kapten Askari pimpin sudah cukup"


Kami berdua menghabiskan waktu didalam gerbong hingga matahari terbit terdengar suara Tuan Askari yang berkata, "Mana seruan perangmu!?", semua orang pun berteriak dengan sangat kencang hingga menggelegar, "Apa yang mereka lakukan?" ucapku terkejut, Adry menjawab, "Itu teriakan perang, tujuannya untuk membangkitkan semangat dan menghilangkan rasa takut dan bisa juga digunakan untuk mengintimidasi musuh. Bayangkan saja jika ribuan orang melakukan hal itu dengan serentak"


___


Kami pun keluar dari gerbong melihat apa yang sedang pasukan lakukan, mereka menebang beberapa pohon dan memotongnya hingga beberapa bagian, "Sekarang apa yang mereka lakukan?", tanyaku kepada Adry disampingku, "Ya kurasa itu mereka gunakan untuk membuat barikade atau pelantak tubruk untuk membuka gerbang dengan paksa"


"omong-omong Reza apakah kau sudah sarapan? aku lupa membangunkanmu"


Saat mendengar dia berkata begitu, aku tiba-tiba merasa lapar, "Sepertinya belum, aku lupa untuk sarapan", akupun pergi duduk didekat api unggun yang sudah padam, panci besar diatas api unggun yang berisi bubur gandum, aku menuangkannya dipiringku lalu ku makan, "Buburnya sudah dingin"


___


Seperti yang dikatakan Adry, pohon yang mereka tebang digunakan untuk membuat barikade yang bisa menutupi seluruh badan dengan dua lubang kecil ditengahnya.


Aku melihat Tuan Askari dari kejauhan sedang berdiskusi dengan beberapa prajurit. Yang kudengar hanyalah prajurit yang berkata, "Siap!", dengan lantang.


prajurit dari milisi telah bergerak, mereka terlihat membagi jadi beberapa kelompok, masing-masing dari kelompok membawa 2 barikade. Musuh yang melihat hal itu bersiaga dan siap menembak kapan saja saat milisi menyerang.


Tuan Askari melangkah maju dan berdiri disamping milisi, kemudian memberikan perintah, "Maju dan pasang barikade!", dan dia memantau dari belakang, milisi itu maju perlahan dengan barikade. Musuh menembaki mereka, tetapi barikade itu berhasil menghalau serangan musuh, beberapa prajurit dibelakang barikade dengan busur mulai menembak balik, keduanya saling menembakkan anak panah.


Ketika mereka sudah sampai disuatu titik Tuan Askari memberikan perintahnya lagi dengan lantang, "Berhenti!", milisi itu berhenti bergerak dan menancapkan barikade itu ditanah dan semua milisi yang berada di belakang barikade mulai menembaki musuh dari yang berada di dalam benteng.


Mereka terus menembak hingga siang, lalu Tuan Askari memberikan perintahnya lagi, "Mundur!", semua prajurit yang berada di depan mengangkat barikade yang menghadap kepada musuh kemudian mundur perlahan.

__ADS_1


Mereka melakukan taktik yang sama setiap harinya.


___


__ADS_2