Pemuda Kesatria

Pemuda Kesatria
Aku Adalah Seorang Kesatria! : End Of Season


__ADS_3

___


Kerajaan Xiris


Kota Sernia


29 Oktober 1300


___


Selama sebulan ini, pedang telah menjadi sahabatku. Diriku yakin dengan pedang ini aku bisa menjadi seseorang yang hebat dan bisa melindungi orang-orang disekitarku.


Dalam latihan, aku selalu saja dikejutkan oleh serangan yang diluncurkan Adry.


Setiap serangannya aku dengan lihai menghindar, mengayunkan pedang dan menangkis serangan Adry, walaupun begitu Adry selalu saja berhasil mengalahkanku. Serangan demi serangan yang kutangkis tidak membuat diriku menang melawan dia. Aku hanya menunda kekalahanku.


___


Aku merasa perlu untuk terus berlatih sehingga keterampilanku akan meningkat. Pada waktu itu, aku memandang dengan penuh kegembiraan pada tangan dan lenganku, kemudian mengencangkan otot-ototnya.


Melalui latihan yang intens dan terus-menerus, aku menyadari bahwa lenganku menjadi lebih besar dan lebih berotot daripada sebelumnya. Meskipun begitu, aku menyadari, bahwa sekalipun lenganku terlihat kuat, namun itu tidak cukup untuk mengukur seberapa terampilnya aku. Karenanya, aku memperhatikan dan meningkatkan kemampuanku melalui latihan yang konsisten dan fokus pada hal-hal yang dapat meningkatkan keterampilan dan keahlianku.


Sudah tiga bulan sejak aku mulai berlatih intensif dan dengan tekun mempelajari banyak hal baru yang berkaitan dengan keterampilan militer. Pada bulan pertama, aku menghabiskan waktu untuk mempelajari cara menunggang, merawat, dan membuat kuda mempercayaiku untuk mendapatkan kepercayaan darinya yang lebih baik saat berada di atasnya.


Di bulan kedua, aku memperdalam kemampuan memanah dengan belajar bagaimana cara memegang busur dengan benar, mengatur napas dan posisi tubuh, dan akhirnya berhasil mengenai sasaran meskipun hanya bisa dihitung dalam hitungan jari. Bagaimanapun bagiku, berhasil mengenai sasaran adalah sebuah keajaiban tersendiri.


Dan pada bulan ketiga, merupakan momen yang sangat dinanti-nanti, di mana untuk pertama kalinya aku merasakan pedang di tanganku, yang bisa digunakan untuk melindungi diriku dan orang lain di sekitarku dari marabahaya.

__ADS_1


Melalui latihan yang tekun dan penuh pengabdian yang kulakukan selama tiga bulan ini, aku merasa lebih percaya diri dan siap untuk menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan. Meskipun aku tidak tahu seberapa jauh diriku ini telah melangkah menuju impianku, aku merasa sudah lebih dekat dari sebelumnya.


___


Tuan Pier mengumpulkan kami kembali ke lapangan. Terlihat jelas dari ekspresi serius di wajahnya dan sorot matanya yang tajam bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada kami. Ketegangan langsung terasa dalam diri ku. Mengarahkan pedangnya ke arah kami, Tuan Pier berkata dengan tegas, "Kalian telah berlatih selama tiga bulan. Sekarang saatnya untuk menguji kemampuan kalian. Aku akan menggelar duel satu lawan satu untuk semua orang di sini. Bersiaplah!"


Aku merasakan ketegangan meningkat walaupun aku sering berlatih dengan Adry. Tunggu dulu, jika lawanku bukan Adry maka... aku bisa saja menang! Terlebih lagi ketika Tuan Pier menyebutkan kata "duel". Siapa yang akan menjadi lawan ku? Banyak kemungkinan yang muncul di benak ku.


Setelah semua rekan-rekan selesai bertanding dengan lawannya masing-masing, tiba giliran aku memasuki arena yang dibuat secara mendadak. Aku mengambil pedang kayu satu tangan karena lebih ringan dan melangkahkan kaki dengan perasaan campur aduk, namun tiba-tiba Abhisar muncul sebagai lawan menggunakan pedang kayu dua tangan. Rasa penasaran dan tegang memuncak dalam diri ini, akan kah aku bisa melawan dia dan menjadi pemenang?


___


Abhisar berkata, "Lawanku Arezha? aku tidak yakin akan menang melawanmu." Saat Abhisar mengutarakan keraguan akan kemenangannya melawan diriku, aku merasa ragu. Apakah dia merendah ataukah memang kurang percaya diri?


Hanya sedikit informasi yang ku miliki tentang dirinya dan aku merasa tidak yakin harus bagaimana menghadapinya dalam sebuah duel. Namun, yang jelas aku ingat bahwa Abhisar menguasai teknik gabungan menusuk dan menebas, serta memiliki kecepatan dan kelincahan.


Aku terkejut dan menghindar dengan cepat dari serangan tersebut. Jika saja aku tidak bereaksi, aku pasti akan kalah dalam serangan tadi. Tidak berhenti sampai disitu, Abhisar langsung menyerang lagi ke arah aku menghindar. Aku berhasil menangkis serangan tersebut tetapi aku terdorong karena serangannya dan menciptakan ruang di sekelilingku untuk bernafas sejenak dan memikirkan strategi selanjutnya.


Namun Abhisar yang terampil, pedangnya terus menyerang dengan berbagai teknik dan tidak memberikanku ruang sama sekali, gerakan yang dia lakukan membuat diriku merasa kewalahan dan kesulitan untuk menghindari serangan-serangannya yang terus datang.


Meskipun aku berusaha untuk mengambil jarak dan menemukan celah untuk menyerang, Abhisar selalu dapat membaca gerakanku dengan cepat dan menyerang sebelum aku bisa melakukan apapun. Bahkan ketika aku berusaha untuk menyerang duluan, Abhisar masih dapat menghindari seranganku dan kembali menyerang. Aku semakin terdesak dan semakin terpojok oleh serangan-serangan Abhisar yang terus berlanjut tanpa henti.


Selama Duel itu, aku merasakan tekanan dan lelah yang amat besar karena yang bisa kulakukan hanya terus menghindari serangannya. Meskipun begitu aku harus tetap bertahan dan terus mencari celah untuk menyerang!


___


Selama pertarungan itu, aku merasakan tekanan dan kelelahan yang sangat besar karena harus terus menerus menghindari dan melawan serangan-sarangan Abhisar. Namun, meskipun aku kewalahan dan sulit untuk mengalahkannya, aku tetap berusaha untuk bertahan dan mencari celah untuk menyerang.

__ADS_1


Saat Abhisar menyerang, aku berusaha sekuat mungkin membaca gerakan tangannya dan mengambil tindakan untuk menangkis serangannya. Akhirnya dia membuat kesalahan! Teknik pedangnya melesat dan memotong udara.


Aku menemukan sebuah celah pada pergerakan Abhisar yang tengah menyerang. Mengelabuinya dengan membuat diriku terlihat seolah-olah akan menyerang dengan pedangku, dia bereaksi untuk menangkis. Namun, itu hanya tipuan. Tujuanku sebenarnya adalah menendang tubuhnya.


Melihat dia terdorong ke belakang hingga jatuh ke tanah. Pedangnya masih dalam genggaman, ini adalah kesempatan untuk membuang senjata dari genggamannya! Aku memukulkan pedang pada pergelangan Abhisar sehingga terlepas, dan aku membuang jauh senjata itu. Aku... Aku berhasil mengalahkannya!


Serangan balikku terasa sangat kuat dan membuat Abhisar terdorong mundur. Dia kehilangan keseimbangan, terjatuh namun pedang yang dia gunakan masih berada dalam genggamannya. Aku memanfaatkan kesempatan itu dan memukulkan pedangku pada pergelangan Abhisar sehingga terlepas, kemudian aku membuang jauh senjata yang dia gunakan agar dia tidak dapat meraihnya kembali.


Aku menodongkan pedangku kearah Abhisar dengan napas yang berat.


Aku... Aku... Menang!


Abhisar berdiri memberiku hormat. "Senang berduel denganmu Tuan Arezha, sudah kuduga akan sulit melawanmu haha."


Tuan Pier dari luar arena menepuk tangan ketika melihat kami selesai berduel, kemudian dia berkomentar, "Menakjubkan sekali Tuan Arezha, kau jelas telah berkembang pesat."


Adry mendekatiku dan merangkul pundakku. "Kawan, lihatlah dirimu haha!"


Kemenangan ini membuatku sangat senang dan bangga. Aku telah berhasil mengalahkan seseorang yang lebih kuat dariku. Melakukannya dengan kemampuan yang aku pelajari susah payah. Aku merasa lebih percaya diri dalam kemampuan bertarung.


___


Meskipun aku telah menguasai beberapa keterampilan, aku tidak dapat memastikan apakah aku telah menjadi orang yang hebat. Perjuangan hidup ini masih panjang dan penuh dengan berbagai rintangan. Aku masih perlu terus berusaha dan berjuang tanpa henti untuk mencapai mimpi-mimpi ku.


Di suatu waktu yang tak dapat ditebak dan di masa depan yang samar-samar, aku merasa bahwa aku akan menggapai sesuatu dan berdiri di atas puncak keberhasilan. Aku merasa ada sesuatu yang menunggu di ujung perjalanan panjang ini, dan aku yakin itu adalah keberhasilan yang kumimpikan. Namun, aku tidak tahu pasti apa yang akan terjadi di antara waktu sekarang dan waktu itu. Meskipun aku tak tahu pasti bagaimana cara mencapainya dan banyak rintangan dan jalan penuh liku yang harus aku hadapi, aku harus terus melangkah.


___

__ADS_1


__ADS_2