Pemuda Kesatria

Pemuda Kesatria
Aku Seorang Kesatria? III


__ADS_3

___


Sudah puluhan menit berlalu, tetapi Adry belum saja kembali. Apakah memang ada seorang kesatria yang mengantarkan roti?


Aku memandangi Anika yang sedang bekerja, kemudian mata kami tidak sengaja bertemu, "Apakah kau mau roti lagi?", tanya nya menghampiri kemudian duduk disampingku.


Semakin dia mendekat semakin aku jatuh hati padanya, "Aku sudah memakan roti terlalu banyak", jawabku.


Walaupun begitu, dia tetap saja memberikanku roti, "Makanlah lebih banyak agar tubuhmu membesar!", sepertinya perkataan Adry benar aku harus melatih tubuhku yang kurus ini.


Di saat kami berbincang, aku mendengar suara kereta kuda dari luar, sepertinya itu Adry.


Adry terlihat memasuki ruangan depan mencari-cari kami, "Kemarilah Adry, kami disini", ucapku.


Adry mendengarnya kemudian datang kepada kami, berkata, "Ayo aku sudah mendapatkan kereta kuda masukkan semua rotinya sekarang"


___


Anika, Adry dan aku memindahkan semua roti dari gerobak Anika yang rusak ke gerobak yang dibawa Adry.


"Aku sudah yakin itu semuanya", kata Anika yang kelelahan.


"Akhirnya selesai juga. padahal hanya roti tetapi kalau sebanyak ini berat juga rasanya!", tanggap ku, sama lelahnya.


Berbeda dengan Adry yang terlihat tampak biasa saja, dia naik ke kereta kuda, "Reza, ayo kita pulang."


Aku naik ke kereta kuda dengan bantuan Adry. Adry berterima kasih kepada Anika, "Terimakasih nona!", sepertinya dia tidak tahu namanya. Sayang sekali Adry, sepertinya aku lebih unggul darimu sekarang.


___


Ketika kami melangkah memasuki kedai, pak Dery menyapa kami, "Hei! bagaimana dengan rotinya?"


Adry dan aku menghampiri dan duduk didepan pak Dery,  sedangkan Adry mengambil beberapa  minuman dan membawanya ke meja, "Tenanglah ayah, kami sudah membawanya, roda kereta mereka rusak, itulah mengapa mereka tidak mengirimnya"


Pak Dery melirik padaku, "Reza bantu aku membersihkan piring-piring ini"


"Baiklah", aku berdiri dari tempat duduk, dan teringat kakek "omong-omong aku belum melihat kakek lagi, kemana dia?"


"Baru saja kemarin dia pergi, dia ingin mengunjungi makam keluarganya"


"Maksudmu dia pergi ke Venavo?", tanyaku.


"Ya", jawaban santai dari pak Dery, membuat Aku dan Adry terkejut.


"Eh, kau membiarkannya pergi sendiri!?", ucap Adry berdiri menggebrak meja sehingga minumannya tumpah.


Pak Dery  kaget, "Tentu saja tidak bodoh, aku sempat melarangnya tetapi dia keras kepala sekali! kemudian aku menyuruh Alister, Alix, dan Carnell untuk menemani kakek"


Adry kembali duduk bergumam, "Untunglah"


"Lihat apa yang sudah kau perbuat!", pak Dery mengelap meja itu.


Adry ikut membantu mengelap meja, "Aku akan lebih terkejut jika ayah benar-benar membiarkannya pergi sendiri"


Wajar bagi kakek karena dia baru bisa menghasilkan uang beberapa bulan kebelakang agar bisa mengunjungi makam keluarganya.

__ADS_1


___


Aku mencuci piring-piring kotor itu, selang puluhan menit, Adry memanggilku, "Oi Reza, kemarilah aku lupa mengatakan sesuatu"


Secepatnya membersihkan piring-piring itu.


"Kau sudah membersihkan semua itu?", tanya pak Dery, "Ya aku sudah membersihkan semuanya", jawabku, kemudian pak Dery pergi kedapur, "Kalau begitu layanilah pelanggan, aku akan memasak", Aku pun melayani pelanggan, sembari menghampiri Adry.


"Apa?", tanyaku.


"Berapa sisa uang yang tuan Adipram berikan kepadamu?"


Aku berusaha mengingatnya, "Aku sudah menukarkan semuanya, tersisa 19 koin emas"


Dia berdiri, "Ayo kita membeli seekor kuda untukmu!"


"Eh?", apakah dia ingin aku menjadi miskin? "Maaf Adry, tapi aku tidak menginginkan kuda"


Adry duduk kembali dan berkata, "Kau belum mendengar kabarnya? Tuan Pier berkata dia akan melatih kita berkuda, memanah, berpedang. Kau akan membutuhkan kuda karena tidak mungkin mereka akan meminjamkan kuda perang mereka yang mahal"


Aku duduk berhadapan dengan Adry, "Seberapa mahal?"


Adry menjawab, "Kuda perang biasanya sekitar 40 atau 50 koin emas kecil"


Aku terkejut mendengar harga kuda yang begitu mahal, "Tunggu Adry, aku hanya memiliki 19 koin emas kecil, apakah kau ingat!?"


Adry memegang pundakku, menatapi mataku, "Reza ini adalah hari keberuntunganmu, aku akan menambahkannya. Seorang kesatria wajib memiliki kuda perang, ingat sumpah kita? melindungi tanah tuan kita, lalu bagaimana kau akan melindungi nya jika berjalan dengan lambat?"


Aku menghela napas dengan muka masam, "Baiklah kalau begitu", lagipula itu uang yang tuan Adipram berikan kepadaku dan Adry.


___


Kota Sernia


17 Juli 1300


___


Kami mengunjungi tempat peternakan kuda, "Jadi kuda seperti apa yang kau inginkan?", tanya Adry padaku.


"Semua kuda terlihat sama bagiku", aku tidak tahu apa perbedaan kuda-kuda itu, yang kutahu mereka berfungsi untuk ditunggangi.


"Kalau begitu biarkan aku yang memilih untukmu"


___


Sesampainya di peternakan kuda, seseorang yang sepertinya seorang pemilik peternakan menghampiri kami, "Hei, apakah kau tertarik untuk membeli kuda?"


"Ya kami ingin membeli dua ekor kuda yang bagus!"


Peternak itu membuka pintu kandangnya, "Masuklah, cari kuda seperti apa yang kau inginkan, aku memiliki puluhan ekor kuda saat ini"


Kami memasuki kandang itu, menyadari bahwa bau kotoran kuda ada di mana-mana sehingga aku harus menutup hidung saat berjalan di sekitar kandang.


Adry menatapi salah satu kuda bercorak hitam dan coklat yang tampak besar, ukurannya dua kali lebih besar dari Adry.

__ADS_1


"Paman, aku menginginkan kuda ini" , dia memilih kuda yang besar itu, terlihat cocok untuknya.


Paman peternak itu menghampiri Adry, "Kau yakin? kuda ini termasuk kuda terbaik dari peternakanku"


Adry menunjukkan kantung koinnya, "Ya aku menginginkan kuda yang ini", kemudian dia mengeluarkan kuda itu dari kandangnya, "Boleh aku mencobanya?"


"Ya tentu", dia menggiringnya menuju lapangan luas di sebelah peternakannya.


___


"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan pelana", tetapi Adry mengabaikannya dan tetap menunggangi kuda itu, sehingga paman peternak berkata, "Hei, mengendarai kuda tanpa pelana itu berbahaya!", terlambat, dia sudah berlari dengan bebas di sekitar lapangan bersama kuda itu.


Dia mencoba berlari bebas mengelilingi lapangan dengan kudanya. Menunggang kuda selama beberapa menit.


Kuda yang ditungganginya berlari begitu cepat dan terlihat kuat di setiap langkahnya, seolah-olah Adry dan kudanya menyatu.


Saat kuda itu berlari berpacu, kuda itu berbelok dengan cepat dan mulus. Kuda yang ditungganginya semakin bersemangat, kukunya menghantam tanah dengan keras saat melaju ke depan.


"Siapa orang itu?", peternak itu bertanya kepada ku.


"Teman ku Adry, kenapa?"


"Menunggangi kuda itu membutuhkan banyak latihan fisik, yang melibatkan banyak latihan kebugaran. Jika ini adalah pertama kalinya dia menunggang kuda, maka dia perlu mempersiapkan diri terlebih dahulu. Teman mu itu jelas sangat pandai menunggangi kuda!", bukankah berkuda itu mudah? Kau hanya perlu menunggangi kuda itu dan melaju.


___


Adry kembali, menuruni kuda itu dan membawanya kepada kami, "Ya, kuda ini sangat cocok untuk ku"


"Haha Tuan Adry, kau sangat mahir menunggangi kuda itu, aku yakin kau adalah penunggang kuda yang ahli!"


"Terima kasih paman, kau membuatku tersanjung, hanya saja terkadang aku menunggangi kuda untuk melakukan pekerjaanku"


"Kau akan menjadi penunggang kuda terbaik, aku yakin itu"


___


Kemudian Adry memilihkan kuda untukku, ukurannya besar tetapi tidak sebesar milik Adry.


Kami membawa kuda itu kelapangan, peternak itu memasangkan pelana pada kuda itu, kemudian aku menapakkan kaki kepada pelana dan menunggangi kuda itu.


Pada awalnya, aku merasa ragu oleh kuda besar ini, namun aku segera menyadari bahwa menungganginya ternyata lebih mudah seperti yang aku bayangkan.


"Apakah kau butuh bantuan?", ucap Adry.


"Tidak, aku bisa",


Ini adalah waktuku untuk bersinar, akan kutunjukkan kemampuanku.


Kuda ini mengikuti perintah ku dan berjalan dengan lambat melintasi lapangan dengan mudah.


Namun kemudian, kuda ini mulai melampaui batas dan mencoba untuk berpacu lebih cepat tetapi genggamanku tidak terlalu kuat sehingga terlepas dan terjatuh dari kuda itu.


Aduh, punggungku sakit


___

__ADS_1


__ADS_2