
___
Sore hari telah tiba. Aku, Adry beserta bawahannya sedang berdiam menjaga di sekitar gerbong kereta kuda, beberapa kesatria berdatangan bersama Sandrea, "Angkut minyak tar cepat!", mereka mengangkut banyak minyak tar dari gerbong kereta kuda.
Adry menanyai mereka, "Untuk apa ini?", para kesatria itu menjawab, "Ini perintah atasan", kami sempat menghentikan mereka tetapi para kesatria itu mencegah kami dan mengambilnya dengan paksa.
Lalu Aku bersama Adry melaporkan hal ini kepada Tuan Askari yang sedang memantau medan pertempuran di kursinya, "Kapten, Sandrea mengambil banyak minyak tar!", ucap Adry yang sedang menghampiri Tuan Askari dari belakang.
Ketika Tuan Askari menoleh pada Adry, aku melihat para kesatria membawa banyak minyak tar dikedua mereka, mereka maju meskipun dihujani banyak anak panah kemudian mengguyur benteng kayu itu dengan minyak tar banyak yang tertembak dalam prosesnya.
Tuan Askari kemudian melihat medan pertempuran, dia terlihat sangat kesal sekarang, "Sialan, apa yang mereka lakukan!", para kesatria itu kemudian membawa busur dan mencelupkan kepala anak panah pada minyak tar lalu membakarnya. Sandrea terlihat dibelakang para kesatria itu sedang memberi aba-aba. Tuan Askari berdiri dari tempat duduknya menghampiri Sandrea, sebelum Tuan Askari sampai, Sandrea memerintahkan, "Tembak!"
Ujung besi Anak panah yang terbakar itu perlahan membakar dan menyebar ke sekeliling benteng.
"Apa-apaan ini!", Teriak Tuan Askari dihadapan bangsawan itu, "Diam dan lihat", para kesatria Sandrea terus-terusan menembaki sehingga api semakin membesar.
Para perampok yang berada diatas benteng itu kewalahan memadamkan api yang sudah membesar. Kurasa mereka tidak memiliki air lagi.
Gerbang pun terbuka, segerombolan perampok itu keluar dari benteng menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Adry berkomentar, "Mereka menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya, tidak ada disiplin dan kesetiaan. Hanyalah seorang perampok yang sedang bermain peran"
Kesatria Sandrea itu menyerbu dan membantai para perampok itu, sehingga pasukan yang dipimpin oleh Tuan Askari terpengaruh dan ikut membantai para perampok yang berlarian ke segala arah terpaksa melawan.
Bangsawan itu berkata, "lihat, mudah sekali", lalu dia pergi ke medan perang, seperti mencari-cari sesuatu. Tuan Askari pun menyusulnya ke pertempuran.
"Reza sembunyilah, aku harus membantu kapten Askari!", Adry pun pergi membantu Tuan Askari bersama bawahannya.
___
Pertempuran semakin memanas, pemimpin perampok itu menebas beberapa prajurit. Dia berusaha untuk melarikan diri, kemudian dia berlari kearahku karena tidak ada siapa-siapa disini selain diriku, melihat itu aku kemudian melarikan diri.
__ADS_1
Tetapi sebelum dia sampai, pemimpin perampok itu dihentikan oleh para kesatria dan Sandrea yang berada dibelakang para kesatria. Pemimpin perampok itu melawan para kesatria hingga dia kewalahan berusaha melarikan diri, menangkis seluruh serangan pada akhirnya pedang itu terlepas dari genggaman, "Tertangkap kau sialan!", Sandrea memukul kepala pemimpin perampok itu dengan keras sehingga dia tidak sadarkan diri.
Nyawa pemimpin perampok yang tergeletak ditanah itu ada ditangan Sandrea. Ketika dia hendak menusuk jantungnya, Tuan Askari menabrakkan diri ke arah Sandrea.
Sandrea terdorong jatuh, kemudian berteriak, "Bajingan Askari, apa yang kau lakukan, dia musuh kita!", dia sangat marah.
"Pertempuran telah berakhir, lihatlah sekelilingmu para perampok itu sudah menyerah!"
Para perampok itu menyerahkan diri, membuang senjata mereka. Sebagian berhasil melarikan diri.
"Bunuh perampok itu!", 3 kesatria yang berada didekat Tuan Askari merupakan bawahan Sandrea berusaha membunuh pemimpin perampok, tetapiTuan Askari menangkis serangan mereka bertiga sekaligus melucuti senjata mereka, "Jangan melawan, biarkan Tuan Pier yang memutuskan"
Tuan Askari menegaskan, "Akulah pemimpin pengepungan ini, kau tidak berhak ikut campur!"
Sandrea berdiri dari tempat dia terjatuh, mengambil pedang yang tergeletak ditanah dengan mata yang tertuju kepada pemimpin perampok. Dengan keras kepala dia mencoba membunuh pemimpin perampok, seolah-olah dia membencinya atau ada alasan lain di balik keinginannya untuk membunuh pemimpin perampok.
"Hentikan!", Teriak Tuan Askari.
"Sialan kau Askari, jangan harap dirimu lepas dariku nanti. Kedudukanku lebih tinggi daripada dirimu, akan kubuat kau sengsara karena telah menentang ku!", dia meludah kepada Tuan Askari kemudian pergi meninggalkan tempat itu bersama pasukan pribadinya.
___
___
Sesampainya di kota langit sudah gelap. Aku bersama Adry mengembalikkan gerbong kereta kuda yang dipinjamkan oleh Tuan Pier.
Digerbang kastil aku berpapasan dengan Tuan Askari yang sedang memegang lentera bersama 4 pendampingnya. Dia berhenti menyapaku dan mengajakku berjalan-jalan disekitar kastil. Tentu aku menolaknya, aku ingin beristirahat, "Maa-", tetapi dia memotong perkataanku, "Mari", dia pun berjalan memasuki kastil.
"Kalau begitu sampai nanti Reza", Adry pergi meninggalkanku.
Jika aku pulang dengan Adry dan meninggalkan Tuan Askari, kesan Tuan Askari terhadapku akan buruk. Terpaksa aku mengikutinya ke suatu tempat.
__ADS_1
"Apakah kau sudah menghitung seluruh pasukan yang tersisa?", tanya Tuan Askari kepada salah satu pendampingnya, "Aku sudah menghitungnya, 32 prajurit tewas yaitu 3 kavaleri, 6 infanteri berat, dan 23 orang dari milisi, tersisa 68 prajurit"
Tuan Askari mendecakkan lidah, "Jika saja Sandrea tidak ikut campur", kemudian dia memberi perintah kepadanya, "Bubarkan pasukan, kemudian laporkan jumlah prajurit yang tersisa kepada Tuan Pier"
"Baik!", kemudian dia pergi.
"Arezha, yang kau lakukan hari ini benar-benar menakjubkan. Tindakanmu mempengaruhi pasukan sehingga mereka mengikutimu. Jika saja kau tidak melangkah maju, aku pasti sudah mati hari ini, aku berhutang nyawa padamu"
"Terimakasih Tuan, kau membuatku tersanjung"
Sejujurnya aku hanya ingin menyelamatkan Adry. Tetapi syukurlah pasukan mengikuti aku dan Tuan Askari bergegas kembali menolongku. Jika tidak, maka aku juga sudah mati hari ini.
Sampailah kami di sebuah lorong gelap yang lebarnya dua badan diriku, "Tempat apa ini?"
"Ini adalah penjara, aku akan menginterogasi pemimpin perampok", dia memberikan lentera kepada pendampingnya, "Pegangi ini, tunjukkan aku dimana dia dipenjara", dia pun berjalan didepan Tuan Askari.
Kami berjalan sehingga menemukan lorong bercabang, lalu kami belok ke kanan, melihat cahaya di ujung lorong. Kami mendekati cahaya itu, ada seseorang di ujung sana. Ketika sudah dekat kami melihat Sandrea bersama dengan 4 bawahannya masing-masing menggenggam pedang satu tangan di depan jeruji besi dimana pemimpin perampok itu berada. Mencurigakan, apakah dia masih berusaha membunuhnya?
Sandrea terkejut melihat kami, "Bunuh mereka semua!", pendamping Tuan Askari yang berada didepan langsung diterjang dan tertusuk di perut hingga dia terkapar, "Mundur Arezha!", Tuan Askari melindungiku, kemudian dia menendang bawahan Sandrea yang berada di depannya, dia segera mengambil pedang yang terjatuh kemudian membunuh bawahannya, "Apa yang kau rencanakan Sandrea!", Tuan Askari melangkah maju bersama pendampingnya, bertarung dengan mereka.
Aku hanya bisa melihat dari belakang, menjaga jarak. Tempat yang sempit ini tidak menguntungkan untuk Tuan Askari yang berperawakan tinggi besar, sehingga sulit baginya untuk menghindar. Beberapa kali dia tersayat, bercucuran darah dari tubuhnya.
Askari berteriak, "Menyerahlah, kau takkan bisa menang melawanku!", sementara itu bawahan Sandrea terdiam menjaga posisinya.
"Kau membiarkan musuh kita hidup, tidak bisa dibiarkan!"
"Cukup omong kosongnya, mari kita akhiri ini!", Tuan Askari melangkah maju sendirian menebas bawahan Sandrea yang tersisa sementara bawahannya tidak sempat membantu. Tuan Askari terluka parah tetapi badannya tidak membiarkan dia terjatuh.
Sandrea terlihat panik, mengambil pedang dari bawahannya yang mati terkapar. Dia mengarahkan bilahnya kepada Tuan Askari menggunakan kedua tangannya yang gemetar.
Tuan Askari melangkah maju menodong balik Sandrea, "Lepaskan senjatamu, atau kau mati"
__ADS_1
Sandrea terintimidasi oleh Tuan Askari, sehingga menjatuhkan pedangnya, "Pilihan yang bagus, ambil seluruh pedang yang tergeletak!", perintahnya kepada pendamping Tuan Askari, sementara dia masih menodongkan pedang dan menatap tajam pada Sandrea.
___